.

.

Minggu, 09 Juni 2013

Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Abad XV dan XVI by H.J. de Graaf, Theodore G. Th Pigeaud


 terjual
Harga: Rp.200 rb (blum ongkir)
 Kondisi: SEGEL Soft COVER
Tebal: 399 hal HVS
Published CET V tahun 2003 by Pustaka Utama Grafiti (first published 1985)

Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Abad XV dan XVI
by H.J. de Graaf, Theodore G. Th Pigeaud

Awal Penyebaran Agama Islam di Jawa
Pada abad XV, salah seorang yang paling terkenal dan tertua diantara para walidi Jawa ialah Raden Rahmat dari Ngampel Denta. Ia diberi nama sesuai dengan nama kampung di Surabaya. Menurut teks-teks lama, Raden Rahmat itu adalah adik: dan menurut teks-teks tua, yaitu babad, ia adalah kakak.
Berbicara mengenai letak Cempa, tentunya berhubungan dengan asal para penyebar Islam pertama di Jawa Timur termasuk Raden Rahmat. Dr. Rouffaer (“Sumatera”) berdasarkan dugaan telah mengidentifikasikan Cempa atau Campa ini dengan Jeumpa di Aceh, diperbatasan antara Samalangan (Simelungan) dan Pasangan. Apabila Cempa (=jeumpa) ditukar tempatnya dengan Pasai, maka rute perjalanannya lebih masuk akal.
Sehubungan dengan perdagangan pelaut Islam menggantikan kedudukan orang bukan Islam. Pedagang Islam dianggap sebagai pesaing ketika melewati jalan yang menyusuri pantai Sumatera dan Jawa menuju ke kepulauan remph-rempah Maluku. Bandar-bandar di sepanjang pantai utara Jawa pertama-tama merupakan pangkalan. Kemakmuran bandar0bandar itu bergantung pada persediaan beras yang dapat mereka tawarkan.
Perpindahan kekuasaan politik ke tangan orang Islam terjai dengan dua cara:
1. Bangsawan Jawa yang kafir dengan sukarela memeluk agama baru iru.
2. Orang asing yang beragama Islam dari macam-macam bangsa membuat rumah mereka menjadi kubu pertahanan.
Pada permulaan abad VI, sesudah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Pulau Jawa, datanglah maulana-maulana dari tanah seberang. Mereka akan menetap di Jawa sesudah didirikannya kelompok-kelopok Islam. Para guru yang datang tersebut memperkuat kemanan kelompok-kelompok itu.
Dalm legenda-legenda mengenai masjid Demak, Sunan Kalijaga menduduki tempat yang penting. Dialah yang berjasa memebtulkan kiblat masjid. Beliau jugalah yang memperoleh baju wasiat “Antakusuma”, yang jatuh dari langit di masjid itu di tengah para wali yang sedang bermusyawarah. Baju tersebut juga disebut Kiai Gundil (Gundul) merupakan salah satu “pusaka” raja-raja Jawa. Legenda dan cerita-cerita tradisi penting, karena telah mengungkapkan betapa pentingnya Masjid Demak dan dapat dianggap dongeng yang termasuk sastra keagamaan untuk menghormati orang suci.
Kelahiran dan Kejayaan Kerajaan Demak pada Paruh Kedua Abad XV dan pada Paruh Pertama Abad XVI
Zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara Pegunungan Muria dan Jawa namun selat itu akhirnya tidak dapat dilayari. Oleh karena itu Demak tidak dapat digunakan sebagai pelabuhan, maka Jepara menjadi pelabuhan Demak. Sedangkan penghubung Demak dengan daerah pedalaman di Jawa Tengah ialah Sungai Serang. Jalan darat juga cukupo baik dilalui pedati melalui batas daerah perairan yang rendah dari sungai Serang dan Lusi mrnuju lembah bengawan.
Munclunya dan bekuasanya Islam mempengaruhi sejarah Jawa pada abad XVII dan abad-abad berikutnya sehingga zaman sebelum Mataram dianggap kurang penting. Namun dengan ditemukannya Suma Oriental, terbukalah kemungkinann menyusun sejarah Demak yang lebih dapat dipercaya. Antara buku Tome Pires ini dengan buku-buku sejarah Jawa Barat terdapat kesesuaian dalam ham pemberitaan bahwa dinasti Demak dimulai dengan tiga orang raja.
