.

.
Tampilkan postingan dengan label LKiS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LKiS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2012

Tuanku Rao, M.O. Parlindungan. LKiS


 TERJUAL BY JABAR
HARGA: Rp.55.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus Hard cover ada jacket buku 2007
tebal:692 hal

“Tak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir,” begitu kata Nietzsche berkenaan dengan masalah kebenaran dan pengetahuan. Katakata itu tampaknya berlaku juga untuk sejarah, sebab sejarah erat kaitannya dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan, yang supaya bermakna perlu ditata dan ditafsir kembali. Ka
rena itu, sejarah juga merupakan tafsir, dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran mutlak. Ia baru merupakan upaya untuk mendekati kebenaran.
Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.
Berbeda dengan sejarawan lain, penulis memilih untuk menuliskan sejarah Batak dengan gaya bertutur (story telling style), yang semula memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya letak daya tarik buku ini. Ia muncul orisinal karena fokusnya lebih diletakkan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif seperti praktik sejarawan konvensional selama ini.
Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.
Agama Islam Mazhab Hambali yang masuk ke Mandailing dinamakan penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin orang-orang Batak sendiri, seperti Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao), Idris Nasution (Tuanku Nelo), dan Jatengger Siregar (Tuanku Ali Sakti). Dalam silsilah yang terlampir di buku ini, disebutkan bahwa Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Gana Sinambela (putri Singamangaraja IX) dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela (adik Singamangaraja IX). Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra Singamangaraja VIII, sedangkan Gana Sinambela adalah kakak Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya (hlm. 355).
Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh tiga orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin Datu Amantagor Manurung. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati kepada keponakan yang disayanginya dengan menenggelamkandi Danau Toba. Tapi, bukannya mati tenggelam, Pongkinangolngolan terselamatkan arus hingga mencapai Sungai Asahan dan ditolong seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan pergi ke Minangkabau karena takut dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.
Di Minangkabau, pada 1804, Pongkinangolngolan diislamkan oleh Tuanku Nan Renceh, lalu dikirim ke Makkah dan Syria serta sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri Janitsar Turki. Sekembalinya, pada 1815, Pongkinangolngolan diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan mendapat gelar Tuanku Rao.
Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadan 1231 H (1816 M) terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Muarasipongi berhasil diluluhlantakkan dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorang pun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukan guna penyebaran agama Islam Mazhab Hambali.
Setelah itu, penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara dilaksanakan 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang untuk memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding satu lawan satu. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi.
Penyerbuan pasukan Paderi terhenti pada 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar 30.000orang. Sebagian terbesar bukan tewas di medan pertempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengislaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya, Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, sedangkan tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.
Akhirnya, buku yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34 lampiran ini jelas memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak.
Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial, dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan mengenai historiografi Indonesia. (*)

Oleh: TASYRIQ HIFZHILLAH Peminat sejarah asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Jogjakarta.
Sumber: Kiriman dari AHMAD ALI AFANDI (DI JAWA POS, MINGGU, 24 JUNI 2007)

Minggu, 09 September 2012

Kiai Nyentrik Membela Pemerintah / Abdurrahman Wahid


Harga: Rp.51.000 (blum ongkir)
Kondisi : Bagus
Tebal: 133 hal

Synopsis
esai-esai Antropologi Kiai ini bertutur ttg rasionalitas yang penuh warna, yg bergerak antara ortodoksi nan ketat dan penyiasatan pragmatik agar kehidupan tetap berlangsung.Kearifan? atau pengkhianatan?

Table of Contents
1 pesantren dan ludruk .................1
2 kiai nyentrik membela pemerintah........7
3 kiai Chasbullah dan musuhnya.............13
4 sulit masuknya, mudah keluarnya.........17
5 kiai ikhlas dan ko-edukasi.......................21
 6 rasionalitas kiai Adlan..............................25
7 kiai Razaq yang terbakar........................29
8 ketat tapi longgar.....................................35

 Judul : Kiai Nyentrik Membela Pemerintah****
Penulis : Abdurrahman Wahid****
Penerbit : LKiS, Yogyakarta****
Cetakan : Pertama, 1997****
Peresensi : Hengki Ferdiansyah****

Jujur, ketika membaca buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah seakan-akan Gus
Dur mendesak dan mendorong saya untuk segera menuliskan kisah-kisah tentang
para buya di Sumatra Barat.****

** **

Buya adalah sebutan untuk seorang Kiai di Minang. Gelar ini biasanya
diberikan kepada orang yang ‘alim dalam ilmu agama. Posisi Buya di Minang
tidak sesakral Kiai di Jawa. Jika di Jawa seorang santri sangat takut
kepada Kiainya, bahkan ketika Kiai menjelaskan kitab, sangat jarang
ditemukan santri yang mau mengkritik Kiainya.****

** **

Akan tetapi di Minang-khususnya di pesantren saya- mengkritik Buya ketika
menjelaskan kitab adalah suatu hal yang biasa. Terkadang, dimalam harinya
buya membekali muridnya dengan beberapa pertanyaan agar ditanyakan kepada
guru yang mengajarnya esok hari. Hal semacam ini disebut dengan kaji
babungkuih. ****

Sebagai santri yang pernah sekolah di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung,
yang didirikan Syekh Sulaiman ar-Rasuli-salah seorang ulama yang tetap
mempertahankan kitab kuning di saat kitab-kitab putih mulai mengancam- saya
merasa malu plus kagum terhadap sosok Gus Dur. Pengetahuan Gus Dur terhadap
Kiainya sangatlah luar biasa. Selain itu beliau mampu menuliskan dan
merasionalkannya, inilah yang membuat saya terkesima.****

** **
Sementara saya, keakraban dan pengetahuan saya terhadap sosok Inyiak
Canduang (panggilan akrab Syekh Sulaiman) masih minim dan terbatas.
Ditambah lagi, sangat jarangnya buku-buku yang menulis tentang biografi
Inyiak Canduang, apalagi sisi rasionalitasnya, sebagaimana yang dilakukan
Gus Dur.****

Awalnya saya tidak begitu akrab dengan Gus Dur, terutama dengan pemikiran
beliau. Pandangan saya tentang Gus Dur sama seperti masyarakat awam
lainnya. Gus Dur bagi saya pribadi yang nyeleneh, kerjanya hanya bikin
sensasi dan kontroversi, apalagi sewaktu baru saja diangkat jadi presiden
langsung pergi “jalan-jalan” ke luar negeri.****

** **
Pikiran picik dan sempit ini sangat wajar teruntai dalam benak saya. Sebab
di Bukittinggi, tempat saya sekolah, sangat jarang sekali didapati
buku-buku yang berbicara mengenai Gus Dur. Sehingga akses untuk mengenal
lebih dekat ide-ide Gus Dur sangatlah susah, apalagi internet pada waktu
itu belum massif seperti saat ini.****

Pikiran kolot saya itu mulai berubah setelah beberapa bulan tinggal di
Jakarta. Saat Gus Dur meninggal saya menyaksikan semua orang mulai dari
yang miskin sampai yang kaya, Islam maupun non-muslim ikut mendoakan dan
merasa kehilangan Gus Dur. Saat itu pulalah saya mulai berpikir, apa
sebenarnya kehebatan Gusdur? Pertanyaan ini benar-benar mulai terjawab
ketika saya mengikuti program TKG (Tadarus Kolom Gus Dur) yang diadakan the
Wahid Institute setahun yang lalu.****

Sebenarnya buku yang berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah ini
merupakan kumpulan dari esai-esai Gus Dur yang pernah dimuat di Tempo dan
Kompas. Seperti kata Sobary, tak sepotong pun penjelasan diberikan mengapa
Kiai Nyentrik Membela Pemerintah dipilih menjadi judul buku ini?****

** **
Sebagaimana yang diketahui, buku ini berbicara tentang sisi lain dari para
kiai. Di sini Gus Dur menceritakan bagaimana sisi rasionalitas dan
progresifitas para kiai dalam menghadapi persoalan masyarakat yang semakin
berkembang.****

Sosok Kiai Wahab Sulang misalnya, meskipun kiai desa ini tidak bisa
menggunakan rem sepeda motor, namun ketika berbicara dan menanggapi
persoalan modern beliau tidak kaku dan ketat. Malahan beliau lebih longgar,
bahkan beliau mampu memproduksi fikih menjadi lebih humanistik dan
kosmopolit sebagaimana yang dipuja orang, namun tetap berlandaskan
keyakinan agama. ****

Selain sisi rasionalitas para kiai, ada satu hal lagi yang sangat penting
dalam membaca buku Gus Dur ini. Jika buku ini dibongkar secara manhaji akan
kelihatan bagaimana cara Gus Dur menulis dan menyampaikan gagasannya agar
mudah dipahami masyarakat. Gus Dur tak perlu berbicara dan mengutip
teori-teori yang rumit, namun cukup bercerita tentang sosok kiai, orang
sudah paham apa yang hendak dikatakan Gus Dur. Cara seperti ini patut
ditiru bukan?****

** **

Hengki Ferdiansyah, mahasiswa di UIN Ciputat, aktif di Komunitas Saung,
sebuah forum kajian yang gemar menyuarakan pemikiran al-Jabiri dan Gus Dur**
**
--
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Selasa, 05 Juni 2012

BERBARENG BERGERAK - Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semoaen


 TERJUAL BY JOGJA
Harga : 25.000 (BLUM ONGKIR)
Penulis : Soewarsono
Penerbit : LKiS
Cetakan : Ke -1 tahun 2000
Tebal : 135 halaman
Kondisi : Bekas, lumayan

Semaoen adalah salah seorang tokoh dari --apa yang dalam bahasa Soe Hok Gie disebut "mereka yang berada di samping kiri dalam perjalanan sejarah Indonesia." Sebagai orang yang dikhawatirkan racun dan bahaya merahnya, ia telah menjadi "hantu" dalam sejarah Indonesia. Peranannya hanya disebut sepintas-lalu dalam pustaka sejarah bangsa, hanya semacam figuran. Namanya wajib dilupakan, dan terlalu berbahaya untuk diingat. Adakah memang kita betul-betul mencapai kearifan hidup di masa depan dengan cara membunuh ingatan kita terhadap sisi, --yang kita anggap secara semena-mena tanpa sepenggal pun pengetahuan--, "gelap" dan "rawan" dari sejarah perjalanan bangsa. Atau adakah kita ingin mencapai kearifan sejarah tersebut dengan cara "mempelajari"-nya secara sungguh- sungguh dan seksama?


Related Post

ShareThis