.

.
Tampilkan postingan dengan label Pustaka Pelajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka Pelajar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

Tahafut Al-Falasifah, Tahafut At-Tahafut


 SOLD

Harga 1 set (2 buku): Rp.200 rb (blum ongkir)
Imam al-Ghazali "Tahafut Al-Falasifah" (membongkar tabir kerancuan para filosof) VS Ibnu Rusyd "Tahafut At-Tahafut (sanggahan terhadap Tahafut al-Falasifah)

Keterangan singkat: Imam al-Ghazali "Tahafut Al-Falasifah" (membongkar tabir kerancuan para filosof)

Judul Buku: Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan para Filosof)
Penulis: Al Gazali
Pengantar: Dr Sulaiman Dunya
Penerbit: Marja’ Bandung, cet 3 tahun 2012
Tebal: 308 halaman

Tahafut Al-Falasifah, sebuah karya fenomenal yang memang penting untuk direnungkan kita semua. Karya Ulama besar asal Bagdad ini selain sudah dikenal luas sebagai buku filsafat, yang sesungguhnya adalah kitab tentang ilmu kalam, perlu hadir ke tengah-tengah masyarakat Indonesia yang selama ini tidak pernah mampu melepaskan dari belenggu dikotomi antara filsafat dan agama.
Sebagian masyarakat muslim kita, yang membutuhkan kesadaran berpikir kritis harus diakui “terpaksa” mengambil perspektif filsafat sekuler. Hal ini perlu dimaklumi mengingat antara agama (wahyu) dengan ilmu pengetahuan (baca filsafat) memang sesuatu yang berbeda.
Kebutuhan untuk menjembatani antara filsafat dan agama sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama, jauh sebelum Tahafut ini ditulis oleh Al-Gazali. Tetapi sampai beberapa abad sebelum itu, usaha itu tak kunjung datang sampai munculnya kitab ini. Sayangnya, apa yang ditulis Al-Gazali bukanlah sebuah sintesis yang menghasilkan hubungan harmoni, melainkan kontradiksi yang tajam.
Penolakan Al-Gazali atas filsafat sebagai kebenaran berpikir justru menjadi bagian dari sikap yang pada akhirnya membuat masyarakat muslim sendiri dilanda keterbelahan sikap; di satu sisi masih membutuhkan pengetahuan non samawi, di lain pihak butuh tambatan pasti dari wahyu.
Sekalipun Al-Gazali menolak filsafat dan lebih percaya kepada wahyu, tetapi sesungguhnya dengan cara itu ia secara tidak langsung sedang memberikan satu pencerahan dengan cara kontrol sikap atas pemikiran para filsuf yang pada kala itu masih miskin perspektif dibanding para filsuf di era selanjutnya. Karena itu, sekalipun premis Al-Gazali nampak fundamentalis (untuk dilihat dari kacamata sekarang), agaknya perlu dihargai sebagai sebuah karya yang menggugah kesadaran para pemikir muslim maupun nonmuslim agar bersikap kritis terhadap filsafat yang belum tentu memiliki validitas; terutama antara hubungan teori (imajinasi) dengan praktik.
Gugatan Al-Gazali terhadap filsafat ini misalnya, mendorong Sang Filsuf lain, Ibnu Rusyd menulis karya yang tak kalah fenomenalnya, yakni Tahafut at-Tahafut yang mengkritik Al-Gazali secara kreatif.
Karena ini buku pemikiran, dan target pembelajaran kita terhadap pemikiran adalah meluaskan pandangan, menjadi penting kiranya terjemahan ini dibaca oleh para pemikir. Dari buku inilah kita akan tahu gelombang dahsyat pemikiran di masa lampau pernah melanda umat Islam sehingga kita bisa berkaca tentang banyak hal terhadap tradisi pemikiran saat ini yang mengalami kemandegan.

Sumber tulisan Tahafut Al-Falasifah : Yusuf

***
Judul TAHAFUT AT- TAHAFUT
Penulis IBN RUSYID
Jumlah Halaman XIV+306 HAL
Penerbit PUSTAKA PELAJAR cet 2 Desember tahun 2010
Keterangan singkat: Ibnu Rusyd "Tahafut At-Tahafut (sanggahan terhadap Tahafut al-Falasifah)

Ibnu Rushd dalam Tahafut Al Tahafut, mengatakan ; Seluruh basis argumen Al-Ghazali salah, karena Al-Ghazali berasumsi bahwa kehendak Allah itu sama seperti kehendak manusia. Padahal Nafsu dan kehendak hanya bisa dimengerti oleh makhluk yang memiliki kebutuhan; Sementara untuk Zat yang Maha Sempurna yang tidak membutuhkan apa-apa, kita tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan bahwa ketiak Dia melakukan sesuatu maka yang Dia lakukan itu adalah hal yang paling sempurna. Jadi kehendak Allah harus dipahami dengan makna yang lain dibanding kehendak manusia.
Oleh para pengikut Al-Ghazali, Ibnu Rushd malah dicap sesat, dimaki dituduh dan difitnah dengan berbagai dakwaan. Oleh orang-orang ini Ibnu Rushd dituduh sebagai pengacau keimanan dengan menyebarkan ilmu-ilmu Yunani. Rakyat Cordoba yang termakan fitnah kelompok ini mengejek dan menghina Ibnu Rushd dengan berbagai kalimat buruk dan tuduhan yang tidak berdasar.
Pernah satu kali, ketika Ibnu Rushd melaksanakan shalat Ashar bersama sahabatnya, dia diejek dan diusir dari masjid Cordoba. Masyarakat membakar karya-karyanya. Dan pada puncaknya, Khalifah al-Mansur yang menjadi penguasa di Cordoba waktu itu, sepakat dengan tuduhan masyarakat ini dan kemudian menghukum Ibnu Rushd. Sebagai hukuman atas "kesalahannya" Khalifah al-Mansur memerintahkan Ibnu Rushd untuk dibuang ke perkampungan Yahudi "Lucena".
Memang setahun setelah hukuman itu dikeluarkan, para ulama mengadakan protes agar Ibnu Rushd dibebaskan karena diantara kalangan ulama itu banyak yang meyakini kalau Ibnu Rushd tidak bersalah. Tekanan dari ulama yang pro Ibnu Rushd tersebut membuat Khalifah al-Mansur mengeluarkan surat pengampunan terhadap Ibnu Rushd.
Setelah dibebaskan, Ibnu Rushd kembali ke Cordoba dan berkumpul lagi dengan keluarganya dan para sahabatnya. Namun tidak lama kemudian ia wafat pada tahun 1198 Masehi dalam usia 72 tahun.
Sementara itu fitnah yang dilakukan terhadap Ibnu Rushd yang sudah terlanjur menyebar.

Ringkasan Artikel TAHAFUT AT- TAHAFUT, saya ambil: Winwannur

Kamis, 27 Juni 2013

Misteri Syekh Siti Jenar. Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa

Kondisi: Lumayan bagus, cuma ada yg hilang 1 lembar pada hal judul

Harga: Rp.175 rb (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus, hilang 1 lembar pada hal judul
Tebal: 550 hal
Misteri Syekh Siti Jenar.
Penerbit, : Pustaka Pelajar.
Penulis, : Hasanu Simon, Prof. DR.
Tahun Terbit, : Cet 1: September 2004, Cet 4: Januari 2007.

Islam telah masuk ke jawa pada abad ke-8. Raja SCHIMA dari kalingga yang berkuasa pada abad ke-9 dan makam FATIMAH Binti MUIN Bin HIBATULLAH di desa Leran, Gresik, yang meninggal pada tahun 1028 adalah bukti bahwa islam telah lama mulai dianut oleh penduduk jawa. Namun selama lebih dari 7 abad, perkembangan islam di jawa belum mampu menembus dominasi tiga agama yang dianut oleh penguasa dab mayoritas penduduk jawa, yaitu Hindu, Budha dan Animisme. Akan tetapi perang Paregreg tahun 1401-1406 yang merupakan puncak pertikaian penguasa Jawa sejak abad ke-11 dalam perebutan kekuasaan telah membalik keadaan. Memanfaatkan situasi yang kacau balau akibat Perang Paregreg tersebut, tim dakwah yang dikirim oleh Sultan Turki Muhammad I berhasil membuat sejarah baru proses islamisasi di Jawa. Tim dakwah pimpinan Maulana Malik Ibrahim itu tiba pada tahun 1404. Meniru cara dakwah Rasulullah Saw dalam menyebarkan agama islam, Maulana Malik Ibrahim dan kawan-kawan berhasil memikat hati para penguasa dan masyarakat untuk melihat agama Islam, karena mereka bosan dengan pertikaian agama lebih dari 6 abad, mendambakan ketentraman keamanan dan bosan dengan keterpurukan ekonomi sebagai akibat pertikaian politik para penguasa sejak perang paregreg. Akan tetapi proses islamisasi di Jawa mulai membelok ketika islam sudah mulai dominan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan masuknya tokoh islam pribumi yang diawali dan dipimpin oleh Sunan Kalijogo. Bentuk islam sinkretis hasil dakwah Sunana Kalijogo berbeda dengan islam murni yang dianut masyarakat pesisir, hasil dakwa para wali Timur Tengah. Di dalam proses islamisasi di daerah pedalaman yang sinkretis itu, muncul pula tokoh kontroversial yang ketenarannya hampir menyamai Sunan Kalijogo, yaitu Syekh Siti Jenar. Ketidak jelasan asal usul tokoh ini, yang semula dampaknya tidak begitu begitu berarti bagi perkembangan islam setelah ditindak tegas oleh penguasa Demak Bintoro, sering kali dimamfaatkan oleh kaum Zindig untuk melemahkan perjuangan islam . Oleh karena itu umat islam indonesia perlu menghadapi propaganda tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang dibesar-besarkan itu dengan kritis, arief, dan istiqomah. Munculnya gerakan kembali Syekh Siti Jenar tidak terlepas dari gerapan menentang islam yang lain, yaitu atheisme, pendangkalan akidah dan lain-lain. ISBN: 979-3477-69-5

Minggu, 09 September 2012

Terus Mencoba Budaya Tanding, Emha Ainun Nadjib

TERJUAL BY BOJONEGOROKondisi: Bagus Cet. pertama Januari 1995
Tebal: 290 hal

Seperti yang dikatakan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya “ Terus Mencoba Budaya Tanding “ bahwa “ budaya tanding tak bisa tak ada, dalm dimensi yang manapun dari hidup ini. Konflik diperlukan untuk mementaskan sejarah dari kehidupan. Bahkan untuk supaya alam ini barnama alam. Dialektika abadi“

Eksistensialisme dan Humanisme. Jean paul Sartre

 
Harga: Rp.45.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus
Eksistensialisme dan Humanisme. Jean paul Sartre.  
Penerbit Pustaka Pelajar. Cet 1 tahun 200
Tebal: 148 hlm

Berbicara mengenai kebebasan dapat dikatakan bahwa manusia tidak pernahsampai kepada suatu pengertian yang pasti tentang apa itu kebebasan, karena terminologikebebasan memiliki cakupan yang sangat luas. Namun, apabila kebebasan difokuskan pada manusia, maka kebebasan merupakan salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkandari manusia, karena melalui kebebasan manusia berusaha mengaktualisasikan ataumerealisir dirinya sebagai individu yang bereksistensi. Dengan kata lain, kebebasan tidak hanya mencakup salah satu aspek dari manusia untuk diaktualisasikan atau direalisir tetapi seluruh hidup manusia itu adalah kebebasan atau kebebasan mencakup seluruheksistensi manusia.Tilikan kebebasan dicetuskan oleh Jean Paul Sartre dalam bukunya yang berjuduleksistensialisme humanisme. Sartre menggagas bahwa manusia adalah kebebasan.Konsep kebebasan yang mengalir dari Sartre tidak dapat dipahami lepas dari gagasannyamengenai cara berada manusia di dunia yang dia lukiskan secara radikal dalam dua bentuk, antara lain
“etre-pour-soi (being-for-itself)
dan
etre-en-soi (being-in-itself).
Bagaimana Sartre menggagas “kebebasan” dengan bertolak dari cara berada manusiaakan kami uraikan berikut ini.
II.
Latar Belakang Pemikiran Jean Paul Sartre

Titik berangkat pemikiran Sartre diawali dari pandangannya tentang manusia.Menurut Sartre, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang bereksistensi, artinya bahwa manusia itu bukanlah sesuatu yang konseptual melainkan sesuatu yang aktual.Dengan demikian, eksistensi pertama-tama bertolak dari manusia sebagai subjek. Olehkarena eksistensi bertolak dari manusia sebagai subjek, maka eksistensi manusia tidak sama dengan objek-objek yang lain, karena eksistensi manusia tidak dihasilkan darisesuatu yang ditentukan melainkan suatu penyangkalan terhadap objek tertentu.Pemahaman ini bertolak dari apa yang dicetuskan oleh Sartre bahwa eksistensimendahului esensi. Artinya, manusia itu berada dulu baru ada. Berada dulu baru adahendak mengatakan suatu pengertian bahwa manusia pada awalnya adalah kosong.Tetapi, oleh karena pilihan bebasnya manusia menjadi ada. Dengan kata lain, kebebasanmanusia untuk memilih menjadikan kekosongannya bereksistensi. Bereksistensi berarti bertindak sesuai dengan pilihan saya sebagai satu-satunya individu yang bebas. Dengandemikian dapat dikatakan bahwa manusia itu “ada” sejauh ia bertindak terhadap sesuatu bagi dirinya sendiri dan apa yang dia lakukan untuk dirinya sendiri adalah lahir darikebebasan dan kesadarannya sebagai individu yang menyadari sesuatu yang berarti bagidirinya.Eksistensialisme humanisme Sartre lahir sebagai gugatan terhadap aliran filsafatyang menganut paham idealisme dan materialisme. Filsafat idealisme yang berpuncak  pada Hegel mengatakan bahwa manusia tidak lebih dari sekadar “roh” yang sedang berkembang dan bergerak menuju kesempurnaan diri. Manusia dalam pandangan Hegel bukanlah individu yang memiliki otonomi dan bereksistensi melainkan hanyalah suatu proses penyempurnaan diri dari Roh untuk menjadi absolut. Oleh karena itu, menurutHegel, manusia tidak mencerminkan suatu kehidupan yang konkrit karena makna dankedudukannya terserap dalam kesadaran Roh Absolut. Demikian pula kaum materialis berpendapat bahwa manusia tidak lebih dari sekadar materi sebagai berada di ataskesadaran manusia.Berangkat dari gagasan di atas, Sartre berpendapat bahwa para filsuf idealis danmeterialis telah mereduksi hakekat manusia sebagai individu yang bereksistensi ke dalam proses dialektik kesadaran roh dan materi. Menurut Sartre, manusia tidak pernah dapat
direduksir ke dalam realitas roh dan materi, karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai individu yang bebas dan bereksistensi.
sumber:  http://www.scribd.com/doc/23717452/KEBEBASAN-MENURUT-JEAN-PAUL-SARTRE

Related Post

ShareThis