.

.

Kamis, 24 Mei 2012

SEDJARAH PERDJUANGAN PATTIMURA


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Sedjarah Perdjuangan Pattimura Oleh: M. Sapija 
 Kondisi: LUMAYAN. CET 2 FEBRUARI 1957
Penerbit: Djambatan 
Halaman: 213 HAL..
isi dalam buku

Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy, ini lahir di
Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya terhadap
penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di
Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara
Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap.
Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya.
Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut
jiwanya.

Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang
tidak mau kompromi dengan Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah
Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk
melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Beliau
memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada
hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali rahim
ibu yang melahirkannya.

Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak
wilayah Indonesia yang pernah dikuasai oleh dua negara kolonial secara
bergantian. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu negara ke
negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan, tanpa perebutan.
Demikianlah wilayah Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa
Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi
oleh Belanda.

Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu.
Pada tahun 1798, wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda
berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika pemerintahan Inggris
berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan
terakhir berpangkat Sersan.

Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada
tahun 1816, Belanda kembali lagi berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda
kembali berkuasa, rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. Berbagai
bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan
penyerahan hasil pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima
tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan
perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di
Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh
Maluku.

Di Saparua, Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin
perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura.
Pada tanggal 16 mei 1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi.
Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil
merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu
semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg.

Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu
juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan
benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun,
Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. Belanda kemudian
melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih
banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan
Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur.

Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap
pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke
Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama
dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya.

Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung
pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap
Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan
Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan,
Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian
perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng
Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, eksekusi pun dilakukan.

Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. Dari perjuangannya
dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar
sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama
bangsa dan negara ini.

SUMBER ARTIKEL:  http://azzahraku.multiply.com/reviews/item/66?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa menuliskan sedikit komentar ya....? banyak juga boleh..........thanks.....

Related Post

ShareThis