.

.

Senin, 30 Juli 2012

Cerita dari Blora

TERJUAL BY KALIPARE KAB. MALANG

Kondisi: lumayan bagus
HASTA MITRA 1994
TEBAL: 322 HAL
BERAT: 0,41 kG

Dua puluh sembilan bulan dalam tawanan Belanda bagi Pram adalah masa pengalaman, penderitaan, pemikir­an dan pengkhayalan yang mematangkan dan menyu­bur­kan jiwa. Dari masa inilah berasal sembilan dari sepuluh ce­rita pendeknya yang terkumpul dalam PERCIKAN RE­VOLUSI (Gapu­ra, Jakarta 1950), romannya KELUARGA GE­RILYA (Pemba­ngunan, Jakarta 1950), kedua novelnya PERBURUAN (Balai Pus­taka 1950) dan BLORA yang dimuat dalam kumpulan cerita pendeknya SUBUH (Pembangunan, Jakarta 1950).
Dalam masa ia terasing banyaklah Pram teringat kepada negeri kelahirannya Blora, kepada masa kecilnya dalam ling­kungan keluarga yang besar, kepada ibu, seorang perem­puan yang saleh, penuh pengorbanan dan ketubian kepada suami dan anak, lembut dan pengasih tapi tahu disiplin, kepada ayah yang mempunyai daerah kegiatan yang besar dan kepada adik-adik seorang demi seorang, yang dia sebagai putera tertua merasa bertanggung-jawab terhadap nasib mereka di kemudian hari.
PERBURUAN yang diilhamkan oleh pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar waktu pendudukan Jepang, seluruhnya bermain di kota Blora dengan kali Lusi-nya yang bersejarah. “Sebuah cerita khayal”, Pram menerangkan di bawah kepalanya. Memang banyak Dichtung dalam cerita ini, tapi bebe–rapa tokoh serasa-rasa kita kenali juga dari cerita-cerita Pram yang lain. Lebih jelas tokoh-tokoh itu dalam BLORA, yang juga adalah mimpi seorang tawanan, BLORA yang dalam istilah Freud adalah suatu wensdroom, suatu mimpi yang dimimpikan karena keinginan, demikian besarnya hasrat hendak bertemu dengan orang tua dan adik-adik. Dan mimpi-mimpi karena keinginan ini segera disusul dengan pertemuan dalam Realität yang menghasilkan BUKAN PASAR MALAM (Balai Pustaka, 1950), pertemuan yang menye­dihkan dengan ayah dan adik-adik di negeri kelahiran, enam bulan sesudah lepas dari tawanan.
Dan kesadaran yang meruang akan fananya segala, kesadaran inilah pada hemat saya salah satu pendorong pencipta akan meng­­abdi­kan segala sesuatu. – Manusia lahir dan mati. Apakah peninggalannya? – Hanya kenang-kenangan pada yang tinggal. – Dan untuk berapa lamanya?
Di dalam buku ini Pram menyajikan pula cerita-cerita dari Blora yang hampir semuanya ditulis beberapa bulan sesudah ia merdeka dari tawanan. Blora, daerah kapur yang miskin, di mana seorang sebelum bisa hidup dengan segobang sehari, penghasil­an seorang buruh tani kecil 11/2 sen sehari dan dengan gaji beberapa rupiah sebulan orang berani hidup berkeluarga dalam segala kemiskinan. Di mana ada orang yang karena kemiskinan mau menyewakan diri untuk men­cabut nyawa orang lain de­ngan persenan sepuluh rupiah atau jadi pembegal di hutan jati. Di mana anak pe­rem­­puan dika­winkan pada umur enam tahun de­ngan maksud meringankan beban orang tua dan di mana tidak jarang perem­puan men­jualkan diri untuk mencari nafkah hidupnya. Dan dalam melukiskan kebodohan, kepicikan dan kelemah­an orang-o­rang ini, Pram selalu menunjukkan rasa kasihan, meskipun di sana-sini terasa pula kepahitan yang membikin dia kadang-kadang menjadi kasar.
Menarik hati tokoh ayah yang dilukiskan oleh Pram dalam KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dan DIA YANG MENYERAH, yang kita temui pula dalam BUKAN PASAR MALAM. Ayah yang hidupnya intens. Kepala sekolah partikelir yang didirikan dalam perang dunia pertama, yang memberikan segala tenaganya dalam tahun-tahun tiga puluhan kepada gerakan kebangsaan, gerakan kepanduan dan mendirikan koperasi dan bank rakyat di sam­ping jadi guru partikelir giat pula memberikan kursus politik, eko­nomi dan pengetahuan umum di rumahnya sendiri. Dan ayah inilah pula yang menjadi penjudi yang tahan empat hari empat malam tidak beralih dari tempat duduknya mencari hiburan karena usaha-usahanya digagalkan oleh pemerintah kolonial: sekolah dibikin lumpuh, buku-buku pelajaran disita, guru-guru dilarang mengajar, anak-anak pegawai gubernemen dilarang
Pramoedya - Cerita dari Blora
sekolah di perguruan partikelir, bank rakyat dirintangi bekerja. Seorang nasionalis tulen yang kecewa di waktu Jepang dan di waktu revolusi tetap setia kepada pemerintah Republik tatkala Blora beberapa waktu diduduki oleh pasukan merah dengan terornya yang dahsyat. Dibandingkan dengan perhati­an­­nya terhadap tokoh ayah ini, Pram agak sedikit menyoroti tokoh ibu yang lebih dulu meninggal dari ayah, meskipun dia dengan hormat memper­ingatinya sebagai seorang ibu yang bijaksana, lembut tapi keras pada waktunya, tahu harga diri, halus perasaan, membimbing, penuh kasih-sayang dan sabar terhadap anak-anaknya.
Dalam semua cerita Pram terasa-rasa kekeluargaan yang erat antara pelakon-pelakon. Seorang demi seorang kita bisa dapati kembali tokoh-tokoh ayah, ibu, gadis-gadis yang keibuan dalam keluarga, anak-anak lelaki, masing-masing dengan rasa tang­gung-jawab yang besar. Dan sebagai suatu keluarga guru yang ingin maju, kita selalu mendapati pikiran: belajarlah baik-baik untuk kebaikan hari kemudianmu. Seringkali Dichtung menye­lubungi Realität dengan tebalnya, sebagai pernyataan jiwa yang kepenuhan. Ini misalnya keras sekali dalam novel KELUARGA GERILYA dalam mana reali­tas kadang-kadang dilangkahi dan idé menguasai suasana.
Dalam tujuh cerita pendek yang pertama dalam kumpulan ini Pram melukiskan masyarakat waktu zaman kolonial dan mes­kipun tidak sekali juga menyebutkan angka-angka tahun, kita dapat juga menangkap perkembangan kesejarahan dalam hidup pergerakan dan kemajuan masyarakat sebelum perang dunia kedua. Misalnya dalam cerita KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dengan jelas terbayang perjuangan kaum nasionalis Indonesia di lapangan sosial dan pengajaran menghadapi pemerintah kolonial. Terutama gugatan sosial yang lahir dari perasaan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuat­an Pram yang istimewa. Gugat­an terhadap kemiskin­an, kebodohan, pergundikan dan pelacuran karena kemiskinan. Dan keadilan dan kemanusia­an itu baginya lebih penting dari segala-gala. Juga dari bentukan-bentukan dan dogma-dogma ideologi. Seorang Karmin yang berkhianat karena kekhilafan dan dengan tidak disadarinya seperti diceri­takan dalam PERBURUAN oleh Pram masih diberi ampun dan ke­sempat­an untuk memperbaiki diri dan dia dengan tegas menuntut kebahagiaan hidup dan keadilan juga bagi ANAK HARAM yang dikutuki masyarakat karena ayahnya berkhianat ber­tahun-tahun malah berpuluh tahun yang lalu dalam perjuang­an. Bagi Pram kutukan “tujuh turunan” adalah perbuatan yang tolol, sebab diukur dengan akal budi apakah hak manusia untuk meng­hukum makhluk yang tidak bersalah?
Pram tidak memberatkan simpatinya kepada sesuatu isme ke­cuali kepada humanitas. Dalam DIA YANG MENYERAH hidup sekali Pram melukiskan jiwa revolusioner pemuda merah, kom­plit dengan istilah-istilah feodal, borjuis, kapitalis, impe­rialis dsb. Sangat realistis lukisan-lukisannya tentang kekejaman-kekejaman yang mendirikan bulu roma dari kedua belah pihak, tapi pikiran kemanusiaan yang lebih agung muncul pada gadis Diah yang menangisi kejadian-kejadian yang melanggar peri-kemanusiaan. Dan di sini Pram melukiskan tragik tiap perjuangan: Ayah, nasionalis tulen yang anti komunis. Pasukan merah yang anti nasio­nalis karena mereka ini pro pemerintah nasional yang dianggap mereka pula kaki tangan imperialis-kapitalis Amerika. Datang pula Sucipto dari tentara Kerajaan dengan istilah-istilahnya pula mencap perampok orang-o­rang nasionalis dan ko­munis. Dan semua mereka ini bertujuan dan berkeyakinan memba­wa keselamatan dan kesejahteraan dan untuk itu berbunuh-bu­nuhan.
Banyak anasir-anasir pengalaman dan kenangan oto­biografis dalam cerita-cerita ini, tapi soal-soalnya cukup diperumum de­ngan warna-belakang kesejarahan dan kema­syarakatan yang luas.

Jakarta, 13 Januari 1952*

________
* Pengantar oleh H.B. Yasin ini terdapat dalam buku cetakan pertama 1952.
Hanya ejaan disesuaikan dengan EYD, isinya sepenuhnya tetap sama – ed

Sabtu, 28 Juli 2012

BUMI MANUSIA (BUKU PERTAMA DARI SERI 4 JILID)


TERJUAL
Kondisi: bagus HARD COVER, HASTA MITRA Cet. 9 tahun 2002
BUMI MANUSIA (BUKU PERTAMA DARI SERI 4 JILID)
Berat: 0,65 Kg

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."


Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti, Editor Pramoedya Ananta Toer


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: lhabis buka segel.
Tebal: 402 halaman
Berat: 0,48 Kg
Cet 4 Revisi Lentera Dipantara, Jakarta 2003
Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti ini penah dilarang beredar oleh Pemerintah Orde Baru. Kendati tidak dikarang oleh Pramoedya
Hikayat Siti Mariah ini menceritakan petualangan dan kisah roman di seputar dunia pernyaian atau pergundikan dengan tokoh utamanya, Siti Mariah, di zaman kolonial Belanda. Hikayat ini banyak mengungkap situasi mengenai dunia pernyaian di Indonesia pada zaman kolonial. Pernyaian atau pergundikan adalah lembaga perkawinan tanpa pengesahan dari negara maupun agama. Lembaga perkawinan ini terjadi karena pihak pria dalam posisi sosial-ek onomi yang lebih tinggi ketimbang pihak perempuan. Praktik pergundikan semacam ini lazim terjadi pada masa kolonial. Seorang pria kolonial, atau dalam hal ini penjajah Belanda, sebelum menikah resmi dengan perempuan bangsanya sendiri atau yang sederajat biasanya mengambil seorang atau beberapa gadis pribumi untuk dijadikan gundik atau nyai atau istri tidak resmi.

Kendati para nyai itu layaknya hidup sebagai seorang istri dan bahkan mempunyai anak dari pria kolonial, namun ia harus rela meninggalkan kehidupannya sebagai nyai manakala pria kolonial tersebut memutuskan menikah dengan perempuan bangsanya sendiri. Sebagai konsekuensinya ia bahkan harus rela melupakan bahwa ia pernah bersuami dan mempunyai anak yang pernah dilahirkannya.

Diceritakan bahwa Siti Mariah adalah anak di luar perkawinan antara Elout van Hogerveldt, seorang kontrolir tebu, dengan seorang gadis pribumi bernama Sarinem. Ketika lahir, Siti Mariah dinamai Urip. Ia diberi nama Urip karena pernah jatuh sewaktu lahir, namun bisa tetap hidup atau urip. Urip tidak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri karena sewaktu ia masih dalam kandungan, ayah kandungnya, Elout van Hogerveldt, telah meninggal.


Urip pernah hampir dibuang ke jurang oleh Wongsodorono, seorang petani bertabiat buruk yang tak lain adalah ayah tirinya sendiri, sewaktu masih berumur sebelas bulan. Sarinem, ibu Urip, dipaksa kawin dengan Wongsodorono oleh ayahnya sewaktu hamil 7 bulan. Namun, Urip masih beruntung tidak jadi dibuang karena Wongsodorono akhirnya menjual Urip kepada Joyopranoto, seorang mandor gula di Sokaraja yang sudah lama berkeluarga namun belum punya anak.

Urip kemudian tumbuh menjadi gadis indo yang cantik dengan nama Siti Mariah. Kisah petualangan dan roman Siti Mariah dimulai ketika ia mulai menjalin cinta dengan seorang opsiner gula bernama Henry Dam. Ia kemudian dijadikan nyai oleh Dam dan memperoleh anak darinya yang diberi nama Ari.

Namun, kebahagiaan Mariah ternyata tidak berlangsung lama. Kehidupan rumah tangganya terusik lantaran pengaruh Nyonya van Holstein, pemilik pabrik gula tempat Dam bekerja. Dengan segala cara, termasuk dengan menggunakan jasa dukun, Nyonya van Holstein mempengaruhi Henry Dam untuk menjauhi Siti Mariah sehingga Henry Dam dapat menikahi putrinya Nona Lucie. Usaha tersebut berhasil, Mariah dipaksa keluar dari kehidupan Dam dan ia pun harus berpisah dengan anaknya, Ari. Setelah sempat kabur dari rumah keluarganya, menyamar jadi jongos dan menjadi Nyonya Esobier, Siti Mariah akhirnya dipertemukan kembali dengan Henry Dam dan anaknya, Sinyo Ari, berkat bantuan Sondari. Seperti juga dengan hikayat-hikayat lain, sang tokoh cerita akan memperoleh kemenangan setelah melewati petualangan yang hebat.
====
Hikayat Siti Mariah sebelum diterbitkan kembali oleh Hasta Mitra dalam bentuk buku tahun 1987 sebenarnya sudah pernah dua kali diterbitkan. Pertama kali saat pengarangnya masih hidup diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirto Adhi Soerjo di Bandung antara tahun 1910 - 1912. Kemudian masih dalam bentuk cerita bersambung, kurang lebih 50 tahun kemudian Lentera menerbitkannya kembali antara kurun waktu tahun 1962 sampai tahun 1965 dengan editor Piet Santoso Istanto.

Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti ini penah dilarang beredar oleh Pemerintah Orde Baru. Kendati tidak dikarang oleh Pramoedya Ananta Toer, namun karena hikayat karya Haji Mukti ini kemudian diterbitkan kembali menjadi buku oleh Penerbit Hasta Mitra, dan yang menjadi editornya Pramoedya Ananta Toer, buku tersebut dilarang. Buku ini, bersama buku Gadis Pantai karya Pram, dilarang peredarannya oleh Kejaksaan Agung berdasarkan Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor Kep-081/J.A/8/1988 pada tahun 1988. Hal ini disebabkan pemerintah pada waktu itu menganggap buku- buku tersebut bertentangan dengan Pancasila karena dianggap berbau ajaran komunis. Namun, belakangan seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru pada tanggal 28 Agustus tahun 2000 berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor Kep-223/J.A/08/2000 mencabut pelarangan peredaran buku- buku karangan Pramoedya, termasuk di dalamnya buku Hikayat Siti Mariah. Tahun 2003 Hikayat Siti Mariah kembali diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara.

Hikayat Siti Mariah menduduki posisi yang cukup penting bagi sejarah perkembangan sastra pra-Indonesia karena merupakan satu-satunya karya sastra pra-Indonesia pada zaman tanam paksa (cultuur stelsel) antara tahun 1830-1890. Seperti yang tercantum dalam sampul buku tersebut yang berbunyi: "satu-satunya roman kurun ’tanam paksa’ 1830-1890". Selain itu, hal lain yang menjadikan hikayat ini berbeda adalah bahasa yang digunakan, yakni bahasa Melayu linguafranca. Pada masa itu atau saat Pemerintah Kolonial Belanda menjalankan politik etis, perkembangan sastra ditandai dengan adanya penggolongan sastra, yakni sastra yang "diakui" kekuasaan dan yang "tidak diakui" kekuasaan. Sastra dalam bahasa Melayu linguafranca masuk dalam kategori yang "tidak diakui" kekuasaan, akibatnya sastra tersebut dianggap sebagai sastra rendahan, bahkan Melayu linguafranca sering disebut sebagai Melayu pasar atau Melayu rendah.

Hikayat Siti Mariah adalah sebuah hikayat dalam arti sesungguhnya, yakni sebuah cerita petualangan yang hebat dari tokoh-tokoh utamanya yang di dalamnya juga terkandung kejadian-kejadian supernatural. Dalam hikayat ini salah satu tokohnya, yakni Sondari, saudara tiri Siti Mariah, dilindungi oleh keris pusaka yang bernama Plered. Satu hal yang menarik dari hikayat ini adalah sang pengarang, Haji Mukti, ikut menjadi tokoh penting dalam cerita yang ditulisnya. Haji Mukti tak lain adalah Sondari. Hal ini terungkap dalam petikan berikut: "Tuan dan Nyonya Dam tak melupakan sahabatnya, yang selama itu tinggal di Jeddah bekerja sebagai pembantu konsul, yaitu si Sondari. Tuan dan nyonya Dam mengunjungi Sondari di Jeddah, wahai sama-sama lain dulu lain sekarang. Sama-sama berpelukan dan berciuman, lumrah, belum ada batas yang memisahkan antara dua sahabat itu. Sondari belum masuk Islam, belum naik haji, ha-ha- ha-ha. Dan belum ganti nama Haji Mukti, ha-ha-ha".

Lalu siapa Haji Mukti sebenarnya? Sampai buku ini diterbitkan tidak diketahui siapa sebenarnya Haji Mukti. Bahkan, nama Haji Mukti pun tidak diketahui apakah nama samaran atau nama sesungguhnya.

sumber artikel: http://
goesprih.blogspot.com/2008/10/hikayat-siti-mariah_23.html

Sabtu, 21 Juli 2012

Babad Diponagoro dan Babad Dipanegara (ing Nagari Ngayogjakarta Adiningrat) II


1 set (2 buku)

 Harga: 1 set (2 buku) Rp. 500.000 (blum ongkir)
Buku 1: Babad Diponagoro. Alih Aksara dan ringkasan terjemahan: Dra. WAHYATI PRADIPTA 1981
Buku 2 : Babad Dipanegara (ing Nagari Ngayogjakarta Adiningrat) II. Alih Aksara : Ny. Dra. AMBARISTI LASMAN MARDUWIYOTO 1983
Kondisi: Lumayan.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1981 & 1983
Tebal: 394 & 469 hal.
Berat: 0,87 Kg

BABAD DIPONAGORO
Tujuan penulisan Babad Diponagaro adalah untuk memperingati pengalaman hidup pribadi. Awal kisah bermula dari ketika Pangeran Diponagoro mulai gemar belajar agama. Sejak dia menghayati agama, ia gmar berkelana yaitu ketika berumur dua puluh tahun. Ia sadar bahwa hidup di dunia ini tidak lama, karena itu agar hidupnya berjalan dengan selamat tak ada jalan lain kecuali dirinya mendekati Tuhan. Akan tetapi ia masih menghadapi hambatan, seiring terkena godaan wanita. Dalam berkelana, Pangeran Diponagoro mempunyai pengalaman-pengalaman spiritual, antara lain ketika ia sedang bersemadi di sebuah gua, dilarut malam datanglah Sunan Kalijaga dengan cahaya bulan purnama, menyampaikan warta bahwa kelak Pangeran Diponagoro akan menjadi raja. Selesai menyampaikan warta, Kanjeng Sunan Kalijaga lalu musnah. Pangeran Diponagoro terheran-heran dan menyesali dirinya, karena ia tidak sempat menghaturkan sembah bakti.

sumber: http://www.bpsnt-pontianak.org/elibrary/index.php?page=ringkasankat&id=2323

Rabu, 18 Juli 2012

KETIKA JURNALISME DIBUNGKAM SASTRA HARUS BICARA


Harga: Rp.45.000 (blum ongkir)
kondisi: BAGUS, 2005
berat: 0,18 kg
tebal: 243 hal

Jurnalisme seperti sebuah detektif yang harus memecahkan masalah. Ia menjadi seperti mercusuar yang cahaya membimbing kita untuk mencari kebenaran. Namun karena ia adalah sejatinya sebuah fakta (baik secara psikologis maupun sosiologis) terkadang ia menemukan batu sandungan. Terbelit oleh berbagai rantai kepentingan. Pemodal. Politik. Bahkan hingga nyawa.
Ketika kekuasaan membredel kegiatan jurnalisme atau pemodal hanya sekedar mencari ratting dan memaksakan sebuah agenda kepentingan maka itu adalah kerangkeng jurnalisme.
Lantas dimana manusia bisa berteriak lantang dan menyuarakan fakta sebenarnya.
Sastra mengambil peran tersebut. Fakta-fakta disisipkan dalam buku sastra. Bahkan terkadang buku novel lebih jujur dibanding buku-buku sejarah. Misalnya saja buku tetralogi Pulau Buru karya Pramoedia Ananta Toer yang berhasil menyajikan setting masa kolonialisme Belanda. Novel Multatuli, Max Havelar tentang nasib rakyat yang dijajah.
Untuk karya sastra modern semisalnya September karya Noorcha M Massardi yang menyajikan latar kejadian 30 september 1965. Rahasia Meede karya ES Ito dan The Jacatra Secret karangan Rizky Ridyasmara yang menyajikan fakta-fakta sejarah yang cukup lengkap. Sastra seperti sulur-sulur tanaman rambat yang menggerayani tembok (kekuasaan dan pembungkaman) dan dengan lambat namun pasti merapuhkan dan menghancurkan
Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. (www.goodreads).

sumber artikel: http://terasimaji.blogspot.com/2010/11/ketika-jurnalisme-di-bungkam-sastra.html

KENTUT KOSMOPOLITAN


Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
 Sekuel kedua dari JAKARTA AFFAIR
kondisi: Second bagus/ baru lepas segel
berat: 0,29 kg
tebal: 295 hal
Penulis SGA (Seno Gumira Ajidarma)

 Dalam dunia kita, kesehatan itu lebih dari berguna. Menahan kentut dianjurkan oleh kesopanan, tetapi sangat tidak berguna untuk kesehatan. Nalar manusia harus bekerja, jangan menyerah kepada yang tidak masuk akal, karena konsensus kentut sedunia ini sangat-sangat-sangat bisa diubah. Jika tidak, kehidupan akan masih penuh dengan kebohongan, karena konflik kepentingan antara kesopanan dan kesehatan ternyata diatasi dengan dagang sapi: dalam pergaulan orang- orang sopan, kentut tetap diberlangsungkan diam-diam. Hanya Si Buta dari Gua Hantu yang bisa mendengarnya, apakah di dalam rapat kabinet terdengar bunyi psssttt, atau di tribun kehormatan, dalam riuh genderang dari drumband yang sedang lewat, sebetulnya terdengar juga bunyi brrooootttt!

Trilogi Insiden. Saksi Mata(kumpulan cerpen), Jazz, Parfum dan Insiden(Novel) dan ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara(kumpulan Esai)


Harga: Rp.60.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, baru lepas segel
Tebal: 452 hal
Berat: 0,37 Kg
Stoks: 5 Biji

“Seberapa jauh pembantaian orang-orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apa pun dari sebuah lembaga mana pun? Saya ingin mendengar sebuah jawaban.”

Setidaknya ada tiga buku Seno Gumira Ajidarma yang merupakan Trilogi Insiden–ketiganya mengandung fakta seputar Insiden Dili, yang ditabukan media massa semasa Orde Baru.

itulah Saksi Mata(kumpulan cerpen), Jazz, Parfum dan Insiden(Novel) dan ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara(kumpulan Esai) yang diterbitkan ketika orde baru masih berkuasa. ketiganya telah menjadi dokumen, tentang bagaimana sastra tak bisa menghindar untuk terlibat, secara praktis dan konkret, dalam persoalan politik–apabila politik kekuasaan itu menjadi semakin tidak manusiawi.

Di masa reformasi, kewaspadan atas perilaku kekuasaan tidak bisa dilepaskan. Ketiga buku ini diterbitkan kembali dalan satu judul, sebagi Trilogi Insiden, memeniuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan.

KERAJAAN-KERAJAAN AWAL KEPULAUAN INDONESIA DAN SEMENANJUNG MALAYSIA

TERJUAL
Kondisi: segel
KERAJAAN-KERAJAAN AWAL KEPULAUAN INDONESIA DAN SEMENANJUNG MALAYSIA
Pengarang : Paul Michel Munoz
Penerbit : Mitra Abadi
ISBN : 979-320-007-3
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : 2009
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : xvi + 554
Kertas Isi : HVS
Cover : Soft
Ukuran : 15 x 22
Berat : 0,70 Kg
Belakangan ini di Indonesia, orang begitu mudah jatuh mencari identitas baru. Barangkali muak dengan keadaan yang sekarang terjadi di Indonesia abad ke-21, yang menegasikan keinginan mereka disebut orang Indonesia dengan kata "malu jadi orang Indonesia" atau kata lainnya, mereka mencarinya hingga jauh ke belakang, ke awal, bukan kepada munculnya semangat kebangsaan di awal abad ke-20, tetapi melesat hingga ke zaman kejayaan Nusantara. Majapahit, Sriwijaya, Salakanegara sebut saja yang belakangan ini mengemuka sebagai kerajaan yang disinyalir lebih dulu dan utama daripada Tarumanegara di pulau Jawa, orang-orang bergegas memaknainya sebagai identitas baru yang hendak dimunculkan menggantikan gagasan ke-Indonesia-an yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda tahun 1928. Seperti apakah wujudnya, semua sebetulnya sedang meraba-raba. Sekelompok anak muda tergabung dalam Turangga Seta sedang bergiat betul mencari "piramida" yang diyakini ada ratusan jumlahnya, sebagai pertanda kejayaan Nusantara. Ahli-ahli dari luar, seperti Profesor Arysio Santos menjadi fenomena sejak mengatakan Atlantis itu sebetulnya ya Nusantara. Lalu semua itu segera diakui sebagai identitas baru tanpa berupaya berpikir jernih bagaimana akar sejarahnya. Fenomena apakah ini kalau bukan "kegamangan identitas"?

Digerakkan oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendapatkan cerah pikir itulah, buku ini dapat menjadi pengantar yang melengkapi perdebatan banyak orang tentang keberadaan kerajaan-kerajaan yang diduga memiliki kecerdasan setingkat kerajaan Firaun di Mesir kuno. Benarkah ada jejak sejarahnya? Buku ini mengupas semua kerajaan awal di Indonesia hingga Semenanjung Malaysia dari zaman prasejarah, abad 1-7 M, dan abad-abad kelanjutannya secara kritis. Melalui buku ini, Munoz secara luar biasa memberi banyak sumber sejarah (bukan saja dari Barat, tetapi juga sumber dari China dan Arab) dan mencoba memberikan analisa terkini dan mendetail tentang kerajaan-kerajaan awal kita.

sumber artikel: http://www.goodreads.com/review/show/57981400
DAFTAR ISI :

BAB 1. PRAKATA

BAB 2. PRASEJARAH
Paleolithikum
Hoabinhian
Bacsonian
Kerajinan batu dan batu belah lanjut (later Pebble And Flake Industries)
Kerajian Niah
Kerajinan Tingkayu
Kerajian Toali, Sulawesi
Kerajinan Sampung Jawa
Kerajinan Timor dan Flores
Neolithikum Awal, Suatu Periode Peralihan
Gua Sireh, Niah dan Lubang Angin, Kalimantan
Kebudayaan Ban Kao: Ekspansi di Semenanjung Malaysia
Neolithikum: Migrasi-Migrasi Austronesia
Keragaman Kultural
Kebudayaan Megalithikum
Organisasi Kekeluargaan, Klan dan Kesukuan
Perburuan Kepala dan Kuburan Tempayan: Dua Adat Kelompok Austronesia
Kuburan Tempayan
Jaman Logam
Kebudayaan Dong Son
Kebudayaan Sa Huynh
Difusi Kerajinan-Kerajinan Paleometalik
Pasemah: Sebuah Buku Terbuka Bagi Jaman Logam dan Neolithikum Akhir
Kebudayaan India
Penetrasi India: Mitos dan Legenda
Kaudinya, Sang Brahmana
Agastya, Mitos
Ajia Saka, Sang Pahlawan
India Barat Daya Abad 3 SM
Kaum Shaka, Indo-Scythe
Penetrasi Kebudayaan India: Teori Emas
Penetrasi Kebudayaan India: Penjelasan yang Lebih Prosaistik
Catatan Tentang Pengaruh Kebudayaan Cina
Kesimpulan Atas Indonesia Prasejarah


BAB 3. PENDAHULUAN : ABAD 1 - 7 M
Ajaran Buddha
Ajaran Hindu
Kekuatan Maritim
Berlayar dengan Angin Musim
Proses Pembentukan Negara Politis di Asia Tenggara
Tahap Pertama: Sebuah Fase Lokal
Tahap Kedua: Sebuah Fase Regional
Tahap Ketiga: Fase Imperial
Kronologi Perkembangan Negara di Asia Tenggara: Roda Perdagangan
Funan
Kerajaan-Kerajaan Awal Abad : 1 - 5
Lin Yi (Cham)
Dunsun
Panpan
Langkasuka-Kedah
Chitu (Tanah Merah)
Kiu-Li
Barousai (Barus)
Ko-Ying
Si Tiao
Poli
P'u-Lo-Chung
Chu-Po
Kutei
Kerajaan-Kerajaan Abad ke-5 dan 6 M
Lin-Yi Cham
Panpan
Langkasuka-Kedah
Kantoli
Holotan
Tarumanagara (Tolomo)
Holing (Chopo)
Pemerintahan Kerajaan-Kerajaan Hindu Awal
Kesimpulan Tentang Kerajaan-kerajaan Awal


BAB 4. PERIODE KLASIK
Sumatra dan Semenanjubng malaysia: Abad 7-13 M
Malayu: Periode Awal, Abad 17 M
Sriwijaya
Sebuah Semesta Buddha
Penaklukkan Malayu
Sekilatas Tentang Kutukan-Kutukan Tantrik
Bangka, Sunda dan Jawa Tengah
Langkasuka: Keberhasilan Diplomasi?
Integrasi Panpan/ Tambralingga
Jawa tengah di Bawah Sailendra
Petualangan-Petuangan di Kamboja Selatan
Kapal-Kapal Sriwijaya
Pembebasan Spiritual Kamboja Selatan
Jawa Tengah: Persekutuan dan Pemecahan
Beberapa Aspek Prosaik dari Kehidupan Maharaja
990 M : Perseteruan Beasar Melayu-Jawa
Pusat-Pusat KekuasaanSriwijaya
Perang Berkepanjangan di Kamboja: Campur Tangan Tambralingga
1025M: Bencana dan Dekadensi
Semakin Melemah
Palembang, Ibukota Sriwijaya yang Hilang
Pergeseran Politik: Hegemoni Jambi
Hentakan Melayu yang Terakhir
Tumbangnya Melayu
Senja Sebuah Mandala
Daftar Duta-Duta Sriwijaya yang Diutus ke Cina
Sumatra di Bawah Pengaruh Jawa
Melayu pada Abad 13 - 14
Kerajaan Minangkabau Adityavarman
Sumatra Selatan pada Abad 14
Palembang dan Jambi Pada Abad 14 dan 15
Abad 14: Pembalasan Majapahit
Abad 15: Sarang Bajak Laut
Beberapa Catatan Tentang Sejarah Singapura
Sumatra Utara, Barus dan Panai
Barus
Panai

Sumatra Utara: Negara-Negara Dagang di Wilayah Selat pada Akhir Abad 13
Jawa, Abad 5 - 15
Jawa Barat, Abad 4 - 15
Holotan, atau Haratan
Tarumanagara, atau Tolomo
Kerajaan Banten Girang
Kerajaan Pajajaran
Lepasnya Banten Girang
Lepasnya Sunda Kelapa
Jawa Timur dan Tengah, Abad 5 - 15
Holing (Chopo)
Puncak Kejayaan Dinasti Sailendra
Kerajaan Mataram, Dinasti Sanjaya
Ekaspansionisme: Awal Pengaruh Jawa
Periode Isana
Ekaspansi Pemukiman di Jawa Timur
Masa Kekuasaan Dharmavamsa
Kesalahan Fatal
Pembalasan Dendam dan "Palaya"
Kerajaan Airlangga, Abad 11
Kerajaan Kediri, Abad 11 - 13
Daftar Raja-Raja Kediri yang Bisa Diidentifikasi
Kerajaan Singosari, Dinasti Rajasa, Abad 13
Ken Anggrok, Pendiri Dinasti Rajasa
Anusapati Berkuasa, 1227 - 1248 M
Kekuasaan Toh Jaya, 1248 M
Rangga Wuni dan Mahisha Champaka Berkuasa, 1248 - 1268 M
Kekuasaan Kertanagara
Ekspansionisme Singosari
Hinaan Terhadap Bangsa Mongol
Pemberontakan Kediri
Invasi Mongol
Kerajaan Majapahit, Abad 13 - 15
Kekuasaan Jayanagara
Masa KekuasaanTribhuvana Devi
Administrasi Majapahit
Raja dan Kerabat Kerajaan
Para Yuvaraja
Dewan Menteri
Pemerintahan Provinsi
Pasukan
Kapal-kapal Majapahit
Masa Kekuasaan Hayam Wuruk
Trowulan: Sebuah Kota Simbolik
Suksesi yang Kacau
Akhir Dinasti Rajasa
Dinasti Terakhir
Ekspansi Demak
Kerajaan Blambangan
Bali
Kalimantan


BAB 5. KESIMPULAN PERIODE KLASIK

BAB 6. TAMBAHAN
Kanibalisme
Hinduisme : Wisnuiosme dan Siwaisme
Dewa-Dewa Besar Hindu
Karma
Reinkarnasi
Bhakti
Puja
Tujuan-Tujuan Manusia
Gunung-Gunung Suci, Ibukota dan Kota
Kalender Shaka
Sumber-sumber Sejarah
Epigrafi
Aksara dan Bahasa yang Digunakan dalam Prasasti-Prasasti
Sumber-Sumber Lokal
Sumber-Sumber Cina
Sumber-Sumber India
Sumber-Sumber Eropa
Timur Tengah : Sumber-Sumber Bizantium, Arab dan Persia
Pararaton dan Nagarakertagama: Dua Epik Jawa
Organisasi Sosial Kerajaan-Kerajaan Jawa Timur
Para Raja dan Bangsawan
Rakyat Jelata, Status Hukum dan Perbudakan
Makanan dan Hiburan
Kematian
Administrasi Kerajaan-Kerajaan Jawa Timur
Kebijakan Ritual
Perdagangan dan Ekonomi Kerajaan-kerajaan Jawa Timur
Pajak
Mata Uang, Bobot dan Ukuran
Konstruksi Candi
Borobudur
Patung-Patung
Panel-Panel Relief
Prambanan
Candi Penataran


BAB 7. GLOSSARY

RASTA DAN PERLAWANAN


 
Harga: Rp.40.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, segel
berat: 0,61 Kg
Judul buku: RASTA DAN PERLAWANAN/ Penulis: Horace Campbell/ Penerjemah: Dina Oktaviani/ Penyunting: Fitri Harjanti/ Penerbit: InsistPress Yogyakarta /Edisi: April 2009/
Tebal: lii + 594 Halaman, 13x19 cm./
Stoks: 14 Biji

RASTA DAN PERLAWANAN adalah studi tentang Gerakan Rastafari di dalam semua manifestasinya, dari mulai evolusinya di pegunungan-pegunungan Jamaika hingga manifestasi masa kininya di jalanan-jalanan kota Birmingham dan Pemukiman Shashamane di Etiopia. Buku ini menampilkan sumber-sumber budaya, politik, dan spiritual dari gerakan perlawanan tersebut, serta menekankan pada tuntutan perubahan yang diteriakkan oleh kaum-kaum yang tertindas. Buku ini membongkar tradisi intelektual yang selalu menempatkan cap milenarian pada gerakan Rasta.

••••••••••••••••
Kurangnya studi politik tentang Rastafari di Karibia selalu menjadi sebuah kebolongan yang menyedihkan bagi Revolusi Karibia. Melalui buku ini, Horace Campbell telah membuat sebuah langkah besar untuk mengisi kebolongan tersebut. Bukan berarti juga bahwa para penulis dan pemikir Karibia (kita tidak seharusnya memusingkan pemisahan definisi antara penulis dan pemikir) tidak melakukan banyak investigasi mengenai cara hidup Rastafari dengan segala kejernihan dan kedalamannya di seluruh area investigasi yang memungkinkan, beberapa bahkan menyentuh wilayah-wilayah politik.
Campbell memiliki banyak kualifikasi untuk melakukan pembahasan mengenai Gerakan Rastafari ini. Dia telah berjuang selama beberapa tahun untuk menerapkan teori ilmu pengetahuan masyarakat ke dalam realitas politik di Afrika dan Karibia, dan di dalam prosesnya hal tersebut selalu mengabaikan proses-proses penciptaan Tuhan baru. –Eusi Kwayana

••••••••••••••••
Horace Campbell dilahirkan di Montego Bay, Jamaika pada tahun 1945. Dia adalah seorang penulis, guru, dan juga aktivis politik yang telah banyak belajar di Afrika, Karibia, Inggris, dan Amerika Utara. Tulisannya telah terbit dalam dua buku: Four Essays on Neo-colonialism in Uganda dan Pan-Africanism: The Struggle Against Neo-colonialism and Imperialism, juga sejumlah artikel, makalah, dan esai yang diterbitkan di dalam berbagai jurnal di Inggris, Amerika Utara, Karibia, dan Afrika. Sejak tahun 1981, dia mengajar di Universitas Dar-es-Salaam di Tanzania, Afrika Timur.

sumber artikel: http://blog.insist.or.id/insistpress/archives/1259

Sumatera Barat Plakat Panjang


TERJUAL
Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
Kondisi: LUMAYAN. SINAR HARAPAN 1981
Tebal: 401 hal.
Berat: 0,38 Kg
usaha yang paling nyata atas penulisan sejarah Minangkabau dilaksanakan oleh Rusli Amran, seorang pensiunan Departemen Luar Negeri Indonesia.

Rusli Amran lahir di Padang tahun 1922 dan sempat mengenyam sistem pendidikan Belanda, Jepang dan Indonesia. Selama masa revolusi Rusli Amran membantu penerbitan surat kabar Berita Indonesia dan pada awal tahun 1950 bergabung dalam birokrasi pemerintah, pertama pada Departemen Pertahanan dan kemudian Departemen Keuangan hingga akhirnya pada Departemen Luar Negeri. Selama puluhan tahun Rusli Amran mewakili Republik Indonesia di Moskow dan Paris ketika orang-orang Minangkabau disingkirkan dari program kebangsaan. Ketika Rusli Amran pensiun ditahun 1972, Ia mendedikasikan dirinya pada proyek sejarah berskala besar yaitu menulis sejarah Sumatera Barat dalam bentuk yang bisa dimengerti dan dijangkau oleh para pelajar Indonesia.

Rusli Amran menyenangi arsip. Dia menghabiskan banyak waktu antara tahun 1970-1980 untuk menggali data dan nara sumber di Belanda dan Indonesia, dengan memfokuskan perhatian pada laporan dan penelitian yang tersedia pada Jurnal Kolonial Belanda pada abad ke 19. Buku pertama Rusli Amran adalah "Sumatera Barat hingga Plakat Panjang" yang merupakan sejarah lengkap termasuk juga laporan arkeologis pada abad ke 13. Dalam buku itu, Rusli Amran menitikberatkan pada interaksi Minangkabau dengan Inggris dan Belanda, sampai pada perang Padri dan Plakat Panjang yang merupakan awal dari pendudukan Belanda di Sumatera Barat.

Rusli Amran sangat cermat dalam melakukan penelitian akan tetapi gaya penulisannya dalam bukunya tidak formal. Dia berhati-hati sekali dalam menterjemahkan semua sumbernya kedalam bahasa Indonesia dan bab tentang masuknya bangsa Eropa diberi judul " Masuknya si Bule".

Buku pertamanya ini adalah proyeknya yang paling ambisius dengan hampir 700 halaman lengkap dengan referensi sumber, reproduksi dari arsip dan dokumen yang terkait beserta sumber asli. Buku keduanya adalah "Sumatera Barat Plakat Panjang" adalah buku lanjutan dari buku yang pertama yang disertai juga dengan terjemahan dari sumber-sumber Belanda yang diambil dari jurnal Belanda dan muncul dalam apendik. Kedua buku ini membuat sumber-sumber dalam bahasa Belanda yang secara bahasa dan tempat sulit terjangkau menjadi mudah terjangkau bagi para pelajar Indonesia yang berminat mempelajari Sejarah Sumatera Barat.

Buku ketiga dari Rusli Amran adalah "Sumatera Barat: Pemberontakan Anti Pajak tahun 1908" yang menjelaskan mengenai sistem tanam paksa kopi, eksploitasi kolonial pada abad ke 19 dengan penelaahan mengenai reaksi atas pajak. Buku ke empat didedikasikan pada kota kelahirannya Padang yang ditulis masih dengan gaya informal dan berisi campuran antara arsip-arsip dan kejadian-kejadian yang bersifat pribadi pada komunitas Eropa dan Jawa. Rusli Amran juga memasukan koleksi-koleksi foto reproduksi yang mengesankan .

Kegigihan Rusli Amran memakai nama Sumatera Barat daripada Minangkabau dalam setiap tulisannya menunjukan penafsirannya terhadap Sumatera Barat sebagai komunitas yang multi etnis dan sejarah interaksi terhadap bangsa Eropa, Cina, Jawa Batak dan Minangkabau. Buku terakhir dari Rusli Amran diterbitkan setelah beliau wafat pada tahun 1996 dalam bentuk kumpulan esai yang berjudul "Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah". Kumpulan esai ini merupakan penemuan yang menakjubkan pada tokoh-tokoh dan momen yang tidak biasa di Sumatera Barat yang menyenangkan untuk dibaca santai.

Terlebih penting dari tulisan Rusli Amran adalah kebaikan hati beliau selama melakukan penelitian terhadap arsip-arsip tersebut dimana beliau menggandakan setiap artikel dan manuskrip yang ada mengenai Sumatera Barat yang sangat banyak jumlahnya. Rusli Amran kemudian menggandakan dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam tiga lokasi yang berbeda di Sumatera Barat yaitu: Perpustakaan Bagian Literatur dan Kemanusiaan Universitas Andalas di Limau Manis, Ruang Baca Konsul Kesenian Sumatera Barat di Gedung Abdullah Kamil di Padang dan Pusat Dokumentasi dan Inventori Budaya Minangkabau di Padang Panjang. Melalui usaha Rusli Amran ini pelajar yang berminat pada sejarah Sumatera Barat dapat menjangkau buku yang menyediakan gambaran yang jelasi dan tanpa pretensi mengenai masa kolonial. Terlebih lagi mereka dapat menjangkau sumber yang asli tanpa harus pergi ke Belanda maupun Jakarta.

Pada akhirnya Istri dari Rusli Amran mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta sebagai tempat untuk belajar dan pusat dokumentasi dan tempat untuk mendukung penelitian mengenai sejarah Sumatera Barat. Walaupun secara internasional Rusli Amran tidak cukup terkenal, Rusli Amran telah banyak membantu dalam penelitian terhadap sejarah Minangkabau di Indonesia dan bukunya memang wajib untuk dibaca.

sumber potongan artikel: http://www.pelaminanminang.com/artikel/penulisan-ulang-sejarah-minangkabau.html

Bo‘ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima


SOLD BY NTB
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: baru lepas segel 2000
Tebal:642 Kg
Berat: 1,05 Kg
Judul Buku
:Bo‘ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima
Penulis
:Henri Chambert-Loir dan Siti Maryam R. Salahudin
Penerbit :
Yayasan Obor Indonesia (YOI), Jakarta
Cetakan
:Pertama, Januari 2000
Tebal
:Ixviii + 642 halaman
Ukuran
:15,7 x 23,8 cm


Buku di hadapan anda ini adalah buku penting karena merupakan sebuah dokumen sejarah yang berisikan berbagai hal yang berkaitan dengan Kerajaan Bima, kerajaan terbesar yang pernah berkuasa di Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, buku ini sangat penting dibaca bagi para sejarawan maupun khalayak luas yang berminat menelusuri sejarah Kerajaan Bima.

Selain dokumen sejarah, buku ini sangat menarik karena menyertakan pula dokumen asli dari Bo’ Sangaji Kai yang masih berbahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Jawi. Dengan demikian, pembaca yang mengerti tulisan Melayu dapat membandingkan dengan transliterasi yang ada. Jika ada ketidaksesuaian antarkeduanya, pembaca langsung dapat memberi komentar atau membenarkannya sendiri. Akan tetapi, bagi pembaca yang tidak mengerti aksara Jawi tetap akan kebingungan jika tidak memahami transliterasinya.

Maka dari itu, buku ini ditransliterasi oleh dua individu yang cukup seimbang dan saling melengkapi. Pertama adalah Henri Chambert-Loir, seorang sarjana Prancis yang memang menfokuskan diri pada kajian tentang dokumen-dokumen Kesultanan Bima dan yang kedua adalah Siti Maryam R. Salahudin, salah seorang keturunan langsung dari Sultan terakhir Kesultanan Bima. Dalam konteks ini, Henri dapat langsung mengoreksi dan membandingkan apa yang dipahami dan ditulisnya dari naskah Melayu dengan kerabat Kesultanan yang sedikit banyak ada ikatan emosional dengan nenek moyangnya dan tentunya mengenal betul kebudayaan Bima.

Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai foto dan silsilah raja-raja Bima yang pernah berkuasa. Dengan informasi ini, pembaca dapat membayangkan bagaimana keadaan Kerajaan Bima kala itu dan kemudian membandingkannya dengan informasi yang ada dalam naskah Bo’ Sangaji Kai ini.
Tentang Bo’ Sangaji Kai

Bo’ berasal dari bahasa Belanda Boek. Kata ini selanjutnya diserap ke dalam bahasa Mbojo dan menjadi Bo’. Adapun Sangaji Kai adalah gelar tradisonal Bima untuk raja-raja mereka sebelum berubah menjadi Sultan. Dengan demikian, Bo’ Sangaji Kai berarti “buku catatan raja-raja Bima” (h.xi).

Bo’ Sangaji Kai adalah salah satu buku terpenting dari berbagai jenis Bo’ Kerajaan Bima yang lain seperti Bo’ Bicara Kai, catatan Raja Bicara (wazir atau ketua adat) Kerajaan Bima, Bo’ Bumi Luma Rasana’e, catatan pegawai adat Kerajaan Bima, Bo Kadi, catatan tentang urusan agama, Bo’ Melayu, catatan tentang orang Melayu di Bima, dan Bo’ Dare Dura, catatan tentang keluarga bangsawan Makassar. Bo’ Sangaji Kai ditulis ketika Bima masih menjadi kerajaan dan berlaku hingga Kerajaan Bima berubah menjadi kesultanan, tentunya dengan disesuaikan dengan syariat Islam.

Bo’ Sangaji Kai aslinya ditulis di atas daun lontar dengan bahasa dan aksara kuno Bima. Naskah ini kemudian diubah ke dalam bahasa Melayu beraksara Arab atau Jawi pada masa Sultan Abil Khair Sirajudin (1645). Namun, sungguh sangat disayangkan, naskah asli Bo’Sangaji Kai dan Bo’ yang lain kini tidak ada lagi. Semua naskah Bo’ saat ini berbahasa Melayu dengan aksara Jawi. Di satu sisi, hal ini memudahkan pembaca karena bahasa Melayu lebih mudah dipahami (dengan syarat mengerti tulisan Arab) daripada bahasa Bima. Akan tetapi, dari sisi pelestarian naskah asli, hal ini tentu saja sangat menyedihkan.

Bo’ Sangaji Kai secara umum memuat berbagai catatan-catatan pendek atau panjang, yaitu pemerintahan Bima, mulai dari Sultan sampai pejabat yang paling rendah, silsilah keluarga raja-raja Bima ditambah sejumlah catatan tentang hari lahir atau wafat beberapa tokoh dari keluarga bangsawan, undang-undang Kerajaan Bima ditambah dengan catatan pengadilan perkara tertentu, hubungan Bima dengan kerajaan-kerajaan luar dan kompeni Belanda, cerita tentang berbagai ekspedisi Bima ke Manggarai pada tiga masa yang berbeda, yaitu 1727, 1760-1784, dan 1846, antara lain untuk merebut kembali daerah taklukan yang telah dikuasai oleh Makassar, dan sejumlah besar salinan akte yang disahkan oleh Sultan atau Raja Bicara, terutama tentang penjualan tanah dan kelompok masyarakat yang dinamai Dari (h. xiii).

Naskah-naskah ini tentu saja sangat penting untuk dipelajari jika ingin mengetahui seluk-beluk Kerajaan Bima pada masa lalu. Naskah-naskah ini juga menjadi bukti bahwa Kerajaan Bima adalah sebuah kerajaan besar dengan rakyat yang banyak karena sudah memiliki berbagai aturan yang ketat dan rinci.
Jejak Kerajaan Maritim

Satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa Kerajaan Bima merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di wilayah Indonesia Timur. Salah satu petunjuk tentang hal ini terdapat dalam kutipan teks-teks Jawa kuno, semisal Negarakertagama dan Pararaton, yang menyebutkan bahwa pelabuhan Bima telah disinggahi oleh kapal-kapal asing sekitar abad ke-10. Waktu orang Portugis mulai menjelajah nusantara, Bima telah menjadi pusat perdagangan yang berarti (h. xiv).

Bukti lain bahwa Kerajaan Bima pernah menjadi kerajaan maritim terbesar di kawasan Indonesia timur adalah adanya undang-undang Bandar Bima. Undang-undang ini mengatur tentang berbagai hal yang terkait dengan perdagangan yang berlangsung di Bandar Bima kala itu. Undang-undang ini begitu rinci mengatur perilaku para pedagang, utang piutang, budak-budak yang bekerja di Bandar Bima, dan berbagai masalah yang sering terjadi antarpedagang, seperti perkelahian antarpedagang.

Kerajaan Bima sebagai sebuah kerajaan maritim menyadarkan kita bahwa ternyata bangsa Bima memiliki akar kebudayaan perdagangan laut yang kuat. Fakta ini menimbulkan ironi ketika dibandingkan dengan pembangunan masyarakat Indonesia timur saat ini yang masih tertinggal. Kenapa justru kantong-kantong kemiskinan itu bertebaran di belahan timur nusantara yang pernah jaya ini?

Buku ini seolah-olah ingin mengingatkan kita akan ironi tersebut. Barangkali kita memang lupa bahwa Bima dahulu pernah jaya, bahkan menguasai bangsa-bangsa asing yang berniaga di sana. Tidak hanya Kerajaan Bima, beberapa kerajaan di Sulawesi seperti Gowa dan Luwu yang juga memiliki kebudayaan laut yang besar juga sangat Berjaya. Dua kerajaan ini bahkan lebih dulu maju daripada Kerajaan Bima karena budaya tulis Kerajaan Bima konon diajarkan oleh Kerajaan Gowa. Begitu juga dengan Kerajaan Sumbawa dan Dompu seperti yang diungkap secara sekilas dalam topik ini.

Indonesia sebagai negara kepulauan adalah fakta sejarah dan Kerajaan Bima adalah fakta sejarah yang lain. Naskah Bo’ Sangaji Kai ini menjadi dokumen yang penting dan berharga untuk selalu mengingatkan penguasa negeri ini agar terus berusaha mengembalikan kejayaan laut Indonesia dan bukan hanya menjadi sadar hanya setelah pulau atau bagian perbatasan negeri ini diklaim oleh bangsa lain.

(Yusuf Efendi/Res/27/05-10)
SUMBER ARTIKEL: http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/161/bo-sangaji-kai-catatan-kerajaan-bima

Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro


TERJUAL
Kondisi: bagus
Judul Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro
Penulis Purwadi, Megandaru W. Kawuryan, Dipanegara (Pangeran)
Penerbit Tunas Harapan, 2005
ISBN 9791117853, 9789791117852
Tebal 398 halaman

Dilahirkan dari keluarga Kesultanan Yogyakarta, memiliki jiwa kepemimpinan dan kepahlawanan. Hatinya yang bersih dan sebagai seorang pangeran akhirnya menuntunnya menjadi seorang yang harus tampil di depan guna membela kehormatan keluarga, kerajaan, rakyat dan bangsanya dari penjajahan Belanda. Namun resiko dari kebersihan hatinya, ia ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, rekayasa perundingan. Namun walaupun begitu, beliau tidak akan pernah menyesal karena beliau wafat dengan hati yang tenang, tidak berhutang pada bangsanya, rakyatnya, keluarganya, terutama pada dirinya sendiri.Kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan hati, kepemimpinan, kepahlawanan, itulah barangkali sedikit sifat yang tertangkap bila menelusuri perjalanan perjuangan Pahlawan kita yang lahir di Yogyakarta tanggal 11 November 1785, ini.

sumber artikel: http://irwansuhanto.multiply.com/reviews/item/12?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

PECUNDANG


TERJUAL
Harga: Rp.80.000 (blum ongkir)
KONDISI: baru lepas segel. bagus bnget!
Penerjemah: Ahmad Asnawi
halaman: 405 hal
berat: 0,52 kg
SINOPSIS

“Di sini ada kekuasaan, pribadi yang risau, dan kejujuran yang langka.”

-Washington Post World Book.

Sedikit pengarang Rusia yang menikmati popularitas yang sangat besar dalam kehidupannya sebagaimana Gorky, dan sedikit saja novel yang menyodorkan kepada kita kisah yang murung dan mendalam dari prahara besar revolusi Rusia. Pecundang ditulis pada tahun 1907 setelah pemberontakan bersenjata pada Minggu Berdarah yang menengarai Revolusi Bolshevik sepuluh tahun kemudian. Novel ini dengan baik menggambarkan bagaimana kaum belia, yang miskin akan insting politik, terpaksa bergabung dengan rezim Czar untuk memata-matai sahabat-sahabatnya, dan tanpa disadari tercekik oleh tatanan sosial baru. Inilah novel tentang konflik, kesetiaan, histeria massa, pertumpahan darah yang harus dimasukkan dalam senarai fiksi politik abad dua puluh.

TENTANG PENULIS

Maxim Gorky (1868-1936) adalah pengarang Rusia dan dikenal sebagai Bapak Realisme Sosialis. Nama aslinya adalah Aleksey Maximovich Peshkov. Adapun Gorky, nama samarannya, berarti ‘pahit’. Dalam kurun waktu 1906 hingga Perang Dunia I, Gorky hidup di luar negeri. Karena menentang Czar dalam revolusi 1917, ia diasingkan di Capri. Sekitar tahun 1936 ia meninggal secara misterius. Karya-karyanya yang lain diantaranya adalah Foma Gordeyev (1899), Mother and Enemies (1906), The Artamonov Affair (1925), dan Egor Bulychov and Others (1932)

IBUNDA. MAXIM GORKY TERJEMAHAN: PRAMOEDYA ANANTA TOER


TERJUAL
Harga: Rp.70.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, baru lepas segel
Tebal: 513 Kg
Berat: 0,62 Kg


Pramoedya Ananta Toer sebagai Kurir Sastra Dunia

Oleh Anton Kurnia

De plicht van een mens is mens te zijn—
Tugas manusia adalah menjadi manusia.
Multatuli)

Bisa jadi banyak karya para sastrawan dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita jika tak ada para penerjemah yang rela bersusah payah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar.

Pushkin, sastrawan ternama Rusia itu, suatu kali mengibaratkan para penerjemah sebagai “kurir sastra.” Pujian paling tinggi untuk para penerjemah mungkin diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Sastra 1998 dari Portugal yang juga seorang penerjemah produktif, José Saramago. Bekas anggota Partai Komunis Portugal yang kerap berurusan dengan penguasa ini mengatakan bahwa para pengarang hanyalah menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah. Karya terjemahan adalah jembatan untuk menggali khazanah sastra dunia dan memahami budaya bangsa lain tanpa terhalang perbedaan bahasa.

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sastrawan paling terkemuka kita yang dikenal luas dunia dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa asing, di awal karirnya juga merupakan seorang penerjemah andal yang amat produktif.

Memanfaatkan sejumlah bahasa asing yang dikuasainya, antara lain bahasa Belanda dan Inggris, pada sekitar tahun 1950-an ia banyak menerjemahkan berbagai karya sastra dunia, di antaranya Tikus dan Manusia (novel John Steinbeck, 1950), Kembali pada Cinta Kasihmu (novel Leo Tolstoy, 1950), Perjalanan Ziarah yang Aneh (novel Leo Tolstoy, 1954), Kisah Seorang Prajurit Sovyet (novel Mikhail Sholokov, 1954), Ibunda (novel Maxim Gorky, 1956), Asmara dari Rusia (novel Alexander Kuprin, 1959), Manusia Sejati (novel Boris Polewoi, 1959) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji).
Sekitar setengah abad kemudian, beberapa karya terjemahan Pramoedya itu diterbitkan kembali. Ibunda (Maxim Gorky) diterbitkan ulang oleh Kalyanamitra pada 2000, sedangkan Tikus dan Manusia (John Steinbeck), Kembali pada Cinta Kasihmu (Leo Tolstoy) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji) diterbitkan kembali pada 2003 oleh penerbit yang didirikan oleh Pramoedya sendiri, Lentera Dipantara.

Dalm sebuah tulisan tentang proses kreatifnya, Pramoedya mengaku mula pertama menerjemahkan adalah saat ia ditawan Belanda antara tahun 1947-1949 di penjara Bukitduri, Jatinegara. Pramoedya yang pernah menjadi letnan TNI pada masa revolusi dipenjarakan gara-gara kedapatan membawa pamflet perlawanan terhadap aksi militer Belanda.

Saat itu usianya masih muda sekali, di awal likuran. Untuk mengisi waktu, di tengah segala keterbatasan seorang “manusia bubu”, ia belajar menulis dengan cara menerjemahkan karya penulis Amerika Serikat peraih Hadiah Nobel Sastra 1962, John Steinbeck, Of Mice and Men (1937), langsung dari edisi bahasa Inggrisnya yang berhasil ia bawa serta dalam tahanan.

Seperti halnya Pramoedya, John Steinbeck (1902-1968) dikenal dunia sebagai seorang pengarang humanis yang setia mengungkap persoalan-persoalan getir manusia dalam karya-karyanya.

Dalam novel pendek Of Mice and Men yang diterjemahkan Pramoedya menjadi Tikus dan Manusia, John Steinbeck berkisah tentang persahabatan dua manusia gembel: George dan Lennie—sesosok lelaki bertubuh raksasa, tetapi dengan kapasitas otak seorang bocah.

Layaknya manusia-manusia lain yang terserak di muka bumi dengan kesunyian masing-masing, mereka pun punya mimpi tentang masa depan yang indah. Jalan hidup membawa keduanya mengadu nasib di sebuah peternakan. Namun, malang tak dapat ditolak, di sana mereka menemui bencana: Lennie tanpa sengaja membunuh istri majikannya, seorang bekas pelacur yang bertabiat genit. Angan-angan dan rencana masa depan seorang anak manusia pun porak-poranda oleh sebab-sebab yang terjadi di luar kontrolnya.

Saat menerjemahkan novel itu, Pramoedya sekaligus mempelajari dan mencerna teknik penulisan Steinbeck, untuk kemudian ia gunakan bagi perkembangan kemampuan menulisnya sendiri. Pramoedya mengakui secara terbuka bahwa ia banyak belajar dari John Steinbeck dengan cara ini. “Teknik yang dihadiahkan Steinbeck padaku tampaknya akan menjadi milik tetap… Steinbeck menderetkan kata-kata sederhana bermuatan padat, kalimat-kalimat apik dan utuh,” tulisnya suatu kali.

Novel Ibunda karya Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka Rusia pengobar realisme sosialis, diterjemahkan Pramoedya dari edisi bahasa Belanda, Maatje, tak berapa lama setelah ia menikah untuk kedua kali, dengan Maemunah Thamrin—istri yang setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Novel ini dikenal sebagai adikarya dalam genre realisme sosialis dan pada masanya sempat menjadi pengobar semangat kaum buruh tertindas di Rusia untuk ambil bagian dalam revolusi pada akhir masa kekuasaan Tsar di awal abad kedua puluh. Pramoedya mengagumi Maxim Gorky dan banyak belajar dari karya-karyanya.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan André Vltchek dan Rossie Indira yang diterbitkan dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian! (2006), Pramoedya kembali mengakui pengaruh John Steinbeck dan Maxim Gorky terhadap karya-karyanya. Bukan kebetulan ia menerjemahkan novel-novel terkemuka karya kedua sastrawan besar dunia itu.

Lebih lanjut ia mengemukakan alasannya, “Saya suka realisme sosialis, karena itu suatu realisme yang berhubungan dengan masalah tanggung jawab sosial.” Pada sebuah kesempatan, Pramoedya pernah menulis bahwa baginya keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Sementara itu, Dewi Uban merupakan lakon karya dua pengarang Cina, He Tjing-Ce dan Ting Ji. Lakon ini mengisahkan sebuah perlawanan kolektif terhadap penindasan, sebuah kisah yang konon diangkat dari kejadian faktual-historis yang kemudian menjadi setengah legenda di daratan Cina. Lewat kisah Dewi Uban, para penindas, kaum kapitalis tamak yang suka menipu, para pencoleng tak tahu malu yang menimbun kekayaan dari keringat dan kerja keras orang lain, ditelanjangi dan dihinakan.

Sebaliknya, mereka yang berani melawan dan setia menegakkan kebenaran pada akhirnya akan menemui kemuliaan. Karya ini mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan bahwa penindasan dan kebohongan tak akan mampu menghancurkan kebenaran. Bahwa kejahatan dan kebusukan pada akhirnya akan terbongkar dan menemui kehancurannya sendiri. Di tangan Pramoedya, kisah ini diterjemahkan dengan penuh penghayatan sehingga menggerakkan perasaan dan kehendak pembacanya untuk melawan angkara dan penindasan.

Karya-karya sastra utama dunia yang diterjemahkan Pramoedya bagi anak-anak bangsanya itu mencerminkan sikap dan keyakinannya dalam menulis. “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan,” ujarnya suatu kali.

Sumbangan Pramoedya Ananta Toer bagi anak-anak bangsanya melalui harta karun sastra dunia yang ia terjemahkan dengan tekun amat besar manfaat dan maknanya. Melalui karya-karya terjemahan itu kita bisa belajar dan menarik manfaat dari adikarya para sastrawan terkemuka dunia.

Karya-karya beberapa penulis itu hingga kini—saat gairah menerbitkan buku dan menerjemahkan sastra dunia marak kembali—tak ada lagi yang menggarapnya, misalnya karya-karya Mikhail Sholokov (1905-1984), pemenang Hadiah Nobel Sastra 1965 dari Uni Soviet. Untuk itu, penting artinya menerbitkan kembali karya-karya terjemahan Pramoedya di masa lalu agar bisa dibaca oleh generasi terkini tanpa terhalang oleh kendala bahasa dan sekat waktu.

Saya pribadi menemukan karya terjemahan Pramoedya untuk pertama kali secara tak sengaja di sebuah toko buku kecil di kawasan Palasari, Bandung, milik Pak Panjang (disebut demikian karena ia berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat) pada sekitar 1996.
>
Saat itu, di zaman yang masih penuh kekangan dan larangan, saya tengah mencari-cari otobiografi Tan Malaka yang sulit didapat, Dari Penjara ke Penjara. Tak dinyana Pak Panjang malah menawari saya sebuah buku agak tebal bersampul merah dengan halaman-halaman kertas yang telah agak menguning. Ibunda cetakan awal. Ditulis oleh Maxim Gorky, diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer. Desainnya dikerjakan pelukis Lekra, Basuki Resobowo. Tanpa banyak pikir saya membeli buku itu dengan harga sepuluh ribu perak. Buku itu kemudian laris berpindah dari tangan ke tangan di antara teman-teman sesama aktivis mahasiswa, mengembara dari satu kamar kos ke kamar kos lain di sebuah asrama mahasiswa di kawasan Cisitu, Bandung. Beberapa kawan mengaku tergerak semangatnya dan tergugah kesadarannya oleh buku itu, termasuk beberapa orang yang sebelumnya hanya sibuk berkutat dengan buku-buku diktat dan laboratorium demi mengejar titel.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kita, seorang pejuang gigih yang amat peduli pada bangsanya, telah pergi meninggalkan pusaka yang tak ternilai: buah pikiran dan karya-karyanya, termasuk karya-karya terjemahan. Selebihnya, berpulang pada kita untuk memaknai dan meneruskan perjuangannya, terutama kita angkatan muda—mereka yang selalu diharapkan Pramoedya sebagai pelopor perubahan, aktor revolusi total yang disebutnya sebagai jalan tunggal untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Senada dengan sepotong sajak Chairil Anwar, penyair cemerlang yang seperti Pramoedya kini juga berumah di Karet, “Kami sekarang mayat. Berilah kami arti. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian….”

* Anton Kurnia, penyunting tiga buku terjemahan Pramoedya Ananta Toer. Saat ini mengampuh buku-buku sastra di Penerbit Serambi Jakarta

Pergumulan Islam di Indonesia, 1945-1970


TERJUAL
Harga: Rp.60.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus
Judul Pergumulan Islam di Indonesia, 1945-1970
Penulis B. J. Boland, Saafroedin Bahar
Penerbit Grafitipers, 1985
Tebal 295 halaman
Berat: 0,29 Kg

Perjuangan NU juga tidak bisa dilepaskan dari cita-cita besar menjadikan Islam sebagai agama negara, menjadi dasar negara, menuju sebuah negara Islam. KH Wahid Hasyim memang memanfaatkan rancangan Pembukaan yang diusulkan tersebut sebagai suatu titik tolak untuk pengaturan lebih lanjut menuju suatu negara Islam. “Kalau presiden adalah seorang Muslim, maka peraturan- peraturan akan mempunyai ciri Islam dan hal itu akan besar pengaruhnya. Tentang Islam sebagai agama negara, hal ini akan penting artinya bagai pertahanan negara. Umumnya, pertahanan yang didasarkan kepada keyakinan agama akan sangat kuat, karena menurut ajaran Islam orang hanya boleh mengorbankan jiwanya untuk ideologi agama.”, tegas KH. A. Wahid Hasyim, salah seorang tokoh NU terkemuka (BJ. Boland, “Pergumulan Islam di Indonesia” (1985)

Jumat, 13 Juli 2012

CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45


 TERJUAL TGL 23 JULI 2012 BY NGAMPAH KAB. BANDUNG BARAT
Harga: Rp.150.000 (BLUM ONGKIR)
KONDISI:LUMAYAN GUNUNG AGUNG DJAKARTA 1956
TEBAL: 158 HAL.
BERAT: 0,22 KG

RESUME BUKU “CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45”

H.B.Jassin telah mencoba mengumpulkan segala hasil tulisan Chairil Anwar, baik prosa, puisi asli maupun terjemahan, ternyatas elama 1942-1949 Chairil telah membuat 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, 4 prosa terjemahan, jadi 94 tulisan.

Sajak Chairil anwar yang sudah dibukukan ialah “Deru Tjampur Debu” diterbitkan oleh pembangunan tahun 1949, merupakan kumpulan yang terdiri dari 27 sajak. Kedua “Kerikik tadjam dan Jang terampas dan Jang putus” diterbitkan oleh Pustaka Jaya 1949. “Tiga menguak Takdir” diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1950.

Antologi Kerikil Tadjam Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari dua bagian yaitu, Kerikil Tadjam yang terdiri dari 32 sajak dan Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari 11 sajak. bagian pertama semuanya dibubuhi tanggal secara kronologis, kecuali kepada “peminta-minta”.

Kerikil Tadjam adalah kumpulan puisi Chairil yang beredar di masa Jepang, hanya terdiri dari 28 sadjak. Dalam Tiga Menguka Takdir memuat 10 sajak Chairil. Chairil bukan seorang yang lancar membuat sajak dalam pengertian bahwa ia dengan mudah menulis sajak. Ini terlihat dari hasilnya yang dalam 6,5 tahun hanya aberjumlah 70 sajak.

Jang Terempas dan Jang Luput adalah kumpulan puisi Chairil yang hampir semuanya bernadakan suara maut, suatu pilihan yang rupanya dipengaruhi oleh kesadaran penyair akan ajalnya yang makin dekat. Tidak pernah disangka adanya pengaruh-pengaruh Chairil Anwar, tetapi pengaruh itu sudah demikian meresapnya pada jiwanya sehingga dalam menciptakan kembali pengaruh itu terjalin secara organis dalam hasil seninya.

Pada Chairil kita lihat pengaruh-pengaruh Marsman dan Slauerhoff, malahan demikian besar pengaruh itu sehingga alat-alat perbandingan dan ungkapan kedua penyair itu sana-sini terpakai olehnya. Ada sesuatu yang hidup pada diri Chairil, ssuatu yang minta diucapkan, minta dibentukkan. dalam mencari pembentukan ia bertemu dengan Marsman dan Slauerhoff dan ia mempergunakan alat yang dipakai keduanya.

Jadi di sini sebenarnya tidak ada penyaduran tapi lebih tepat kalau dikatakan ada pengaruh. Sebab saduran sebagai adaptasi yang asing kepada kepunyaan sendiri dengan tidak merubah maksud pikiran yang terkandung semula.

Bahasan Boejoeng Saleh bahwa ada kemungkinan Chairil Anwar dengan sadar memindahkan lingkungan suasana keilmubumian Spanyol kepada suasana kepulauan Indonesia rasanya agak jauh dicari. Beberapa sajak Chairil yang jelas saduran tapi pula saduran yang puitis adalah “Rumahku”, “Kepada Peminta-Minta”, “Orang Berdua”, Kerawang-Bekasi”, “Datang Dara Hilang Dara”, “Fragmen”. Enam sajak saduran dan terjemahan inilah yang memakai nama Chairil dengan tidak disebutkan bahwa itu terjemahan atau saduran.

Sajak “Kepada Kawan” memperlihatkan pengaruh-pengaruh dari Marsman dan Slauerhoff. Pengaruh itu terlihat dari semangat, penggunaan kata, dan perbandingan-perbandingan. Tapi dalam kesuluruhannya sajak itu mendukung duniannya sendiri sehingga cenderung menggolongkannya.

Akibat revolusi atau jiwa budaya ini diramalkan lebih besar daripada akibat politis. Ia mempunyai keinsyafan bahwa bangsa Indonesia harus meninjau sebuah kesusastraan bangsa-bangsa lain daripada bangsa Belanda, agar kesusastraan Indonesia dapat bersemi yang baru. Ia sendiri telah mencurahkan tenaganya untuk manyalin karangan dan syair bahasa asing.
Ditulis oleh: Alfian Rokhmansyah pada Sabtu, April 09, 2011


Selasa, 10 Juli 2012

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, EDISI BARU TAHUN 2008

jacket buku

Harga: Rp.90.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS. HARD COVER ADA JACKET BUKUNYA
PENERBIT: MIZAN CET 1EDISI BARU TAHUN 2008
Tebal:397 halaman
Berat: 0,77 Kg

hard cover


Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif,

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Perjalanan Religius Umrah dan Haji


Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus 1977 PENERBIT PARAMADINA
tEBAL: 109 HAL
BERAT: 0,17 KG
Nurcholis Madjid (1997) menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praksis untuk komitmen-solidaritas sosial. Haji merupakan ibadah individu dengan implikasi sosial. Buku Perjalanan Religius Haji dari Cak Nur merupakan kumpulan ceramah tentang haji dan umrah di Universitas Paramadina. Buku itu memiliki muatan studi teologi, intelektual, sosial, dan kultural.


Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan


 
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS
PENERBIT: MIZAN CET 5 TAHUN 1993
Tebal:344 halaman
Berat: 0,33 Kg

Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif,

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Khazanah Intelektual Islam


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: LUMAYAN BAGUS
PENERBIT: BULAN BINTANG JAKARTA 1984
Tebal:382 halaman
Berat: 0,300 Kg

Cak Nur sangat kuat dalam penjelajahan intelektual pada tradisi Islam klasik untuk merespons tantangan modernitas dan kegalauan umat Islam di dunia modern. Ia sangat fasih berbicara mengenai pemikiran-pemikiran Islam klasik dan abad modern. Buku Khazanah Intelektual Islam yang ia sunting dan terjemahkan adalah bukti. Bahkan, Cak Nur sangat fasih mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Ia ingin menjadi sosok pious thinker—pemikir yang saleh. Dan rupanya, kesalehan tersebut menjadi semacam ikon Cak Nur, baik dalam kehidupan intelektual, spiritual maupun ritual sehari-hari.
Ada terjemahan karya2 pemikir2 islam paling terkenal seperti ibnu sina, al-ghazali, ibnu rusyd, al-farabi, ibnu taimiyah ... maka kita tahu pemikiran mereka

sumber potongan artikel: http://hmibecak.wordpress.com/2008/03/19/jil-ngaku-ngaku-sama-dengan-cak-nur/


Related Post

ShareThis