.

.

Rabu, 01 Februari 2012

Bung Karno Sebagai Kolektor Buku


Oleh: Syamsu Hadi

Kamarku penuh dengan tumpukan buku, di atas dressoir, di atas kursi, di atas lantai, bahkan di tempat cuci tangan, sehingga di tengah kamar yang megah dari orang yang kuat yang menakjubkan itu para pelayan menjumpai kutu busuk di antara halaman-halaman buku. Mereka tidak lagi membiarkanku menaruh buku di atas tempat tidurku.”

Demikian dapat kita baca dalam otobiografi Bung Karno, sebagaimana dikisahkan oleh Cindy Adams, dalam bukunya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Bung Karno memang dikenal sebagai kolektor buku kaliber berat, bahkan tidak salah kalau beliau juga digolongkan sebagai “kutu buku”. Hal tersebut juga dituturkan oleh orang-orang yang pernah dekat Bung Karno,seperti putera sulungnya, Guntur Soekarno, serta pengawal pribadinya, H. Mangil, bahkan orang-orang lain yang pemah masuk ke dalam kamar tidur beliau di Istana Merdeka.

Mengapa Bung Kamo begitu akrab dengan buku? “Kenyataan-kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri ke dalam apa yang dinamakan orang Inggris ‘Dunia Pemikiran’. Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputusasaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. Seluruh waktu kupergunakan untuk membaca.” Demikian kata Bung Karno dalam otobiografinya.

Lewat buku, Bung Karno bisa mengadakan ‘dialog’ dan ‘bertukar pikiran’ dengan tokoh-tokoh pemikir dunia, mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, filsafat, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Kesemuanya itu dapat mengembangKan dan memperluas wawasan untuk bisa disumbangkan dan diabdikan kepada rakyat dan bangsa Indonesia yang sangat dicintainya. Bahkan juga kepada dunia. Betapa luas wawasan beliau dapat dilihat dari banyaknya tokoh yang diajaknya berdialog’, seperti dituturkan dalam otobiografinya di atas: “Di dalam dunia pemikiranku, aku berbicara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris; aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis.” Tidak heran kalau dalam tulisan-tulisan maupun pidato-pidato Bung Karno kita menemukan cuplikan ucapan tokoh-tokoh pemikir tingkat dunia itu. Bahkan banyak kata-kata atau ungkapan asing yang diambil Bung Karno, akhimya mewamai perbendaharaan bahasa Indonesia. Contohnya: vivere pericoloso, dedication of life, hogere optrekking, mankind is one.

Sejak di Surabaya.
Keakraban Bung Kamo dengan buku dimulai sejak Bung Kamo muda indekos di rumah H.O.S. Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional pimpinan Sarekat Islam yang pernah dijuluki “raja Jawa tanpa mahkota” oleh kolonialis Belanda. Keadaan ekonomi di Hindia Belanda waktu itu sangat parah. Sebagai siswa HBS di Surabaya, Bung Kamo muda setiap bulan hanya dikirimi uang saku setengah gulden oleh ayahnya, R. Sukemi Sosrodihardjo yang guru sekolah rendah. Tentu saja Bung Karno tak bisa banyak menyisihkan uang untuk membeli buku. Syukurlah di Surabaya waktu itu sudah ada perpustakaan yang besar yang diselenggarakan oleh sebuah perkumpulan teosofi. Karena ayahnya dikenal sebagai seorang teosof, Bung Karno muda boleh “memasuki peti harta ini, di mana tidak ada batasnya buat seorang anak yang miskin.” Barulah beberapa tahun kemudian, setelah uang sakunya dinaikkan menjadi satu setengah gulden, Bung Karno mampu membeli buku-buku yang dirninatinya. Hobi mengoleksi buku terus dilakukannya, tidak hanya ketika Bung Karno bersekolah di Bandung, tinggal di pengasingan di Ende dan Bengkulu, maupun setelah menjabat Presiden dari negara yang diproklamasikannya.