Berdasarkan beberapa berita abad XVII dan yang dari Jawa Barat dapat disimpilkan bahwa asal usul dinasti Demak itu dari Cina pada waktu ini dapat dipercaya. Sebagai raja Demak pertama ialah Raden Patah. Pengganti Raden Patah ialah Pangeran Sabrabg Lor. Namun pemberitaan Pires dan naskah-naskah sejarah Jawa barat, tidak banyak yang dapat dinyatakan dengan pasti tentang kehidupan penguasa kedua di Demak itu. Tentu saja penting juga diketahui kapan Demak menjadi menjadi kerajaan yang merdeka. Pemimpin Demak yang ketiga adalah Sultan Trenggana. Dari keterangan-keterangan berbagai cerita rakyat Jawa da berita Pires dapat disimpulkan bahwa raja Demak yang ke tigamemerintah pada sekitar 1504 sampai 1546. Dalam waktu itu wilayah kerajaan diperuas ke barat dan timur, dan Masjid Demak telah dibangun sebhai lambang kekuasaan Islam.
Di Jawa para imam masjid hampir selalu disebut “pengulu”. Imam pertama di Masjid Demak ialah Pangeran, putra Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta. Ia dipanggil oleh Pangeran Ratu untuk memangku jabatab itu. Imam yang kedua ialah suami cucu Nyai Gede Pancuran yang bernama Makdum Sampang. Kemudian ia digantikan anaknya yaitu Kiai GedengPambayun ing Langgar. Imam yang keempat ialah sepupu dari pihak ibu pendahulunya, ia anak Nyai Pambarep yang bergelar Pengulu Rahmatullah dari Undung. Sedangkan imam keliam ialah Putra Pengulu Rahmatullah yang bernama Pangeran Kudus atau Pandita Rabani.
Penobatan raja demak dengan gelar sultan diperoleh oleh Sultan Ahmad Abdu’l Arifin yang dianugerahkan oleh syekh Nurullah. Syekh Nurullah yang pernah ke Tanah Suci, Mekah karena terpengaruh internasionalisasi Islam menganjurkan kepada raja Demak untuk bertingkah laku sebagai raja Islam benar-benar.
Legenda Jawa mengenai direbutnya Majapahit oeh orang Islam dapat dibagi menjadi dua kelompok :
1. Cerita yang menunjukkan segala pujian kepada para alim Islam, dan terutama kepada para ulama dari Kudus.
2. Cerita yang menyanjung Raden Patah, Raja Demak, sebagai pahlawan.
Cerita kelompok pertama itulah yang paling lengkap. Cerita itu terdapat dalam naskah-naskah cerita Jawa Timur dan Jawa Tengah. Cerita kelompok kedua, dimuat dalam babad dari Jawa Tengah yang berisi sejarah keluarga Raja Mataram. Ceritanya lebih ringkas daripada yang termasuk kelompok pertama dan bercorak legenda, diwarnai oleh peran alam gaib.
Apabila cerita-cerita Jawa mengenai jatuhnya Majpahit dibandingkan, ada dua hal yakni keimanan kelompok alim ulama Islam, yakni golongan mmenengah, dipimpn oleh para pemuka yang semula merupakan imam-imam di masjid dan cita-cita politis yang mengarah ke perluasan wilayah kekuasaan dan kemerdekaan kerajaan-kerajaan Islam muda di Jawa Tengah.
Ibukota Islam Demak, menjadi titik tolak perjuangan pada dasawarsa-dasawarsa pertama abad XVI, untuk menyebarkan agama Islam ke barat. Tindakan bersenjata yang dilakukan orang Jawa Tengah, untuk memulihkan atau memantapkan kekuasaan Sultan, dapat dianggap salah satu tindakan kekuasaan maharaja Islam itu. Sedangkan meluaskan daerah ke timur Demak seperti pengusaan wilayah Tuban (1527), Wirasara (1528), Gagelang atau Madiun (1529), Medangkungan (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), Lamongan, Blitar, dan Wirasaba (1541-1542), Gunung Penanggungan (1543), Mamenang (1544), dan Sengguruh (1545).
Sesudah kehilangan ibukotanya, Brawijaya raja terakhir di Majapahit menyingkir ke timur. Ia dan penduduk Jawa Timur yang kafir melawan ekspansionisme umat Islam Jawa Tengah. Perang terjadi pada 1468 J (1546), perebutan Blambangan berhasil, namun wafatnya Sultan tidak diberitakan.
Sistem kerajaan Demak dan Majapahit hampir sama, di masa Demak juga ada “kunjungan menghadap raja” seperti zaman majapahit. Pengadilan pradata juga ada seperti zaman pra-Islam. Dijawa hukum adat dan hukum peradilan yang bercorak Hindu masih bertahan di samping hukum Islam.
Menurut babad di Jawa Tengah, Sultan Trenggana diganti olrh Susuhunan Prawata. Sama sekali tidak ada berita dalam babad Jawa mengenai pemerintahan Susuhunan Prawata. Susuhunan Prawata di bunuh tahun 1549 oleh Arya Penangsang yang akhirnya tahun itu juga mati. Setalah itu Jaka Tingkir menjadi penguasa Demak dan diakui penguasa Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai maharaja. Berikutnya ia memindahkan pusat kerajaan Demak ke pedelaman, Pajang.

