.

.

Kamis, 13 Juni 2013

Kronika Pasai, Sebuah Tinjauan Sejarah

Cover


NOT ORIGINAL (djilid fotocopian)
HARGA: Rp.50 rb (blum ongkir)

Teuku Ibrahim Alfian, Kronika Pasai – Sebuah Tinjauan Sejarah,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1973
TEBAL: 108 HAL

Menurut sebuah versi, hikayat raja-raja Pasai ditulis dalam bahasa melayu. Namun menurut seorang sejarawan melayu, UU Hamidy. Hikayat Raja-Raja Pasai yang pernah ditulis di Aceh, terdapat seribuan judul -- nyaris semuanya disusun dalam bahasa Aceh. Pertanyaan yang muncul; kenapa ada Hikayat Raja-Raja Pasai tertulis dalam bahasa Melayu? Inilah pertanyaan yang belum mendapat jawaban yang memuaskan sampai hari ini.

Ada yang berpendapat, bahwa masyarakat di Kerajaan Samudra Pasai memang berbahasa Melayu, sehingga Hikayat Raja-Raja Pasai pun ditulis dalam bahasa Melayu. Prof. Dr. Ibrahim Alfian dalam bukunya “Kronika Pasai” di halaman 8 mendukung pendapat ini bahwa rakyat Kesultanan Samudra Pasai memakai bahasa Melayu. Sewaktu Samudra Pasai digabungkan dengan Kerajaan Aceh Darussalam, masuklah bahasa Aceh ke wilayah itu.
Daftar Isi


Ada pula alasan yang lain, bahwa bahasa resmi Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu, dengan nama bahasa Melayu Pasai. Saya sendiri lebih memilih alasan ini, bahwa bahasa nasional Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu Pasai, sedangkan bahasa sehari-hari masyarakatnya yaitu bahasa Aceh.

Setelah Kesultanan Samudra-Pasai runtuh, bahasa Melayu Pasai diambil alih oleh Kerajaan Malaka. Kemudian, ketika Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis tahun 1511 M, bahasa Melayu Pasai berkembang pula di Kerajaan Aceh Darussalam sekaligus menjadi bahasa nasional kerajaan itu. Kita belum tahu yang mana di antara kedua pendapat itu yang lebih mengandung kebenaran.
Isi dalam buku


Kedua, naskah Hikayat Raja-Raja Pasai dijumpai di Pulau Jawa. Hikayat Raja-raja Pasai yang merupakan bukti satu-satunya tentang kerajaan Samudera Pasai dalam bentuk tulisan dalam bahasa Melayu, naskahnya bukan ditemukan di Aceh melainkan di wilayah Bogor, Jawa Barat. Pemiliknya Kiai Suradimenggala mantan Bupati Demak. Atas inisiatif Thomas Stamford Raffles Wakil Gubernur Jenderal Inggris di Jawa saat itu mengongkoskan orang untuk menyalinnya.

Setelah Raffles meninggal, istrinya menyerahkan naskah itu ke perpustakaan Royal Asiatic Society di London tahun 1830. Tidak lama kemudian, sarjana Perancis E. Delaurier membuat kajian terhadap naskah tersebut, yang seterusnya diterbitkan di Paris tahun 1848.

Buku itulah yang sampai ke Aceh, hingga kita dapat membaca sejarah kerajaan Samudera-Pasai dalam bentuk tulisan, baik Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sebenarnya, terkait sejarah Samudra Pasai, ada satu naskah lain dalam bahasa Aceh, yaitu Hikayat Raja Bakoy, namun kita tak pernah mendengar lagi mengenai posisi keberadaannya.

Kembali ke pokok bahasan. Kenapa Hikayat Raja-Raja Pasai berada di Jawa dan bukan di Aceh utara sebagai tempat yang jadi materi isi hikayat itu? Prof. Dr. Ibrahim Alfian menyebutkan, Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis oleh pujangga kalangan istana Samudra-Pasai sendiri dalam rangka mengangkat citra para sultan di hadapan rakyatnya. Karena itu, dalam hal asal-usul Hikayat Raja-Raja Pasai , ia menyatakan ada kemungkinan Hikayat Raja-Raja Pasai dibawa ke Jawa oleh salah seorang tawanan Pasai yang dibawa ke Jawa oleh pasukan Majapahit(Lihat “Kronika Pasai” hlm. 7).

SUMBER POTONGAN ARTIKEL: http://candleslight-valkyrie.blogspot.com/2011/02/misteri-hikayat-raja-raja-pasai.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis