.

.

Selasa, 21 Agustus 2012

Gadis Pantai


 TERJUAL
Harga: Rp.40.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, baru lepas segel
Judul : Gadis Pantai
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Genre : Roman
Tahun : cet II tahun 2003
Tebal halaman : 270 halaman
Berat:0,30 kg

“ Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”

Gadis pantai merupakan seorang gadis belia yang dilahirkan di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Gadis pantai adalah seorang gadis yang cukup manis. Umurnya baru 14 tahun ketika ia pertama kali diambil seorang seorang Jawa yang bekerja pada Belanda. Ia pun mendapat sebutan Bendoro Putri.
Ia sejatinya menolak untuk pindah ke gedung-gedung besar di tempat ia tinggal bersama suaminya. Di dalam kehidupan awalnya sebagai seorang Bendoro putri, ia ditemani oleh seorang sahaya tua. Sahaya tua itu dengan sabar mengajarkan bagaimana caranya untuk berlaku layaknya sebagai seorang wanita utama di dalam gedung itu. Sampai pada suatu ketika, terjadi suatu kejadian pencurian uang belanja, dan sahaya tua itu akhirnya diusir dari gedung itu untuk selama-selamanya.

Sepeninggalan sahaya-nya itu, Gadis Pantai mengalami kesepian yang teramat mendalam. Akan tetapi pesan dari sahaya-nya itu agar ia terus berusaha mengabdi pada Bendoronya membuat ia mencoba melupakan segala kejadian yang buruk itu, sampai pada suatu hari datanglah Mardinah. Mardinah sendiri merupaka seorang yang dibayar oleh pembesar Demak untuk mengusir Gadis Pantai, agar putrinya dapat menjadi Bendoro Putri. Dengan segala upayanya Mardinah mencoba membuat Bendoro Putri merasa rendah diri. Mulai dari membanggakan orang tuanya sendiri yang jurutulis sampai kepada kemampuan baca tulisnya.

Setelah dua tahun lamanya Gadis Pantai berada di dalam gedung kediaman Bendoro, ia pun merasa ingin menjumpai kedua orang-tuanya. Ia pun lalu meminta restu kepada Bendoro untuk menemui kedua orang tuanya. Pada saat ia sampai di kampung nelayan, ia melihat banyak perbedaan yang terjadi, bukan pada fisik kampung nelayan tersebut, akan tetapi terhadap cara pandang orang-orang kampung tersebut kepadanya. Mereka sangat menjaganya, dan menyambutnya dengan pesta semalaman. Dahulu tidak ada perlakuan seperti itu diberikan kepadanya.

Kehidupan yang berat akhirnya datang kembali pada Gadis Pantai. Ia melahirkan anak gadisnya yang pertama. Akan tetapi Bendoro sendiri tidak memperbolehkan Gadis Pantai membawa anaknya tersebut bersamanya. Dan akhirnya ia pun diusir oleh Bendoro. Gadis Pantai pun merasa tersiksa oleh penderitaan itu, dan ia pun akhirnya memutuskan untuk selama-lamanya meninggalkan kampung nelayan, kampung tempat ia berasal. Ia pun berencana pergi ke Blora.

Sebenarnya dari kesekian karya Pramoedya, Gadis Pantai merupakan karyanya yang paling mudah dinikmati selain pendeskripsiannya yang menggunakan bahasa yang lugas, gaya penceritaannya juga sangat menggairahkan. Dan dalam Gadis Pantai ini, saya sebagai pembaca dibuat jatuh cinta kepada tokoh Bendoro. Mungkin ini salah satu keberhasilan Pram dalam menguasai pembacanya.

sumber artikel: http://letirayamada.blogspot.com/2012/03/gadis-pantai.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis