.

.
Tampilkan postingan dengan label HAMKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAMKA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

AJAHKU

COVER BULUK
halaman djudul
ilustrasi wajah ajah HAMKA
 terjual
Harga : Rp.250.000 (belum termasuk ongkir)
Judul : AJAHKU
Penulis : HAMKA
Tjetakan kedua
Penerbit: “WIDJAYA” – DJAKARTA 1958
280 hlm
Soft Cover
kondisi: Buku Bekas Orang, buluk sesuai terlihat di foto

Isi dalam buku

Deskripsi :
Buku "Ajahku-Baca = Ayahku" ini adalah sebuah Buku biografi ditulis Hamka untuk Ayahandanya sendiri, Yaitu Dr. H. Abd. Karim Amrullah, Seorang Tokoh Ulama Sumatera Barat yang cukup dikenal pada masanya. Seperti apa yang diucapkan Hamka dalam kata pengantar buku ini, bahwa menulis sosok ayahnya, sama artinya dengan menulis perkembangan Islam Di Minangkabau.

ISI BUKU

Pendahuluan
Agama Islam di Minangkabau
Ajahku
Negeri Sungai Batang
Memulai perdjuangan
Semangat baru dalam Islam
Zaman pergerakan
Melawat ke Mesir
Perdjuangan baru
Perhubungannja dengan Muhammadijah
Tjermin terus dan pelita
Sebab-sebab diasingkan
Ditanah pembuangan
Sekeliling pribadinja
Tjita-tjitanja
Orang-orang sekelilingnja
Harinja jang achir
Letak ajahku dalam sedjarah pembangunan Islam di Indonesia
Hanja Allah.
sedjarah ringkas dan daftar isi

dafta isi dalam buku

Kamis, 14 Februari 2013

Hamka Sebagai Pengarang Roman (1963), Drs. Yunus Amirhamzah M.A



Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus cet 2 tahun 1993
TEBAL: 66 HAL

Sebuah buku tentang roman-roman Hamka telah ditulis oleh Junus Amir Hamzah, Hamka Sebagai Pengarang Roman .

LEMBAGA HIKMAT


 
 
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan Djadul
Tebal: 72 halaman
JUDUL BUKU:LEMBAGA HIKMAT
PENULIS :HAMKA
CETAKAN PERTAMA TH 1950
PENERBIT:PUSTAKA NASIONAL MEDAN

Buku ini mengandungi pelbagai tulisan yang bersifat riwayat daripada pengalaman hidup orang-orang tertentu dan peristiwa yang mengandungi pelbagai masalah. Secara keseluruhan dapat dijadikan perbandingan dan panduan hidup bagi setiap insan. Kerana setiap riwayat dan peristiwa itu akan mencerminkan betapa hidup manusia dengan nasibnya, hidup manusia dengan kegagalan dan kejayaannya, hidup manusia dengan suka-dukanya; kesemua itu dapat dijadikan ibrah dan cermin untuk melihat dan mentelaah hikmat yang terkandung di sebaliknya

Sabtu, 10 November 2012

Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam

  TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: Kurang begitu bagus covernya. isi dalam buku bagus 1970
Tebal: 33 hal
Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1970

Jumat, 07 September 2012

Pribadi

TERDJUAL BY TANJUNG PRIOK JAKUT
HARGA: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan. cetakan kesembilan 1974
tebal:164 hal

Berikut ada sedikit kutipan dari buku `Pribadi` yang ditulis Prof.HAMKA tahun 1962.
Alhamdulillah, kutipan ini mengajarkan kita untuk tidak memiliki pribadi yang lemah sehingga kita `TIDAK MATI` ketika terjun di masyarakat. Namun sebaliknya, dengan semua ilmu dan pengalaman yang kita miliki dengan dorongan jiwa dan akal kita berani untuk meneriakkan suara perbaikan dan mengikutinya dengan la
ngkah-langkah terkait.
Terlebih bila hal itu tidak hanya dilakukan oleh seorang pribadi, namun oleh kumpulan pribadi-pribadi yang beritikad tidak hanya mementingkan diri dan kesenangan pribadi…namun berusaha untuk menjadi pelayan ummat sebagaimana titah illahy.

Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat.

Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya.

Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.”

DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH

TERDJUAL BY SURABAJA

Judul : DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH
Karangan : Prof. Dr. HAMKA
Penerbit : NV NUSANTARA 1965
Tjetakan  X - 1965
Halaman :68
Soft Cover, Kondisi cover  (lumayan lah…..)

Cerita novel Di Bawah Lindungan Ka’bah sendiri sebenarnya sangat sederhana dan sangat mudah ditebak arahnya. HAMKA menekankan pada kekuatan dialog dari masing-masing tokoh yang tidak pernah takut pada siapapun dan tidak pernah takut sendirian, karena mereka punya Tuhan, Allah swt.

Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka


TERJUAL
Harga: Rp.125.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus 1978
Tebal: 318 hal

Mohammad Roem, dalam buku Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, menyebut masalah gaji itu sebagai bagian dari “politik Hamka menghadapi pembentukan Majelis Ulama”. Ulama mubaligh ini, menurut Roem, kuat sekali menyimpan gambaran “ulama yang tidak bisa dibeli“. Walaupun gaji sebenarnya tidak usah selalu menunjuk pada pembelian, kepercayaan diri ulama sendiri agaknya memang diperlukan. 

Dari Perbendaharaan Lama


TERDJUAL BY PARLUHUTAN DJAKARTA
HARGA: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus 1963
tebal: 200 hal

Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:

“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.

Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.

Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.

Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.

Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).

Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.

Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!

Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.

Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kahzab!

Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.

Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.

Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.

Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Umat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.

Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Umat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.

Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.

Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari sumatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari Sumatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!

Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”



Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”

Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:

“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”

“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”

“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”

Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika umat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya umat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam.

sumber artikel: http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2011/12/03/16891/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/

Falsafah Ideologi Islam, Jakarta: Pustaka Wijaya, 1950.


TERJUAL BY JAKARTA
Kondisi: Bagus 1950 (sekembali dr Mekkah).
Tebal: 131 hal

REPOLOESI AGAMA, Hamka


TERJUAL BY JAKARTA
Kondisi: Bagus. ada tanda tangan pemilik pertama di tahun 1957
tebal: 64 hal

NAFIRI.....Borusur HAMKA


TERJUAL BY JAKARTA
Kondisi: lumayan 1950
Tebal: 16 hal

kami:
1. HAMKA
2. Konsulaat KMI S. tengah
mempersembahkan "Si Ketjil mungil" ini keharibaan kongres dan kaum Muslimin Indonesia.
Borusur ini diusahakan menjiarkannja oleh Tri Penerbit "TJERDAS"
Pustk: "ALHAMBRA"
Pustk: "MADJU"
Semua di: -TEBING TINGGI- DELI-

Tjahaja Baru

TERDJUAL BY JAKSEL
Kondisi: lumayan bagus
PUSTAKA NASIONAL MEDAN serie XXIV 1950
TEBAL: 117 HAL

Dalam buku "HAMKA Sebagai Pengarang roman" yang di tulis oleh drs. Junus Amir hamzah, Tjahaja Baru termasuk ke dalam Novel HAMKA. YANG MANA ISINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
ISI BUKU:
1. Dibanting ombak Masjarakat
2. Konggres Muslimin indonesia
3. "Fultik" di S. Tengah
4. Bersumpah Setjara Islami.
5. Konperensi segi Empat.
6. "Dahlan Djambek"
7. Jang akan Kita Hadapi
8. Dari Rasjid ke Nasrun
9. Mimbar Peladjar dan Kami
10. Mesjid di Djakarta.
11. Djangan Negatief
12. Quatul Islam.
13. Menghadapi Bulan Puasa
14. Hubungan puasa dengan Masjarakat
15. Perdamaian Agama
16. Menjambut Liquat Ali Khan.
17. Dengarkanlah Pula Suara Kami
18. Pemerintah hendaknya awas dan Waspada
19. Pertjobaan
20. Kepada Leon Salim
21. H. Muchtar Lutfi wafat
22. Djendral Sudirman
23. Agama kemerdekaan
24. Daftar Isi Buku.

Tammat

Kamis, 06 September 2012

KEJUJURAN. KULIAH SUBUH R.R.I. STA vol.2 oleh. Prof. Dr. HAMKA

TERJUAL
Harga: Rp.75.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan 1979
kaset tape
KULIAH SUBUH R.R.I. STA vol.2  KEJUJURAN
oleh. Prof. Dr. HAMKA

Minggu, 02 September 2012

MERANTAU KE - DELI

TERDJUAL BY BATAM
Judul: MERANTAU KE - DELI
Oleh: HAMKA
Penerbit: DJAJABAKTI MCMLX- Djakarta 1959
Edisi : Soft Cover
Halaman: 164
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Tjetakan : KEENAM th 1959

Price : IDR 200.000,00  (belum termasuk ongkos kirim)
“Merantau Ke Deli” ini roman karya Buya Hamka, tutur bahasanya sangat menyentuh.  Buku ini mengisahkan seorang wanita, Poniem yang diselamatkan dari lembah kehinaan oleh seorang lelaki bujang, Leman. Dia kemudian diperisteri dan hidup dalam sebuah rumahtangga yang bahagia. Poniem sangat setia terhadap suaminya dan berusaha sekuat tenaga untuk membantu semua urusan rumahtangga dan pekerjaan suaminya. Akan tetapi lama-kelamaan kedamaian rumah tangga mereka semakin hari semakin hilang setelah Leman larut dalam kegiatan perdagangannya. Sebagai lelaki yang berasal dari keluarga Minang, dia ditekan oleh keluarga supaya mengawini seorang gadis yang sederajat untuk meneruskan adat dan budaya.
Lama-kelamaan Leman termakan bujukan tersebut dan menerima untuk menikah kembali. Leman berjanji kepada Poniem tidak akan mengabaikannya dan selalu menjaga perasaannya sebagai isteri pertama. Namun janji tinggal janji. Isteri mudanya jauh lebih pandai berdandan dan merayu dan merebut perhatian Leman suapaya lebih mencintainya. Pertengkaranpun mulai terjadi. Perdagangan Leman yang selama ini dibantu Poniem pun hendak dikuasai oleh isteri muda. Leman yang serba-salah pada mulanya lama kelamaan mulai memihak kepada isteri mudanya.
Pertngkaran hebat yang terjadi memaksaLeman menceraikan Poniem. Sejak hari itu Poniem meninggalkan rumahnya dan merantau ke deli. Kegiatan perdagangan Leman mulai mengalami rugi, ditambah lagi dengan sikap tamak isteri yang baru. Barulah Leman menyedari, selama ini dia banyak terbantu oleh ketekunan Poniem dalam berdagang. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Poniem akhirnya menemukan jodoh barunya yang lebih memahami dan menghargainya, salah seorang dari pekerja di kedainya dahulu. Mereka memulai berdagang kembali dengan sedikit modal yang ada pada mereka. Usaha dagang mereka maju hingga mereka sanggup membeli rumah dan tanah.
Sementara itu Leman dan isteri mudanya semakin hari semakin jatuh miskin. Pertemuan kembali Leman dan Poniem benar-benar membuat Leman sadar. Satu kisah ketika Poniem memberikan beberapa logam uang kepada anaknya Leman benar2 menguras air mata. Begitulah…
Ketika anda membaca sinopsisnya jangan anda bayangkan dengan sinetron yang ada sekarang…jauh dari langit..tutur bahasa yang ditorehkan sang buya sangat rapi, manis dan menguras perasaan. Bagaimana kisah Poniem ketika merantau dan hidup dalam keprihatinan yang hidup dari biji jarak misalnya…sangat membawa kita ke dalam imaginasi yang dalam.
SUMBER ARTIKEL:
http://papahnyalazuward.wordpress.com/2008/04/02/merantau-ke-deli/

di Djemput mamaknja

TERDJUAL BY TANGSEL
di Djemput mamaknja
TJETAKAN KETIGA 1962
PENERBIT MEGA BOOKSTORE
KRAMAT DJAKARTA
TEBAL: 32 HAL
BERAT: 0,3 KG



Sinopsis Didjemput Mamaknja
Sebelum memasuki analisis tema dan tokoh Didjemput Mamakanja,
penulis memberikan sinopsis Didjemput Mamaknja agar dapat memudahkan
pembaca memahami bahasan selanjutnya. Bahasan ini sengaja diletakkan sebelum
memasuki analisis tema dan tokoh, bukan pada lampiran agar memudahkan
pembaca dalam membacanya. Selain itu, penulis menjadikan sinopsis menjadi
subbab sendiri agar tidak menimbulkan kerancuan jika digabungkan dalam
subbab yang lain.
Cerita Didjemput Mamaknja diawali dengan pertemuan seorang penjual
kulit kasur dengan pengguna jasanya. Penjual kulit kasurnya bernama Musa dan
pengguna jasanya adalah Engku. Suatu hari, Engku ingin mengganti kulit kasur
yang sudah lama rusak. Engku ini digambarkan sebagai seorang penulis.
Sebenarnya, pagi hari itu, ia harus pergi ke kantor namun hatinya lebih memilih
untuk melihat tukang kasur yang sedang mengganti kulit kasur anak-anaknya.
Ternyata, Engku dan Musa terlibat pembicaraan yang cukup serius tentang
kehidupan Musa. Ia mendengarkan dengan jelas setiap peristiwa yang diingat
kembali oleh Musa. Kejadian tersebut sudah cukup lama dialami oleh Musa.
Meskipun lelah melakukan pekerjaannya, Musa terlihat semangat untuk
menceritakan apa yang telah dialaminya.
Kilas balik kehidupan Musa diawali dengan gambaran kerja kerasnya
untuk mencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Selama dua tahun di perantauan,
Musa dan istrinya, Ramah, mendapatkan seorang putra yang bernama Fauzi. Ia
tidak kenal lelah menjajakan jualannya meskipun kadang-kadang pulang tanpa
membawa hasil. Namun, ketidakberhasilan dan kelelahan Musa dapat terobati
oleh kehadiran istri dan anak yang selalu mendukungnya. Ramah, sebagai istri,
menerima dengan tulus apa pun yang didapatkan Musa dari usahanya.
Namun, ketulusan istrinya yang menerima kehidupan sulit di rantau
menimbulkan kekhawatiran dalam diri Musa. Ia takut Ramah akan tersiksa hidup
dalam kemiskinan karena ia berasal dari keluarga yang kaya. Selain itu,
kekhawatiran Musa juga ditimbulkan dari ketidakmampuannya untuk memenuhi
keinginan keluarga besar Ramah. Mereka menginginkan Ramah dapat hidup lebih
baik secara materi setelah menikah dengan Musa.
Ramah adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya
menikah dengan laki-laki yang dapat memenuhi kebutuhan materi dengan baik
bagi keluarga Ramah. Suami kakak Ramah adalah saudagar besar di Bengkulu,
sedangkan suami adiknya seorang saudagar barang hutan di kampung. Pernikahan
Musa dengan Ramah sudah melalui aturan adat yang berlaku. Musa adalah suami
pilihan mamak dan Ramah menerima apa pun yang telah ditetapkan mamaknya.
Pada awal pernikahan Musa dan Ramah sudah timbul konflik yang
diakibatkan oleh kedua saudara Ramah. Musa dan Ramah tinggal di rumah
keluarga Ramah pada awal pernikahan. Kedua saudara Ramah selalu menyindir
ketidakmampuan Musa dalam memberikan yang sama baiknya dengan suami
mereka. Keadaan tersebut dihadapi Ramah dengan tenang dan berusaha
menguatkan hati suaminya. Ia pun tidak menunjukkan rasa kesal dan marah
terhadap ulah kedua saudaranya. Ramah tetap menghormati suaminya dan tidak
mengacuhkan perkataan saudaranya.
Hal yang sebaliknya terjadi pada diri Musa, ia semakin merasa rendah diri
dan tertekan dengan perkataan dan tingkah laku yang dilakukan oleh keluarga
besar Ramah. Pada akhirnya, ia sempat berhari-hari tidak pulang ke rumah
tersebut. Selama tidak pulang ke rumah tersebut, ia tinggal di rumah ibunya.
Setelah itu, muncul keinginannya untuk merantau agar dapat menyelesaikan
masalah yang ada. Ia meminta izin kepada ibunya untuk mengupas batang kayu
manis yang ditanamnya sembilan tahun yang lalu untuk dijadikan ongkos
merantau.
Saat membayangkan harga batang kayu manis yang akan dijualnya, Musa
melihat Ramah berjalan menuju rumah ibunya dengan muka sedih. Ramah
langsung menuangkan kesedihannya kepada Musa. Ia meminta Musa untuk
pulang bersamanya sambil menangis. Melihat keadaan tersebut, Musa pun
menyampaikan isi hatinya kepada Ramah. Ia merasa tertekan dengan keadaan di
rumah
gadang,
ditambah
lagi
dengan
ketidakhadiran
mamak
dalam
menyelesaikan permasalahan tersebut. Musa pun mengungkapkan bahwa perasaan
sayangnya kepada Ramah tidak berubah sedikit pun.
Mendengar pernyataan Musa tersebut, Ramah meminta maaf dan
memintanya kembali tinggal di rumah keluarganya demi keutuhan rumah tangga
mereka. Namun, Musa menyatakan keinginannya untuk merantau kepada Ramah.
Tanpa diduga oleh Musa, Ramah menyatakan keinginannya untuk ikut serta
merantau meskipun Musa sudah menggambarkan kehidupan sulit yang akan
ditempuh selama merantau.
Oleh karena itu, Musa merasa senang karena istrinya setia mendampingi
apa pun keadaannya. Keinginan merantau pun mereka sampaikan kepada keluarga
Ramah. Tanggapan negatif yang diberikan oleh keluarga Ramah tidak
menyurutkan keinginan Ramah merantau bersama suaminya. Akhirnya, Musa dan
Ramah merantau ke Deli.
Di Deli, Ramah hidup dalam keadaan yang berbeda dengan di kampung.
Ia tinggal di rumah yang kecil dan hidup dalam kekurangan. Namun, keadaan
tersebut tidak menimbulkan masalah untuknya. Ia lebih mementingkan kebebasan
dalam mengatur rumah tangganya dan hal tersebut menimbulkan kebahagiaan
untuknya. Begitu pula dengan Musa, ia merasakan kebahagiaan rumah tangga
selama di rantau. Setelah lelah berkeliling menjajakan jualannya, ia selalu
disambut dengan senyuman oleh istrinya. Pada saat di kampung, ia selalu menjadi
pusat perhatian keluarga Ramah setelah pulang mencari nafkah, mereka ingin
melihat apa yang dapat diberikan Musa kepada Ramah. Dapat dikatakan, selama
di rantau Ramah dan Musa baru menemukan kebahagiaan sebenarnya dari
berumah tangga. Di rantau pula, mereka mendapatkan seorang anak yang diimpik
an selama berumah tangga.
Kebahagiaan Ramah dan Musa tidak berlangsung lama karena mamak
datang ke Deli untuk membawa pulang Ramah dan Fauzi ke kampung. Keluarga
besar Ramah dan mamak mendengar kabar dari orang kampung yang pulang dari
Deli bahwa Ramah tersiksa dalam perantauannya. Akhirnya, mereka memutuskan
untuk membawa Ramah kembali ke kampung sebagai bentuk pertolongan.
Keputusan ini menemui perlawanan dari Ramah. Ia menolak pulang ke
kampung dan menjelaskan keadaan rumah tangganya yang sebenarnya kepada
mamak. Ia tidak merasa kesulitan hidup dalam kekurangan. Baginya, kebahagiaan
rumah tangga tidak dapat dilihat dan dinilai secara materi. Mamak pun melakukan
segala upaya agar Ramah dapat pulang bersamanya. Namun, Ramah tetap
menolaknya karena keinginannya menjaga kebahagiaan dan keutuhan rumah
tangganya.
Perlawanan Ramah kepada keinginan mamaknya tidak diikuti oleh Musa.
Ia mengizinkan mamak membawa Ramah dan Fauzi kembali ke kampung. Tidak
hanya itu, Musa pun menolak keinginan mamak untuk membiayai kepulangan
Ramah dan Fauzi pulang ke kampung. Ia menyatakan kesanggupannya untuk
membiayai kepulangan istri dan anaknya, serta mamak. Musa pun mencari
pinjaman kepada temannya untuk membiayai ongkos pulang kampung ketiganya.
Dengan kesedihan yang mendalam, Ramah mengikuti keinginan
suaminya. Ramah meminta kepada Musa untuk tidak menceraikannya. Musa pun
langsung mengiyakan permintaan istrinya karena ia pun tersiksa jauh dari istri dan
anaknya, apalagi jika mereka bercerai. Selama Ramah di kampung, ia mengirim
kabar kepada Musa melalui surat. Ia menyatakan keinginannya lagi agar tidak
diceraikan oleh Musa. Selain itu, ia juga menceritakan penilaian orang-orang di
kampung tentang mereka berdua selama di rantau.
Musa juga merasakan kesedihan saat dipisahkan dari istri dan anaknya
oleh mamak. Namun, dia tidak berdaya untuk menjemput kembali istrinya yang
berada di kampung. Terlebih lagi, ia sempat berpikir untuk menceraikan Ramah,
sama seperti yang diinginkan keluarga besarnya. Pikiran buruk tersebut cepat
dihilangkan dari kepalanya. Ia menyadari tidak ada yang salah dalam rumah
tangganya. Oleh karena itu, ia tetap mempertahankan rumah tangganya tanpa ada
perjuangan untuk menjemput anak dan istrinya di kampung. Ia tetap mengirimkan
uang kepada Ramah sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Perjuangan Musa belum dirasa cukup oleh keluarga Ramah. Oleh karena
itu, mereka meminta Ramah untuk menceraikan Musa. Ramah pun menolak untuk
mengabulkan permintaan tersebut. Namun, keluarga besar Ramah dan mamak
tidak henti-hentinya memaksakan keinginan tersebut. Akhirnya, Ramah menuruti
keinginan mamak dan ibunya. Ia diantarkan oleh ibunya ke musola untuk
meminta taklik kepada kadi. Saat meminta taklik kepada kadi, Ramah berurai air
mata mengucapkan keinginannya tersebut.
Tak lama kemudian, ada wakil dari kampung yang mengantarkan surat
taklik kepada Musa. Saat membaca surat tersebut, Musa menyadari bahwa Ramah
dan dirinya tidak dapat berbuat apa-apa dengan kekuasaan mamak dan keluarga
besar Ramah dalam rumah tangganya. Musa pun merasakan kehilangan karena ia
tidak dapat lagi melihat buah hatinya bersama Ramah, Fauzi.
Di akhir ceritanya kepada Engku, Musa menitikkan air mata sebagai
wujud kesedihannya. Engku pun terlihat bersimpati terhadap keadaan Musa. Ia
pun membayar upah Musa melebihi bayaran yang seharusnya diterima.

sumber artikel: Kritik atas..., Silvy Riana Putri, FIB UI, 2009

Jumat, 29 Juni 2012

DIDALAM LEMBAH KEHIDUPAN

Hard cover, kondisi lumayan

TERDJUAL BY TANJUNG PRIOK JAKUT
DIDALAM LEMBAH KEHIDUPAN
H.A.M.K. AMRULLAH
TJETAKAN KEDUA
BALAI PUSTAKA DJAKARTA 1950
TEBAL: 108 HAL.
KONDISI: HARD COVER LUMAYAN
BERAT: 0,25 Kg

Ada 10 kisah dalam buku ini dan semuanya merupakan kisah yang bagus, sangat bagus !!.
Sebuah pengantar yang sangat menarik dari sang penulis, beliau mengatakan,
“Banyak orang mengarang dan menggubah bunga kehidupan yang mewah-mewah, melukiskan istana raja-raja, puteri yang kaya dan cantik, orang muda mudi yang disayang ayah dan perkawinan yang berbahagia. Maka tersenyumlah orang membaca ceritera yang demikian, gembiralah hatinya. Padahal di dalam lembah yang dalam sekali, di dalam jurang yang tidak ditempuh mereka itu yaitu di dalam lembah kehidupan, adalah sekumpulan mahluk yang merintih. Tidak berapa orang yang mendengar rintihan itu – tidak tahu…. Hanya Tuhan jua yang Mahatahu, Pengasih dan sambil bekhidmat kepada bahasa ibuku.
Akan tetapi saya datang ke sana, sebab memang saya orang di sana. Saya lihat air mata titik, saya lihat air mata itu diiringi oleh darah, maka saya susunlah penderitaan itu jadi gubahan untuk bangsa dan nusaku, penyayang! ……
Kesemua kisah yang dihadirkan dalam buku ini memang menceritakan penderitaan, kesedihan, kemalangan dan ketidak beruntungan yang setiap manusia berharap hal itu tidak akan pernah terjadi pada dirinya.
Pendapat pribadi saya, buku ini wajib dibaca, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Selain sebagai pengingat agar kita yang saat ini masih diberi karunia berupa harta dan semacamnya untuk selalu bersyukur dan juga untuk memberi tahu bahwa diluar sana banyak saudara-saudara kita yang tidak beruntung dan kita punya kewajiban untuk membantunya.

SUMBER ARTIKEL:
http://maipura.wordpress.com/2010/03/21/didalam-lembah-kehidupan/

DI BAWAH LINDUNGAN KA'ABAH

TERJUAL BY JAKPUS 
 KONDISI: BAGUS
DI BAWAH LINDUNGAN KA'ABAH
PENERBIT N.V. NUSANTARA
BUKITTINGGI. DJAKARTA. 1961
TJETAKAN KEDELAPAN
TEBAL: 75 HAL.
BERAT: 0,5 KG


 Cerita novel Di Bawah Lindungan Ka’bah sendiri sebenarnya sangat sederhana dan sangat mudah ditebak arahnya. HAMKA menekankan pada kekuatan dialog dari masing-masing tokoh yang tidak pernah takut pada siapapun dan tidak pernah takut sendirian, karena mereka punya Tuhan, Allah swt.


TJERMIN PENGHIDUPAN

TERDJUAL BY DJAKARTA 28 JULI 2012
 TJERMIN PENGHIDUPAN
DR. HAMKA
Kondisi: bagus
ISI BUKU TERDIRI DARI 3 TJERPEN
PENERBIT & TOKO BUKU-FA.MEGA BOOKSTORE
1962 DJAKARTA
TEBAL: 36 HAL


ISI BUKU:
I. SALAHNJA SENDIRI ......................................hal.5
II. PENDJUAL OBAT BERKELILING......................12
III. DIRAJU SUARA AZAN.......................................26

di Djemput mamaknja

Cover jacket buku
 TERDJUAL BY DJAKARTA 28 JULI 2012
Harga: Rp.250.000 (blum ongkir)
di Djemput mamaknja
TJETAKAN KETIGA 1962
PENERBIT MEGA BOOKSTORE
KRAMAT DJAKARTA
TEBAL: 32 HAL
BERAT: 0,3 KG

