.

.

Senin, 28 Oktober 2013

MERAHNYA MERAH

Judul: Merahnya Merah
Penulis: Iwan Simatupang
Tebal: 124 Halaman
Penerbit: Gunung Agung- Jakarta MCMLXXXIII
Tahun: Cetakan Ke-4, 1983
Kondisi: LUMAYAN, eks. Perpust
 Harga: Rp.200.000 (blum ongkir)

Adanya Tokoh Kita dalam suatu komunitas gelandangan di sebuah kota besar. Tokoh Kita ini sebelumnya mempunyai sejarah yang cukup panjang. Sebelum meletusnya revolusi fisik, Tokoh Kita ini adalah seorang calon rahib. Selama revolisi, dia merupakan seorang komandan kompi. Di akhir revolusi, dia menjadi algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat. Akhirnya sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.
Kedatangan Tokoh Kita dalam komunitas kaum gelandangan itu cukup mendapat perhatian para anggota gelandangan. Dia cukup dianggap dan dihormati serta dicintai oleh beberapa diantara penghuni komunitas itu. Maria adalah salah seseorang yang mempunyai perhatian lebih terhadapnya. Maria, yang dalam komunitas kaum gelandangan ini dianggap sebagai sebagai ibu dari sekian para wanita setengah baya yang punya sejarah hidup yang kelam. Sebelumnya, wanita ini bercita-cita menjadi perawat namun, karena takut dengan darah cita-citanya dia tanam dalam hati. Batal menjadi perawat, Maria menjadi pelayan sebuah restoran Katolik. Akan tetapi, di restoran ini dia mengalami nasib sial, dia diperkosa oleh seseorang yang tak dikenal. Akhirnya, seminggu setelah kejadian itu, dia keluar dari restoran itu setelah menyaksikan seorang pastor bunuh diri.
Setelah masuknya Fifi, hubungan Maria dengan Tokoh Kita menjadi sering tidak mesra padahal sebelumnya mereka sangat mesra. Maria mulai uring-uringan terhadap Tokoh Kita karena cemburu Tokoh Kita terlihat begitu akrab hubungannya dengan Fifi, yang membawa Fifi masuk ke dalam komunitas kaum gelandangan mereka itu adalah si Tokoh Kita itu. Fifi diketemukannya di suatu tempat. Fifi ini adalah seorang gadis berusia 14 tahun, yang karena keganasan suatu gerombolan yang membuatnya menjadi seorang gadis yatim piatu dantidak punya tempat tinggal, akhirnya membuat dirinya terpaksa seorang pelacur kelas teri dalam usahanya agar tetap hidup diatas dunia yang ganas ini. Dari awal Maria memang sudah tak bersedia menerima Fifi masuk ke dalam kelompok mereka namun, karena dia terus didesak oleh Tokoh Kita dan dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa kalau Tokoh Kita yang berbicara, selain mengirakan apa yang dikehendaki si Tokoh Kita karena cintanya yang demikian dalam pada si Tokoh Kita.

Suatu hari Fifi raib dari lingkungan mereka. Para anggota gelandangan dikerahkan mencari Fifi ke segenap penjuru kota, tapi mereka selalu pulang dengan keadaan nihil dan putus asa. Yang paling merasa kecewa tiap kali pulang, yaitu Pak Centeng. Pak Centeng merasa terhina karena gagal mencari dan menemukan Fifi. Dia malu sebab selama ini belum pernah Pak Centeng gagal menjalankan misi. Dia malu berat karena predikatnya sebagai Centeng yang paling jagoan diantara para Centeng se kota itu. Ia pun yakin akan dapat menemukan Fifi.

Beberapa hari berikutnya giliran Tokoh Kita yang raib dari kelompok gelandangan itu. Lagi-lagi kelompok gelandangan itu ribut dan kalang kabut mencari ke segenap pelosok kota. Lagi-lagi Pak Centeng merasa malu dan terhina tak terhingga karena dia gagal lagi menemukan Tokoh Kita. Yang paling mengejutkan adalah ketika Maria juga tiba-tiba menghilang. Dia raib seperti Fifi dan Tokoh Kita. Seluruh armada telah dikerahkan dalam mencari ketika gelandangan yang raib, tapi nihil lagi. Lagi-lagi yang paling merasa terhina adalah Pak Centeng, sebab bagaimanapun dia merasa martabatnya sebagai Centeng yang jagoan telah rendah di mata para Centeng yang lain maupun diantara para temannya sesama gelandangan. Para polisi juga dikerahkan sama, mereka tak berhasil menemukan ketika manusia yang raib bagaikan tertelan bumi.
Lama-kelamaan, tiba-tiba Tokoh Kita muncul ke permukaan gelandangan itu. Tapi dia sendiri, Fifi dan Maria tidak bersamanya. Serta merta berpuluh pertanyaan menyerbu di Tokoh Kita. Semua mempertanyakan dimana Fifi dan Maria. Tokoh Kita menceritakan apa sebenarnya telah terjadi. Ternyata Fifi yang raib itu sebenarnya telah lama mati. Fifi dibunuh Maria karena iri dan cemburu yang berlebihan. Sedangkan Maria sendiri sekarang telah masuk biara, mencoba mengakui dosa-dosanya pada Tuhan. Dan sekaligus mencoba mengabdikan diirnya pada Tuhan Yang Mahakuasa, dengan harapan segala kesalahannya bisa dimaafkan olehTuhan Seru Sekalian Alam.

Bagi para gelandangan lainnya, kabar yang diberikan oleh si Tokoh Kita membuat mereka haru dan lega. Tapi bagi si Pak Centeng, sebaliknya. Dia sangat marah pada si Tokoh Kita. Dia menganggap bahwa semua kejadian itu Tokoh Kita lah penyebabnya, karena sebelum Tokoh Kita ini masuk ke dalam lingkungan mereka. Kehidupan kampung gelandangan itu aman-aman saja. Dia sendiri atau Pak Centeng masih bisa bermesraan dengan Maria. Tapi ketika mauk Tokoh Kita, cinta Maria beralih pada si Tokoh Kita lah yang menjadi penghalang cintanya pada Maria. Dengan marah yang berkobar-kobar, Pak Centeng mencabut goloknya. Sewaktu goloknya diayunkan tepat ke arah batang leher si Tokoh Kita itu, polisi pun datang sambil mengacungkan laras pistolnya pada si Pak Centeng. Dan memerintahkan agar Pak Centeng melepaskan goloknya dan menyerah pada polisi. Tapi karena marahnya sama Tokoh Kita sudah demikian besar dan tak tertahankan, Pak Centeng tak mau peduli dengan ancaman polisi itu. Dia tetap mengayunkan goloknya ke batang leher si Tokoh Kita. Akibatnya tanpa ampun, sekali tebas kepala si Tokoh Kita langsung pisah dari badannya pun pistol di polisi, langsung pelurunya menerjang kepala Pak Centeng. Keduanya roboh dan tak pernah bangkit lagi untuk selama-lamanya. Tokoh Kita dan Pak Centeng dikuburkan dengan upacara militer yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara.

Potongan artikel diambil di blog:  http://kedairomanindonesia.blogspot.com/2011/06/merahnya-merah.html

Jumat, 04 Oktober 2013

The Indonesian Killings (Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966)

Judul Buku      : The Indonesian Killings (Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966).
Editor              : Robert Cribb
Judul Asli        : The Indonesian Killings Of 1965-1966, Studies from Java and Bali, Centre of Southeast Asia Studies Monash University, 1990
Penerbit           : Mata Bangsa
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tebal               : XXXIX + 447 halaman.
 SOLD
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)

Buku ini diterbitkan pada Februari tahun 2004, dan kemudian dicetak lagi dan terbit September 2004. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak lama. Cetakan pertamanya Desember 2000, namun kembali dicetak ulang kedua kalinya pada bulan Oktober 2003. Maklum saja, di tahun 2000, buku ini dilarang peredarannya. Buku ini adalah salah satu buku yang terkena sweeping buku “kiri” yang dilakukan Aliansi Anti Komunisme di Jakarta dan Yogyakarta. Akhirnya, buku ini praktis menghilang dari peredaran karena dianggap menyesatkan.
Cap komunis bagi para korban tahanan politik Orde Baru dan tragedi pembantaian PKI 1965-1966 menjadi sisi negatif bagi sosok mereka. Wacana tentang pengungkapan kebenaran pada G30S belum begitu tersebar dan wacana pengungkapan tragedi pembantaian PKI di Jawa dan Bali baru dalam tahap awal menunjukkan diri dalam masyarakat. Peristiwa G30S 1965 memang telah lama diperdebatkan di Indonesia dan Barat dalam berbagai versi, dugaan pelaku, pemberontakan yang terjadi dibelakangnya.
Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang kejam dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan. Para korban Orde Baru dan tragedi 1965 mulai berkumpul, berbagi pengalaman, menerbitkan buletin untuk membersihkan nama baik mereka, meluruskan sejarah, dan mengungkapkan kebenaran.

Kelebihan        :
Buku ini disusun oleh bebarapa karya, artikel, makalah dan tulisan para Indonesianis di antaranya seperti Robert Crib, Michael van Langerberg, Kennet R Young, Keith Foulcher, Kenneth Orr dan Anton Lucas. Juga ada laporan jurnalistik dari wartawan Indonesia Maskun Iskandar dan Jopie Lasut tentang pembantaian di Purwodadi, Jawa Tengah. Ada juga laporan dari Pusat Penelitian dan Studi Pedesaaan dan Kawasan Universitas Gajah Mada serta dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah. Sisi menarik lainnya dari buku ini adalah disertakannya essai Soe Hok Gie tentang riuh dan brutalnya pembantaian PKI di Bali.
Kisah pengalaman dari seorang istri tahanan politik bernama Yeti dan Marni. Yeti dan Marni adalah seorang perempuan yang selamat dari kamp-kamp. Beban mereka adalah lolos dari kematian dengan segala pertanyaan tentang apa salahnya dan makna yang mengikutinya, dan tahun-tahun panjang yang menakutkan dalam kerja keras. (hal.386). Berbagai kisah para korban inilah yang menjadi daya tarik dan nilai lebih dari buku ini.
Cerita pembantaian di Bali menjadi bagian akhir dan kurang begitu lengkap dalam buku ini. Cerita Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali.

Kekurangan     :
Dalam buku Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 ini merupakan buku terjemahan dari judul The Indonesia Killings of 1965-1966 Studies from Java and Bali Centre of Southeast Asian Studies Monash University, 1990 sehingga bahasa yang digunakan sedikit susah dicerna dan di pahami bagi orang awam. Dalam penyajiannya jelas terasa unsur subjektif yang kental dari sisi penulis maupun sumber lisan. Buku ini tidak cocok diperuntukkan bagi semua umur karena sisi penceritaannya cenderung secara murni dari sisi kekejaman dan kekejian perlakuan seseorang kepada orang lain diceritakan secara terang dan gamblang.

Potongan artikel diambil dari blog:  http://sejarahguruterbaik.wordpress.com/2012/07/10/resensi-dan-resume-buku-robert-cribb/

Related Post

ShareThis