.

.
Tampilkan postingan dengan label Bung Hatta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bung Hatta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2014

POSTER DJADUL Bapak Dr. H. Moh. Hatta sekeluarga

Harga: Rp.150 rb (blum ongkir)
POSTER DJADUL Bapak Dr. H. Moh. Hatta sekeluarga
Idzin Tgl. 9/4/1957 (Copy Right) Dilarang Mereproduksi
Kondisi: LUMAYAN
Ukuran: 26,5 X 19,5 cm

DEMOKRASI KITA, HATTA. Penerbit: PT Pustaka Antara, Jakarta (1966)


Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan 1966
tebal: 36 hal

Padi yang Tumbuh Tak Terdengar
... diktator yang bergantung pada kewibawaan orang seorang tidak lama umurnya. Sebab itu pula sistem yang dilahirkan Soekarno tidak akan lebih panjang umurnya dari Soekarno sendiri. Umur manusia terbatas. Apabila Soekarno sudah tidak ada lagi, maka sistemnya akan rubuh seperti rumah kartu.

SEOLAH meramal masa depan, Mohammad Hatta menulis kalimat itu lima tahun sebelum Soekarno kehilangan kekuasaannya. Ketika itu Hatta sudah tak lagi menduduki jabatan wakil presiden. Tak lama setelah Soekarno membubarkan Konstituante dan mengumumkan Indonesia kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, Hatta pamit mundur. Itulah tanda dimulainya periode gelap dalam sejarah Indonesia, diberlakukannya demokrasi terpimpin. Sekaligus pada saat yang sama: berakhirnya duet Soekarno-Hatta.

Bagian penting dari Demokrasi Kita adalah kritik Hatta kepada Bung Karno. Berkali-kali, dalam berbagai pidato, Soekarno menolak demokrasi Barat yang ditudingnya saling serang, saling terjang (free fight democracy). Menurut Bung Karno, demokrasi ala Barat ini membahayakan persatuan. Itulah sebabnya, ia menggagas demokrasi yang ditopang empat kaki: nasional, Islam, komunisme, dan tentara.

Gagasan ini diwujudkan dengan konsep Nasakom (persatuan kaum nasionalis, agama, dan komunis). Soekarno yang gandrung akan persatuan menganggap gagasannya ini bisa menghindari pertempuran antarkelompok. Untuk mewujudkan gagasannya, ia membubarkan Konstituante-dewan perwakilan yang ia tuding hanya sibuk berkelahi sehingga gagal menyusun konstitusi pengganti Undang-Undang Dasar 1945. Keputusan Soekarno membubarkan parlemen ini sebagian diambil karena desakan tentara, kekuatan politik yang perannya sangat minim dalam pentas nasional.

Inilah yang terutama dikritik Hatta. "Demokrasi bisa ditindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit ia akan muncul kembali dengan penuh keinsafan," demikian Hatta menulis.

Saling serang Soekarno-Hatta sebetulnya sudah terjadi jauh sebelum Demokrasi Kita ditulis. Bung Karno, seperti dikutip Cindy Adams dalam Penyambung Lidah Rakyat, pernah berkata, "Aku dan Hatta tidak pernah berada dalam gelombang yang sama."

Hatta menyebut Soekarno sebagai orang yang tak pernah masuk ke detail, hanya bicara garis besar. Seraya mengutip hikayat Goethe's Faust, Hatta menuding Karno sebagai kebalikan tokoh Mephistopheles yang mengklaim dirinya sebagai, "... ein Teil jener Krafte, die stets das Base will und stets das Gute schafft"-bagian dari satu tenaga yang selalu menghendaki yang buruk tapi selalu menghasilkan yang baik. "Soekarno kebalikan dari itu. Tujuannya baik tapi langkah-langkah yang diambilnya kerap kali menjauhkan dia dari tujuan itu," tulis Hatta.

***

PERNAH Soekarno mempermasalahkan Hatta yang mengeluarkan Maklumat Nomor X, 3 November 1945. Dalam maklumat itu Hatta menyampaikan partai-partai perlu diberi tempat untuk tumbuh.

Ide Hatta sederhana saja: partai adalah alat bagi publik untuk menyampaikan aspirasi politiknya. Karena itu, kata Hatta, "Sedjauh tetap memperdjuangkan mempertahankan kemerdekaan dan mendjamin keamanan, Pemerintah menjukai timbulnja partai2 politik, karena dengan adanja partai2 itulah dipimpin ke djalan yang teratur segala aliran paham jang ada dalam masjarakat."

Soekarno menyebut maklumat itu pintu ke arah perseteruan antarpartai. "Terima kasih Tuhan bukan Soekarno yang menandatangani maklumat itu," kata Soekarno dengan sinis.

Dalam ceramahnya di Institut Pertanian Bogor, Juni 1966, Bung Hatta kembali menjawab serangan Bung Karno. Hatta tak membantah bahwa sistem multipartai di Indonesia membawa ekses buruk, yakni pertarungan tak sehat partai-partai serta lahirnya pemerintahan yang lemah pada masa demokrasi parlementer (1955-1959). Tapi katanya, "Bukan dalam Maklumat Wakil Presiden 3 November 45 yang menegaskan adanya demokrasi terletak kesalahan, tetapi dalam partai-partai dan para pemimpin yang lupa daratan." Dengan kata lain, Hatta membedakan ide dengan praktek.

Partai politik yang lahir pada masa demokrasi parlementer memang menunjukkan sisi buruk demokrasi. Partai dibanjiri orang-orang yang berebut posisi, mengincar kedudukan dan pembagian rezeki. Partai berkembang biak. Anggota partai yang lama memisahkan diri dan membentuk partai baru bukan karena perbedaan ideologis tapi karena persoalan "rezeki" yang tak merata.

Dalam Demokrasi Kita, Hatta mengkritik keadaan ini. Menurut dia, partai-partai sesungguhnya belum mempraktekkan demokrasi karena keputusan di dalam partai tidak diambil dari bawah melainkan didrop dari atas.

Ketika itu negara tak menentu. Pemerintah jatuh-bangun. Kabinet tidak dianggap sebagai amanah orang ramai, tempat orang menerapkan jimat ajimumpung. Partai menjadi agen korupsi, menjadi pemberi lisensi agar uang masuk ke kas partai untuk kepentingan pemilihan umum. Akibatnya, kabinet tidak memikirkan negara. Agenda menyejahterakan masyarakat terabaikan. Rakyat mengeluhkan demokrasi: daerah tidak dipedulikan-agenda otonomi diabaikan. Tentara berang.

Di sinilah Hatta menyimpulkan bahwa demokrasi parlementer yang ultrademokratis melahirkan kediktatoran. Katanya, "Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki membuka jalan untuk lawannya: diktator."

***
Demokrasi Kita pertama kali dimuat di majalah Pandji Masjarakat yang dipimpin Buya Hamka pada 1960. Tapi justru karena tulisan itu Pandji dibreidel oleh Perdana Menteri Subandrio. Buya Hamka, pemimpin redaksinya, dipenjarakan.

Buku tipis, 36 halaman, ini baru diterbitkan pada Juni 1966 setelah Soekarno jatuh. Pemerintah melalui Keputusan Menteri Jaksa Agung tanggal 30 Mei 1966 mengumumkan bahwa artikel itu boleh diterbitkan dalam bentuk buku. Dijual dengan harga Rp 3 per buah, Demokrasi diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

Sejarawan Amerika, George Kahin, menyebut Demokrasi sebagai "salah satu pernyataan yang paling jelas tentang aspek-aspek terpenting dari pemikiran politik dan sosial-ekonomi Hatta". Sejarawan Taufik Abdullah menyebutnya sebagai "otobiografi intelektual", yang meringkaskan perjalanan pikiran dan pengalaman Hatta sebagai seorang patriot dan negarawan.