Sejarah Kerajaan Lebih Kecil di Pantai Utara Jawa Tengah pada Abad XVI
Pati dan Juwana
Daerah ini dekat dengan ibukota Pati dan Juwana, terletak dekat muara timur sebelah selat tua, yang sejak dahulu memisahkan Pegunungan Muria di Jawa. Juwana dahulu sudah dianggap sebagai kota pelabuhan agak penting. Sedangkan masa kejayaan Pati berlangsung pada abad XVI. Raja Pati yang pertama adalah Ki Panjawi. Pengganti Ki Panjawi adalah Pragola. Pegganti berikutnya ialah Pragola II.
Kudus
Selain karena kealiman dan semangat menyebarkan agama Islam, keluarga Kudus juga berjasa karena salah satu anggotanya menjadi pemuka yang mengorbankan hidupnya untuk berjihad melawan orang kafir. Perselisihan Sunan Kudus dengan Demak menyebabkan ia memilih keluar dari Demak. Menurut legenda, Mbah Kiai Telingsing yang mula-mula menggarap tempat yang kemudian menjadi kota Kudus.
Jepara/Kalinyamat
Sebagai kota pelabuhan dengan teluk yang aman, Jepara selalu lebih disukai daripada Demak. Kekalahan melaan Malaka (1512-1513) menurunkan citra kekuasaan para penguasa Jepara. Kota Kalinyamat kira-kira 18 km ke pedalaman Jepara, di tepi jalan ke Kudus. Yang mendirikan tempat itu ialah orang Cina. Menurut cerita Jawa , sesudah Ki Kalinyamat meninggal, jandanya bersumpah akan terus telanjang selama pembunuh suaminya, Aria Penangsang masih hidup. Selam pemerintahan ratu Kalinyamat perdagangan Jepara dengan daerah seberang semakin ramai.

Riwayat Kerajaan di Jawa Barat
Cirebon
Menurut Tome Pires, pendukuhan Islam pertama di Cirebon ialah ayah Pate Rodin Sr. Tidak terbukti kalau Cina Islam di Cirebon telah mendirikan pemukiman yang benar-benar baru. Menurut cerita-cerita pribumi, pujian tentang pengislaman daerah ini sepenuhnya ditujukan kepada Sunan Gunung Jati.
Banten
Sebelum zaman Islam, Banten sudah menjadi kota yang agak berarti. Sunan Gunun Jati lah yang menjadi penyebar Islam di Banten. Ketika ia sampai di Banten ia segera berhasil menyingkirkan bupati Sunda dan ia mengambil alih pemerintahan. Penguasa Islam yang kedua di Banten, Hasanudin meneruskan usaha ayahnya meluaskan daerah agama Islam. Ketika raja Banten ketiga Yusuf berkuasa berhasil merebut kota Kerajaan Pakuwan. Raj kelima Banten Muhammad selama masih di bawah umur, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh kali bersama empat pembesar lain. Raja ini melarikan diri setelah didesak kekuasaan Mataram.

Sejarah Kerajaan di Daerah Pantai Utara di Timur pada Abad XVI
Jipang-Panolan
Nama Jipang diberikan diantara Gunung Kendeng dan pegunungan pesisir utara, yaitu daerah hulu Sugai Lusi dan Serang. Kerajaan-kerajaan itu berperan penting dalam legenda sejarah Jawa Timur dan Jawa Barat. Aria Penangsang memerintah di Jipang sebagai vasal. Kekalahan Aria Penangsang mebuat keluarganya harus menyingkir ke Surabaya. Pada dasaqarsa terakhir abad XVI daerah Jipang jatuh ke bawah kekuasaan Mataram (1591).
Tuban
Sejak abad XI dalam berita-berita penulis Cina, Tuban disebut sebagai kota pelabuhan. Menurut berbagai dongeng kedudukan Ronggilawe penting di Tuban. Sebagian penduduk Tuban masih kafir. Raja Tuban waktu itu disebut Oete Vira, dia bukan seorang Islam taat walaupun kakeknya Islam. Penguasa Tuban sudah memeluk Islam, tetapi tetap berhubungnan dengan Majapahit kafir. Anggota dinasti Raja Tuban sungguh banyak sumbangannya dalam penyebaran agama Islam di Jawa Timur. Pada abad XVII dan XVIII, meskipun tak berarti lagi di bidang politik dan ekonomi, Tuban tetap masih terkenal sebagai temap tinggal para ulama terkemuka. Akhirnya keluarga raja Tuban yang tua terpaksa tunduk juga pada nafsu serakah Sultan Agung.
Gresik-Giri
Dahulu Gresik merupakan kota pelabuhan yang terkenal karena letaknya yang terlindung selat Madura dan membelakangi tanah subur. Gresik didirikan pada paruh kedua abad XIV di sebidang tanah pantai yang terlantar. Pada 1387 Gresik sudah dikenal sebagai wilayah Majapahit. Gresik dianggap sebagai kota perdagangan laut yang paling yang paling penting di selurih Jawa. Waktu itu di Gresik ada dua penguasa yang saling memerangi. Daerah mereka di kota di pisahkan oleh sungai kecil yang dangkal. Pada perempat terakhir abad XV, kehidupan Prabu Satmat dari Giri, dan ibu angkatnya yang sudah beragama Islam, Nyai Gede Pinatih dari Gresik menguatkan pendapat bahwa Gresik dan Surabaya tempat terbentuknya umat Islam. Pada zaman Tome Pires , para penguasa duniawi di Gresik dan para ulama di Giri hidup berdampingan. Pada abad XVI kekuasaan pemerintahan di kota jatuh ke tangan para ulama, tetapi sekali-sekali keturunan Raja Surabaya juga berkuasa disana. Beberapa cerita Jawa Timur menceritakan tentang adanya hubungan antara Giri dengan Sengguruh, daerah Malang.Penguasa di Gribik (Ngibik) di daerah Sengguruh beralih ke Islam. Pada 1535, penguasa Sengguruh menduduki pusat Islam, Giri.
Surabaya
Nama kota Surabaya disebut dalam naskah-naskah Jawa dari abad XIV. Permulaan abad XVI Surabaya sebagai kota pelabuhan dan kota dagang tidak sepenting Gresik. Perkiraan bahwa raja Surabaya yang sudah dikenal pada tahun 1515, boleh dipandang sama dengan penguasa di Terung. Pada paruh pertama abad XVI para penguasa Islam kota-kota Tuban dan Surabaya sebagai vasal yang bersahabat dengan Majapahit seharusnya memperlihatkan sikap yang hampir sama. Pada tahun 1625 Surabaya menyerah kalah kepada Mataram. Setelah mereka mengalami serangan pada tahun-tahun sebelumnya.
Sejarah Madura pada Abad XVI
Madura Barat
Madura Barat, yang berhadapan dengan Surabaya dan Gresik, dapat dapat lebih banyak mengambil keuntngan dari perkembangan ekonomi, kebudayaan, dan po.litik Jawa Timur dan kerajaan-kerajaan pesisir. Madura memberi sumbangan dalam ekonomi nusantara terutama tenaga kerja, kepada Jawa Timur. Pada permulaan daswarsa abad XVI raja Madura belum memeluk Islam. Keluarga raja Madura Barat sebagiab besar karena terdorong pertimbangan politik akhirnya memutuskan memutuskan mengakui penguasa Islam di Demak sebagai maharaja.
Madura Timur, Sumenep, dan Pamekasan
Sejak abad XIV terjalin hubungan antara Madura Timur dan daerah-daerah di daratan seberangnya. Kerajaan-kerajaan Madura menurut berita tidak berarti sama sekali bagi perdagangan internasional.

Sejarah Ujung Timur Jawa pada Abad XVI
Pasuruan
Sebelum zaman islam, konon Pasuruan atau Gembong merupakan daerah yang paling lama dikuasai oleh raja-raja Jawa Timur di Singasari (Tumapel). Pada dasawarsa pertama abad XVI yang menjadi raja di Gamda adalah putera Guste Oate, mahapatih kerajaan besar kafir. Ia bernama Pate Sapetat dan ia menjadi menantu Pete Pimtor, raja kafir yang berkuasa di Blambagan, juga menantu Raja Madura. Raja dan penguasa kafir Jawa di pedalaman Jawa Timur dan diujung timur jawa itu hingga dasawarsa-dasawarsa pertama abad XVI memiliki semangat cukup besar. Mereka bertahan terhadap pasukan Islam yang mendesak masuk dari pantai utara dan Jawa Tengah. Ada petunjuk samar-samar bahwa pada perempat terakhir abad XVI Raja Pasuruan berhasil melebarkan sayapnya ke pedalaman Jawa Timur hingga Kediri. Namun pada 1616 atau 1617 pasuruan diduduki Matram yang gagah berani.
Probolinggo dan Panarukan
Kerajaan Probolinggo sebagai salah satu dari kelompok tiga kerajaan (disamping Nilambara dan Asmalila) dalam naskah Jawa-Bali yang bernama Adi Purana. Raja islam di Pasuruan yang ada pada akhir XVI berhasil mencaplok Panarukan dan Blambangan, namun kemudian mendapat pukulan telak dari Sultan Agung. Pada 1616 dan 1617 Pasuruan diduduki oleh orang Mataram.
Blambangan
Blambangan sebagai kerajaan yang berada jauh di timur, mempunyai kedudukan penting dalam cerita tutur Jawa. Kerajaan Blambangan mengalami masa-masa perkembangan kekuasaan yang mencolok. Sampai awal abad XVII “kekafiran” ujung timur Jawa, dengan bantuan dan mungkin karena pengarug raja-raja Bali, masih mampu bertahan terhadap desakan para penakluk Jawa-Islam yang datang dari barat.Penaklukan Blambangan oleh gerombolan Mataram dilaksanakan pada 1639.

Sejarah Kerajaan Palembang pada Abad XVI
Sejarah kuno Palembang dan Sumatera pada umumnya, yakni masa sebelum raja-raja Jawa Timur menguasai - pertama kali pada abad XII – daerah-daerah yang semula merup0akan daerah Melayu, masih kabur. Tome Pires mendengar bahwa raja-raja kafir di Palembang pada zaman dulu mengakui raja cafre di Jawa sebagai atasannya. Raja Palembang berpendapat bahwa persekuruan dengan raja Jawa Tengah yang berkuasa itu sajalah yang dapat memberikan perlindungan terhadap serangan Banten.

Sejarah Kerajaan JawaTengah Pedalaman
Pengging dan Pajang
Pajang ialah salah satu “tanah mahkota” kerajaan Majapahit pads aabad XIV, dan Raja Hayam Wuruk paling sedikit melakukan perjalanan tahunann ke daerah Pajang. Pada 1618 raja terakhir dari Pajang menderita kekalahan dalam pertempuran melawan mataram. Ia pun melarikan diri ke Giri dan Surabaya.

Sejarah Kerajaan Mataram pada Abad XVI
Mataram di perkirakan berada di sekitar Sungai Opak. Ketika keluarga raja Mataram dalam masa keemasan pada abad XVII dan XVIII, para pujangga berlomba-lomba mengetengahkan betapa tinggi kebangsawanan dan batapa tua asal usul moyang raja. Penggambaran yang sedikit di dalam cerita tutur Jawa mengenai kegiatan budaya di Kerajaan Mataram abad XVI menunjukkan bahwa kegiatan tersebut merupakan pengaruh dari pesisir utara dan Jawa Timur.

Sebab-sebab Kekalahan Kerajaan Jawa Timur dan Pesisir dalam Perang Melawan Mataram pada Abad XVI dan XVII
Pelayaran dagang Portugis yang menyusup masuk ke wilayah Asia Tenggara sejak permulaan abad XVI, telah merugikan kemakmuran kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Dan pada paruh kedua abad XVI kerajaan sepanjang pantai utara, yang kemakmurannya tergantung pada perdagangan laut, menanggung kerugian berat karena kericuhan politik di dalam negeri dan serangan berkali-kali dari orang Jawa pedalaman. Pengaruh pendatang baru dari seberang laut terhadap susunan penduduk di Jawa pertama-tama terasa di daerah pantai. Sudah dari zaman dahulu ada perbedaan sifat antara “orang Jawa pesisir” dan “orang Jawa pedalaman”.
Posted 22nd November 2012 by VJ Library Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis