.

.
Tampilkan postingan dengan label MUHAMMAD. YAMIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUHAMMAD. YAMIN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

6000 Tahun Sang Merah Putih

TERJUAL
KONDISI: SECOND/ lumayan djadul. ISI DALAM BUKU BANYAK YANG SOBEK, karena hbis di foto copy
BERAT: 0,46 KG
HAL: 349 HAL

Mengambil Pelajaran dari Kontroversi Buku Yamin


Oleh Miftakhul Huda, Redaktur Majalah Konstitusi
Muh Yamin memang tokoh dengan beragam julukan yang serba besar. Tidak hanya sebagai ahli konstitusi kenamaan, akan tetapi juga dikenal sebagai sastrawan. Karya sastranya dapat dijumpai dalam Tanah Air (1922) Indonesia Tumpah Darahku (1928), Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Kalau Dewa Tara Sudah Berkata (1932) dan menerjemahkan karya William Shakespeare dan Rabindranath Tagore. Karya sejarah juga dapat ditemui antara lain Sejarab Peperangan Diponegara (1945) dan Gajah Mada (1948), Revolusi Amerika (1951), Atlas Sejarah dan Lukisan Sejarah (1956) dan lain sebagainya. Selain sastrawan, penggali sejarah, ia juga seorang politikus, tokoh pergerakan, ahli bahasa, dan piawai dalam antropologi.
Sekalipun demikian, sosok Muh Yamin selalui dikelilingi kontroversi. Sejak awal, perilaku dan karya-karyanya dikagumi orang, tetapi tidak sedikit dikritik dan bahkan dilecehkan. Contoh saja, pada 1945, ketika ia menerbitkan buku Gajah Mada yang memuat potret patung Gajah Mada, oleh pengkritiknya dianggap rekaan wajahnya sendiri. Atau buku “6000 Tahun Sang Merah Putih” dianggap hanya “khayalan“nya sendiri. Namun, pada sisi lain, pengkritiknya sendiri tidak mampu membuktikan kebenaran sejarah versinya. Bahkan karya-karya sesudahnya mengenai sejarah dan sastra banyak memperoleh manfaat dari karya Yamin.
Keandalan Yamin memang diakui. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, menyebutnya sejarawan Indonesia yang pengaruhnya paling besar. Majalah Tempo edisi khusus 16 Januari 2000 menyatakan, “Pakar sejarah Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini.” Selain itu, di tengah hujatan kepadanya sebagai penulis keraton, ada pula yang memuji, yaitu Hersri Setiawan, yang menyanjung Yamin sebagai “sastrawan yang perlu diberi tempat istimewa”. Patung Gajah Mada pun sampai saat ini tidak terdapat pihak yang menunjukkan yang benar yang mana.
***
Buku Yamin yang paling kontroversial sepanjang sejarah adalah buku berjudul lengkap “Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945, disiarkan dengan dibubuhi tjatatan oleh Prof. Mr. Hadji Muhammad Yamin”. Buku ini terdiri atas tiga jilid yang diterbitkan pada tahun tidak bersamaan. Djilid I (1959) yang berisi segala naskah sejak 29 Mei 1945 sampai konstitusi ditetapkan pada 18 Agustus 1945. Selain itu, juga terdapat naskah lain dari Konstituante I dan lain sebagainya. Djilid II (1960) beirisi naskah sejak Februari sampai 12 Mei 1959. Sedangkan Djilid III (1960) mendokumentasikan lanjutan laporan Konstituante sejak 12 Mei sampai dengan 2 Juni 1959.

sumber artikel:  http://www.miftakhulhuda.com/2010/12/mengambil-pelajaran-dari-kontroversi.html

Minggu, 18 Maret 2012

DIPANEGARA


 
 
  MAAF, SUDAH TERJUAL by TANGERANG SELATAN
Judul: DIPANEGARA
Dikarang oleh: MUHAMMAD YAMIN
Penerbit: JAJASAN PEMBANGUNAN DJAKARTA
Edisi : Soft Cover
Halaman: 127
Tjetakan : KeTIGA 1952
Kondisi lumayan bagus

Price : IDR 100.000,00  



Oleh: Nurel Javissyarqi*


Sebelum jauh merambah pada karya Beliau, terus terang saya terusik dengan ejaan Diponegoro menjadi Dipanegara. Kenapa Bojonegoro tidak dirubah menjelma Bajanegara? Dst. Bagi saya tetap menggunakan logat aslinya (:Jawa) yakni Diponegoro, disamping mengukuhkan literatur yang terakhir ada. Berangkat dari asal dialek, daya pamornya dapat disadap lebih mantab, saat mengejawantahkan suatu kalimah, apalagi kerja bersastra.

Di tanah Jawa, sebutan Pangeran yang kesohorannya melebihi raja-raja kecil  ialah Pangeran Diponegoro. Padahal jauh di benaknya tiada membanggakan titel itu, ia lebih nyaman sebagai rakyat biasa, lebih berasa mengunyah asin garam kehidupan jelata. Tak ada pantulan lain, selain kesadaran berontak-lah hal tersebut terbit, menyunggi matahari bencah Dwipa kala itu.

Saat membaca roman sejarah karangan J.H. Tarumetor TS. yang bertitel “Aku Pangeran Dipanegara” penerbit Gunung Agung Djakarta 1966. Saya merasakan betapa sengit pergolakan kemerdekaan, yang berkumandang terang mewujudkan idealitas kebebasan, dari kungkungan rezim penjajahan, yang sewenang-wenang mengadu-domba darah biru, darah merah bumiputra. Adalah berdasar niat suci, perlawanan terus dikibarkan, bergerilya menculik musuh dengan panah api, sekali waktu berhadap muka meriam dengan tombak, keris dan bambu runcing.

Tiap-tiap laluan parit, tebing curam, kaki bukit, semak belukar, hutan rimba, batu licin derasnya air sungai, padang amis darah rumput, merupakan referensi dalam meningkatkan mutu pemberontakan dikemudian hari. Maka ingatan senantiasa harus terawat, terbasuh kucuran kesadaran, semisal kelembutan air bersanggup menelusup ke serat-serat batu, mendenting melobangi bebatuan pada goa perenungan. Niscaya tubuh kebangsaan berteriak lantang, manakala kaki-kaki rumput terinjak sepatu besi, kuda-kuda birahi yang kesurupan serupa kompeni. Jika berkaca pada cermin masa kini, nasib tanah pertiwi terserang virus-virus korupsi.

Ontowiryo (bahasa Indonesia usil menulisnya dengan Antawirya, nama kecil Pangeran Diponegoro), ia terlahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta, dan wafat pada tanggal 8 Januari 1855 di benteng Rotterdam kota Makasar. Sebagaimana catatan Muhammad Yamin dalam bukunya yang berjudul, Sedjarah Peperangan “Dipanegara” Pahlawan Kemerdekaan Indonesia, penerbit Jajasan Pembangunan Djakarta 1952, tjtakan ketiga. Jika menengok literatur YB. Sudarmanto, terbitan Grasindo 1996 yang berjudul “Jejak-Jejak Pahlawan dari Sultan Agung hingga Syekh Yusuf” membubuhi puisi Chairil Anwar yang berlabel “Diponegoro”: Di depan sekali tuan menanti/ Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali/ Pedang di kanan, keris di kiri/ Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Di bawah ini saya tunjuntukkan Pangeran Diponegoro sebagai Pujangga Indonesia, sebelum santri Tegalsari R. Ng. Ronggowarsito. Bermaksud menguri-uri ruhaniah pertiwi atas tumbal para pemudanya, guna jejiwa mengikuti kegigihannya. Menempa mental agar tak berkarat dimakan usia, tidak busuk dalam buih kecewa. Andai kedangkalan gurit sekadar kenangan, masih bersimpan semangat pengguratnya. Apalagi tetembangan yang dihasilkan dari jiwa-jiwa paripurna kepahlawanan; tidak tunduk harta benda, pangkat jabatan maupun gadis-gadis berambut pirang.

Demikian simaklah…

Sun amedar surasaneng ati

atembang pamijos

pan kinarjo anglipur brangtane

aneng kita Menado duk kardi

tan ana kaeksi.


Mapan katah kang keraseng galih

ing tingkah kadudon

pan mengkana ing tijas pangestine

kaja paran polahingsun iki

jen tan ana ugi

apura Ijang Agung.



Lara wirang pan wus sun lakoni

nging panuhuningong

ingkang kari dan kang dingin kabeh

kaluarga ngestokken jekti

mring Agama Nabi

oleh pitulung.



Ketika membaca bahasa asalnya, tubuh penyaksi gemetaran; bulu-bulu berdiri seolah jejarum di jemari tangan perawan, menyuntik seluruh jasad yang memendam masa silam. Sejarah dihasilkan kerja kesungguan, tak ada basa-basi tersimpan, seluruhnya meruang-waktu kejadian lampau. Perjuangan suci mengukuhkan lelangkah menjadi panutan dikemudian hari. Bahasa bukan sekadar penyampai, di dalamnya ada dinaya, sukma yang terekam membetot jatah dipertarungkan ruang-waktu pembaca. Maka usah sekali-kali menganggap remeh sikap pembacaan, agar tak terhempas gelombang kelupaan sebelum sampai tujuan.

Di bawah ini salinan maknawi karya beliau:



Hamba curahkan perasaan kalbu yang fitri

mengarang syair menghibur duka-nestapa

menyusun karangan di kota Manado

ketika tak kelihatan pandangan mata

selain daripada Tuhan Yang Maha Esa.



Banyaklah yang terasa dalam hati

berbuat kelakuan yang salah arah

sampai timbul jantung berfikiran:

apakah jadinya hamba hina ini,

sekiranya tingkah perbuatan itu

tidak diturunkan ampun,

oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.



Pedih-pilu, hina bencana dirasa

tetapi memohonkan sungguh,

supaya kehilafan dahulu dan kemudian

diturunkan pengampunan dari Tuhan,

kepada keluarga dan sanak saudara

yang dengan ikhlas sepenuh sungguh

menuruti ajaran Nabi pembawa sabda.



Demikian Tembang Midjil yang disusun Pangeran Diponegoro di kota Manado, sebagai Muqaddimah “Babad Diponegoro,” yang dirampungkannya di kota Makasar. Babad tersebut berisikan sejarah leluhur, tareh runtuhnya kerajaan Majapahit hingga detik-detik akhir Beliau. Perjuangan tangan-tangan baja, kaki-kaki gajah, amis darah segar, keringat berdebu, harta-nyawa melayang-layang selama lima tahun terus-menerus melawan penjajahan, dari tanggal 20 Juli 1825 sampai 28 Maret 1830. Dan seperempat abad Beliau meringkuk di benteng tawanan, mendekam terisolasi di tanah asing pembungan. Dimana kurun waktu menyimpan peristiwa, tempo suatu kenangan menjelma harmoni tetembangan, kejayaan hati bergetar dalam perjuangan.

Ontowiryo atau Pangeran Diponegoro, diberi gelar rakyaknya dengan sebutan; “Sultan Abdulhamid Herutjokro Amirul Mukminin Syaidina Panatagama Khalifatulloh Tanah Djawa.” Bersama Sentot Prawirodirdjo serta Kiai Modjo, membakar medan peperangangan di lingkup tanah tengah dwipa; Selarong, Dekso, Pleret, Lengkong, kaki Gunung Merapi, Bantul, Kedjiwan, Gawok, Bagelen, Banyumas, Pekalongan, Ledok, Semarang, Rembang, Bojonegoro, Madiun, Pengasih, Banyumeneg, Kedu, dan seluruh ruh bumi Nusantara berbangkit atas hembusan badai pemberontakannya.

Adalah tak diragukan lagi, tubuh-tubuh yang terpendam tanah pertiwi sebagai daulat kesatuan, bagi hakikat paku bumi, gunung-gunung tertancap, agar tak buyar makna ke-Indonesia-an. Dimana tiap-tiap pergolakan terangkat, embun pagi kabarkan peristiwa makna puitik, lahir dari pergumulan ruh abthin matahari. Dan sisanya tersimpan dalam resapan daun-daun sejarah. Niscaya pancaran hati, atas pantulan tekad memperjuangkan tanah sepenuh jiwa, tulus setia menghadap Ridho-Nya.



Jatim, 19 Maret 2009, kamis legi Rabiul Awal 1430 H.



*) Pengelana asal Lamongan,


SUMBER ARTIKEL:
http://www.poetikaonline.org/2011/04/kaepujanggaannya-pahlawan-diponegoro.html




Kamis, 08 Maret 2012

TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA


Cover Jacket depan
 
MAAF, SUDAH TERJUAL by TANGERANG SELATAN
Judul: TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA
Oleh: Prof. M. YAMIN
Penerbit: DJAJABAKTI MCMLX- Djakarta 1959
Edisi : Hard Cover
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Tjetakan : pertama Djakarta  1962, Tahun pembebasan Irian Barat
Kondisi: BEKAS, CUKUP BAIK


ALL, Price : -DJILID 1-4: IDR 3.500.000,00  (belum termasuk ongkos kirim)
 
Jilid 1-4


RISALAH SAPTA PARWA BERISI 7 DJILID ATAU PARWA, HASILPENELITIAN KETATANEGARAAN INDONESIA TENTANG DASAR DAN BENTUK NEGARA NUSANTARA BERNAMA MADJAPAHIT
1293 - 1525

Perkembangan kerajaan Majapahit yang mencapai puncaknya pada abad ke-14, akhirnya mulai mengalami proses kemunduran setelah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364, kemudian disusul meninggalnya Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kewibawaan kerajaan Majapahit mulai menurun, karena sistem sentralisasi yang ditetapkan oleh Gajah Mada selama memangku mahapati. Akibatnya daerah-daerah bawahan banyak yang memisahkan diri, seperti Minangkabau, Tanjungpura, dan berbagai kerajaan kecil lainnya. Muhammad Yamin dalam buku Tatanegara Majapahit melukiskan:
“Tidak berapa lamanya sesudah Prabu Hayam Wuruk meninggal, maka mulailah negara Majapahit memperlihatkan tanda-tanda kemundurannya yang berjalan terus sampai permulaan abad ke-16, inilah zaman runtuhnya negara Majapahit yang akan berakhir dengan habis musnahnya atau hilang tenggelamnya kerajaan itu sebagai susunan politik.”1)
Situasi dan kondisi Majapahit semakin tidak menentu setelah meninggalnya kedua tokoh tersebut. Kekacauan di istana timbul sebagai akibat pertentangan di kalangan kerabat istana dalam usaha merebut tahta pemerintahan. Hal ini nampak pada masa pemerintahan Wikramawardhana dengan Bre Wirabumi, yang memuncak dengan pecahnya perang Paregreg tahun 1401.
Pertentangan dalam kerabat istana tersebut, menyebabkan lemahnya pemerintahan pusat kerajaan Majapahit, sehingga pengawasan terhadap daerah-daerah bawahan berkurang. Majapahit mengalami proses disintegrasi. Situasi-situasi inilah yang melemahkan kerajaan Majapahit yang pada akhirnya membawa kepada keruntuhannya. Menurut N.J. Krom:
“Bahwa keruntuhan didahului oleh melemahnya pusat pemerintahan dan pelemahan ini tidak disebabkan terutama sekali oleh pertentangan agama Hindu yang sedang turun dan agama Islam yang sedang naik, melainkan semata-mata oleh pertentangan dalam negeri yang berupa perang saudara dan perpecahan kekuasaan.”2)
Di samping itu sistem sentralisasi yang diterapkan oleh Gajah Mada semasa kepatihannya, tidak dapat lagi dilakukan karena tidak adanya kaderisasi. Perkembangan selanjutnya, setelah pemerintahan Wikramawardana, pertentangan dalam pemerintahan Majapahit semakin meningkat. Namun tercatat beberapa penguasa di Majapahit.
Ratu Suhita (1429-1447)
Raja Wijayaparakramawardhana (1447-1451)
Raja RAjaswawardhana (1451-1453)
Ada selang tiga tahun tidak ada raja yang memerintah, yang mungkin disebabkan oleh krisis pergantian raja ….
Masa pemerintahan dua orang raja lagi dapat diketahui, yakni:
Girisawardhana (1456-1466) dan Singhawikramawardhana (1446-1478).3)
Singhawikramawardhana dianggap sebagai raja terakhir kerajaan Majapahit. Tahun 1478 sering dijadikan sebagai patokan keruntuhan Majapahit. Para ahli sejarah masih memperdebatkan tentang keruntuhan Majapahit, sebab ada yang menyebutkan bahwa keruntuhannya sekitar tahun 1518-1521.4) Menurutnya setelah Majapahit ditaklukkan oleh Demak. Sementara itu Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun sang merah putih, memperkirakan keruntuhan Majapahit sekitar tahun 1525.5)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab runtuhnya Majapahit adalah:
a.  Tidak ada pemimpin yang cakap sepeninggal Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada
b.  Lemahnya pemerintahan pusat akibat pertentangan antara kerabat istana
c.  Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg)
d.  Ekspansi Kerajaan Demak
Kalau tahun 1478 menjadi patokan keruntuhan Majapahit, boleh jadi hal itu menyangkut pemerintahan pusat yang berlokasi di Tarik (Blitar) dan mungkin juga berpindah ke Daha atau Kediri. Hal ini akan menjadi jelas jika bukti-bukti baru yang lebih akurat dan otentik ditemukan.

SUMBER ARTIKEL:

Ketebalan buku, dari bawah ke atas jilid 1-4

Dari atas ke bawah jilid 1-4

Jacket masih lumayan

Djilid 3 ada yg sobek jacketnya

DJILID1

DJILID 2

DJILID3

DJILID 4
COVER JACKET YG BELAKANG SALAH SATU DJILID ADA YG SOBEK

KEEMPAT COVER BUKU MASIH BAIK

ISI DALAM BUKU PARWA 1 & 2

ISI DALAM BUKU PARWA 1 & 2
ISI DALAM BUKU PARWA 3 &4

ISI DALAM BUKU PARWA 3 &4
KEEMPAT DJILID/PARWA

KEEMPAT DJILID/PARWA

Sabtu, 03 Maret 2012

TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA (DJILID 1& DJILID 2)




 
 MAAF, SUDAH TERJUAL, BY MAKASSAR
Judul: TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA (PARWA/ DJILID 1)
 Oleh: Prof. Hadji MUHAMMAD. YAMIN
Penerbit: Jajasan Prapantja DJAKARTA
Edisi : Hard Cover
Halaman: 246
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Tjetakan : pertama Djakarta  1962, Tahun pembebasan Irian Barat











Price : -DJILID 1:  IDR 500.000,00 

Judul: TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA (PARWA/ DJILID 2)
Oleh: Prof. M. YAMIN
Penerbit: DJAJABAKTI MCMLX- Djakarta 1959
Edisi : Hard Cover
Halaman: 353
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Tjetakan : pertama Djakarta  1962, Tahun pembebasan Irian Barat
Kondisi: Cover asli tidak ada, dig anti dengan cover baru. Isi masih bagus










Price : -DJILID 2:  IDR 300.000,00 

ALL, Price : -DJILID 1+ - DJILID 2: IDR 800.000,00  (belum termasuk ongkos kirim)
           

RISALAH SAPTA PARWA BERISI 7 DJILID ATAU PARWA, HASILPENELITIAN KETATANEGARAAN INDONESIA TENTANG DASAR DAN BENTUK NEGARA NUSANTARA BERNAMA MADJAPAHIT
1293 - 1525

Perkembangan kerajaan Majapahit yang mencapai puncaknya pada abad ke-14, akhirnya mulai mengalami proses kemunduran setelah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364, kemudian disusul meninggalnya Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kewibawaan kerajaan Majapahit mulai menurun, karena sistem sentralisasi yang ditetapkan oleh Gajah Mada selama memangku mahapati. Akibatnya daerah-daerah bawahan banyak yang memisahkan diri, seperti Minangkabau, Tanjungpura, dan berbagai kerajaan kecil lainnya. Muhammad Yamin dalam buku Tatanegara Majapahit melukiskan:
“Tidak berapa lamanya sesudah Prabu Hayam Wuruk meninggal, maka mulailah negara Majapahit memperlihatkan tanda-tanda kemundurannya yang berjalan terus sampai permulaan abad ke-16, inilah zaman runtuhnya negara Majapahit yang akan berakhir dengan habis musnahnya atau hilang tenggelamnya kerajaan itu sebagai susunan politik.”1)
Situasi dan kondisi Majapahit semakin tidak menentu setelah meninggalnya kedua tokoh tersebut. Kekacauan di istana timbul sebagai akibat pertentangan di kalangan kerabat istana dalam usaha merebut tahta pemerintahan. Hal ini nampak pada masa pemerintahan Wikramawardhana dengan Bre Wirabumi, yang memuncak dengan pecahnya perang Paregreg tahun 1401.
Pertentangan dalam kerabat istana tersebut, menyebabkan lemahnya pemerintahan pusat kerajaan Majapahit, sehingga pengawasan terhadap daerah-daerah bawahan berkurang. Majapahit mengalami proses disintegrasi. Situasi-situasi inilah yang melemahkan kerajaan Majapahit yang pada akhirnya membawa kepada keruntuhannya. Menurut N.J. Krom:
“Bahwa keruntuhan didahului oleh melemahnya pusat pemerintahan dan pelemahan ini tidak disebabkan terutama sekali oleh pertentangan agama Hindu yang sedang turun dan agama Islam yang sedang naik, melainkan semata-mata oleh pertentangan dalam negeri yang berupa perang saudara dan perpecahan kekuasaan.”2)
Di samping itu sistem sentralisasi yang diterapkan oleh Gajah Mada semasa kepatihannya, tidak dapat lagi dilakukan karena tidak adanya kaderisasi. Perkembangan selanjutnya, setelah pemerintahan Wikramawardana, pertentangan dalam pemerintahan Majapahit semakin meningkat. Namun tercatat beberapa penguasa di Majapahit.
Ratu Suhita (1429-1447)
Raja Wijayaparakramawardhana (1447-1451)
Raja RAjaswawardhana (1451-1453)
Ada selang tiga tahun tidak ada raja yang memerintah, yang mungkin disebabkan oleh krisis pergantian raja ….
Masa pemerintahan dua orang raja lagi dapat diketahui, yakni:
Girisawardhana (1456-1466) dan Singhawikramawardhana (1446-1478).3)
Singhawikramawardhana dianggap sebagai raja terakhir kerajaan Majapahit. Tahun 1478 sering dijadikan sebagai patokan keruntuhan Majapahit. Para ahli sejarah masih memperdebatkan tentang keruntuhan Majapahit, sebab ada yang menyebutkan bahwa keruntuhannya sekitar tahun 1518-1521.4) Menurutnya setelah Majapahit ditaklukkan oleh Demak. Sementara itu Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun sang merah putih, memperkirakan keruntuhan Majapahit sekitar tahun 1525.5)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab runtuhnya Majapahit adalah:
a.  Tidak ada pemimpin yang cakap sepeninggal Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada
b.  Lemahnya pemerintahan pusat akibat pertentangan antara kerabat istana
c.  Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg)
d.  Ekspansi Kerajaan Demak
Kalau tahun 1478 menjadi patokan keruntuhan Majapahit, boleh jadi hal itu menyangkut pemerintahan pusat yang berlokasi di Tarik (Blitar) dan mungkin juga berpindah ke Daha atau Kediri. Hal ini akan menjadi jelas jika bukti-bukti baru yang lebih akurat dan otentik ditemukan.

Daftar Referensi:
1)  Muhammad Yamin, 1962. Tata Negara Majapahit. Jakarta: Yayasan Prapanca, hal. 234
2)  Saifuddin Zuhri, 1981. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia.
     Bandung: Al-Maarif, hal. 21
3)  M.C. Ricklefs, 1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
     hal. 26
4)  Drs. Abd. Rauf RAhim, dkk. Sejarah Indonesia Kuno. FPIPS IKIP Ujung Pandang, hal. 21
5)  Drs. Muhammad Yamin, 1958. 6000 Tahun Sang Merah Putih. Jakarta: Balai Pustaka, hal.
     208

SUMBER ARTIKEL:

Related Post

ShareThis