Cover Buku
cover jacket belakang
Djudul isi dalam buku

Isi dalam buku

Isi dalam buku bagian halaman akhir


Sinopsis Didjemput Mamaknja
Sebelum memasuki analisis tema dan tokoh Didjemput Mamakanja,
penulis memberikan sinopsis Didjemput Mamaknja agar dapat memudahkan
pembaca memahami bahasan selanjutnya. Bahasan ini sengaja diletakkan sebelum
memasuki analisis tema dan tokoh, bukan pada lampiran agar memudahkan
pembaca dalam membacanya. Selain itu, penulis menjadikan sinopsis menjadi
subbab sendiri agar tidak menimbulkan kerancuan jika digabungkan dalam
subbab yang lain.
Cerita Didjemput Mamaknja diawali dengan pertemuan seorang penjual
kulit kasur dengan pengguna jasanya. Penjual kulit kasurnya bernama Musa dan
pengguna jasanya adalah Engku. Suatu hari, Engku ingin mengganti kulit kasur
yang sudah lama rusak. Engku ini digambarkan sebagai seorang penulis.
Sebenarnya, pagi hari itu, ia harus pergi ke kantor namun hatinya lebih memilih
untuk melihat tukang kasur yang sedang mengganti kulit kasur anak-anaknya.
Ternyata, Engku dan Musa terlibat pembicaraan yang cukup serius tentang
kehidupan Musa. Ia mendengarkan dengan jelas setiap peristiwa yang diingat
kembali oleh Musa. Kejadian tersebut sudah cukup lama dialami oleh Musa.
Meskipun lelah melakukan pekerjaannya, Musa terlihat semangat untuk
menceritakan apa yang telah dialaminya.
Kilas balik kehidupan Musa diawali dengan gambaran kerja kerasnya
untuk mencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Selama dua tahun di perantauan,
Musa dan istrinya, Ramah, mendapatkan seorang putra yang bernama Fauzi. Ia
tidak kenal lelah menjajakan jualannya meskipun kadang-kadang pulang tanpa
membawa hasil. Namun, ketidakberhasilan dan kelelahan Musa dapat terobati
oleh kehadiran istri dan anak yang selalu mendukungnya. Ramah, sebagai istri,
menerima dengan tulus apa pun yang didapatkan Musa dari usahanya.
Namun, ketulusan istrinya yang menerima kehidupan sulit di rantau
menimbulkan kekhawatiran dalam diri Musa. Ia takut Ramah akan tersiksa hidup
dalam kemiskinan karena ia berasal dari keluarga yang kaya. Selain itu,
kekhawatiran Musa juga ditimbulkan dari ketidakmampuannya untuk memenuhi
keinginan keluarga besar Ramah. Mereka menginginkan Ramah dapat hidup lebih
baik secara materi setelah menikah dengan Musa.
Ramah adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya
menikah dengan laki-laki yang dapat memenuhi kebutuhan materi dengan baik
bagi keluarga Ramah. Suami kakak Ramah adalah saudagar besar di Bengkulu,
sedangkan suami adiknya seorang saudagar barang hutan di kampung. Pernikahan
Musa dengan Ramah sudah melalui aturan adat yang berlaku. Musa adalah suami
pilihan mamak dan Ramah menerima apa pun yang telah ditetapkan mamaknya.
Pada awal pernikahan Musa dan Ramah sudah timbul konflik yang
diakibatkan oleh kedua saudara Ramah. Musa dan Ramah tinggal di rumah
keluarga Ramah pada awal pernikahan. Kedua saudara Ramah selalu menyindir
ketidakmampuan Musa dalam memberikan yang sama baiknya dengan suami
mereka. Keadaan tersebut dihadapi Ramah dengan tenang dan berusaha
menguatkan hati suaminya. Ia pun tidak menunjukkan rasa kesal dan marah
terhadap ulah kedua saudaranya. Ramah tetap menghormati suaminya dan tidak
mengacuhkan perkataan saudaranya.
Hal yang sebaliknya terjadi pada diri Musa, ia semakin merasa rendah diri
dan tertekan dengan perkataan dan tingkah laku yang dilakukan oleh keluarga
besar Ramah. Pada akhirnya, ia sempat berhari-hari tidak pulang ke rumah
tersebut. Selama tidak pulang ke rumah tersebut, ia tinggal di rumah ibunya.
Setelah itu, muncul keinginannya untuk merantau agar dapat menyelesaikan
masalah yang ada. Ia meminta izin kepada ibunya untuk mengupas batang kayu
manis yang ditanamnya sembilan tahun yang lalu untuk dijadikan ongkos
merantau.
Saat membayangkan harga batang kayu manis yang akan dijualnya, Musa
melihat Ramah berjalan menuju rumah ibunya dengan muka sedih. Ramah
langsung menuangkan kesedihannya kepada Musa. Ia meminta Musa untuk
pulang bersamanya sambil menangis. Melihat keadaan tersebut, Musa pun
menyampaikan isi hatinya kepada Ramah. Ia merasa tertekan dengan keadaan di
rumah
gadang,
ditambah
lagi
dengan
ketidakhadiran
mamak
dalam
menyelesaikan permasalahan tersebut. Musa pun mengungkapkan bahwa perasaan
sayangnya kepada Ramah tidak berubah sedikit pun.
Mendengar pernyataan Musa tersebut, Ramah meminta maaf dan
memintanya kembali tinggal di rumah keluarganya demi keutuhan rumah tangga
mereka. Namun, Musa menyatakan keinginannya untuk merantau kepada Ramah.
Tanpa diduga oleh Musa, Ramah menyatakan keinginannya untuk ikut serta
merantau meskipun Musa sudah menggambarkan kehidupan sulit yang akan
ditempuh selama merantau.
Oleh karena itu, Musa merasa senang karena istrinya setia mendampingi
apa pun keadaannya. Keinginan merantau pun mereka sampaikan kepada keluarga
Ramah. Tanggapan negatif yang diberikan oleh keluarga Ramah tidak
menyurutkan keinginan Ramah merantau bersama suaminya. Akhirnya, Musa dan
Ramah merantau ke Deli.
Di Deli, Ramah hidup dalam keadaan yang berbeda dengan di kampung.
Ia tinggal di rumah yang kecil dan hidup dalam kekurangan. Namun, keadaan
tersebut tidak menimbulkan masalah untuknya. Ia lebih mementingkan kebebasan
dalam mengatur rumah tangganya dan hal tersebut menimbulkan kebahagiaan
untuknya. Begitu pula dengan Musa, ia merasakan kebahagiaan rumah tangga
selama di rantau. Setelah lelah berkeliling menjajakan jualannya, ia selalu
disambut dengan senyuman oleh istrinya. Pada saat di kampung, ia selalu menjadi
pusat perhatian keluarga Ramah setelah pulang mencari nafkah, mereka ingin
melihat apa yang dapat diberikan Musa kepada Ramah. Dapat dikatakan, selama
di rantau Ramah dan Musa baru menemukan kebahagiaan sebenarnya dari
berumah tangga. Di rantau pula, mereka mendapatkan seorang anak yang diimpik
an selama berumah tangga.
Kebahagiaan Ramah dan Musa tidak berlangsung lama karena mamak
datang ke Deli untuk membawa pulang Ramah dan Fauzi ke kampung. Keluarga
besar Ramah dan mamak mendengar kabar dari orang kampung yang pulang dari
Deli bahwa Ramah tersiksa dalam perantauannya. Akhirnya, mereka memutuskan
untuk membawa Ramah kembali ke kampung sebagai bentuk pertolongan.
Keputusan ini menemui perlawanan dari Ramah. Ia menolak pulang ke
kampung dan menjelaskan keadaan rumah tangganya yang sebenarnya kepada
mamak. Ia tidak merasa kesulitan hidup dalam kekurangan. Baginya, kebahagiaan
rumah tangga tidak dapat dilihat dan dinilai secara materi. Mamak pun melakukan
segala upaya agar Ramah dapat pulang bersamanya. Namun, Ramah tetap
menolaknya karena keinginannya menjaga kebahagiaan dan keutuhan rumah
tangganya.
Perlawanan Ramah kepada keinginan mamaknya tidak diikuti oleh Musa.
Ia mengizinkan mamak membawa Ramah dan Fauzi kembali ke kampung. Tidak
hanya itu, Musa pun menolak keinginan mamak untuk membiayai kepulangan
Ramah dan Fauzi pulang ke kampung. Ia menyatakan kesanggupannya untuk
membiayai kepulangan istri dan anaknya, serta mamak. Musa pun mencari
pinjaman kepada temannya untuk membiayai ongkos pulang kampung ketiganya.
Dengan kesedihan yang mendalam, Ramah mengikuti keinginan
suaminya. Ramah meminta kepada Musa untuk tidak menceraikannya. Musa pun
langsung mengiyakan permintaan istrinya karena ia pun tersiksa jauh dari istri dan
anaknya, apalagi jika mereka bercerai. Selama Ramah di kampung, ia mengirim
kabar kepada Musa melalui surat. Ia menyatakan keinginannya lagi agar tidak
diceraikan oleh Musa. Selain itu, ia juga menceritakan penilaian orang-orang di
kampung tentang mereka berdua selama di rantau.
Musa juga merasakan kesedihan saat dipisahkan dari istri dan anaknya
oleh mamak. Namun, dia tidak berdaya untuk menjemput kembali istrinya yang
berada di kampung. Terlebih lagi, ia sempat berpikir untuk menceraikan Ramah,
sama seperti yang diinginkan keluarga besarnya. Pikiran buruk tersebut cepat
dihilangkan dari kepalanya. Ia menyadari tidak ada yang salah dalam rumah
tangganya. Oleh karena itu, ia tetap mempertahankan rumah tangganya tanpa ada
perjuangan untuk menjemput anak dan istrinya di kampung. Ia tetap mengirimkan
uang kepada Ramah sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Perjuangan Musa belum dirasa cukup oleh keluarga Ramah. Oleh karena
itu, mereka meminta Ramah untuk menceraikan Musa. Ramah pun menolak untuk
mengabulkan permintaan tersebut. Namun, keluarga besar Ramah dan mamak
tidak henti-hentinya memaksakan keinginan tersebut. Akhirnya, Ramah menuruti
keinginan mamak dan ibunya. Ia diantarkan oleh ibunya ke musola untuk
meminta taklik kepada kadi. Saat meminta taklik kepada kadi, Ramah berurai air
mata mengucapkan keinginannya tersebut.
Tak lama kemudian, ada wakil dari kampung yang mengantarkan surat
taklik kepada Musa. Saat membaca surat tersebut, Musa menyadari bahwa Ramah
dan dirinya tidak dapat berbuat apa-apa dengan kekuasaan mamak dan keluarga
besar Ramah dalam rumah tangganya. Musa pun merasakan kehilangan karena ia
tidak dapat lagi melihat buah hatinya bersama Ramah, Fauzi.
Di akhir ceritanya kepada Engku, Musa menitikkan air mata sebagai
wujud kesedihannya. Engku pun terlihat bersimpati terhadap keadaan Musa. Ia
pun membayar upah Musa melebihi bayaran yang seharusnya diterima.

sumber artikel: Kritik atas..., Silvy Riana Putri, FIB UI, 2009


Sabtu, 02 Juni 2012

PERJALANAN TERAKHIR BUYA HAMKA

TERJUAL

HARGA: Rp.85.000 (BLUM ONGKIR)
HAL: 249
KONDISI: SECOND/LUMAYAN
, September 1981
BERAT: 0,26 KG

Pahlawan dengan banyak segi

PERJALANAN TERAKHIR BUYA HAMKA Panji Masyarakat, Jakarta, September 1981 241 hal, 21 x 14,5 cm PRIBADI DAN MARTABAT BUYA PROF.DR. HAMKA H. usydi Hamka, Pustaka Panjimas, Jakarta, Desember 1981 314 hal., 21x 14,5cm. KESAN keseluruhan yang membekas sesudah membaca kedua buku tentang Hamka ini adalah: "Telah pergi dari kita seorang pahlawan sebagai muballigh." Memang pahlawan dapat hadir sebagai apa saja: prajurit, filsuf, nabi, pujangga, sarjana, politikus, bahkan jururawat sekalipun seperti Florence Nightinggale (1820-1910). Pada diri Hamka kita jumpai pahlawan sebagai muballigh yang mengabdikan dirinya kepada penyebaran firman Allah berupa tauhid serta 'amarma'ruf, nahyi munkar (perintah menjalanhan kebaikan, menjauhi larangan Allah). Ia memang pribadi yang banyak segi, piawai di berbagai bidang. Tapi pada masing-masing bidang ia tidak optimal. Keistimewaan Hamka justru terletak pada penjumlahan serasi berbagai segi itu. Dalam dirinya, tak syak lagi ilmu dan amal berhasil dipadukan. Dan kunci keberhasilan Hamka terletak pada kepercayaannya kepada diri sendiri. Dengan modal dengkul, tanpa pendidikan formal, ia berhasil mencapai prestasi dan prestise yang tak mudah dijangkau oleh seorang dengan latar belakang pendidikan akademik sekalipun. Kekurangan-kekurangannya tentu ada dan kentara, tapi betapapun prestasinya tetap monumental bagi seorang otodidak yang dihargai dan dihormati oleh kawan dan lawannya. Seperti kata Ralph Waldo Emerson (1803-1882), "Hakikat kepahlawanan adalah kepercayaan kepada diri sendiri" ("The esserce of heroism is self-reliance. "). Inilah yang menonjol pada Hamka hingga ia berhasil mengatasi berbagai kemelut hidup (di Medan: Agustus 1945 di dalam tahanan: 27 Januari 1964 sampai dengan April 1966 mengundurkan diri dari jabatan ketua Majelis Ulama Indonesia: 18 Mei 1981). Buku pertama "Perjalanan Terakhir Buya Hamka", menyajikan berbagai laporan dan ulasan pers, surat ta'ziah, artikel. Antara tulisan yang patut dikedepankan, tulisan Syafi'i Anwarlah yang tipikal mencerminkan watak dan dampak Hamka. Hanya membaca buku Hamka Pribadi, Syafi'i pemuda tanggung waktu itu terangsang untuk meneruskan sekolahnya setamat SMP. Dengan sungsang sumbal ia berhasil menamatkan SMEA sambil mencari nafkah serta membantu keuangan orangtuanya. Setamat SMEA ia menulis surat kepada Abuya Hamka untuk diizinkan menumpang tinggal dan, meskipun belum kenal, diterima sebagai anak angkat kesekian. Oleh Hamka, Syafi'i dimasukkan bekerja di 'Panji Masyarakat' bahkan dibantu supaya dapat berkuliah pada FHUI Extension. Dan Syafi'i ternyata hanyalah salah seorang dari banyak anak angkat Hamka. Bahkan banyak orang keturunan Tionghoa yang merasa diri menjadi anak angkat Hamka dan menjadi muslimin yang saleh. Buku kedua menyajikan banyak detil mengenai pengalaman Hamka dan contoh watak Hamka yang dipaparkan berdasarkan kesaksian mata Rusydi -- putra kedua yang mendampingi ayahnya pada banyak peristiwa. Menarik hati adalah kemampuan Hamka mengekang perasaan dan mengendalikan diri ketika selama Konferensi Islam Sedunia I di Mekah (pertengahan September 1975), wakil sekjen Syaikh Safwad Sakka termakan fitnah, percaya bahwa Hamka aktif membantu pengkristenan. Ia bungkam, juga ketika gilirannya bicara dipeti-es-kan. Segi lain yang diungkapkan Rusydi adalah kemahiran Hamka membagi waktu antara mengarang, berkhotbah, berceramah, memberi kuliah subuh, membaca dan menerima banyak tamu yang minta nasihat. Minta nasihat tentang kesulitan keluarga dan urusan pribadi yang bermacam-ragam, hingga orang mengantay (antre) seperti di Puskesmas. Tanpa mendapat bayaran, ia, karena Allah, melakukan tugas itu demi membantu sesama manusia. Itulah pengabdiannya kepada Allah melalui kasih sayang kepada sesama umat. Di sinilah sang muballigh menjelma menjadi pahlawan di bawah beban-beban kehidupan metropolitan yang serba pelik dan majemuk. Barangkali Rusydi kurang melakukan objektivisasi dan penjarakan (distansi) - yang memang sukar bagi seorang putra yang mengagumi ayahnya. Tapi, taruhlah ada subjektivisme, namun pelukisan yang diberikannya merupakan bahan sangat berharga bagi kita untuk mengenal Hamka seutuhnya. Dari segi ini Rus di telah berhasil. S.I. Poeradisastra

SUMBER ARTIKEL:  http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1982/05/15/BK/mbm.19820515.BK46837.id.html

Related Post

ShareThis