.

.
Tampilkan postingan dengan label TERJUAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TERJUAL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Adiparwa I & Adiparwa II


Terjual
Harga: Rp.200 rb (blum ongkir)
Jilid I Dikerdjakan oleh: SIMAN WIDYAMANTA (146 halaman) cet ke-2 tahun 1962 & jilid II cetakan -1 (134 halaman) tahun 1958
Kondisi: Lumayan

KITAB ADIPARWA

BAB I
Menceritakan isi dan ringkasan tiap-tiap parwa dalam Mahabarata, serta berisi tentang peperangan keluarga Korawa dan Pandawa yang terkenal dengan nama Bharatayudha. Diceritakan juga tentang Begawan Bhisma yang menjadi senopati Kurawa selama 10 hari, dangyang Drona (Dorna) selama 5 hari yang dikalahkan oleh Dhrestojumeno, senapati Pandawa. Lalu sang Karna menggantikan selama 2 hari dan dikalahkan oleh sang Arjuna. Kemudian sang Salya menggantikan hanya setengah hari, dikalahkan oleh sang Yudhistira. Sedangkan pada sore harinya sang Duryudhana dikalahkan oleh sang Bhima.

BAB II
Menceritakan sang Srutasena melangsungkan korbn atas perintah maharaja Janamejaya. Saat itu seekor anjing bernama Sarameya putra begawan Pulaha dan sang Sarama, datang untuk melihat korban. Tapi sang Srutasena memukul anjing tersebut. Sang Sarama datang mengutuk Maharaja bahwa korbannya tidak akan sempurna. Untuk mencabut kutukan itu, Maharaja mencari dan mendapatkan Brahmana sakti ayah dan anaknya, yaitu sang Srutasrawa dan Somasrowa.

BAB III
Menceritakan begawan Dhonya yang menguji kesetiaan ketiga muridnya, yaitu sang Arunika, sang Utamanyu, dan sang Weda. Sang Arunika disuruh untuk bersawah. Akan tetapi air bah datang merusak pematang sawahnya dan menggenangi bibit-bibitnya. Berulang kali pematang diperbaiki tapi berulang kali pula rusak. Maka sang Arunika menggunakan badannya untuk menahan air bah sebagai pengganti pematang sepanjang siang dan malam. Akhirnya sang Arunika dianugerahi mantra sakti oleh gurunya.
Sang Utamaya lebih menderita lagi. Ia yang seorang pengemis dilarang meminta-minta ketika mengembala lembu. Selain itu juga dilarang meminum sisa air susu waktu anak lembu menyusu pada induknya. Sang Utama akhirnya hanya minum getah waduri yang menyebabkannya menjadi buta. Namun sang Utama juga mendapat anugera berkat kesetiaan dan ketaatannya kepada perintah gurunya. Demikian pula sang Weda yang tidak kalah menyedihkan penderitaannya.

BAB IV
Menceritakan asal mula yang Agni (api) yang makan segala sesuatu tidak memilih barang apa yang dibakarnya. Hal ini akibat kutukan begawan Bhregu, karena menjadi saksi dusta atas peristiwa sang Pulomo, yang dulu telah diserahkan kepada sang Duloma raksasa yang meminta isteri sang Bhregu. Akhir cerita ini yaitu tentang sang Ruru yang menyerahkan setengah umurnya kepada kekasihnya yang mati digigit ular, untuk bisa hidup kembali.

BAB V
Menceritakan sang Astika, pahlawan para naga yang menyelamatkan mereka, terutama naga Taksaka dari korban ular. Sang Astika merupakan putra sang brahmana Jaratkaru. Pada awalnya Jaratkaru bertekad untuk tidak akan kawin. Akan tetapi ketika melihat leluhurnya berada diantara surga dan neraka, karena surga tidak dapat diperoleh oleh orang yang tidak mempunyai keturunan, maka sang Jaratkaru mencari isteri yang namanya sama dengannya. Akhirnya ia beristerikan Nagini, adik para naga yang diberi nama Jaratkaru, karena mereka tahu, bahwa brahmana itulah yang akan menurunkan pahlawan bagi mereka.

BAB VI
Menceritakan sang Winata dan sang Kadru bertaruh atas kuda Ukaihsrawa yang menyebabkan sang Winata menjadi budak sang Kadru. Sang Winata akhirnya dibebaskan oleh sang Garuda, anaknya dan sebagai syaratnya adalah Amarta. Dalam bab VI ini diceritakan juga asal mula ular mempunyai lidah yang bercabang dan sang Garuda menjadi kendaraan batara Wisnu.

BAB VII
Menceritakan usaha para naga menghindarkan diri dari hukuman korban ular yang telah pernah dikutuk ibunya sendiri. Pendapat yang terbaik adalah pendapat Alipatra, bungsu para naga, karena ia ingat bahwa yang akan membebaskan kutukan itu sang Jaratkaru. Pada waktu itulah sang Basuki, pemimpin para naga menyerahkan adiknya, Nagini kepada sang Jaratkaru untuk diperisterinya.

BAB VIII
Menceritakan maharaja Pariksit yang meninggal karena digigit naga Taksaka atas perintah sang Srenggi, karena perbuatan maharaja mengganggu begawan Samiti, ayah sang Srenggi, dengan mengalungi bangkai ular. Peristiwa inilah yang menyebabkan adanya korban ular oleh sang maharaja Janamejaya, putra maharaja Pariksit.

BAB IX
Menceritakan keadaan dan kesudahan korban ular, sesudah sang Astika mengambil bagian dalam hal ini.

BAB X
Menceritakan penjelmaan para dewa yang kemudian menurunkan para Kurawa dan Pandawa, dimulai dari asal-usul dan kelahiran sang Durgandini dan saudaranya yang kemudian bernama Maswowati, raja di negara Wirata. Diteruskan juga dengan cerita sang Sakuntala yang kemudian berputra sang Bharata, dan menurunkan keluarga Bharata.

BAB XI
Menceritakan mantra sakti yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, bahkan yang sudah menjadi abu sekalipun. Diceritakan juga bahwa maharaja Jayati memperisteri putra sang pendeta Sukra. Tetapi juga mengambil budaknya sebagai isteri kedua, sehingga mendapat kutuk dari mertuanya yang menyebabkannya menjadi tua sebelum waktunya. Tetapi putranya, sang Puru sanggup mengganti kutukan itu. Sehingga sesudah 1000 tahun akan kembali menjadi muda, maka sang maharaja Jayati kembali menikmati masa mudanya.

BAB XII
Menceritakan silsilah sang Pandawa dan Korawa, mulai dari sang Puru beristeri sang Kosalya, berputra sang Janamejaya yang beristeri tiga orang. Juga Kuru yang membuat tegal Kurusetra. Sampai pada Hasti yang membuat negara Hastinapura, kemudian sampai pada nama Pratipa, Santanu, Bhisma, Abiyasa, akhirnya sampai Korawa dan Pandawa. Diceritakan juga tentang penjelmaan Astabasu, yang seorang diantaranya menjadi sang Bhisma itu. Juga diceritakan kematian sang Ambo oleh sang Dewabrata (Bhisma) dengan tidak sengaja. Juga tentang kebesaran jiwa sang Bhisma meninggalkan wanita untuk selamanya agar ayahnya, maharaja Santanu dapat kawin dengan Gandhawati.

BAB XIII
Menceritakan penjelmaan yang Yama menjadi sang Widura karena dahulu telah menjatuhi hukuman kepada anak yang belum berumur 14 tahun. Karena itu yang Yama dikutuk oleh para brahmana menjelma menusia yang mempunyai cacat pincang sedikit.

BAB XIV
Menceritakan kelahiran Korawa dan Pandawa dan kedua keluarga itu sewaktu masih kanak-kanak. Diceritakan juga bahwa perbuatan sang Bhima selalu menimbulkan amarah sang Korawa, sehingga Korawa selalu berusaha untuk memusnahkan mereka. Demikian pula tentang bergurunya kedua keluarga itu kepada sang resi Durna serta pertandingan kesaktian yang menyebabkan sang Karna dinobatkan menjadi raja di negara Ngawangga (Angga).

BAB XV
Menceritakan sang Pandawa berdiam di Wanamarta. Di sanalah mereka menempati rumah damar (bale segolo-golo), yang dibuat oleh Korawa dengan maksud untuk meleburkan keluarga Pandawa dengan jalan membakar rumah mereka.
Lepas dari rumah damar itu Pandawa masuk hutan belantara. Di sanalah sang Bhima dapat membunuh raksasa Hidimba serta mengawini adiknya si Hidimbi (Arimbi). Demikian pula kelahiran sang Gatotkaca dari perkawinan itu. Akhirnya diceritakan juga raja raksasa pemakan manusia sang Baka yang mati di tangan sang Bhima.

BAB XVI
Menceritakan sang Pandawa pergi ke Pancala ikut dalam sayembara dan berhasil memperoleh sang Dropadi (Durpadi). Dalam rangkaian cerita ini, diceritakan pula tentang kelahiran sang Parasara (Pancawala) yang sudah tidak lagi menemui ayahnya, karena sudah mati dimangsa raja Sodha yang sudah kerasukan raksasa Kingkara, dan berakhir dibagi duanya negara Hastina untuk diserahkan kepada keluarga Korawa dan Pandawa.

BAB XVII
Menceritakan sang Arjuna masuk hutan selama 12 tahun karena merasa melanggar perjanjian dengan sanak saudaranya yang disaksikan oleh batara Narada. Oleh karena itu atas kerelaannya sendiri ia masuk hutan. Di sanalah ia bertemu dengan Ulupuy dan dewi Citragandha putri maharaja Citradahana, kemudian memperisteri mereka. Dan pada bagian ini diceritakan pula tentang perkawinan sang Arjuna dengan Subadra, adik batara Kresna.

BAB XVIII
Menceritakan lahirnya Abimanyu sampai terbakarnya hutan Khandawa, tempat persembunyian naga Taksaka sahabat sang Indra. Karena itu sang yang Agni minta pertolongan sang Kresna dan sang Arjuna supaya menjaga api pembakaran dan menghabiskan segala makhluk yang akan melarikan diri dari tempat itu. Dalam peristiwa pembakaran itulah terdapat empat ekor anak burung puyuh yang karena permohonan ayahnya kepada yang Agni waktu meninggalkan hutan itu, mendapat selamat dan terlepas dari pembakaran tersebut.

Sebagaimana kisah induknya, Mahabharata, kitab Adiparwa ini semula dituliskan dalam bahasa Sanskerta dan dianggap sebagai cerita suci bagi pemeluk agama Hindu. Tidak tercatat kapan persisnya kisah ini masuk ke Indonesia. Akan tetapi, sebagaimana disebutkan dalam bagian pendahuluan Adiparwa versi Jawa Kuna, kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Jawa kuna atau juga dikenal sebagai bahasa Kawi pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh (kerajaan Kediri, tahun 991-1016) (Zoetmulder, 1994).

SUMBER ARTIKEL sy ambil dari: http://wazana-wazana.blogspot.com/2010/12/kitab-adiparwa.html

Kalangwan: SASTRA JAWA KUNO SELAYANG PANDANG (Seri ILDEP #9) by P.J. Zoetmulder


Terjual
Harga: Rp.400 rb (blum ongkir)
Kalangwan: SASTRA JAWA KUNO SELAYANG PANDANG (Seri ILDEP #9)
by P.J. Zoetmulder
Tebal: 648 hal cet 2 tahun 1985
BERAT: 1,10 KG
Kondisi: eks perpus, bagus

mahatma anto:
membuka buku ini seperti membuka dunia lain dari duniaku sendiri: jawa. jawa kuna yang tergambar dari sastra-sastranya begitu berbeda dari jawa jamanku sendiri.
tapi, justru dari situ juga aku menyadari ada hubungan erat yang mirip antara sunda, madura dan bali di masa lalu katimbang masa kini yang dengan jelas dapat dibedakan.
berbeda dan mirip antara dulu dan kini.
bagaimana merajut jarak di antaranya?
mengapa yang melakukan harus pater dari belanda?
haruskah ada jarak dengan obyeknya agar bisa dilakukan perajutan masa lalu dan kini?
siapa yang bisa melakukan rekonstruksi sejarah? orang yang terlibat atau justru orang yang berjarak dari peristiwa masa lalunya?

Zoetmulder kelahiran Belanda tapi memberi pengabdian besar di Indonesia. Misi sebagai dosen dan peneliti sastra terbukti dengan kebersahajaan tapi mulia. Agenda mengurusi Jawa diakui oleh publik melalui sayembara terjemahan Serat Wedhatama. Sayembara ini diselenggarakan oleh Mangkunegara VII. Zoetmulder dinobatkan sebagai pemenang. Tulisan berjudul Prijsvraag: Bekroonde Vertaling Serat Wedhatama diterbitkan di majalah Djawa (1941).

Suhatno selaku penulis biografi Zoetmulder memberi keterangan: “Ketika diinternir Jepang, P.J. Zoetmulder sempat membawa bekal naskah Adiparwa, yang ditelitinya selama dalam interniran itu. Hasil penelitian ini akhirnya diterbitkan di Bandung pada tahun 1950 berjudul De Taal Van he Adiparwa dan kemudian disadur ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan I.R. Poedjawijatno berjudul Bahasa Parwa yang diterbitkan pada tahun 1954 oleh penerbit Obor di Jakarta dan dicetak ulang pada tahun 1961.”

Zoetmulder adalah manusia-tekun. Aku membaca pelbagai informasi mengenai kebiasaan membaca-menulis Zoetmulder. Peristiwa-peristiwa berliterasi itu dijalani mirip peribadatan: hening dan sakral. Zoetmulder tak cuma mengurusi kitab-kitab lawas. Manusia ampuh ini juga pembaca novel-novel detektif. Aku pernah membuat esai mengenai Zoetmulder dan novel detektif meski belum bisa tampil di koran dan majalah.

Zoetmulder memang pesona tak biasa. Aku berulang membaca Kalangwan tanpa jemu. Membaca buku itu sejak SMA menimbulkan perbedaan. Peristiwa membaca di masa lalu ibarat perkenalan tak biasa meski tak ada juru penerang. Aku cuma terlena dengan membaca sampai selesai. Kalangwan selesai terbaca tapi tak tuntas terpahami. Aku membaca lagi di masa-masa berbeda dengan bekal-bekal tambahan mengenai sastra Jawa kuno dan biografi Zoetmulder. Majalah Basis (Jogjakarta) kadang jadi rujukan untuk mengerti Zoetmulder. Dick Hartoko berperan sebagai juru penerang dari hasrat mengerti Zoetmulder. Dick Hartoko juga menjadi penerjemah mumpuni untuk buku-buku Zoetmulder.

sumber: http://bandungmawardi.wordpress.com/tag/kalangwan/

Islam DOKTRIN PERADABAN


TERJUAL ke KALSEL
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus cet VII mei 2008
Tebal: 622 hal

Dalam buku ini ada empat hal pokok yang akan diungkap oleh cak Nur. Keempat hal pokok tersebut adalah : Tauhid dan Emansipasi Harkat Manusia, Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional, Membangun Masyarakat Etika, dan Universalisme Islam dan Kemoderenan. Keempatnya akan diuraikan satu persatu dalam sub judul di bawah ini.
Tawhid dan Emansipasi Harkat Manusia
Sebagaimana dikatakan oleh Kitab Suci, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi. Manusia juga merupakan puncak kreasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai harkat dan matabat kemanusiaan yang sangat luar biasa. Namun demikian, manusia juga memiliki potensi untuk terdegradasi menjadi sangat rendah.

Cak Nur menegaskan bahwa dalam kenyataan historis, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dminan manusia sebagai makhluk sosia. Sebab dalam kenyataannya, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya. Di sinilah fungsi diutusnya para rasul untuk membimbing manusia melawan kejatuhannya sendiri dan mengemansipasi harkat dan matabatnya dari kejatuhannya itu (hal. 94).

Dalam pandangan cak Nur, problem utama manusia adalah syirk. Karena syirk (politeisme) baik yang kuno maupun modern selalu bermuara pada pemenjaraan harkat dan martabat manusia dan kemerosotannya. Tentu yang demikian ini bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk tertinggi dan dimuliakan Tuhan. Mengapa ?, karena akan berakibat pada pengangkatan makhluk selain Tuhan menjadi sama dengan Tuhan sehingga hal ini akan berakibat pada lebih tingginya nilai tuhan palsu itu dibandingkan dengan mansuia itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kenapa syirik dikategorikan dosa terbesar manusia (hal. 96).

Untuk itu, agar tetap terjaga harkat dan martabat kemanusiaannya, manusia harus menyelamatkan imannya dengan tetap menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berarti, dengan hanya menghambakan diri kepada Tuhan, manusia akan mendapatkan kepribadiannya yang utuh dan integral.

Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional
Salah satu judul yang terbahas dalam tema di atas adalah “Kekuatan Dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin ‘Aqidah Islamiyah”. Dalam judul ini diungkapkan bahwa, paham asy’ariyah di samping memiliki kelebihan atau kekuatan juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Kenapa paham asy’ariyah ? karena Islam di Indonesia bermadzhab Syafi’i. Kaum Syafi’I kebanyakan menganut aqidah Asy’ari.

Dalam dunia kalam dikenal argumenpargumen logis dan dialektis. Kaum Asy’ari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder. Kemampuan Abu al-Hasan al-Asy’ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis diperoleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu’tazulah sebelum ia akhirnya keluar dari paham Mu’tazilah.

Letak keunggulan sistem Asy’ari atas lainnya terletak pada segi metodologinya yang merupakan jalan tengah antara berbagai ekstrimitas (hal. 273). Dalam penggunaan metdolodi mantiq, Asy’ari tidak menggunakannya sebagai kerangka kebenaran an sich, melainkan sekedar alat untu membuat kejelasan-kejelasan dan itupun hanya dalam urutan sekunder. Metodenya menghasilkan jalan tengah antara metode harfi kaum Hambali dan metode ta’wili kaum Mu’tazili.

Sedangkan posisi kelemahannya terletak pada kegagalannya menjelaskan teorinya tentang usaha manusia. Asy’ari ingin berbeda dengan kaum Jabari yang fatalis dan kaum Qadari yang menganggap manusia mempunyai kemerdekaan berbuat. Teori Asy’ari disebut kasb. Teorinya ingin mengabungkan dua teori yang kontradiktif di atas. Namun, misinya justru sulit dipahami. Ia menjelaskan bahwa “manusia tidaklah dipaksa dan juga tidak bebas merdeka dalam melakukan usaha”. Selanjutnya, “bila Allah memberi pahala makasemata karena kemurahan-Nya dan bila Allah menyiksa maka itu karena keadilan-Nya” (hal.283). Kedua rumusan tersebut bukan sebagai akibat dari perbuatan manusia.
Membangun Masyarakat Etika
Dalam kontek ini cak Nur menjelaskan dua makna, yaitu makna perorangan dan kemasyarakatan. Penjelasan tentang makna perorangan diawalinya dengan menjekaskan makna salam, kedamaian dan keselarasan. Salam adalah makna perorangan sikap keagamaan yang tulus. Ia juga merupakan kelanjutan sikap rela kepada Allah atas segala keputusan-Nya. Keadaan jiwa yang rela itu dicapai karena adanya ketenangan batin akibat rasa dekat kepada Allah. Inilah derjat manusia yang telah mencapai al-nafs al-mutmainnah.

Seseorang yang rela serta bertawakal kepada Allah tentulah seorang yang selalu dzikir kepada-Nya. Dzikir atau ingat kepada Allah secara konsisten merupakan segi keimanan yang sangat penting sekaligus menjadi sumber kebijakan yang tertinggi (hal. 349). Dan karena sikap itu merupakan keharusan sikap rela dan tawakkal kepada-Nya, maka ingat kepada Allah juga menjadi sumber ketenangan jiwa dan ketentramannya Orang yang beriman yaitu dia yang merasakan ketentraman jiwa karena ingat kepada Allah

Mengenai makna kemasyarakatan cak Nur menjelaskan bahwa baik dan jahat dalam kehidupan nyata seorang manusiadi dunia akhirnya didefinisikan sebagai kualitas sikap, tingkah laku dan perbuatannya dalam hubungannya denagn sesama manusia.

Dalam arti yang seluas-luasnya, amal saleh ialah setiap tingkah laku pribadi yang menunjang usaha mewujudkan tatanan hidup sosial yangteratur dan berkesopanan. Maka salah satu yang diharapkan dari adanya iman dalam dada adalah wjud nyata dalam tindakan yang berdimensi sosial.

Dimensi sosial keimanan juga dinyatakan dalam bentuk kata ishlah al-ardl, reformasi dunia. Para Nabi yang diutus selalu melakukan reformasi dunia, yaitu perjuangan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Maka komitmen kepada usaha menciptakan masyarakat yang memenuhi rasa keadilan merupakan makna sosial keyakinan aama yang harus ditumbuhkan dalam setiap pribadi yang beriman. Dengan kata lain, rasa keadilan merupakan manifestasi rasa kemanusiaan, sehingga, dari sudut pandangan ini, makna kemasyarakatan keyakinan agama atau iman adalah rasa kemanusiaan itu, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan hablun min al-nas sebagai kelanjutan dari hablun min Allah.
Hablun min al-nas dan hablun min Allah di simbolkan melalui shalat. Ketika melakukan takbirat al-ikhram melambangkan manusia sedang melakukan hubungan dengan Allah. Dan ketika melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri melambangkan bahwa manusia itu harus menoleh kepada keadaan di sekitarnya. Hal ini mencerminkan bahwa orang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran diri akan dimensi sosial (hal. 354).
Universalisme Islam dan Kemoderenan
Salah satu hal penting yang mendapat perhatian cak Nur dalam “Universalisme Islam dan Kemoderenan” adalah “ajaran nilai etisdalam kitab suci”. Nilai etis yang dimaksudkan cak Nur adalah dalam pengertian yang sangat mendasar, yaitu konsep dan ajaran yang serba meliputi, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik dan buruk, benar dan salah. Namun demikian, yang hendak dibicarakan cak Nur adalah yang terbatas pada hal-hal yang dianggap pokok saja, yang relevan dengan problem sekarang.

Dalam buku “Islam, Doktrin dan Peradaban” ini ingin ditegaskan kembali mengenai watak Agama Islam berkenaan dengan kerja. Tampilnya Islam berarti menyambung kembali tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang mengajarkan tentang beriman kepada Allah da pendekatan kepada-Nya melalui amal perbuatan baik suatu monoteisme etis.

Karena seluruh aktifitas dapat bernilai sebagai usaha pendekatan kepada Tuhan, maka seluruh hidup manusia mempunyai makna transendental, yanga sehari-harii dinyatakan dalam ungkapan “demi ridla Allah”. Dan adanya keinsyafan akan makna hidup itulah yang membuat manusia berbeda dari jenis hewan yang lain, serta di situlah letak harkatnya (hal. 476).
Penutup
Satu hal yang menjadi misi utama buku ini adalah mengajak kepada kaum muslimin untuk menegakkan paham kemajemukan atau pluralisme. Berkaitan dengan hal tersebut maka Islam semakin diharapkan tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, sertamampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua, tanpa ekslusifisme komunal.

Kaum muslimin harus secara otentik mengembangkan paham kemajemukan masyarakat (pluralisme sosial). Kaum muslimin juga dituntut akan kesanggupan mengembangkan sikap-sikap saling menghagai antara sesama anggota masyarakat, dengan menghormati apa yang diangap penting pada masing-masing orang atau kelompok.

SUMBER ARTIKEL: http://dakwah-2012.blogspot.com/2011/11/islam-doktrin-dan-peradaban.html

Rabu, 26 Februari 2014

MAX HAVELAAR, MULTATULI ATAU LELANG KOPI MASKAPAI DAGANG BELANDA Terjemahan: H.B. JASSIN


TERJUAL
Harga: Rp.150 rb (blum ongkir)
MAX HAVELAAR
MULTATULI.
ATAU
LELANG KOPI MASKAPAI DAGANG BELANDA
Terjemahan: H.B. JASSIN
Pendahuluan dan Anotasi: Drs. G. TERMORSHUIZEN
Kondisi: lumayan bagus, eks perpust.
Tebal: xvii + 229 halaman
Copyright by Djambatan
Cetakan keempat 1977
Percetakan Karya Nusantara Bandung
PENERBIT DJAMBATAN

Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.

Peran dalam literatur

Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
Terjemahan bahasa Indonesia

HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa Belanda aslinya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang.

Pada tahun 1973 Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.
Adaptasi layar lebar

Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar pada tahun 1976 oleh Fons Rademakers sebagai bagian dari kemitraan antara Belanda-Indonesia. Namun filmMax Havelaar tersebut tidak diperbolehkan untuk ditayangkan di Indonesia sampai tahun 1987.

Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda")

Roman ini hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya

Rabu, 19 Februari 2014

BUMI MANUSIA -- ANAK SEMUA BANGSA -- JEJAK LANGKAH -- RUMAH KACA (Tetralogi )




TERJUAL
Price:
 BUMI MANUSIA -- ANAK SEMUA BANGSA -- JEJAK LANGKAH -- RUMAH KACA
: IDR  625.000,00  (belum termasuk ongkos kirim)
Berat: Masuk hitungan 3 kg JNE

Judul Asli: BUMI MANUSIA. 
Cetakan kelima : Terbitan Februari 1981
Sebuah Novel Sejarah (Buku per-Tama dari seri 4 Jilid)
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, Penerbit Buku Bermutu Jakarta.
Editor: Joesoef Isak
Kulit Depan: Si Ong  (Harry Wahyu)
Illustrasi: Galam
Halaman 405
hard  Cover, Kondisi MULUS (Second) bersampul plastik
Bumi Manusia Adalah buku pertama dari serangkaian roman empat jilid (tetralogy) karya Pramoedya Ananta Toer melingkupi masa kejadian 1898 sampai 1918, masa Periode Kebangkitan Nasional, masa yang hamper-hampir tak pernah di jamah oleh sastra Indonesia, masa awal masuknya pengaruh pemikiran rasio, awal pertumbuhan organisasi - organisasi modern yang juga berarti awal kelahiran demokrasi pola Revolusi prerancis
 Judul Asli: ANAK SEMUA BANGSA. 
cetakan kedua Terbitan Januari 1981
Sebuah Novel Sejarah (Buku Ke-Dua dari seri 4 Jilid)
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, Penerbit Buku Bermutu Jakarta.
Editor: Joesoef Isak
Kulit Depan: Si Ong (Harry Wahyu)
Design Buku: Marsha Anggita
Halaman 403
Soft  Cover, Kondisi MULUS (Second)
Anak Semua Bangsa Berkisah tentang pengenalan si tokoh pada lingkungan sendiri dan dunia, sejauh pikirannya dapat menjangkaunya.
 Judul Asli: JEJAK LANGKAH. cetakan ketiga Terbitan Februari 2001
Sebuah Novel Sejarah (Buku Ke-Tiga dari seri 4 Jilid)
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, Penerbit Buku Bermutu Jakarta.
Editor: Joesoef Isak
Kulit Depan: Si Ong (Harry Wahyu)
Design Buku: Marsha Anggita
Halaman 558
Soft  Cover, Kondisi MULUS (Second)
JEJAK LANGKAH  Berkisah tentang kelahiran organisasi –organisasi modern Pribumi pertama-tama dan, 
 Judul Asli: RUMAH KACA. cetakan ketiga Terbitan Februari 2001
Sebuah Novel Sejarah (Buku Ke-Empat dari seri 4 Jilid)
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, Penerbit Buku Bermutu Jakarta.
Editor: Joesoef Isak
Kulit Depan: Dipo Andy – Gelaran Mouse
Illustrasi: Galam
Halaman 484
Soft  Cover, Kondisi MULUS (Second)
RUMAH KACA   Berkisah tentang usaha colonial Hindia – Belanda dalam membikin Hindia menjadi rumah kaca dalam mana setiap gerak-gerik penduduk di dalamnya dapat mereka lihat dengan jelas, dan dengan hak exorbitant dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap para penghuni di dalam rumah itu
Tetralogi ini adalah suatu kesatuan yang masing-masing jilidnya dapat berdiri sendiri-sendiri. Sebelum roman empat jilid ini dituangkan dalam tulisan, kisahnya diceritakan secara lisan oleh Penulis kepada teman-temannya seperasaian di Unit III Wanayasa di pulau pembuangan Buru.
Suatu usaha lagi untuk mengenal Indonesia

Seperti pernah kami nyatakan pada kesempatan lain, kami tidak akan berpanjang-panjang dan membuang-buang waktu mem­bahas dagelan kesewenang-wenangan kekuasaan politik rejim orde barunya golkar yang mem­be­rangus buku-buku Pramoe­dya. Mengapa? Tidak lain karena tuduhan Pramoedya secara lihay lewat karya-karyanya mempropa­ganda­kan marx­isme-­leninis­me, di negeri-negeri yang paling anti-komunis pun menjadi bahan tertawaan yang paling menggelikan.
    Sesuai dengan rencana Penulis dan Penerbit Hasta Mitra, dengan ini diumumkan bahwa roman empat jilid ini ­yang di luar negeri dikenal sebagai The Buru Quartet – Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca – dan buku-buku lain yang pernah diberangus oleh rejim orde barunya golkar, semua akan diter­bit­kan ulang sebagai Edisi Pembebasan; sedang kesemua karya Pramoedya lainnya – termasuk karya klasik Penulis tahun 50 dan 60-an – juga akan berangsur dicetak ulang dalam rangka rencana besar Hasta Mitra menerbitkan kembali secara menye­luruh Karya-Karya Pilihan Pramoedya Ananta Toer.
    Bahwa larangan terhadap buku-buku Pramoedya sampai hari ini belum dicabut oleh Pemerintah, bukanlah menjadi urusan Penulis dan Penerbit. Sebagai warganegara, kami akan tetap bekerja dan akan tetap terbit seperti biasa – sebab itulah cara kami menghormati dan ikut aktif menegakkan hak-hak azasi manusia sebagai­mana selalu menjadi sikap kami semasa jendral Suharto dengan mesin kekuasaannya – politisi golkar dan para jendral – masih bebas berkuasa mem­prak­tekkan kese­wenang-wenangan mereka. Tetap terbit walaupun pembera­ngus­­an berlangsung tidak henti-hentinya, merupakan kontri­busi kami untuk bersama para pejuang demokrasi dan keadilan lainnya menegak­kan HAM dan merebut kebebasan kami sendiri
     Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami – terutama sikap untuk tetap bersama kami, dan dengan segala risiko ikut aktif mendis­tribusikan buku-buku kami – justru pada masa-masa kesewe­nang­an kekuasaan fasis golkarnya orde baru merajalela yang tanpa proses apa pun memberangus buku-buku kami. Terimakasih kami kepada mereka yang dengan sadar mendistribusikan dan tetap mem­baca karya-karya Pramoedya yang dilarang – juga sekarang-sekarang ini – pada saat sementara toko-toko buku besar masih ragu mendistri­busi­kan buku-buku Pramoedya hanya karena larangan terhadap buku-bukunya itu secara resmi belum dicabut oleh Pemerintah. 
     Salut kepada sikap yang tidak hanya mau menunggu enaknya saja tanpa mau bersinggungan dengan risiko sekecil apa pun.
Joesoef Isak, ed.
SUMBER ARTIKEL:
http://www.hastamitra.net/2010/11/pramoedya-ananta-toer-edisi-pembebasan.html

Dibawah Bendera Revolusi, Djilid 2





TERJUAL
Harga: Rp.500 rb (blum ongkir)
DBR djilid II, Tjetakan ke dua
Penulis : IR. Soekarno
Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi 1965
Djetakan kedua
Tebal : 599 Halaman
Hard Cover
Buku Bekas, kondisi :Seperti terlihat di gambar

Djilid kedua (599 halaman), memuat 20 pidato kenegaraan Bung Karno setiap tahun (dalam rangka memperingati 17 Agustus) sejak tahun 1945 sampai 1964. Dalam jilid kedua ini dapat kita baca antara lain :

"Tahun tantangan", "Penemuan kembali Revolusi kita",
"Jalannya revolusi kita",
"Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional",
"Tahun kemenangan",
"Genta suara Republik Indonesia",
"Tahun Vivere Pericoloso". dll

Jumat, 24 Januari 2014

Tahafut Al-Falasifah, Tahafut At-Tahafut


 SOLD

Harga 1 set (2 buku): Rp.200 rb (blum ongkir)
Imam al-Ghazali "Tahafut Al-Falasifah" (membongkar tabir kerancuan para filosof) VS Ibnu Rusyd "Tahafut At-Tahafut (sanggahan terhadap Tahafut al-Falasifah)

Keterangan singkat: Imam al-Ghazali "Tahafut Al-Falasifah" (membongkar tabir kerancuan para filosof)

Judul Buku: Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan para Filosof)
Penulis: Al Gazali
Pengantar: Dr Sulaiman Dunya
Penerbit: Marja’ Bandung, cet 3 tahun 2012
Tebal: 308 halaman

Tahafut Al-Falasifah, sebuah karya fenomenal yang memang penting untuk direnungkan kita semua. Karya Ulama besar asal Bagdad ini selain sudah dikenal luas sebagai buku filsafat, yang sesungguhnya adalah kitab tentang ilmu kalam, perlu hadir ke tengah-tengah masyarakat Indonesia yang selama ini tidak pernah mampu melepaskan dari belenggu dikotomi antara filsafat dan agama.
Sebagian masyarakat muslim kita, yang membutuhkan kesadaran berpikir kritis harus diakui “terpaksa” mengambil perspektif filsafat sekuler. Hal ini perlu dimaklumi mengingat antara agama (wahyu) dengan ilmu pengetahuan (baca filsafat) memang sesuatu yang berbeda.
Kebutuhan untuk menjembatani antara filsafat dan agama sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama, jauh sebelum Tahafut ini ditulis oleh Al-Gazali. Tetapi sampai beberapa abad sebelum itu, usaha itu tak kunjung datang sampai munculnya kitab ini. Sayangnya, apa yang ditulis Al-Gazali bukanlah sebuah sintesis yang menghasilkan hubungan harmoni, melainkan kontradiksi yang tajam.
Penolakan Al-Gazali atas filsafat sebagai kebenaran berpikir justru menjadi bagian dari sikap yang pada akhirnya membuat masyarakat muslim sendiri dilanda keterbelahan sikap; di satu sisi masih membutuhkan pengetahuan non samawi, di lain pihak butuh tambatan pasti dari wahyu.
Sekalipun Al-Gazali menolak filsafat dan lebih percaya kepada wahyu, tetapi sesungguhnya dengan cara itu ia secara tidak langsung sedang memberikan satu pencerahan dengan cara kontrol sikap atas pemikiran para filsuf yang pada kala itu masih miskin perspektif dibanding para filsuf di era selanjutnya. Karena itu, sekalipun premis Al-Gazali nampak fundamentalis (untuk dilihat dari kacamata sekarang), agaknya perlu dihargai sebagai sebuah karya yang menggugah kesadaran para pemikir muslim maupun nonmuslim agar bersikap kritis terhadap filsafat yang belum tentu memiliki validitas; terutama antara hubungan teori (imajinasi) dengan praktik.
Gugatan Al-Gazali terhadap filsafat ini misalnya, mendorong Sang Filsuf lain, Ibnu Rusyd menulis karya yang tak kalah fenomenalnya, yakni Tahafut at-Tahafut yang mengkritik Al-Gazali secara kreatif.
Karena ini buku pemikiran, dan target pembelajaran kita terhadap pemikiran adalah meluaskan pandangan, menjadi penting kiranya terjemahan ini dibaca oleh para pemikir. Dari buku inilah kita akan tahu gelombang dahsyat pemikiran di masa lampau pernah melanda umat Islam sehingga kita bisa berkaca tentang banyak hal terhadap tradisi pemikiran saat ini yang mengalami kemandegan.

Sumber tulisan Tahafut Al-Falasifah : Yusuf

***
Judul TAHAFUT AT- TAHAFUT
Penulis IBN RUSYID
Jumlah Halaman XIV+306 HAL
Penerbit PUSTAKA PELAJAR cet 2 Desember tahun 2010
Keterangan singkat: Ibnu Rusyd "Tahafut At-Tahafut (sanggahan terhadap Tahafut al-Falasifah)

Ibnu Rushd dalam Tahafut Al Tahafut, mengatakan ; Seluruh basis argumen Al-Ghazali salah, karena Al-Ghazali berasumsi bahwa kehendak Allah itu sama seperti kehendak manusia. Padahal Nafsu dan kehendak hanya bisa dimengerti oleh makhluk yang memiliki kebutuhan; Sementara untuk Zat yang Maha Sempurna yang tidak membutuhkan apa-apa, kita tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan bahwa ketiak Dia melakukan sesuatu maka yang Dia lakukan itu adalah hal yang paling sempurna. Jadi kehendak Allah harus dipahami dengan makna yang lain dibanding kehendak manusia.
Oleh para pengikut Al-Ghazali, Ibnu Rushd malah dicap sesat, dimaki dituduh dan difitnah dengan berbagai dakwaan. Oleh orang-orang ini Ibnu Rushd dituduh sebagai pengacau keimanan dengan menyebarkan ilmu-ilmu Yunani. Rakyat Cordoba yang termakan fitnah kelompok ini mengejek dan menghina Ibnu Rushd dengan berbagai kalimat buruk dan tuduhan yang tidak berdasar.
Pernah satu kali, ketika Ibnu Rushd melaksanakan shalat Ashar bersama sahabatnya, dia diejek dan diusir dari masjid Cordoba. Masyarakat membakar karya-karyanya. Dan pada puncaknya, Khalifah al-Mansur yang menjadi penguasa di Cordoba waktu itu, sepakat dengan tuduhan masyarakat ini dan kemudian menghukum Ibnu Rushd. Sebagai hukuman atas "kesalahannya" Khalifah al-Mansur memerintahkan Ibnu Rushd untuk dibuang ke perkampungan Yahudi "Lucena".
Memang setahun setelah hukuman itu dikeluarkan, para ulama mengadakan protes agar Ibnu Rushd dibebaskan karena diantara kalangan ulama itu banyak yang meyakini kalau Ibnu Rushd tidak bersalah. Tekanan dari ulama yang pro Ibnu Rushd tersebut membuat Khalifah al-Mansur mengeluarkan surat pengampunan terhadap Ibnu Rushd.
Setelah dibebaskan, Ibnu Rushd kembali ke Cordoba dan berkumpul lagi dengan keluarganya dan para sahabatnya. Namun tidak lama kemudian ia wafat pada tahun 1198 Masehi dalam usia 72 tahun.
Sementara itu fitnah yang dilakukan terhadap Ibnu Rushd yang sudah terlanjur menyebar.

Ringkasan Artikel TAHAFUT AT- TAHAFUT, saya ambil: Winwannur

Jumat, 04 Oktober 2013

The Indonesian Killings (Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966)

Judul Buku      : The Indonesian Killings (Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966).
Editor              : Robert Cribb
Judul Asli        : The Indonesian Killings Of 1965-1966, Studies from Java and Bali, Centre of Southeast Asia Studies Monash University, 1990
Penerbit           : Mata Bangsa
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tebal               : XXXIX + 447 halaman.
 SOLD
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)

Buku ini diterbitkan pada Februari tahun 2004, dan kemudian dicetak lagi dan terbit September 2004. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak lama. Cetakan pertamanya Desember 2000, namun kembali dicetak ulang kedua kalinya pada bulan Oktober 2003. Maklum saja, di tahun 2000, buku ini dilarang peredarannya. Buku ini adalah salah satu buku yang terkena sweeping buku “kiri” yang dilakukan Aliansi Anti Komunisme di Jakarta dan Yogyakarta. Akhirnya, buku ini praktis menghilang dari peredaran karena dianggap menyesatkan.
Cap komunis bagi para korban tahanan politik Orde Baru dan tragedi pembantaian PKI 1965-1966 menjadi sisi negatif bagi sosok mereka. Wacana tentang pengungkapan kebenaran pada G30S belum begitu tersebar dan wacana pengungkapan tragedi pembantaian PKI di Jawa dan Bali baru dalam tahap awal menunjukkan diri dalam masyarakat. Peristiwa G30S 1965 memang telah lama diperdebatkan di Indonesia dan Barat dalam berbagai versi, dugaan pelaku, pemberontakan yang terjadi dibelakangnya.
Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang kejam dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan. Para korban Orde Baru dan tragedi 1965 mulai berkumpul, berbagi pengalaman, menerbitkan buletin untuk membersihkan nama baik mereka, meluruskan sejarah, dan mengungkapkan kebenaran.

Kelebihan        :
Buku ini disusun oleh bebarapa karya, artikel, makalah dan tulisan para Indonesianis di antaranya seperti Robert Crib, Michael van Langerberg, Kennet R Young, Keith Foulcher, Kenneth Orr dan Anton Lucas. Juga ada laporan jurnalistik dari wartawan Indonesia Maskun Iskandar dan Jopie Lasut tentang pembantaian di Purwodadi, Jawa Tengah. Ada juga laporan dari Pusat Penelitian dan Studi Pedesaaan dan Kawasan Universitas Gajah Mada serta dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah. Sisi menarik lainnya dari buku ini adalah disertakannya essai Soe Hok Gie tentang riuh dan brutalnya pembantaian PKI di Bali.
Kisah pengalaman dari seorang istri tahanan politik bernama Yeti dan Marni. Yeti dan Marni adalah seorang perempuan yang selamat dari kamp-kamp. Beban mereka adalah lolos dari kematian dengan segala pertanyaan tentang apa salahnya dan makna yang mengikutinya, dan tahun-tahun panjang yang menakutkan dalam kerja keras. (hal.386). Berbagai kisah para korban inilah yang menjadi daya tarik dan nilai lebih dari buku ini.
Cerita pembantaian di Bali menjadi bagian akhir dan kurang begitu lengkap dalam buku ini. Cerita Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali.

Kekurangan     :
Dalam buku Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 ini merupakan buku terjemahan dari judul The Indonesia Killings of 1965-1966 Studies from Java and Bali Centre of Southeast Asian Studies Monash University, 1990 sehingga bahasa yang digunakan sedikit susah dicerna dan di pahami bagi orang awam. Dalam penyajiannya jelas terasa unsur subjektif yang kental dari sisi penulis maupun sumber lisan. Buku ini tidak cocok diperuntukkan bagi semua umur karena sisi penceritaannya cenderung secara murni dari sisi kekejaman dan kekejian perlakuan seseorang kepada orang lain diceritakan secara terang dan gamblang.

Potongan artikel diambil dari blog:  http://sejarahguruterbaik.wordpress.com/2012/07/10/resensi-dan-resume-buku-robert-cribb/

Rabu, 03 Juli 2013

Majalah Fikiran Ra’jat 1932

TERJUAL
Harga belum termasuk ongkir
HARGA PER MAJALAH Rp.20 rb
harus beli 1 set Rp.500.000

KONDISI: BAGUS, LAMA DI GUDANG JAKARTA 19 NOPEMBER 1977
ada 1 Majalah pembuka tanpa nomor, 20 hal
Majalah Nomor 1-5
Majalah Nomor 6 & 7 jadi 1 majalah, 21 hal
Majalah Nomor 8-9
Majalah Nomor 10 & 11 jadi 1 majalah 22 hal
Majalah Nomor 12-26

Total lengkap majalahnya ada 25 biji (1 majalah pembuka tanpa nomor. Majalah nomor 1-26 lengkap)

Majalah Fikiran Ra’jat 1932: suara Marhaen anti kapitalisme dan imperialisme

Hendry Gustian

Majalah Fikiran Ra’jat 1932-1933 yang dipimpin oleh Soekarno
yang mulanya sebagai salah satu alat untuk menyatukan PNI Baru dengan Partindo. Namun, setelah. Soekarno memilih masuk Partindo majalah ini tetap berusaha menjaga kenetralannya dan aroma. persatuannya walau pada akhirnya sedikit berbau Partindo. Hal ini dapat dilihat dari kiprahnya sebagai wakil marhaen dalam menyuarakan pandangan anti kapitalisme dan imperialisme dalam usaha untuk mencapai Indonesia merdeka. Kiprah majalah Fikiran Ra’jat sebagai wakil marhaen dalam menyuarakan pandangan anti kapitalisme dan imperialisme dalam penelitian ini dilihat melalui pemaparan dan pembahasan beberapa contoh karikatur, artikel dan primbon politik. Karikatur, Artikel dan Primbon Politik yang bernada radikal,ndaya cetak dan jangkaunya yang luas pada akhirnya menyebabkan majalah Fikiran Ra’jat dilarang peredarannya.




Senin, 01 Juli 2013

Presiden Sukarno Di Tiongkok

Cover depan lapisan kain
hal judul
foto-foto
TERJUAL
Harga: Rp.250.000
Presiden Sukarno Di Tiongkok
Penerbit Pustaka Bahasa Asing tahun 1956. 
Tebal: 171 halaman. 
Kondisi: 90% bagus. 
Ditjetak di Republik Rakjat Tiongkok

Presiden Sukarno Di Tiongkok, Penerbit Pustaka Bahasa Asing tahun 1957. Buku ini meupakan rekaman perjalanan presiden Sukarno di Tiongkok, pada 30 September 1956. Buku ini berisikan banyak pidato Bung Karno selama kunjungannya di Tiongkok/Cina. Selain pidato Bung Karno, buku ini juga memuat pidato Menteri Luar Negeri RI Roeslan Abdulgani, pidato pemimpin2 Tiongkok dan siaran pers bersama. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa oto kunjungan presiden Sukarno saat itu
bung karno tos dengan Mao tse tung
bersama aktivis2 di tiongkok
cover belakang, kain polosan buluk

foto pada halaman terakhir
 

Sabtu, 29 Juni 2013

MAX HAVELAAR, MULTATULI. Terjemahan H.B. JASSIN

ADA PAKU YG MENANCAP 2, berfungsi seperti steples agar halaman tidak protol
TERJUAL BY JATENG
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan eks perpust, ADA PAKU YG MENANCAP 2 DAN HAL JUDUL YG ROMAWI i-ii (mencangkup hal judul dan foto pengarang, hilang sepertinya). langsung masuk ke hal romawi iii yaitu hal judul
Tebal: 359 halaman
Penerbit: Djambatan cetakan keenaam 1985

Berat: 0,32 Kg

Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.

Peran dalam literatur

Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
Terjemahan bahasa Indonesia

HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa Belanda aslinya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang.

Pada tahun 1973 Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.
Adaptasi layar lebar

Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar pada tahun 1976 oleh Fons Rademakers sebagai bagian dari kemitraan antara Belanda-Indonesia. Namun filmMax Havelaar tersebut tidak diperbolehkan untuk ditayangkan di Indonesia sampai tahun 1987.

Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda")

Roman ini hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya

cover belakang buku

adjib rosidi membitjarakan TJERITA PENDEK INDONESIA

Utuy T. Sontani, orang-orang sial
kumpulan cerpen subuh Pramoedya Ananta Toer diuraikan oleh adjip rosodi
COVER buluk
adjib rosidi membitjarakan
TJERITA PENDEK INDONESIA

terjual
Harga : Rp.200.000 (belum termasuk ongkir)
Kondisi: LUMAYAN BAGUS
dJAMBATAN dJAKARTA 1959
TEBAL: 176 HAL

Dalam buku Tjerita Pendek Indonesia (1959) Ajip Rosyidi juga menyebut Muhammad Kasim dan Soesman Hs sebagai tokoh penting dalam sejarah cerpen Indonesia, perintis cerpen Indonesia. Pernyataan Ajip telah dibuktikannya dengan penelusuran jejak M. Kasim pada majalah Pandji Poestaka yang terbit tahun 1923. Kumpulan cerita lucu M. Kasim banyak dimuat di majalah tersebut.
Di akhir abad ke-19 sampai zaman pendudukan Jepang publikasi cerpen masih muncul hanya melalui penerbitan media massa, hampir-hampir tidak ada yang dipublikasikan langsung dalam bentuk buku. Masa itu cerpen tidak dapat dipisahkan dari majalah atau surat kabar. Dari sanalah, cerpen Indonesia lahir, berkembang dan memperoleh bentuk yang lebih jelas pada tahun 1930-an. Pada zaman Jepang, pemerintah pendudukan Jepang banyak menyelenggarakan lomba penulisan cerpen. Cerpen menjadi makin populer. Cerpenis-cerpenis yang pernah memenangi lomba penulisan cerpen waktu itu ialah, A.S. Hadisiswoyo, Muhammad Dimyati, Rosihan Anwar. Nama-nama lain yang banyak muncul di media massa dengan karyanya di antaranya, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan D. Djokokoesoemo.
Keberadaan cerpen Indonesia semakin mapan di era tahun 1950-an. Pengaruh asing yang semakin deras, timbulnya semangat kedaerahan, dominasi pengarang Sumatra yang semakin pudar, dan terbitnya berbagai media massa, termasuk majalah Prosa dan Tjerita Pendek yang dikelola Ajip Rosidi, memberi kesempatan munculnya cerpenis dari pelosok tanah air.
Keberanian para cerpenis dalam melakukan berbagai eksperimen, didorong dengan dibukanya kebebasan untuk berekspresi. Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada sekitar dekade 50-an. Dekade 50-an disebut zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia, karena pada masa itulah muncul pengarang dengan karya yang fenomenal seperti Riyono Pratikto, Subagyo Sastrowardoyo, Sukanto SA, Nh Dini, Bokor Hutasuhut, Mahbud Djunaedi, AA Navis, dan sederet nama lainnya. (Jacob Soemardjo dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia, 1975).
Tema cerpen dekade 50-an lebih banyak condong pada agama yang tiba-tiba menjadi alat permainan. Penjelajahan pada agitasi dan kegelisahan psikologis digunakan sebagai sarana menyampaikan eksperimen. Perasaan si tokoh menjadi liar, aneh, dan tak terduga.
isi djudul buku
cerpenis2 indonesia yg diuraikan oleh adjip rosidi

Related Post

ShareThis