Buku-buku koleksi itu tidak seluruhnya berasal dari pembelian Bung Karno sendiri. Sebagian ada yang merupakan hadiah dari para sahabat, sebagian lagi hasil tukar-menukar atau barter, dan sebagian lagi secara pinjam dari teman-teman, tetapi yang empunya sungkan untuk memintanya kembali. Buku Neocolonialism karangan Dr. Kwame Nkrumah (pendiri Gerakan Non-Blok dari Ghana) misalnya, diperoleh melalui barter dengan buku Under the Banner of the Revolution (terjemahan bahasa Inggris dari kumpulan tulisan Bung Karno. Dibawah Bendera Revolusi) dan Indonesia Accused (Indonesia Menggugat). Sedangkan berbagai buku mengenai pemikiran Swami Vivekananda didapatnya dari Pandit Jawaharlal Nehru, perdana menteri India.

Hancur.
Banyak membaca buku dengan cermat jelas memberikan wawasan yang lebih luas serta pengetahuan yang sangat mendalam mengenai suatu ilmu pada Bung Karno, sehingga membuat isi pidato maupun artikel yang ditulis sangat berbobot.

Lalu bagaimana Bung Karno melahap buku-buku yang tebal dan berat isinya itu? “Kalau buku yang-saya anggap penting, saya baca dari A sampai Z. Dan yang penting-penting saya garis bawahi. Saya tulisi dengan pendapat saya. Pendek kata saya corat- coret, sehingga buku tersebut setengah hancur,” tutur Bung Karno pada suatu kesempatan. Yang sangat luar biasa adalah daya ingat Bung Karno. Ia tahu persis di mana suatu kalimat terdapat dalam salah satu judul buku dari koleksi bukunya yang berjumlah ribuan tersebut. Guntur Soekarno dalam bukunya, Bung Karno: Bapakku, Guruku, menceritakan bagaimana suatu ketika ia diminta membantu Bung Karno yang sedang menyiapkan pidato kenegaraan yang akan disampaikan pada tanggal 17 Agustus. Guntur kecapean karena harus mengambil belasan buku dengan berbagai judul, yang akan dipakai sebagai referensi dalam pidatonya itu.

Buku-buku yang dikumpulkan sejak Bung Karno berusia muda, selalu dibawa pindah bersama Bung Karno bahkan ikut pula dalam kehidupan di pengungsian. Menurut penuturan Ibu Fatmawati Soekarno, sampai periode Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu dari Ende, buku koleksi Bung Karno sudah mencapai 1.000 lebih. Waktu tentara pendudukan Jepang akan memasuki Bengkulu, pemerintah kolonial Belanda berusaha “melarikan” Bung Karno ke Padang, untuk kemudian direncanakan akan diangkut ke Australia tetapi tak berhasil. Buku-buku koleksi Bung Karno berhasil diselamatkan oleh keluarga Bu Fat. Total jenderal koleksi buku yang di- sembunyikan di rumah-rumah keluarga Bu Fat itu berjumlah sebelas peti besar, dengan ukuran 1,5 x 1,5 x 4 meter. Sayang, ada tiga peti buku yang ketahuan oleh Belanda dan segera dimusnahkan. Tangan-tangan kotor Belanda memang berusaha menghancurkan koleksi buku-buku Bung Karno tersebut.

Dan ketika tentara pendudukan Jepang datang, kalau saja persembunyian buku itu sampai diketahui mereka, buku-buku tersebut bakal dibumihanguskan. Maklumlah, buku-buku Bung Karno banyak yang berisi anti militerisme dan fasisme. Dan selama tiga setengah tahun barulah koleksi Bung Karno itu bisa aman di rumah kediaman Bung Karno, Jl. Pegangsaan Timur, Jakarta. Pada waktu revolusi fisik, ketika ibukota RI pindah ke Yogyakarta, sebagian buku Bung Karno dibawa serta, sedang sebagian dititipkan pada kerabat yang tinggal di Jakarta. Setelah Bung Karno menjabat sebagai Presiden RI, koleksi buku-buku yang terus bertambah itu dipajang di lstana Kepresidenan, baik di lstana Merdeka (yang terbanyak), lstana Negara, lstana Bogor, lstana Tampak siring. (**)

*)Disalin dari situs Gentasuararevolusi, 8 November 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis