.

.
Tampilkan postingan dengan label Nurcholish Madjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurcholish Madjid. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Islam DOKTRIN PERADABAN


TERJUAL ke KALSEL
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus cet VII mei 2008
Tebal: 622 hal

Dalam buku ini ada empat hal pokok yang akan diungkap oleh cak Nur. Keempat hal pokok tersebut adalah : Tauhid dan Emansipasi Harkat Manusia, Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional, Membangun Masyarakat Etika, dan Universalisme Islam dan Kemoderenan. Keempatnya akan diuraikan satu persatu dalam sub judul di bawah ini.
Tawhid dan Emansipasi Harkat Manusia
Sebagaimana dikatakan oleh Kitab Suci, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi. Manusia juga merupakan puncak kreasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai harkat dan matabat kemanusiaan yang sangat luar biasa. Namun demikian, manusia juga memiliki potensi untuk terdegradasi menjadi sangat rendah.

Cak Nur menegaskan bahwa dalam kenyataan historis, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dminan manusia sebagai makhluk sosia. Sebab dalam kenyataannya, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya. Di sinilah fungsi diutusnya para rasul untuk membimbing manusia melawan kejatuhannya sendiri dan mengemansipasi harkat dan matabatnya dari kejatuhannya itu (hal. 94).

Dalam pandangan cak Nur, problem utama manusia adalah syirk. Karena syirk (politeisme) baik yang kuno maupun modern selalu bermuara pada pemenjaraan harkat dan martabat manusia dan kemerosotannya. Tentu yang demikian ini bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk tertinggi dan dimuliakan Tuhan. Mengapa ?, karena akan berakibat pada pengangkatan makhluk selain Tuhan menjadi sama dengan Tuhan sehingga hal ini akan berakibat pada lebih tingginya nilai tuhan palsu itu dibandingkan dengan mansuia itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kenapa syirik dikategorikan dosa terbesar manusia (hal. 96).

Untuk itu, agar tetap terjaga harkat dan martabat kemanusiaannya, manusia harus menyelamatkan imannya dengan tetap menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berarti, dengan hanya menghambakan diri kepada Tuhan, manusia akan mendapatkan kepribadiannya yang utuh dan integral.

Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional
Salah satu judul yang terbahas dalam tema di atas adalah “Kekuatan Dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin ‘Aqidah Islamiyah”. Dalam judul ini diungkapkan bahwa, paham asy’ariyah di samping memiliki kelebihan atau kekuatan juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Kenapa paham asy’ariyah ? karena Islam di Indonesia bermadzhab Syafi’i. Kaum Syafi’I kebanyakan menganut aqidah Asy’ari.

Dalam dunia kalam dikenal argumenpargumen logis dan dialektis. Kaum Asy’ari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder. Kemampuan Abu al-Hasan al-Asy’ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis diperoleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu’tazulah sebelum ia akhirnya keluar dari paham Mu’tazilah.

Letak keunggulan sistem Asy’ari atas lainnya terletak pada segi metodologinya yang merupakan jalan tengah antara berbagai ekstrimitas (hal. 273). Dalam penggunaan metdolodi mantiq, Asy’ari tidak menggunakannya sebagai kerangka kebenaran an sich, melainkan sekedar alat untu membuat kejelasan-kejelasan dan itupun hanya dalam urutan sekunder. Metodenya menghasilkan jalan tengah antara metode harfi kaum Hambali dan metode ta’wili kaum Mu’tazili.

Sedangkan posisi kelemahannya terletak pada kegagalannya menjelaskan teorinya tentang usaha manusia. Asy’ari ingin berbeda dengan kaum Jabari yang fatalis dan kaum Qadari yang menganggap manusia mempunyai kemerdekaan berbuat. Teori Asy’ari disebut kasb. Teorinya ingin mengabungkan dua teori yang kontradiktif di atas. Namun, misinya justru sulit dipahami. Ia menjelaskan bahwa “manusia tidaklah dipaksa dan juga tidak bebas merdeka dalam melakukan usaha”. Selanjutnya, “bila Allah memberi pahala makasemata karena kemurahan-Nya dan bila Allah menyiksa maka itu karena keadilan-Nya” (hal.283). Kedua rumusan tersebut bukan sebagai akibat dari perbuatan manusia.
Membangun Masyarakat Etika
Dalam kontek ini cak Nur menjelaskan dua makna, yaitu makna perorangan dan kemasyarakatan. Penjelasan tentang makna perorangan diawalinya dengan menjekaskan makna salam, kedamaian dan keselarasan. Salam adalah makna perorangan sikap keagamaan yang tulus. Ia juga merupakan kelanjutan sikap rela kepada Allah atas segala keputusan-Nya. Keadaan jiwa yang rela itu dicapai karena adanya ketenangan batin akibat rasa dekat kepada Allah. Inilah derjat manusia yang telah mencapai al-nafs al-mutmainnah.

Seseorang yang rela serta bertawakal kepada Allah tentulah seorang yang selalu dzikir kepada-Nya. Dzikir atau ingat kepada Allah secara konsisten merupakan segi keimanan yang sangat penting sekaligus menjadi sumber kebijakan yang tertinggi (hal. 349). Dan karena sikap itu merupakan keharusan sikap rela dan tawakkal kepada-Nya, maka ingat kepada Allah juga menjadi sumber ketenangan jiwa dan ketentramannya Orang yang beriman yaitu dia yang merasakan ketentraman jiwa karena ingat kepada Allah

Mengenai makna kemasyarakatan cak Nur menjelaskan bahwa baik dan jahat dalam kehidupan nyata seorang manusiadi dunia akhirnya didefinisikan sebagai kualitas sikap, tingkah laku dan perbuatannya dalam hubungannya denagn sesama manusia.

Dalam arti yang seluas-luasnya, amal saleh ialah setiap tingkah laku pribadi yang menunjang usaha mewujudkan tatanan hidup sosial yangteratur dan berkesopanan. Maka salah satu yang diharapkan dari adanya iman dalam dada adalah wjud nyata dalam tindakan yang berdimensi sosial.

Dimensi sosial keimanan juga dinyatakan dalam bentuk kata ishlah al-ardl, reformasi dunia. Para Nabi yang diutus selalu melakukan reformasi dunia, yaitu perjuangan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Maka komitmen kepada usaha menciptakan masyarakat yang memenuhi rasa keadilan merupakan makna sosial keyakinan aama yang harus ditumbuhkan dalam setiap pribadi yang beriman. Dengan kata lain, rasa keadilan merupakan manifestasi rasa kemanusiaan, sehingga, dari sudut pandangan ini, makna kemasyarakatan keyakinan agama atau iman adalah rasa kemanusiaan itu, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan hablun min al-nas sebagai kelanjutan dari hablun min Allah.
Hablun min al-nas dan hablun min Allah di simbolkan melalui shalat. Ketika melakukan takbirat al-ikhram melambangkan manusia sedang melakukan hubungan dengan Allah. Dan ketika melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri melambangkan bahwa manusia itu harus menoleh kepada keadaan di sekitarnya. Hal ini mencerminkan bahwa orang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran diri akan dimensi sosial (hal. 354).
Universalisme Islam dan Kemoderenan
Salah satu hal penting yang mendapat perhatian cak Nur dalam “Universalisme Islam dan Kemoderenan” adalah “ajaran nilai etisdalam kitab suci”. Nilai etis yang dimaksudkan cak Nur adalah dalam pengertian yang sangat mendasar, yaitu konsep dan ajaran yang serba meliputi, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik dan buruk, benar dan salah. Namun demikian, yang hendak dibicarakan cak Nur adalah yang terbatas pada hal-hal yang dianggap pokok saja, yang relevan dengan problem sekarang.

Dalam buku “Islam, Doktrin dan Peradaban” ini ingin ditegaskan kembali mengenai watak Agama Islam berkenaan dengan kerja. Tampilnya Islam berarti menyambung kembali tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang mengajarkan tentang beriman kepada Allah da pendekatan kepada-Nya melalui amal perbuatan baik suatu monoteisme etis.

Karena seluruh aktifitas dapat bernilai sebagai usaha pendekatan kepada Tuhan, maka seluruh hidup manusia mempunyai makna transendental, yanga sehari-harii dinyatakan dalam ungkapan “demi ridla Allah”. Dan adanya keinsyafan akan makna hidup itulah yang membuat manusia berbeda dari jenis hewan yang lain, serta di situlah letak harkatnya (hal. 476).
Penutup
Satu hal yang menjadi misi utama buku ini adalah mengajak kepada kaum muslimin untuk menegakkan paham kemajemukan atau pluralisme. Berkaitan dengan hal tersebut maka Islam semakin diharapkan tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, sertamampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua, tanpa ekslusifisme komunal.

Kaum muslimin harus secara otentik mengembangkan paham kemajemukan masyarakat (pluralisme sosial). Kaum muslimin juga dituntut akan kesanggupan mengembangkan sikap-sikap saling menghagai antara sesama anggota masyarakat, dengan menghormati apa yang diangap penting pada masing-masing orang atau kelompok.

SUMBER ARTIKEL: http://dakwah-2012.blogspot.com/2011/11/islam-doktrin-dan-peradaban.html

Rabu, 02 Januari 2013

ISLAM KERAKYATAN DAN KEINDONESIAAN


 
Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus cet 2 mei 1994
tebal:266 hal

Nurcholish Madjid (Cak Nur) merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.

Sebagai tokoh pembaharu dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Nurholish Madjid sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaharuan Islam di Indonesia. Pemikirannya diaggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

sumber; http://www.goodreads.com/author/show/876841.Nurcholish_Madjid

Selasa, 10 Juli 2012

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, EDISI BARU TAHUN 2008

jacket buku

Harga: Rp.90.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS. HARD COVER ADA JACKET BUKUNYA
PENERBIT: MIZAN CET 1EDISI BARU TAHUN 2008
Tebal:397 halaman
Berat: 0,77 Kg

hard cover


Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif,

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Perjalanan Religius Umrah dan Haji


Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus 1977 PENERBIT PARAMADINA
tEBAL: 109 HAL
BERAT: 0,17 KG
Nurcholis Madjid (1997) menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praksis untuk komitmen-solidaritas sosial. Haji merupakan ibadah individu dengan implikasi sosial. Buku Perjalanan Religius Haji dari Cak Nur merupakan kumpulan ceramah tentang haji dan umrah di Universitas Paramadina. Buku itu memiliki muatan studi teologi, intelektual, sosial, dan kultural.


Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan


 
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS
PENERBIT: MIZAN CET 5 TAHUN 1993
Tebal:344 halaman
Berat: 0,33 Kg

Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif,

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Khazanah Intelektual Islam


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: LUMAYAN BAGUS
PENERBIT: BULAN BINTANG JAKARTA 1984
Tebal:382 halaman
Berat: 0,300 Kg

Cak Nur sangat kuat dalam penjelajahan intelektual pada tradisi Islam klasik untuk merespons tantangan modernitas dan kegalauan umat Islam di dunia modern. Ia sangat fasih berbicara mengenai pemikiran-pemikiran Islam klasik dan abad modern. Buku Khazanah Intelektual Islam yang ia sunting dan terjemahkan adalah bukti. Bahkan, Cak Nur sangat fasih mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Ia ingin menjadi sosok pious thinker—pemikir yang saleh. Dan rupanya, kesalehan tersebut menjadi semacam ikon Cak Nur, baik dalam kehidupan intelektual, spiritual maupun ritual sehari-hari.
Ada terjemahan karya2 pemikir2 islam paling terkenal seperti ibnu sina, al-ghazali, ibnu rusyd, al-farabi, ibnu taimiyah ... maka kita tahu pemikiran mereka

sumber potongan artikel: http://hmibecak.wordpress.com/2008/03/19/jil-ngaku-ngaku-sama-dengan-cak-nur/


ISLAM DOKTRIN DAN PERADABAN


TERJUAL
Kondisi: Bagus. HARD COVER LENGKAP DENGAN JACKET BUKU
PENERBIT: Yayasan Wakaf PARAMADINA 1992
Tebal:612 halaman
Berat: 1,10 Kg
jacket Buku
hard cover buku


Dalam buku ini ada empat hal pokok yang akan diungkap oleh cak Nur. Keempat hal pokok tersebut adalah : Tauhid dan Emansipasi Harkat Manusia, Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional, Membangun Masyarakat Etika, dan Universalisme Islam dan Kemoderenan. Keempatnya akan diuraikan satu persatu dalam sub judul di bawah ini.
Tawhid dan Emansipasi Harkat Manusia
Sebagaimana dikatakan oleh Kitab Suci, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi. Manusia juga merupakan puncak kreasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai harkat dan matabat kemanusiaan yang sangat luar biasa. Namun demikian, manusia juga memiliki potensi untuk terdegradasi menjadi sangat rendah.

Cak Nur menegaskan bahwa dalam kenyataan historis, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dminan manusia sebagai makhluk sosia. Sebab dalam kenyataannya, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya. Di sinilah fungsi diutusnya para rasul untuk membimbing manusia melawan kejatuhannya sendiri dan mengemansipasi harkat dan matabatnya dari kejatuhannya itu (hal. 94).

Dalam pandangan cak Nur, problem utama manusia adalah syirk. Karena syirk (politeisme) baik yang kuno maupun modern selalu bermuara pada pemenjaraan harkat dan martabat manusia dan kemerosotannya. Tentu yang demikian ini bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk tertinggi dan dimuliakan Tuhan. Mengapa ?, karena akan berakibat pada pengangkatan makhluk selain Tuhan menjadi sama dengan Tuhan sehingga hal ini akan berakibat pada lebih tingginya nilai tuhan palsu itu dibandingkan dengan mansuia itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kenapa syirik dikategorikan dosa terbesar manusia (hal. 96).

Untuk itu, agar tetap terjaga harkat dan martabat kemanusiaannya, manusia harus menyelamatkan imannya dengan tetap menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berarti, dengan hanya menghambakan diri kepada Tuhan, manusia akan mendapatkan kepribadiannya yang utuh dan integral.

Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional
Salah satu judul yang terbahas dalam tema di atas adalah “Kekuatan Dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin ‘Aqidah Islamiyah”. Dalam judul ini diungkapkan bahwa, paham asy’ariyah di samping memiliki kelebihan atau kekuatan juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Kenapa paham asy’ariyah ? karena Islam di Indonesia bermadzhab Syafi’i. Kaum Syafi’I kebanyakan menganut aqidah Asy’ari.

Dalam dunia kalam dikenal argumenpargumen logis dan dialektis. Kaum Asy’ari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder. Kemampuan Abu al-Hasan al-Asy’ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis diperoleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu’tazulah sebelum ia akhirnya keluar dari paham Mu’tazilah.

Letak keunggulan sistem Asy’ari atas lainnya terletak pada segi metodologinya yang merupakan jalan tengah antara berbagai ekstrimitas (hal. 273). Dalam penggunaan metdolodi mantiq, Asy’ari tidak menggunakannya sebagai kerangka kebenaran an sich, melainkan sekedar alat untu membuat kejelasan-kejelasan dan itupun hanya dalam urutan sekunder. Metodenya menghasilkan jalan tengah antara metode harfi kaum Hambali dan metode ta’wili kaum Mu’tazili.

Sedangkan posisi kelemahannya terletak pada kegagalannya menjelaskan teorinya tentang usaha manusia. Asy’ari ingin berbeda dengan kaum Jabari yang fatalis dan kaum Qadari yang menganggap manusia mempunyai kemerdekaan berbuat. Teori Asy’ari disebut kasb. Teorinya ingin mengabungkan dua teori yang kontradiktif di atas. Namun, misinya justru sulit dipahami. Ia menjelaskan bahwa “manusia tidaklah dipaksa dan juga tidak bebas merdeka dalam melakukan usaha”. Selanjutnya, “bila Allah memberi pahala makasemata karena kemurahan-Nya dan bila Allah menyiksa maka itu karena keadilan-Nya” (hal.283). Kedua rumusan tersebut bukan sebagai akibat dari perbuatan manusia.
Membangun Masyarakat Etika
Dalam kontek ini cak Nur menjelaskan dua makna, yaitu makna perorangan dan kemasyarakatan. Penjelasan tentang makna perorangan diawalinya dengan menjekaskan makna salam, kedamaian dan keselarasan. Salam adalah makna perorangan sikap keagamaan yang tulus. Ia juga merupakan kelanjutan sikap rela kepada Allah atas segala keputusan-Nya. Keadaan jiwa yang rela itu dicapai karena adanya ketenangan batin akibat rasa dekat kepada Allah. Inilah derjat manusia yang telah mencapai al-nafs al-mutmainnah.

Seseorang yang rela serta bertawakal kepada Allah tentulah seorang yang selalu dzikir kepada-Nya. Dzikir atau ingat kepada Allah secara konsisten merupakan segi keimanan yang sangat penting sekaligus menjadi sumber kebijakan yang tertinggi (hal. 349). Dan karena sikap itu merupakan keharusan sikap rela dan tawakkal kepada-Nya, maka ingat kepada Allah juga menjadi sumber ketenangan jiwa dan ketentramannya Orang yang beriman yaitu dia yang merasakan ketentraman jiwa karena ingat kepada Allah

Mengenai makna kemasyarakatan cak Nur menjelaskan bahwa baik dan jahat dalam kehidupan nyata seorang manusiadi dunia akhirnya didefinisikan sebagai kualitas sikap, tingkah laku dan perbuatannya dalam hubungannya denagn sesama manusia.

Dalam arti yang seluas-luasnya, amal saleh ialah setiap tingkah laku pribadi yang menunjang usaha mewujudkan tatanan hidup sosial yangteratur dan berkesopanan. Maka salah satu yang diharapkan dari adanya iman dalam dada adalah wjud nyata dalam tindakan yang berdimensi sosial.

Dimensi sosial keimanan juga dinyatakan dalam bentuk kata ishlah al-ardl, reformasi dunia. Para Nabi yang diutus selalu melakukan reformasi dunia, yaitu perjuangan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Maka komitmen kepada usaha menciptakan masyarakat yang memenuhi rasa keadilan merupakan makna sosial keyakinan aama yang harus ditumbuhkan dalam setiap pribadi yang beriman. Dengan kata lain, rasa keadilan merupakan manifestasi rasa kemanusiaan, sehingga, dari sudut pandangan ini, makna kemasyarakatan keyakinan agama atau iman adalah rasa kemanusiaan itu, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan hablun min al-nas sebagai kelanjutan dari hablun min Allah.
Hablun min al-nas dan hablun min Allah di simbolkan melalui shalat. Ketika melakukan takbirat al-ikhram melambangkan manusia sedang melakukan hubungan dengan Allah. Dan ketika melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri melambangkan bahwa manusia itu harus menoleh kepada keadaan di sekitarnya. Hal ini mencerminkan bahwa orang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran diri akan dimensi sosial (hal. 354).
Universalisme Islam dan Kemoderenan
Salah satu hal penting yang mendapat perhatian cak Nur dalam “Universalisme Islam dan Kemoderenan” adalah “ajaran nilai etisdalam kitab suci”. Nilai etis yang dimaksudkan cak Nur adalah dalam pengertian yang sangat mendasar, yaitu konsep dan ajaran yang serba meliputi, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik dan buruk, benar dan salah. Namun demikian, yang hendak dibicarakan cak Nur adalah yang terbatas pada hal-hal yang dianggap pokok saja, yang relevan dengan problem sekarang.

Dalam buku “Islam, Doktrin dan Peradaban” ini ingin ditegaskan kembali mengenai watak Agama Islam berkenaan dengan kerja. Tampilnya Islam berarti menyambung kembali tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang mengajarkan tentang beriman kepada Allah da pendekatan kepada-Nya melalui amal perbuatan baik suatu monoteisme etis.

Karena seluruh aktifitas dapat bernilai sebagai usaha pendekatan kepada Tuhan, maka seluruh hidup manusia mempunyai makna transendental, yanga sehari-harii dinyatakan dalam ungkapan “demi ridla Allah”. Dan adanya keinsyafan akan makna hidup itulah yang membuat manusia berbeda dari jenis hewan yang lain, serta di situlah letak harkatnya (hal. 476).
Penutup
Satu hal yang menjadi misi utama buku ini adalah mengajak kepada kaum muslimin untuk menegakkan paham kemajemukan atau pluralisme. Berkaitan dengan hal tersebut maka Islam semakin diharapkan tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, sertamampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua, tanpa ekslusifisme komunal.

Kaum muslimin harus secara otentik mengembangkan paham kemajemukan masyarakat (pluralisme sosial). Kaum muslimin juga dituntut akan kesanggupan mengembangkan sikap-sikap saling menghagai antara sesama anggota masyarakat, dengan menghormati apa yang diangap penting pada masing-masing orang atau kelompok.

SUMBER ARTIKEL: http://dakwah-2012.blogspot.com/2011/11/islam-doktrin-dan-peradaban.html

Senin, 18 Juni 2012

KAKI LANGIT PERADABAN ISLAM


 
Harga: Rp.35.000 (blum ongkir)
Kondisi: Tanpa cover dan Isi masih bagus dan mulus
Berat : 0,28 Kg
tebal: 228 halaman
penerbit: PARAMADINA 1997

Buku ini adalah hasil suntingan dari sebagian makalah tersebar yang pernah ditulis dan disampaikan Nurcholish Madjid di berbagai kesempatan seminar dan simposium dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun (1986-1996). Kendati setiap makalah pada mulanya ditulis untuk forum, tujuan, dan waktu yang berbeda-beda, namun kiranya tidak akan terlalu sulit menangkap benang ,erah yang mempersatukan keseluruhan tema dan gagasan dasarnya. Yakni semangat dan pesan-pesan peradaban sesuatu yang memang sangat tipikal dalam pikiran-pikiran Nurcholish Madjid.
Buku didasari pada adanya tantangan besar yang dihadapi bangsa-bangsa Muslim, untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang IPTEK. Sebab boleh dikata, tidak satupun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah peradaban IPTEK-nya daripada Islam. Buku ini menunjukkan betapa kenyataan tersebut sesungguhnya sangat ironis, mengingat ajaran Islam nyata-nyata memperlihatkan adanya hubungan organik antara iman dan ilmu. Hubungan mana telah dibuktikan dalam sejarah Islam klasik ketika kaum muslim memiliki jiwa kosmopolitan yang sejati, yang dengannya mereka membangun peradaban dalam arti sebenar-benarnya.
Tentu saja buku ini tidak bermaksud mengajak berpikir rimantis atau bernostalgia dengan kejayaan peradaban Islam masa lampau. Justru sebaliknya ia ingin menyentak kesadaran kita bahwa betapapun amat memilukannya ketertinggalan itu, namun tidak sepatutnya disesali sedemikian rupa sehingga kehilangan semangat untuk melihat kedepan dengan penuh harapan. Dan supaya harapan tidak terlampau melambung atau bahkan tersesat di langit-langit mimpi, maka is mutlak harus diberi “kaki”. Tesis-tesis peradaban yang dikemukakan Nurcholish Madjid dalam buku ini bisa disebut sebagai upaya untuk membangun “kaki-kaki (langit)” itu, yang bahan-bahannya diramu, bukan saja dari visi dan misi serta pertimbangan rasionalitas, tapi juga dari doktrin Islam dan bahkan janji-janji Allah sendiri dalam kitab suci.


Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah

Cover di ganti kertas putih sama pemilik terdahulu dan kover aslinya hilang

Isi dalam buku asli (original) masih bagus dan mulus

Harga: Rp.45.000 (blum ongkir)
Kondisi: TANPA COVER dan Isi masih bagus dan mulus (ORIGINAL)
Tebal:327 halaman
Berat: 0,44 Kg

Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Jakarta : Paramadina, 1995.
Karya ini merupakan refleksi analisis yang mendalam dari seorang Nurcholish Madjid dalam memahami diskursus keislaman. Pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid yang termuat dalam buku ini lebih diarahkan pada makna dan implikasi penghayatan iman terhadap perilaku sosial. Nurcholis Madjid dalam buku ini juga membahas tema-tema politik ajaran Islam yang telah berkembang dan mengalami deviasi dan distorsi di tangan umat Islam sendiri, sehingga menjadi mitos dan kultus. Dalam pemahaman yang lain, seringkali sulit dibedakan antara nilai-nilai Islam yang bersifat substansial dan fundamental dari ajaran yang sekunder dan terbuka untuk penafsiran dan bahkan perubahan. Dalam kata pengnatarnya Komaruddin Hidayat menyatakan bahwa melalui buku ini Nurcholish Madjid menunjukkan konsistensinya sebagai pemikir yang apresiatif dan memiliki akses intelektual terhadap khazanah Islam klasik. Namun berbarengan dengan itu ia tetap setiap pada cita-cita humanisme dan modernisme Islam. Ditambah lagi dengan wawasan kesejarahan dan sosiologis yang dipelajari telah memungkinkan Nurcholish Madjid untuk menyuguhkan wawasan dan interprestasi ajaran dasar Islam yang terbebas dari mitos pemihakan idiologis karena kepentingan politik praktis.

Kamis, 16 Februari 2012

DIALOG KETERBUKAAN, Artikulasi Nilai Islam Dalam Wacana Sosialpolitik Kontemporer



 
TERJUAL BY BOGOR
Judul: DIALOG KETERBUKAAN, Artikulasi Nilai Islam Dalam Wacana Sosialpolitik Kontemporer

Penulis: DR. Nurcholish Madjid
Pengantar: FACHRY ALI
Editor: Edy a. Effendi
Cetakan I, Januari 1998
Diterbitkan oleh Penerbit PARAMADINA 1998

Harga: Rp.65.000

MASYARAKAT RELIGIUS, Membumikan Nilai-Nilai Islam Dalam Kehidupan Masyarakat Penulis: Nurcholish Madjid


TERJUAL BY BOGOR
Judul: MASYARAKAT RELIGIUS, Membumikan Nilai-Nilai Islam Dalam Kehidupan Masyarakat
Penulis: Nurcholish Madjid
Editor: Ahmad GausAF
Cetakan II, April 2000
Diterbitkan oleh Penerbit PARAMADINA

Harga: Rp.40.000

PESAN-PESAN TAQWA


TERJUAL BY JOGJA
Judul: PESAN-PESAN TAQWA, kumpulan ceramah jumat Nurcholish Madjid di pelataran parkir Universitas Paramadina
Penulis: Nurcholish Madjid
Terbitan:  PARAMADINA Jakarta 2000
EDITOR: Asrori S. Karni
Cetakan I, Desember 2000
Tebal: 168

Harga: Rp. 50.000


Dalam buku Pesan-Pesan Taqwa Nurcholish Madjid, terbitan Paramadina, yang merupakan kumpulan ceramah jumat Nurcholish Madjid di pelataran parkir Universitas Paramadina, disana dikatakan bahwa seseorang telah lalai dalam shalatnya ketika keseharian dalam hidupnya di luar shalat, tidak mencerminkan layaknya orang yang shalat. Misalkan dia shalat, akan tetapi menghardik anak yatin ([107] : 2), tidak member makan orang miskin ([107] : 3) tettunya bagi mereka yang mampu berbagi, yang pada initinya kesolehan vertikalnya tidak ia wujudkan pula dalam kesolehan horizontal.
Hal yang sangat berkesan yang saya dapatkan pula dalam buku ini, ialah mengenai pesan yang terdapat dalam gerakan shalat. Shalat kita awali dengan tkbilatulihram yakni takbir yang mengharamkan segala pekerjaan selai menghadap Allah, takbir ini menggambarkan kesadaran vertical. lantas diakhiri dengan salam, dengan menggerakan ke sebelah kanan lantas dilanjut ke kiri, secara simbolik menunjukan bahwa kita memiliki perhatian kepada sesama manusia. pesan ini kira-kira jika diuraikan dalam kata-kata ialah, “Kamu betul telah sungguh-sungguh menghadap-Ku melalui shalatmu, membina hubungan yang baik dengan-Ku. Maka tunjukkanlah buktinya dengan membina hubungan yang baik dengan sesame manusia.” Itulah akhlaqul karimah.
Jadi kesimpulan yang bisa diambil ialah, jika kita benar-benar beriman atau dengan kegiatan ibadah kita wujudkannya, maka haruslah pula kita wujudkan dengan membina hubungan yang baik dengan sesama manusia, tanpa memandang status, strata, dll.

Source:
http://faizal-azmi.blogspot.com/2012/01/lembang-pencerahan-pribadi-untuk.html

Related Post

ShareThis