Buya Hamka menganggap terbitnya Demokrasi Kita adalah anugerah. "Satu obat penawar karena buku ini dikeluarkan setelah saya dibebaskan dari tahanan selama dua tahun empat bulan karena fitnah prolog Gestapo/PKI dan Biro Pusat Intelijen," tulis Hamka dalam pengantar Demokrasi Kita.l l l

Lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di Kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Ketika umurnya belum 10 tahun, pada 1908, Hatta mengalami pengalaman pahit. Ketika itu di Aur Tajungkang, Bukittinggi, sejumlah serdadu marsose dengan bayonet terhunus menggeledah orang-orang yang lewat.

Pemerintah kolonial murka karena di Kampung Kamang, 16 kilometer dari rumah Hatta, rakyat berontak: mereka menolak membayar pajak langsung. Ketika konflik meletus, 12 orang marsose tewas dan 100 penduduk ditembak mati. Razia dilakukan, orang-orang ditangkap. Termasuk di antara orang yang dicokok adalah Rais, sahabat kakek Hatta. Momen ketika Rais melambai dari jendela kereta api dengan tangan yang dirantai tak pernah hilang dari ingatan masa kecil Hatta.

Pengalaman demi pengalaman pahit menggembleng Hatta. Ia memang bukan Soekarno yang sanggup membakar massa melalui pidato-pidatonya yang memikat. Hatta lebih banyak diam: ia lebih suka menulis. Isi buku-bukunya menggambarkan spektrum minatnya yang luas: politik, ekonomi, sosial, dan sastra.

Tokoh yang disukai Hatta adalah Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang pernah menulis novel Max Havelaar. Satu ucapan Dekker yang kerap dikutip Hatta, dengan tepat menggambarkan sosok bekas wakil presiden itu: onhoorbaar groeit de padi, tak terdengar tumbuhlah padi. Hatta adalah padi yang tak terdengar itu.

Demokrasi Kita Penerbit: PT Pustaka Antara, Jakarta (1966)

--------



Sabtu, 02 Juni 2012

Surat Menyurat Hatta - Anak Agung

 
TERJUAL
kondisi: bagus, cetakan pertama 1987
Tebal : 600 HAL
berat: 0,56 kg
Menjunjung tinggi keagungan demokrasi dan mengutuk kelaliman Diktatur; Karya Moh.Hatta - Ide Anak Agung Gde Agung 
diterbitkan Sinar Harapan tahun 1987
Hatta memang dikenal sangat rajin melakukan surat-menyurat. Tapi, dalam suratnya, tentu saja ia sering mendiskusikan soal buku. Misalnya surat dengan Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, S.H., pada 17 Desember 1963, yang telah diterbitkan Sinar Harapan itu. "Saudara Agung, karena beberapa hari lagi Zus Vera (istri Agung-Red.) akan pergi ke Madiun untuk mengunjungi Saudara, dapat saya kirimkan padanya 2 buah buku sebagai bacaan Saudara yaitu: (1) Milovan Jilas, Gesprache mit Stalin, (2) buku kecil saya yang baru terbit hari ini, tentang persoalan ekonomi sosialis Indonesia. Mudah-mudahan buat sementara waktu cukup untuk bacaan Saudara beserta kawan-kawan."
Bung Hatta dan "Para Kekasihnya"

IBUNDA Hatta pernah jengkel terhadap putranya. Kejengkelan itu justru terjadi di hari perkawinan sang proklamator. Apa pasal? Bayangkan. Hadiah pengantin Hatta kepada Rahmi Rachim adalah sebuah buku. Pada hari bahagia itu, di vila Megamendung, kepada calon istrinya-yang masih berusia 19 tahun itu-Hatta menghadiahkan bukunya yang baru selesai dikerjakan: Alam Pikiran Yunani. Tentu saja ibunda Hatta tak setuju dengan hadiah itu. Lazimnya, hadiah perkawinan adalah simbol berharga seperti uang atau emas. Tapi buku memang bagi Hatta adalah harta yang paling berharga. Maskawin Hatta untuk Rahmi itu ditulis saat pembuangan di Digul sekitar 1934. Saat itu, Hatta memboyong 16 peti buku. Di sana, ia tak menghentikan kebiasaannya menulis ke surat kabar, antara lain Adil, Pandji Islam, dan Pedoman Masjarakat. Ia juga mem-berikan kursus-kursus kepada sesama teman pembuangan, yang rata-rata tokoh PNI pusat, seperti Bondan, Maskun, Burhanuddin, Suka, dan Moerwoto. Di samping memberikan materi pengajaran politik dan ekonomi, Hatta merasa perlu meningkatkan kecerdasan teman-temannya dengan penyelenggaraan "kuliah" filsafat. Bagi Hatta, ilmu filsafat penting untuk mempertajam pikiran. Demokrasi Yunani dalam banyak hal memang sesuai dengan diri Hatta. Maka, ia membuat sebuah buku panduan yang mengulas pemikir Yunani kuno seperti Pythagoras, Plato, Aristoteles, dan Sokrates. Bisa dibayangkan gadis belia seperti Rahmi disodori sebuah buku serius sebagai hadiah perkawinan. Bagi Hatta, buku hampir seperti sebuah benda sakral. Dalam dunia pergerakan, mungkin Hatta adalah aktivis yang paling banyak menulis. Konon, saat ia masih menjadi mahasiswa di Amsterdam, dibandingkan dengan mahasiswa Indonesia lain, kamar Hatta penuh sesak dengan buku. Konon, ia juga pernah dengan sengaja membercaki tangannya dengan tinta untuk menolak ajakan dansa karena tak mau diganggu jam membacanya. Dalam kehidupan sehari-hari, Hatta memiliki waktu khusus untuk belajar. Hatta memang sosok yang jauh dari kemewahan dan kegairahan atau perempuan. Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku. Karena itu, lahirlah anekdot: istri utama Hatta sesungguhnya adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku, dan istrinya yang ketiga adalah Rahmi Hatta. Sejak kecil, lelaki Minang ini suka menabung. Uang sakunya sebesar satu gobang (25 sen) disimpan untuk membeli buku. Bahkan, setelah berkeluarga pun, Hatta tak pernah memiliki deposito, hanya karena semua tabungannya dibelanjakan untuk buku. Begitu sakralnya, begitu lekatnya hubungan emosi antara Hatta dan buku-bukunya, ia akan sangat marah jika orang yang meminjam bukunya mengembalikan dalam keadaan kotor, dicoret-coret, atau bahkan hanya ada halaman yang terlipat. Ada cerita tentang hal itu seperti yang diutarakan dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (Sinar Harapan, 1980). Pengusaha Hasyim Ning, yang masih terhitung sebagai keponakan Hatta, punya pengalaman bagaimana cintanya Hatta terhadap buku-bukunya. Suatu kali, Hatta meminjamkan bukunya kepada sang keponakan. Saat Hasyim masih sibuk membolak-balik sang buku, Hatta mengecek sampai di mana Hasyim memahami isinya. Melihat ada halaman yang terlipat, Hatta marah besar. Hasyim disuruh mengganti buku itu. Ia harus berkeliling mencari di seluruh Jakarta. Maka, berangkatlah sang keponakan mencari-cari buku itu. Hasilnya nihil karena memang buku itu dibeli di Eropa. Ketika Hasyim pulang dengan tangan hampa, Hatta tersenyum. Itulah pelajaran gaya Hatta agar orang menghormati sebuah buku. Des Alwi, "anak angkat" Hatta, mengakui bahwa Hatta memang gemar memberikan hadiah buku kepada temannya. Des mengenang, ketika di Banda, Bung Hatta memberikan hadiah ulang tahun kepada Des berupa buku Don Quixote karya Cervantes (Spanyol) dan Kisah Petualangan Baron Von Munchausen. Ia ingat betapa sayangnya Hatta dengan buku-bukunya. Karena itu, saat Bung Hatta meninggalkan Bandaneira pada 31 Januari 1942, semua buku Hatta diangkutnya, sementara Sjahrir membagi-bagikan semua barangnya kepada penduduk setempat. Akibatnya, Des Alwi kebagian tugas mengangkut dua peti buku milik Hatta ketika menyusul ke Jakarta. Pada 1950, ayah Des Alwi mengirim sisa-sisa buku yang tertinggal di Banda. "Semuanya berjumlah 12 peti buku besar," tutur Des mengenang. Selain mencintai buku, menurut Des, selama di Banda, Bung Hatta suka memelihara kucing. Uniknya, ia menamai kucing-kucingnya dengan nama para pemimpin dunia yang tak disukainya. Mungkin setelah ia gemas membaca ulasan berita politik luar negri, misalnya, kucingnya yang kulitnya mirip kulit macan diberi nama Hitler, sedangkan kucingnya yang putih belang-belang hitam diberi nama Tito. Syahdan, untuk menghormati pemikirannya dan pengabdiannya pada dunia ilmu, penerbit LP3ES bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta, Padang, berencana menerbitkan semua tulisan Bung Hatta secara lengkap hingga mencapai 12 jilid buku. Hingga kini, pemikiran Bung Hatta itu sudah diterbitkan sampai jilid ketiga. Untuk mengumpulkan tulisan Hatta yang tersebar di mana-mana, penerbit LP3ES sampai melacak arsip-arsip tulisan Hatta milik perpustakaan luar negeri seperti Library of Congress, Perpustakaan Universitas Cornell, Perpustakaan Universitas Ohio, dan KITLV Pusat di Leiden. "Ada lebih-kurang 151 judul buku tulisan Bung Hatta, 42 buku tentang Hatta, dan 100-an artikel Bung Hatta di berbagai majalah Belanda yang ada di koleksi perpustakaan kami," kata Harry A. Poeze, yang menjabat Direktur Pres KITLV, kepada reporter TEMPO Dina Jerphanion, ketika TEMPO mengecek koleksi Hatta di perpustakaan di Leiden itu. Toh, beberapa karya Hatta tetap tak ditemukan, terutama tulisan periode tahun 1930-an, yang sempat dikeluhkan Bung Hatta sendiri-karena pada waktu Bung Hatta masih hidup pun sudah sukar dicari. "Misalnya, di majalah Hindia Poetra, Bung Hatta pernah menulis soal tanah. Majalah itu sudah tidak ada lagi," kata Arselan Harahap, Direktur Pustaka LP3ES yang menjadi pemimpin penerbitan ini. "Mungkin banyak tulisan Hatta yang tercecer saat pindah dari Banda," kata Arselan. Selain pemikirannya, surat-surat Hatta sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Hatta memang dikenal sangat rajin melakukan surat-menyurat. Tapi, dalam suratnya, tentu saja ia sering mendiskusikan soal buku. Misalnya surat dengan Dr. Ide Anak Agung Gde Agung, S.H., pada 17 Desember 1963, yang telah diterbitkan Sinar Harapan itu. "Saudara Agung, karena beberapa hari lagi Zus Vera (istri Agung-Red.) akan pergi ke Madiun untuk mengunjungi Saudara, dapat saya kirimkan padanya 2 buah buku sebagai bacaan Saudara yaitu: (1) Milovan Jilas, Gesprache mit Stalin, (2) buku kecil saya yang baru terbit hari ini, tentang persoalan ekonomi sosialis Indonesia. Mudah-mudahan buat sementara waktu cukup untuk bacaan Saudara beserta kawan-kawan." Surat-surat berkenaan dengan masalah kenegaraan, pemerintahan, juga akan diterbitkan LP3ES. Tapi surat pribadi akan di-seleksi ketat. Karena itu, Arselan Harahap meminta putrinya, Meutia F. Swasono, memilih mana yang boleh diterbitkan atau tidak. "Yang belum kita temukan surat-surat terakhirnya, misalnya surat beliau kepada Soeharto. Ternyata Bung Hatta kerap menuliskan surat kepada Soeharto, yang isinya mengingatkan beberapa hal," kata Arselan. Tentunya kita semua berharap surat-surat Hatta kepada Soeharto ini termasuk yang diizinkan untuk diterbitkan.

sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/08/13/IQR/mbm.20010813.IQR82172.id.html

Jumat, 01 Juni 2012

ALAM PIKIRAN YUNANI DJILID I & II


Harga 2 djilid : Rp.100.000 (blum ongkir)
kondisi: lumayan
Penerbit : Tintamas dJakarta 1966 tjetakan 8
tebal: dijilid 1: 54 hal dan djilid II: 90 hal

Sambutan Bung Hatta dalam bukunya “Alam Pikiran junani”
---------------------------------------------------------------------------------------------------

”Sungguhpun filosofi sahabat kami sejak dari sekolah Tinggi, kami bukan seorang filosof dan bukan pula ahli dalam vak itu. Sebab itu perlu diterangkan sedikit, apa sebab kami menerbitkan karangan ini”
Buah karangan ini lahir berangsur-angsur sebagai hasil pelajaran di alam yang sunyi. Lahirnya bermula di tempat pembuangan di Boven Digul. Tatkala kami di sana memimpin pelajaran beberapa orang kawan ke dalam ekonomi, terasa oleh kami, bahwa baik juga kepada pelajar yang sudah mempunyai paham dan sudah mengalami perjuangan hidup disertakan pelajaran filosofi. Filosofi meluaskan pandangan serta menajamkan pikiran.

Ada dua jalan untuk mencapai pengetahuan tentang filosofi.
Pertama, menanamkan pengertian secara berangsur-angsur labih dahulu, dari yang agak mudah sampai kepada yang sulit-sulit benar, dan mempelajari susunan pengetahuan itu didalam sistemnya. Berbagai pertikaian paham diketahui dengan jalan ini sejak semulanya. Inilah jalan yang sebaik-baiknya bagi orang yang memilih filosofi sebagai faknya.

Jalan yang kedua inilah yang kita pakai dalam buku ini. Gunanya untuk mengetahui berbagai paham tentang yang satu, berbagai pandangan tentang alam dan sikap hidup. Dengan jalan ini tidak saja kita ketahui cara orang berpikir dahulukala, yang begitu berlainan dengan sekarang, melainkan kita mendapat juga timbangan yang luas tentang pendapat orang lain. Jalan ini melepaskan kita dari berpendapat sebagai katak dibawah tempurung. Pendirian picik berbahaya benar bagi kemajuan paham temtang Ilmu, pengetahuan dan Agama.

Buku ini akan dijadikan tiga jilid. Jilid pertama memaparkan paham-paham filosofi sebelum Sokrates. Dalam jilid kedua kelak akan diuraikan filosofi Grik yaitu ajaran-ajaran Sokrates, Plato dan Aristoteles. Jilid ketiga isinya filosofi Grik yang telah kembang jadi barang peradaban Helen dan Ramona, yang pusatnya bermula terletak di Iskandariah.

Kalau benar buku ini ada manfaatnya, seperti yang diucapkan oleh penerbit, maka pengarang tidak menyesal menyebarkan buat umum suatu uraian yang bermula disusun bagi beberapa orang saja.

Banda Neira 1941,
Pengarang :
Muhammad Hatta.

Related Post

ShareThis