.

.

Rabu, 26 Juni 2013

Yang indah, berfaedah dan kamal : sejarah sastra Melayu dalam abad 7-19 (Seri INIS, #34) by Vladimir I. Braginsky

TEBAL: 695 HAL
BERAT: 1,62 KG
KONDISI: BAGUS INIS JAKARTA 1998

terjual
HARGA: Rp.250 rb (blum ongkir)
TEBAL: 695 HAL
BERAT: 1,62 KG
KONDISI: BAGUS INIS JAKARTA 1998
Judul, Yang indah, berfaedah dan kamal : sejarah sastra Melayu dalam abad 7-19
(Seri INIS, #34)
by Vladimir I. Braginsky
ISBN/ISSN, 9798116577.

buku penting perihal sejarah sastra melayu karya orang Rusia V.I. Braginsky
Ia mengatakan bahwa drama ini merupakan sebuah cermin didaktis yang utuh meskipun tidak secara langsung memperlihatkan sifat didaktisnya; dalam karya seni seperti inilah yang selalu dipandang sebagai karya yang piawai.

Kabarnya, menurut tradisi Melayu-Islam warna hijau ialah pakaian penduduk surga. Apakah itu bermakna raja perempuan Patani dalam drama empat babak itu siap menyongsong kedatangan maut? ‘’Ambil dan kaurasailah nikmat kekuasaan!’’ Agaknya itulah makna tindakannya dengan menyerahkan selempang kuning kepada Bendahara.

Dalam drama empat babak yang sangat dominan bisunya ini warna hijau dan kuning bermain kilas berkilas, ganti berganti, dengan tertib, dengan liar. Ada pula lambang jambatan baik sebagai penghubung dan juga sebagai jambatan sebagai pemisah. Bila lambang ini menjadi penghubung dan bila pula menjadi pemisah? Raja perempuan yang terus membisu menyerahkan kekuasaan kepada seorang pendurhaka yang dulunya dikenal sebagai politikus tangguh. Bukankah di negeri ini dulu pernah ada sebuah drama tari yang dahsyat berlangsung ketika seorang seniman yang juga anggota keluarga diraja menciptakan sebuah tarian yang mengisahkan tentang burung kesayangannya yang terlepas dari sangkar, terbang menghilang ke dalam rimba. Drama empat babak warna warni di panggung Patani ini dihantar dengan membisu, dengan isyarat dan warna-warna dapat lebih dahsyat efeknya dari serangkaian kata-kata yang dapat menguap segera setelah diucapkan.

Di Patani pada suatu masa dulu, setidak-tidaknya seperti yang telah ditinjau oleh Profesor Braginsky, telah berlangsung drama empat babak tanpa kata-kata, dialognya dibuat dengan gerak dan warna-warna. Dan warna-warni yang terpakai dalam bentangan drama empat babak itu bukanlah warna-warna yang dikenal dalam sufisme seperti yang dinyatakan oleh Raymond LeRoy Archer sebagaimana dijadikan semboyan pemandu pada tulisan ini. Drama empat babak itu menggambarkan tentang perlawanan tanpa kata-kata dengan warna-warna setempat. Maka siapa yang sempat jatuh asyik ketika merenunginya tergolong dalam sekelompok orang yang beruntung, karena dapat menikmati karya seni.

sumber potongan artikel: http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=218&kat=5#.UcrWZPnCaSo

1 komentar:

Yovi Ersariadi mengatakan...

ANDA MASIH MENJUAL BUKU INI?

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis