.

.

Rabu, 15 Agustus 2012

MEREKA YANG DILUMPUHKAN


 SOLD
MEREKA YANG DILUMPUHKAN
cetakan kedua, Januari 2002
kondisi: BADAN BUKU AGAK SEDIKIT MELENGKUNG
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit Hasta Mitra
Jakarta
1951, cetakan pertama, 2 jilid, Balai Pustaka, Djakarta
1961, cetakan kedua, 2 jilid, Balai Pustaka, Djakarta
1995, In de Fuik, penerjemah Alfred van der Helm, penerbit De Geus, Breda
1995, cetakan pertama, edisi baru dengan EYD, 2 jilid disatukan, Hasta Mitra, Jakarta
2002, cetakan kedua, Januari 2002
xii + 544 hlm; 14.5 x 21 cm
HASTA MITRA 2002


Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 oleh Balai Pustaka, 2 tahun setelah Pram bebas dari penjara Bukit Duri. Pram ditahan Belanda pada tahun 1948 - 1949 karena keterlibatannya dalam tentara republik pada masa akhir perang kemerdekaan, tidak lama setelah Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan Belanda melakukan agresi militernya di Indonesia. Di penjara Bukit Duri inilah buku Mereka Yang Dilumpuhkan (MYD) mulai ditulis, berisi tentang apa yang disebutnya sebagai Manusia Bubu, Manusia Penjara.

Membaca buku ini terasa lebih berat dibanding buku Pram yang lainnya, karena buku ini tidak berisi suatu cerita yang mengalir, melainkan pikiran-pikiran manusia yang ada di dalam penjara. Sehingga membaca buku ini serasa membaca pikiran Pram tentang kebebasan, yang menurut Pram kebebasan adalah segala-galanya. Dengan meminjam istilah Pram: "Kebebasan yang Mahakuasa", tak adalah rasanya sesuatu yang lebih mahakuasa daripada kebebasan.

Buku ini dia bagi menjadi empat bagian. Bagian pertama: Bubu, saat mulai masuk penjara Bukit Duri, dan mulai berkenalan dengan sel, kawan satu sel, kawan sepenjara, komandan penjara, serta sifat manusia-manusia di dalam penjara. Bagian kedua: Antara Laut dan Keringat, saat kerja paksa di Pulau Damar atau Edam, beberapa mil dari pelabuhan Tanjung Priok. Bagian ketiga: Antara Tanah dan Hati, satu bagian khusus tentang pemikiran sahabatnya, Sarpin Danuasmara, mengenai kemerdekaan secara umum, tidak hanya kemerdekaan dari penjara Belanda serta kemerdekaan Indonesia, melainkan juga kemerdekaan atas adat istiadat serta kemerdekaan untuk beribadah. Bagian keempat: Saat-Saat yang Terakhir, yang disebutnya sebagai kebebasan yang mahakuasa.


Kata Pengantar buku ini ditulis oleh Taslim Ali, yang kendati ditulis setengah abad yang lalu, tahun 1951, tapi masih tetap aktual dan tetap valid observasi dan penilaiannya terhadap masyarakat dan manusia-manusianya dalam segala seginya sampai hari ini. Taslim Ali merumuskan tanggapannya tentang watak dan kehendak angkatan baru dalam suatu "Sanjak Liar", sebagai berikut:

Kami telah mual
bau bangkai kata-kata,
memoles bingkai-bingkai tua
dari cermin omong-kosong

Kami mau:
Jantung hidup,
darah merah,
dendang lantang
pukulan nadi
yang menderas napas.
kian deras, hingga balapan
dengan tanggapan
otak dan hati,
otak dan hati sendiri.

Kami benci keindahan kuda pingitan,
yang licin bulunya dan putih,
hidup dari persediaan.

Kami ingin:
Kuda liar di tengah padang,
yang deras melepas mau hatinya,
biar tertarung, biar patah, biar mati,
berani menjuang nasib,
merebut kemujuran
dalam sanggup bangkit kembali,
dengan tenaga sendiri,
untuk turun-naik gunung ..... berlari,
masuk keluar lembah ..... berdiri,
mendesak ke cakrawala
dengan kemauan yang mendidih,
haus baru, lapar baru,
bebas memilih hidup atau mati,
mana suka: Jiwa pelopor.

sumber: http://ykrisnahadi.multiply.com/reviews?&show_interstitial=1&u=%2Freviews

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis