.

.

Minggu, 05 Agustus 2012

KUNDJUNGAN P.J.M. SUKARNO, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI SOWJET UNI


 TERDJUAL BY DADAN DJAKARTA, 7-8-12
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)
KUNDJUNGAN P.J.M. SUKARNO, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI SOWJET UNI
Kondisi: Lumayan, 1959
Tebal: 125 hal

Presiden Soekarno dan Uni Soviet
* Alexei Drugov
PERKATAAN terkenal berbunyi: orang-orang
agung seperti bintang di langit-bahkan waktu
bintang sudah mati, cahayanya masih lama
terlihat orang. Oleh karena itu, perayaan ulang
tahun orang agung bukan hanya alasan
memperingatinya dengan hormat, tetapi juga
mempelajari pengalamannya agar mendapat
sesuatu yang penting untuk mengatasi masalahmasalah
masa kini.Kehidupan dan kegiatan
Presiden Soekarno mewujudkan dua zaman
dalam sejarah Indonesia, yaitu perjuangan
kemerdekaan yang mengakibatkan proklamasi
kemerdekaan pada tahun 1945, dan periode
pembangunan negara Indonesia sampai tahun
1967, ketika Presiden Soekarno mundur dari
jabatannya.
Soekarno mengatakan berulang kali, ide
nasionalismenya berpadu dengan
internasionalisme. Hal itu antara lain dibuktikan
dengan jelas oleh sikap Soekarno terhadap Uni
Soviet. Orang Rusia sampai saat ini mengingat
dengan rasa terima kasih bagaimana pada tahun
1941 Soekarno yang pada waktu itu diasingkan
ke Bengkulu, dalam artikelnya di koran
Pemandangan menyatakan keyakinannya
terhadap kemenangan Tentara Merah (Soviet)
melawan pasukan Hitler.
Soekarno menulis, "Tentara Merah tidak hanya
membela kemerdekaan negaranya sendiri, tetapi
juga akan mendukung pembebasan seluruh umat
manusia dari ancaman fasisme". Pandangan
Soekarno mencerminkan ideologi seluruh
gerakan pembebasan nasional Indonesia. Sikap
Uni Soviet pada masa perjuangan kemerdekaan
rakyat Indonesia ialah meyakinkan Soekarno bahwa Uni Soviet adalah kekuatan yang dapat diandalkan
Indonesia dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Oleh karena itu, pada awal tahun 1948 atas prakarsa Indonesia dicapai persepakatan pendahuluan
mengenai terjalinnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet. Namun, karena beberapa
peristiwa di Indonesia, realisasi persepakatan tersebut secara praktis baru mulai pada awal tahun 1950-
an.
Pada musim semi tahun 1952 delegasi Indonesia berangkat ke Moskwa untuk ikut serta dalam
Persidangan Ekonomi Dunia. Anggota delegasi antara lain Adam Malik, yang kemudian menjadi Duta
Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet, bahkan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil
Presiden RI.
Pada bulan April tahun 1955 Uni Soviet menyambut baik Konferensi Negara-negara Asia dan Afrika di
Bandung. Sambutan positif itu tampaknya dapat meyakinkan Soekarno bahwa persepsi Moskwa
terhadap keadaan dunia setelah Perang Dunia II lebih pluralis daripada pandangan Barat. Sikap negara-
Dok Kompas
Dok Kompas
negara Barat terhadap Konferensi Bandung dan Gerakan Nonblok secara terus terang diucapkan oleh
Menlu AS John Foster Dulles, yang menyebut sikap netral Indonesia sebagai "politik amoral". Satu atau
dua tahun kemudian sikap negatif itu diperlihatkan secara lebih keras pula dalam bentuk bantuan militer
yang diberikan oleh pihak Barat kepada para pemberontak separatis di Sumatera dan Sulawesi.
Banyak pengamat menganggap Soekarno sebagai seorang romantik dalam politik. Soekarno sendiri
tampaknya tidak keberatan atas persepsi itu. Namun, ternyata simpatinya dalam politik luar negeri
ditentukan bukan oleh emosinya, melainkan pragmatismenya, yaitu kemampuannya melihat kepentingan
nasional Indonesia dan mempertimbangkan apakah politik negara lain sesuai dengan kepentingan
nasionalisme Indonesia. Misalnya, seperti diketahui, pada akhir tahun 1950-an waktu Pemerintah
Indonesia menyepakati perlunya modernisasi ABRI, awalnya penelitian mengenai pembelian
persenjataan dilakukan di Barat. Dan hanya setelah ditolak negara-negara Barat secara nyata baru
Jakarta mengarah ke Moskwa dan negara-negara Eropa Timur.
Kunjungan Soekarno ke Moskwa pada Agustus-September tahun 1956 menjadi peristiwa yang sangat
penting artinya dalam sejarah hubungan Indonesia dan Uni Soviet. Baru pada waktu itulah Indonesia
memperoleh simpati di Uni Soviet. Setelah mengunjungi banyak daerah dan berpidato di depan ratusan
ribu orang, Soekarno berhasil mengubah sikap masyarakat Uni Soviet tentang negara Indonesia yang
dianggap jauh dan kurang diketahui, menjadi salah satu negara yang paling disukai orang Soviet. Selain
itu pula, Soekarno menemukan titik persamaan dengan tokoh-tokoh politik Soviet, pertama-tama karena
pertimbangannya saling kepentingan secara pragmatis dan wajar.
Presiden RI menyadari, Uni Soviet bertujuan memperkuat kedudukannya di antara negara-negara
sedang berkembang sebagai benteng anti-imperialisme, yang terus berusaha keras mempertahankan
gagasannya dalam rangka politiknya menentang AS. Sementara itu Soekarno juga berkeyakinan,
kesempatan memperluas pengaruh Soviet di Indonesia terbatas karena banyak faktor, termasuk
perbedaan kebudayaan dan agama.
Keyakinan itu secara umum ternyata benar. Uni Soviet memberikan kepada Indonesia bantuan militer
yang tidak ada bandingannya. Ribuan orang militer Indonesia diajari oleh instruktur-instruktur Soviet.
Kerja sama ekonomi berkembang aktif pada waktu itu. Akan tetapi, semua hal tersebut tidak
mengakibatkan kenaikan nyata pengaruh politik Soviet di RI, khususnya dalam ABRI. Namun, hal itu
tidak mengecilkan arti rasa simpati orang biasa yang timbul antara para anggota AL, AU, pasukan tank
dan roket, serta ahli sipil kedua negara itu.
Yang menjadi contoh perkiraan politik sangat tepat dari kedua pihak tersebut adalah kampanye Irian
Barat. Baik Soekarno maupun pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev tidak mau agar keberadaan kapal
dalam jumlah besar seperti kapal selam dan pesawat terbang militer Soviet di Indonesia melampaui
rangka demonstrasi kekuatan saja hingga mendorong Belanda, sama dengan AS, untuk menyelesaikan
masalah dengan cara politik. Uni Soviet dan Indonesia sepenuhnya saling mengerti mengenai hal itu.
Sebaliknya, dua tahun kemudian saling pengertian seperti itu gagal tercapai waktu Indonesia melawan
pembentukan Federasi Malaysia. Soekarno menduga bahwa Uni Soviet berdasarkan taruhannya di
"Dunia Ketiga" akan sedia memberikan kepada Indonesia bantuan sebesar kampanye Irian Barat. Akan
tetapi, pada saat sengketa dengan Malaysia keadaan dunia berubah sehingga yang dianggap paling
mungkin adalah campur tangan militer Barat yang berpihak kepada Kuala Lumpur. Tambahan lagi
campurtangan seperti itu dapat mengakibatkan konflik besar.
Sekarang kita menghampiri perbedaan penting antara Moskwa dan Jakarta dalam sikap terhadap politik
dunia yang mulai menonjol pada tahun 1962-1963. Soekarno menganggap bahwa pandangan Soviet
menjadi lebih didominasi ide koeksistensi secara damai dan pencegahan perang nuklir. Beliau
memandang sikap itu sebagai gejala kongkalikong antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dengan
mempermainkan negara-negara sedang berkembang. Khrushchev pada gilirannya dan kemudian Leonid
Brezhnev (pemimpin Soviet sesudah Khrushchev) cukup beralasan mengira bahwa dengan
menghilangkan ancaman nuklir mereka bertindak demi kepentingan seluruh umat manusia, termasuk
Indonesia. Perbedaan pendapat tersebut menonjol, misalnya, dalam perundingan Soekarno dan
Khrushchev di Moskwa pada bulan September tahun 1964.
Namun, kalau masalah itu dipandang dari segi masa kini maka intinya ternyata berubah. Dengan
penggunaan bahasa modern, Soekarno kuatir atas munculnya model dunia bipolar sehingga kebanyakan
negara akan dipengaruhi perkembangan hubungan antara dua "raksasa nuklir." Sedangkan ide-ide
Konferensi Bandung, yang dibaktikan Soekarno sampai hari terakhir, berarti penetapan hak politik semua
negara untuk ikut serta secara berdaulat dalam menentukan tata dunia.
Demikianlah kalau saat ini dipertanyakan apa yang masih aktual dari warisan ide-ide Sukarno, maka
seharusnya ditonjolkan ide dunia multipolar dan prinsip persamaan hak semua negara.
* Alexei Drugov, pakar ilmu politik Rusia, pemerhati masalah Indonesia.


0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis