.

.

Jumat, 13 Juli 2012

CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45


 TERJUAL TGL 23 JULI 2012 BY NGAMPAH KAB. BANDUNG BARAT
Harga: Rp.150.000 (BLUM ONGKIR)
KONDISI:LUMAYAN GUNUNG AGUNG DJAKARTA 1956
TEBAL: 158 HAL.
BERAT: 0,22 KG

RESUME BUKU “CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45”

H.B.Jassin telah mencoba mengumpulkan segala hasil tulisan Chairil Anwar, baik prosa, puisi asli maupun terjemahan, ternyatas elama 1942-1949 Chairil telah membuat 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, 4 prosa terjemahan, jadi 94 tulisan.

Sajak Chairil anwar yang sudah dibukukan ialah “Deru Tjampur Debu” diterbitkan oleh pembangunan tahun 1949, merupakan kumpulan yang terdiri dari 27 sajak. Kedua “Kerikik tadjam dan Jang terampas dan Jang putus” diterbitkan oleh Pustaka Jaya 1949. “Tiga menguak Takdir” diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1950.

Antologi Kerikil Tadjam Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari dua bagian yaitu, Kerikil Tadjam yang terdiri dari 32 sajak dan Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari 11 sajak. bagian pertama semuanya dibubuhi tanggal secara kronologis, kecuali kepada “peminta-minta”.

Kerikil Tadjam adalah kumpulan puisi Chairil yang beredar di masa Jepang, hanya terdiri dari 28 sadjak. Dalam Tiga Menguka Takdir memuat 10 sajak Chairil. Chairil bukan seorang yang lancar membuat sajak dalam pengertian bahwa ia dengan mudah menulis sajak. Ini terlihat dari hasilnya yang dalam 6,5 tahun hanya aberjumlah 70 sajak.

Jang Terempas dan Jang Luput adalah kumpulan puisi Chairil yang hampir semuanya bernadakan suara maut, suatu pilihan yang rupanya dipengaruhi oleh kesadaran penyair akan ajalnya yang makin dekat. Tidak pernah disangka adanya pengaruh-pengaruh Chairil Anwar, tetapi pengaruh itu sudah demikian meresapnya pada jiwanya sehingga dalam menciptakan kembali pengaruh itu terjalin secara organis dalam hasil seninya.

Pada Chairil kita lihat pengaruh-pengaruh Marsman dan Slauerhoff, malahan demikian besar pengaruh itu sehingga alat-alat perbandingan dan ungkapan kedua penyair itu sana-sini terpakai olehnya. Ada sesuatu yang hidup pada diri Chairil, ssuatu yang minta diucapkan, minta dibentukkan. dalam mencari pembentukan ia bertemu dengan Marsman dan Slauerhoff dan ia mempergunakan alat yang dipakai keduanya.

Jadi di sini sebenarnya tidak ada penyaduran tapi lebih tepat kalau dikatakan ada pengaruh. Sebab saduran sebagai adaptasi yang asing kepada kepunyaan sendiri dengan tidak merubah maksud pikiran yang terkandung semula.

Bahasan Boejoeng Saleh bahwa ada kemungkinan Chairil Anwar dengan sadar memindahkan lingkungan suasana keilmubumian Spanyol kepada suasana kepulauan Indonesia rasanya agak jauh dicari. Beberapa sajak Chairil yang jelas saduran tapi pula saduran yang puitis adalah “Rumahku”, “Kepada Peminta-Minta”, “Orang Berdua”, Kerawang-Bekasi”, “Datang Dara Hilang Dara”, “Fragmen”. Enam sajak saduran dan terjemahan inilah yang memakai nama Chairil dengan tidak disebutkan bahwa itu terjemahan atau saduran.

Sajak “Kepada Kawan” memperlihatkan pengaruh-pengaruh dari Marsman dan Slauerhoff. Pengaruh itu terlihat dari semangat, penggunaan kata, dan perbandingan-perbandingan. Tapi dalam kesuluruhannya sajak itu mendukung duniannya sendiri sehingga cenderung menggolongkannya.

Akibat revolusi atau jiwa budaya ini diramalkan lebih besar daripada akibat politis. Ia mempunyai keinsyafan bahwa bangsa Indonesia harus meninjau sebuah kesusastraan bangsa-bangsa lain daripada bangsa Belanda, agar kesusastraan Indonesia dapat bersemi yang baru. Ia sendiri telah mencurahkan tenaganya untuk manyalin karangan dan syair bahasa asing.
Ditulis oleh: Alfian Rokhmansyah pada Sabtu, April 09, 2011


0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis