.

.
Tampilkan postingan dengan label PAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

HIKAYAT SITI MARIAH: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer


 
HARGA: @RP. 35.000 (BLUM ONGKIR)
BUKU BARU
STOCK 2 BIJI

Judul: HIKAYAT SITI MARIAH: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer | Penulis: Dwi Susanto | Tebal: xii +219 hlm | 15×21 cm | Penerbit: INSISTPress, Mei 2009

Disebutkan di halaman sampul buku ini bahwa dari sekian karya sastra masa kolonial, Hikayat Siti Mariah merupakan karya yang paling sering diterbitkan ulang. Sejak pertama kali terbit tahun 1910an di Harian Medan Prijaji, cerita ini telah diterbitkan ulang oleh Harian Bintang Timur tahun 1962, lalu diterbitkan lagi dalam bentuk buku pada tahun 1983 dan 2003.

Penerbitan ulang itu menimbulkan berbagai pertanyaan, mulai dari apa yang menarik dari isinya, motif apa yang melatari penerbitan ulang, sampai perubahan apa saja yang ada di setiap terbitannya.

Apalagi kita tahu bahwa cerita ini diterbitkan ulang di zaman yang berbeda, bahkan dua terbitan terakhir melibatkan salah satu tokoh sastra Indonesia, Pramoedya Ananta toer.

Buku ini merupakan jawaban dari pertanyaan di atas. Dan ternyata, analisis dalam buku ini akan mengantarkan kita pada suatu kenyataan bahwa Hikayat Siti Mariah telah mengalami banyak perubahan baik bentuk maupun isinya. Penulis menyajikan perbandingan kalimat demi kalimat yang menurutnya “diselingkuhi” Pramoedya Ananta Toer.

Penulis (atau boleh jadi didukung sepenuhnya penerbit) menunjuk bahwa Pramoedya Ananta Toer sebagai editor Hikayat Siti Mariah terbitan tahun 1982 dan 2003 adalah orang yang paling bertanggung jawab atas perubahan itu.

Lalu apa saja bagian cerita yang berubah dan mengapa Pramoedya melakukan itu? Buku yang sebelumnya tesis S-2 Dwi Susanto di Universitas Gadjah Mada ini akan menuntun Anda melihat secara rinci perubahan-perubahan itu disertai dengan analisis tentang motif yang melatarbelakanginya.

“Selamat membaca,” tulis penulis buku ini. Dan Sidang Dewan Pembaca pun benar-benar membaca. Hasilnya …… di sini dan di sini dan di sini. (GM/Iboekoe)


Bumi Manusia

TERJUAL
Price 100.000,00 (belum termasuk ongkos kirim)
Kondisi: BAGUS MULUS. cuma ada bekas lipatan di pojok kanan atas cover buku. isi dalam buku bagus tanpa ada coretan sama sekali
Tebal: 353 halaman
Berat:0,33 Kg
cet keempat HASTA MITRA 1980


Tokoh Minke lahir pada 1880, tepat seratus tahun yang lalu jika dihitung sejak terbitnya novel Bumi Manusia (This Earth of Mankind) untuk pertama kali. Minke lahir di era kolonialisme Belanda sedang gencar-gencarnya menyedot kekayaan alam dan tenaga manusia Nusantara, hingga memasuki kurun 300 tahun, dihitung sejak VOC memasuki perairan Batavia dan mendirikan kantor dagang berupa loji yang digunakan sekaligus pangkalan laut.
     Van den Bosch dengan programnya yang tersohor: tanam paksa/ cultuurstelsel mulai bergulir pada 1830-an, Belanda usai meraih kemenangan dalam perang Jawa yang lebih termasyhur dengan perang Diponegoro. Program jenius si Bosch demi kejayaan Nederland Raya terus berlanjut dan semakin bervariasi tanaman-tanaman yang dibebankan pada kaum petani pribumi, hingga pada 1870 para petani harus menanami duapuluhlima persen dari lahannya dengan tanaman wajib, berupa vanili, tebu, kayu manis dan sebagainya sesuai permintaan pasar dunia. Dengan latar belakang keadaan pribumi yang tertindas seperti itulah, Pramoedya dalam buku ini mencoba menggelar kejadian di satu pojokan bumi manusia – manusia pribumi Jawa.
     Benarkah orang pribumi sudah demikian merosotnya sejak keruntuhan Majapahit yang perkasa hingga terpecah-belahnya Mataram Sultan Agung? Dan selanjutnya bangsa Eropa yang unggul ilmu pengetahuannya itu berhasil dengan mudahnya menguasai tanah Jawa, hingga mereka memerintah sebagai bangsa pemenang.
     Benarkah manusia Jawa yang gagah perwira di masa Majapahit itu kini sudah demikian rendah penguasaan ilmu pengetahuannya hingga menjadi bangsa kuli di antara bangsa-bangsa?
     Agama Islam sempat mencapai perkembangan yang mengagumkan di masa kerajaan Mataram Sultan Agung, karena di masa itu bangsa Barat belum sepenuhnya menguasai Nusantara. Masa keemasan penyebaran Islam di Jawa oleh sembilan orang wali (Walisongo) memang lancar dengan runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha Majapahit menyerat serta terpecah-belahnya Nusantara menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Penyebaran agama baru itu pula yang mempercepat ambruknya Majapahit.
     Kerajaan Hindu-Buddha diwakili Majapahit berhasil menyatukan Nusantara, sedangkan kerajaan Islam cuma berhasil menguasai tanah Jawa, karena keburu masuknya bangsa-bangsa Eropa yang lebih kuat perlengkapan perangnya.
     Dengan Revolusi Agustus 1945 Nusantara dapat bersatu kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelarangan novel Bumi Manusia
Menurut editor Bumi Manusia, JI, pada 1980 buku ini sempat beredar bebas enam bulan hingga dilarang oleh Kejaksaan Agung dengan Surat Keputusan Nomor 052/JA/5/81 tanggal 29 Mei 1981 atas rekomendasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sampai detik ini pelarangan itu belum dicabut. Alasan pelarangan pada 1980 itu, menurut pihak Kejaksaan Agung, “Isi buku Bumi Manusia dianggap menyebarkan paham terlarang di wilayah NKRI, paham Marxism-Leninism.”
     Dalam interogasinya di Kejagung JI membantah hal di atas dengan mengatakan, “Selama saya mengedit baris demi baris Bumi Manusia, saya tidak menjumpai Kamerad Marx dan Lenin ngumpet di balik titik atau koma dan di tempat lainnya.”
     Tokh buku yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari duapuluh bahasa itu tetap dilarang di masa kekuasaan Orde Baru. Setelah lengsernya Bapak Pembangunan Haji Muhammad Soeharto dan memasuki era Reformasi, maka pada 2001 penerbit Hasta Mitra mengedarkan kembali Bumi Manusia seri pembebasan tanpa menunggu pelarangan buku itu dicabut oleh yang berwenang. Saat ini hak pengedaran Bumi Manusia dipegang oleh Penerbit Lentera Dipantara milik keluarga Pramoedya A. Toer.

Para tokoh dalam Bumi Manusia
Kita kembali pada novel Bumi Manusia. “Orang memanggilku Minke….” Minke memperkenalkan namanya yang unik, layaknya pemuda memasuki masa dewasa. Ia seorang pelajar di HBS Surabaya. Minke pelajar pribumi yang cemerlang hingga usai ujian akhir sekolah kelak di HBS dinobatkan sebagai siswa terpandai nomor satu HBS Surabaya, dan nomor dua untuk seluruh Hindia Belanda. Prestasi siswa pribumi Jawa yang mengagumkan di masa itu. Di masa kekuasaan kolonial itu pribumi belum mungkin menjadi nomor satu seluruh Hindia Belanda….
     Tidak semua anak mampu boleh masuk sekolah tinggi, kecuali anak ningrat pribumi, atau anak pejabat pribumi yang boleh belajar di sekolah setingkat HBS. Kekecualian bagi anak totok Belanda dan peranakan yang disamakan dengan totok. Minke masuk HBS dengan dukungan neneknya, bupati Bojonegoro.
     Prestasinya dalam jurnalistik dengan nama samaran Max Tolenaar menulis untuk surat kabar di Jawa Timur. Guru sastranya yang liberal dan progresif memuji-mujinya sebagai siswa kebanggaannya selama karirnya sebagai guru sastra. Pribumi menulis untuk surat kabar di jaman itu? Luar biasa di jaman itu. Hal itu dimungkinkan bermodal nama samaran seorang peranakan ia mengumumkan dirinya, karena bagi peranakan masih layak peluang untuk menulis dalam surat kabar.
     Hasil penelitian residen Bojonegoro bahwa pribumi punya tingkat intelijensi sama derajat dibanding orang Belanda. Penelitian yang diilhami oleh teori asosiasi Dr. Snouck Hurgronje mempunyai thesis: dapatkah pribumi bersama-sama Belanda memerintah orang pribumi Hindia? Residen Bojonegoro sangat terkesan pada Minke, obyek penelitiannya.
     Perbedaan antara orang Belanda dan pribumi; orang Belanda datang sebagai penjajah dan penakluk sedangkan orang pribumi jadi taklukannya. Ketidakadilah berlaku di tanah jajahan manapun, bagi pribumi lebih jelas lagi mengejawantah dalam hukum bertingkat-tingkat yang berlaku di Hindia Belanda. Tingkat tertinggi Belanda totok, di bawahnya timur asing, dan paling bawah adalah pribumi. Pribumi di depan hukum selalu kalah melawan Belanda dan sebaliknya.
     Kisah Minke dengan kekasihnya Annelies di seputar kegiatan pabrik gula melibatkan Minke berhadapan dengan hukum yang dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda. Minke masih beruntung berkat previlium previgiatum (kekebalan hukum tingkat tertentu) yang dimilikinya, karena belajar di HBS Minke sederajat anak bupati. Annelies anak seorang administratur pabrik gula, Herman Mallema.
     Nyai Ontosoroh alias Sanikem berbangga hati anak gadisnya punya teman seorang pemuda yang belajar di HBS. Bersekolah di HBS berarti setelah lulus nanti akan menduduki jabatan tertentu dalam struktur pemerintah Hindia Belanda, atau meniti jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Hindia Belanda atau di Nederland.
     Tahun 1900 di utara sana di negeri Tiongkok terjadi penumbangan dinasti Qing. Tiongkok memproklamirkan diri jadi Republik Tiongkok. Seorang dokter menjadi presiden pertama, yang tidak berkuasa efektif karena wilayah Tiongkok dikuasai oleh raja perang setempat.
     Philipina bangkit melawan penjajah Spanyol. Hindia Belanda adem-ayem terus......... 

SUMBER ARTIKEL:
http://www.hastamitra.net/2010/03/bumi-manusia-novel-pramoedya-yang.html

Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer


 
Harga: Rp.105.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus. cet pertama 2009
Paperback, 504 pages
Berat: 0,43 Kg
Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer
by Koesalah Soebagyo Toer
Published 2009 by Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN139789799101396

Bersama Mas Pram mengungkap sisi-sisi kehidupan Pramoedya Ananta Tour, novelis terbesar Indonesia, yang jarang diketahui umum. Misalnya tentang kehidupan seksualnya, kegigihan kerjanya, pandangannya tentang wanita dan perkawinan, aktivitasnya menjelang 1965, sikapnya tentang Tuhan dan doa, cara dia mendidik adik-adiknya, sampai percakapan-percakapan ketika ditangkap tahun 1965.

Memoar ini adalah buku kedua Koesalah Soebagyo Toer yang memaparkan kehidupan Pramoedya setelah Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali. Ditambah catatan Soesilo Toer, buku ini menyuguhkan inside story kehidupan Sang Novelis yang lebih lengkap sejak masa kecil di Blora hingga meninggal tahun 2006 di Jakarta.

Karya ini akan melengkapi ruang pengetahuan siapa pun yang mengagumi karya-karya Pramoedya.(less)

sumber artikel: http://www.goodreads.com/book/show/6462222-bersama-mas-pram

—

Rabu, 15 Agustus 2012

MEREKA YANG DILUMPUHKAN


 SOLD
MEREKA YANG DILUMPUHKAN
cetakan kedua, Januari 2002
kondisi: BADAN BUKU AGAK SEDIKIT MELENGKUNG
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit Hasta Mitra
Jakarta
1951, cetakan pertama, 2 jilid, Balai Pustaka, Djakarta
1961, cetakan kedua, 2 jilid, Balai Pustaka, Djakarta
1995, In de Fuik, penerjemah Alfred van der Helm, penerbit De Geus, Breda
1995, cetakan pertama, edisi baru dengan EYD, 2 jilid disatukan, Hasta Mitra, Jakarta
2002, cetakan kedua, Januari 2002
xii + 544 hlm; 14.5 x 21 cm
HASTA MITRA 2002


Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 oleh Balai Pustaka, 2 tahun setelah Pram bebas dari penjara Bukit Duri. Pram ditahan Belanda pada tahun 1948 - 1949 karena keterlibatannya dalam tentara republik pada masa akhir perang kemerdekaan, tidak lama setelah Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan Belanda melakukan agresi militernya di Indonesia. Di penjara Bukit Duri inilah buku Mereka Yang Dilumpuhkan (MYD) mulai ditulis, berisi tentang apa yang disebutnya sebagai Manusia Bubu, Manusia Penjara.

Membaca buku ini terasa lebih berat dibanding buku Pram yang lainnya, karena buku ini tidak berisi suatu cerita yang mengalir, melainkan pikiran-pikiran manusia yang ada di dalam penjara. Sehingga membaca buku ini serasa membaca pikiran Pram tentang kebebasan, yang menurut Pram kebebasan adalah segala-galanya. Dengan meminjam istilah Pram: "Kebebasan yang Mahakuasa", tak adalah rasanya sesuatu yang lebih mahakuasa daripada kebebasan.

Buku ini dia bagi menjadi empat bagian. Bagian pertama: Bubu, saat mulai masuk penjara Bukit Duri, dan mulai berkenalan dengan sel, kawan satu sel, kawan sepenjara, komandan penjara, serta sifat manusia-manusia di dalam penjara. Bagian kedua: Antara Laut dan Keringat, saat kerja paksa di Pulau Damar atau Edam, beberapa mil dari pelabuhan Tanjung Priok. Bagian ketiga: Antara Tanah dan Hati, satu bagian khusus tentang pemikiran sahabatnya, Sarpin Danuasmara, mengenai kemerdekaan secara umum, tidak hanya kemerdekaan dari penjara Belanda serta kemerdekaan Indonesia, melainkan juga kemerdekaan atas adat istiadat serta kemerdekaan untuk beribadah. Bagian keempat: Saat-Saat yang Terakhir, yang disebutnya sebagai kebebasan yang mahakuasa.


Kata Pengantar buku ini ditulis oleh Taslim Ali, yang kendati ditulis setengah abad yang lalu, tahun 1951, tapi masih tetap aktual dan tetap valid observasi dan penilaiannya terhadap masyarakat dan manusia-manusianya dalam segala seginya sampai hari ini. Taslim Ali merumuskan tanggapannya tentang watak dan kehendak angkatan baru dalam suatu "Sanjak Liar", sebagai berikut:

Kami telah mual
bau bangkai kata-kata,
memoles bingkai-bingkai tua
dari cermin omong-kosong

Kami mau:
Jantung hidup,
darah merah,
dendang lantang
pukulan nadi
yang menderas napas.
kian deras, hingga balapan
dengan tanggapan
otak dan hati,
otak dan hati sendiri.

Kami benci keindahan kuda pingitan,
yang licin bulunya dan putih,
hidup dari persediaan.

Kami ingin:
Kuda liar di tengah padang,
yang deras melepas mau hatinya,
biar tertarung, biar patah, biar mati,
berani menjuang nasib,
merebut kemujuran
dalam sanggup bangkit kembali,
dengan tenaga sendiri,
untuk turun-naik gunung ..... berlari,
masuk keluar lembah ..... berdiri,
mendesak ke cakrawala
dengan kemauan yang mendidih,
haus baru, lapar baru,
bebas memilih hidup atau mati,
mana suka: Jiwa pelopor.

sumber: http://ykrisnahadi.multiply.com/reviews?&show_interstitial=1&u=%2Freviews

—

Senin, 06 Agustus 2012

Di Tepi Kali Bekasi




TERJUAL BY AZKA TANGERANG SELATAN
Harga: Rp.450rb (blumongkir)
Kondisi: Lumayan, HASTA MITRA 1995- cetak ulang dengan EYD
Tebal: 218 hal
Berart: 0,28 Kg

sumber:elfsi
Di Tepi Kali Bekasi
by Pramoedya Ananta Toer
Lewat novel ini Pramoedya ingin menjungkirkan cara pendang konvensional dalam melihat wacana sejarah revolusi Republik yang selalu menempatkan militer dan para jendralnya sebagai kubu heroik dan pahlawan. Adapun tokoh-tokoh anonim yang tak memiliki aksesibilitas ke penulisan sejarah Istana, tersingkir dan lenyap. Pram berusaha menempatkan
tokoh-tokoh anonim ini sedemikian rupa di tempatnya yang layak.
Farid tokoh biasa yang mungkin hampir tak pernah dikenang disepanjang masa tapi jangan salah Farid turut ambil bagian mungkin melebihi para pahlawan yang disebut – sebutkan. Farid adalah protagonis yang walaupun labil namun memiliki semangat membara untuk membela tanah air, yang mungkin akan sulit ditemukan pada saat sekarang. Meskipun ayahnya satu-satunya kluarga kandung yang ia miliki melarang untuk bertempur tapi semangatnya membara demi tanah air tercinta.

Farid benci akan penjajahan dan NICA. Namun apa boleh buat keadaan memaksa sang Ayah untuk masuk NICA, betapa remuknya hati Farid, namun demi cintanya akan Tanah air dan seluruh penderitaan rakyat Indonesia Farid pun tetap teguh pendiriannya.

Jatuh cinta pada Nany yang indo bertemu dengan sahabat-sahabat tempurnya para prajurit rakyat dengan seluruh kisah pertempuran tempo doeloe, seluruh kisah Farid di tepi kali bekasi membawa hanyut pembaca ke awal tahun kemerdekaan Indonesia, serasa raga ikut berperang mendukung setiap aksi – aksi perjuangan Farid yang tak kenal lelah dan derita, kisah di Tepi Kali Bekasi mengingatkan akan para tokoh biasa yang mungkin hampir tak pernah dikenang disepanjang masa bahkan disebut saja pun dibarisan deretan pahlawan kurasa tidak pernah dikarenakan mereka kaum yang kalah dalam neraca sirkulasi kekuasaan.

Tatkala ia berteriak : Merdeka,mereka balik kembali. Membalas salam nasional dengan meninggikan ibu jarinya. Lucu cara mereka memberi hormat. Ibu jari ditinggikan depan hidung. Kepala mengangguk beberapa senti ke depan, mata bersinar-sinar mulut tersenyum, kaki keduanya direndahkan jadi huruf “O”.

Tatakala mengakhiri buku ini, ingin rasanya diriku berteriakkk.. .”MERRRDEKAAAA” tentunya sambil menirukan gaya huruf “O” nya mereka, khohoho ^_^


Sabtu, 30 Juni 2012

Cerita dari Blora


 TERJUAL BY JAKARTA & BANDUNG

Kondisi: bagus, cet III 2001
tebal: 324 hal
berat:0,46 Kg
Novel-Biografi Cerita dari Blora - Pramudya Ananta Tur

Pengantar oleh H.B. Yasin

Dua puluh sembilan bulan dalam tawanan Belanda bagi Pram adalah masa pengalaman, penderitaan, pemikir­an dan pengkhayalan yang mematangkan dan menyu­bur­kan jiwa. Dari masa inilah berasal sembilan dari sepuluh ce­rita pendeknya yang terkumpul dalam PERCIKAN RE­VOLUSI (Gapu­ra, Jakarta 1950), romannya KELUARGA GE­RILYA (Pemba­ngunan, Jakarta 1950), kedua novelnya PERBURUAN (Balai Pus­taka 1950) dan BLORA yang dimuat dalam kumpulan cerita pendeknya SUBUH (Pembangunan, Jakarta 1950).
Dalam masa ia terasing banyaklah Pram teringat kepada negeri kelahirannya Blora, kepada masa kecilnya dalam ling­kungan keluarga yang besar, kepada ibu, seorang perem­puan yang saleh, penuh pengorbanan dan ketubian kepada suami dan anak, lembut dan pengasih tapi tahu disiplin, kepada ayah yang mempunyai daerah kegiatan yang besar dan kepada adik-adik seorang demi seorang, yang dia sebagai putera tertua merasa bertanggung-jawab terhadap nasib mereka di kemudian hari.
PERBURUAN yang diilhamkan oleh pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar waktu pendudukan Jepang, seluruhnya bermain di kota Blora dengan kali Lusi-nya yang bersejarah. “Sebuah cerita khayal”, Pram menerangkan di bawah kepalanya. Memang banyak Dichtung dalam cerita ini, tapi bebe–rapa tokoh serasa-rasa kita kenali juga dari cerita-cerita Pram yang lain. Lebih jelas tokoh-tokoh itu dalam BLORA, yang juga adalah mimpi seorang tawanan, BLORA yang dalam istilah Freud adalah suatu wensdroom, suatu mimpi yang dimimpikan karena keinginan, demikian besarnya hasrat hendak bertemu dengan orang tua dan adik-adik. Dan mimpi-mimpi karena keinginan ini segera disusul dengan pertemuan dalam Realität yang menghasilkan BUKAN PASAR MALAM (Balai Pustaka, 1950), pertemuan yang menye­dihkan dengan ayah dan adik-adik di negeri kelahiran, enam bulan sesudah lepas dari tawanan.
Dan kesadaran yang meruang akan fananya segala, kesadaran inilah pada hemat saya salah satu pendorong pencipta akan meng­­abdi­kan segala sesuatu. – Manusia lahir dan mati. Apakah peninggalannya? – Hanya kenang-kenangan pada yang tinggal. – Dan untuk berapa lamanya?
Di dalam buku ini Pram menyajikan pula cerita-cerita dari Blora yang hampir semuanya ditulis beberapa bulan sesudah ia merdeka dari tawanan. Blora, daerah kapur yang miskin, di mana seorang sebelum bisa hidup dengan segobang sehari, penghasil­an seorang buruh tani kecil 11/2 sen sehari dan dengan gaji beberapa rupiah sebulan orang berani hidup berkeluarga dalam segala kemiskinan. Di mana ada orang yang karena kemiskinan mau menyewakan diri untuk men­cabut nyawa orang lain de­ngan persenan sepuluh rupiah atau jadi pembegal di hutan jati. Di mana anak pe­rem­­puan dika­winkan pada umur enam tahun de­ngan maksud meringankan beban orang tua dan di mana tidak jarang perem­puan men­jualkan diri untuk mencari nafkah hidupnya. Dan dalam melukiskan kebodohan, kepicikan dan kelemah­an orang-o­rang ini, Pram selalu menunjukkan rasa kasihan, meskipun di sana-sini terasa pula kepahitan yang membikin dia kadang-kadang menjadi kasar.
Menarik hati tokoh ayah yang dilukiskan oleh Pram dalam KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dan DIA YANG MENYERAH, yang kita temui pula dalam BUKAN PASAR MALAM. Ayah yang hidupnya intens. Kepala sekolah partikelir yang didirikan dalam perang dunia pertama, yang memberikan segala tenaganya dalam tahun-tahun tiga puluhan kepada gerakan kebangsaan, gerakan kepanduan dan mendirikan koperasi dan bank rakyat di sam­ping jadi guru partikelir giat pula memberikan kursus politik, eko­nomi dan pengetahuan umum di rumahnya sendiri. Dan ayah inilah pula yang menjadi penjudi yang tahan empat hari empat malam tidak beralih dari tempat duduknya mencari hiburan karena usaha-usahanya digagalkan oleh pemerintah kolonial: sekolah dibikin lumpuh, buku-buku pelajaran disita, guru-guru dilarang mengajar, anak-anak pegawai gubernemen dilarang
Pramoedya - Cerita dari Blora
sekolah di perguruan partikelir, bank rakyat dirintangi bekerja. Seorang nasionalis tulen yang kecewa di waktu Jepang dan di waktu revolusi tetap setia kepada pemerintah Republik tatkala Blora beberapa waktu diduduki oleh pasukan merah dengan terornya yang dahsyat. Dibandingkan dengan perhati­an­­nya terhadap tokoh ayah ini, Pram agak sedikit menyoroti tokoh ibu yang lebih dulu meninggal dari ayah, meskipun dia dengan hormat memper­ingatinya sebagai seorang ibu yang bijaksana, lembut tapi keras pada waktunya, tahu harga diri, halus perasaan, membimbing, penuh kasih-sayang dan sabar terhadap anak-anaknya.
Dalam semua cerita Pram terasa-rasa kekeluargaan yang erat antara pelakon-pelakon. Seorang demi seorang kita bisa dapati kembali tokoh-tokoh ayah, ibu, gadis-gadis yang keibuan dalam keluarga, anak-anak lelaki, masing-masing dengan rasa tang­gung-jawab yang besar. Dan sebagai suatu keluarga guru yang ingin maju, kita selalu mendapati pikiran: belajarlah baik-baik untuk kebaikan hari kemudianmu. Seringkali Dichtung menye­lubungi Realität dengan tebalnya, sebagai pernyataan jiwa yang kepenuhan. Ini misalnya keras sekali dalam novel KELUARGA GERILYA dalam mana reali­tas kadang-kadang dilangkahi dan idé menguasai suasana.
Dalam tujuh cerita pendek yang pertama dalam kumpulan ini Pram melukiskan masyarakat waktu zaman kolonial dan mes­kipun tidak sekali juga menyebutkan angka-angka tahun, kita dapat juga menangkap perkembangan kesejarahan dalam hidup pergerakan dan kemajuan masyarakat sebelum perang dunia kedua. Misalnya dalam cerita KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dengan jelas terbayang perjuangan kaum nasionalis Indonesia di lapangan sosial dan pengajaran menghadapi pemerintah kolonial. Terutama gugatan sosial yang lahir dari perasaan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuat­an Pram yang istimewa. Gugat­an terhadap kemiskin­an, kebodohan, pergundikan dan pelacuran karena kemiskinan. Dan keadilan dan kemanusia­an itu baginya lebih penting dari segala-gala. Juga dari bentukan-bentukan dan dogma-dogma ideologi. Seorang Karmin yang berkhianat karena kekhilafan dan dengan tidak disadarinya seperti diceri­takan dalam PERBURUAN oleh Pram masih diberi ampun dan ke­sempat­an untuk memperbaiki diri dan dia dengan tegas menuntut kebahagiaan hidup dan keadilan juga bagi ANAK HARAM yang dikutuki masyarakat karena ayahnya berkhianat ber­tahun-tahun malah berpuluh tahun yang lalu dalam perjuang­an. Bagi Pram kutukan “tujuh turunan” adalah perbuatan yang tolol, sebab diukur dengan akal budi apakah hak manusia untuk meng­hukum makhluk yang tidak bersalah?
Pram tidak memberatkan simpatinya kepada sesuatu isme ke­cuali kepada humanitas. Dalam DIA YANG MENYERAH hidup sekali Pram melukiskan jiwa revolusioner pemuda merah, kom­plit dengan istilah-istilah feodal, borjuis, kapitalis, impe­rialis dsb. Sangat realistis lukisan-lukisannya tentang kekejaman-kekejaman yang mendirikan bulu roma dari kedua belah pihak, tapi pikiran kemanusiaan yang lebih agung muncul pada gadis Diah yang menangisi kejadian-kejadian yang melanggar peri-kemanusiaan. Dan di sini Pram melukiskan tragik tiap perjuangan: Ayah, nasionalis tulen yang anti komunis. Pasukan merah yang anti nasio­nalis karena mereka ini pro pemerintah nasional yang dianggap mereka pula kaki tangan imperialis-kapitalis Amerika. Datang pula Sucipto dari tentara Kerajaan dengan istilah-istilahnya pula mencap perampok orang-o­rang nasionalis dan ko­munis. Dan semua mereka ini bertujuan dan berkeyakinan memba­wa keselamatan dan kesejahteraan dan untuk itu berbunuh-bu­nuhan.
Banyak anasir-anasir pengalaman dan kenangan oto­biografis dalam cerita-cerita ini, tapi soal-soalnya cukup diperumum de­ngan warna-belakang kesejarahan dan kema­syarakatan yang luas.

Jakarta, 13 Januari 1952*

________
* Pengantar oleh H.B. Yasin ini terdapat dalam buku cetakan pertama 1952.
Hanya ejaan disesuaikan dengan EYD, isinya sepenuhnya tetap sama – ed.


PERBURUAN


TERJUAL BY JOGJA
Harga: Rp.150.000 Pas net. (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS. CETAK ulang KE IV HASTA MITRA JANUARI 2002
TEBAL: 163 HAL.
BERAT: 0,25 Kg
Menulis baginya bukan sekadar mengetik dan menggerakkan imajinasi. Jauh lebih serius daripada itu, bagi Pramoedya menulis sudah seakan menjadi religi. Memang justru lewat Perburuan inilah, Pramoedya mengakui mengalami untuk pertama kali penghayatan gaib dalam karier sebagai seorang pengarang. Itulah pengalaman mistisnya yang pertama, tetapi kemudian penghayatan itu menunggal mendarah daging dengan seluruh jiwa dan raga, dengan sikap dan semangatnya pada tap kali ia menulis buku-bukunya yang sesudah itu menyusul. Dia hidup untuk menulis, dan menulis untuk hidup. Mengertilah kita sekarang bahwa orang yang sadar merasa dirahmati amanat Ilahi seperti itu tidak bisa ditahan untuk menulis -- apa pun yang terjadi baginya: menulis jalan terus, sebagaimana kebutuhan kita semua untuk bernafas. Ilmuwan dan kritikus sastra Indonesia A. Teeuw menulis dalam 'Pramoedya Ananta Toer -- De Verbeelding van Indonesie', bahwa "... bagi Pramoedya menulis adalah berjuang untuk kemanusiaan suatu kemampuan memandang ke dalam nilai-nilai eksistensi kehidupan (dan ini mengatasi segala ideologi nasional atau politik!)..." Sewaktu Pramoedya masih di Pulau Buru, Prof. Teeuw juga menulis (1979): "... kendati apa pun dikatakannya mengenainya, Pramoedya tetap merupakan penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad...."
Menyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1994, Hasta Mitra menerbitkan kembali karya klasik Pramoedya Ananta Toer ini, sebuah novel yang telah mengantarkannya langsung tegak berdampingan dengan para penulis dunia, bukan hanya karena kisah Perburuan kebetulan erat kaitannya dengan hari bersejarah itu, terutama karena kita merasa kali ini kita merayakan Hari Kemerdekaan dalam suasana keterbukaan yang lebih balik, lebih maju dan lebih nyaman. Iya 'kan?
Keterbukaan bukan sekadar ada kaitannya dengan kebebasan dan kelonggaran-kelonggaran tertentu; lebih daripada itu keterbukaan adalah suatu kondisi sosial -- suatu state of mind. Menerapkan dan memberlakukan keterbukaan dalam masyarakat sangat erat berkait dengan kelahiran produk-produk sosial baru, kelahiran rasio dan paradigma baru, wawasan baru yang rasional dan sehat; meninggalkan segala ketertutupan dan ketidak-dewasaan yang tidak sehat.
Semoga sidang pembaca dapat ikut menikmati persembahan Hasta Mitra ini: sebuah mutiara paling cemerlang, di saat kita sama-sama merayakan Hari Besar Kemerdekaan Nasional kita.
Joesoef Isak, ed.
Jakarta, 17 Agustus 1994

AROK DEDES


 TERJUAL
Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS. CETAK KE III HASTA MITRA MARET 2000
TEBAL: 418 HAL.
BERAT: 0,60 Kg
AROK DEDES adalah novel-sejarah yang seperti juga tetralogi “Bumi Manusia” ditulis Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru. Kesulitan dana akibat bertubi-tubi diberangus oleh kekuasaan represif rejim Orde Baru menyebabkan “Arok Dedes” ini baru sekarang dapat kami terbitkan. Masih ada tulisan pen­ting lain ditulis Pramoedya di Buru yang kami harapkan bisa menyu­sul terbit dalam waktu dekat, yaitu satu-satunya karya dalam bentuk drama/sandiwara berjudul “Mangir”. Sebenar­nya masih ada satu karya besar lagi yang berbobot setara dengan “Arus Balik” dan “Arok Dedes”, tetapi sangat disesalkan karya besar itu sirna, sudah tidak tentu lagi rimbanya ke mana.
“Mata Pusaran”, demikian judul novel-sejarah yang hilang itu, berkisah tentang awalnya disintegrasi kekuasaan Majapahit oleh konflik intern yang mencetuskan perang paregreg antara Ratu Suhita dengan panglima perempuannya Ni Paksini/Ni Ken Supraba melawan Bhre Wirabhumi dari Lumajang.
Naskah utuh yang sebenarnya sudah rampung itu pernah dititipkan oleh penulis pada seorang perwira angkatan laut pada saat mening­galkan pulau Buru, tetapi disita oleh penguasa de­ngan cara dan praktek-praktek kebiasaan Orde Baru: tanpa kejelas­an otoritas dan proses penyitaan sehingga tidak memung­kinkan mengclaimnya kembali atau bahkan mengusut keber­adaannya. Juga tidak ada jaminan sama sekali naskah sitaan itu tersimpan dan terpelihara baik terhadap berbagai kemungkin­an kemusnahan. Kekhawatiran ini ter­nyata ber­alasan sekali. Se­orang ilmuwan Belanda yang rajin mencari literatur di pasar buku tua di Pasar Senen Jakarta secara mengherankan sekali menemukan naskah “Mata Pusaran” itu. Apa yang dia temukan masih dalam format ketik-ketikan setengah folio yang sudah difotokopi, namun sa­ngat disayangkan tidak lengkap, tidak utuh.
Orang Belanda itu yang menyadari betapa berharganya pene­muannya itu telah menyerahkan apa yang tersisa dari “Mata Pusar­an” itu kepada redaksi Hasta Mitra. Dalam hubungan itu kami di sini ingin mengimbau semua pihak agar juga melakukan hal yang sama bila kebetulan dapat menemukan naskah tersebut, dalam keadaan utuh atau pun sepotong-sepotong. Pramoedya dengan sangat kecewa mengatakan bahwa usia dan kesehatannya sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk menulis ­ulang novel tsb. Oleh karena itu, dari lembaran-lembar­an tersisa yang mung­kin masih dapat dilacak kembali, redaksi – dengan bantuan pembaca – berniat sedapatnya menghimpun dan merampungkan kembali no­vel itu agar menjadi naskah utuh untuk dapat dibaca oleh segenap peminat karya-karya Pramoedya.

Kembali mengenai buku “Arok Dedes”, mungkin menarik untuk dicatat di sini bahwa novel ini ditulis oleh Pramoedya seper­empat abad yang lalu dalam status sebagai tahanan di Buru pada saat kekuasaan rejim Suharto sedang sejaya-jayanya. Ciri yang khas dari kepujanggaan Pramoedya adalah bahwa dia de­ngan caranya sendiri sebagai sastrawan berkomunikasi dan mencoba menjelaskan kepada bangsa Indonesia, terutama generasi muda­nya, tentang mengapa nasib Indonesia menjadi belingsat seperti sekarang ini. Untuk itu dia tetap menggunakan media bahasa yang menjadi ciri kekuatannya dengan tetap berkukuh berada di wilayah sastra – lepas dari slogan, propaganda dan jargon politik – meski kisah yang dia bawa sarat muatan politiknya. Dan lahan serta bahan ramuan yang dipakai untuk berkomunikasi adalah panggung sejarah Nusantara kita sendiri.
Pramoedya pernah mengatakan bahwa kudeta pertama yang terjadi dalam sejarah Nusantara kita adalah ketika Ken Arok tampil merebut kekuasaan Tumapel. Kisah “Arok Dedes” ini merawikan peristiwa kudeta pertama dalam sejarah Nusantara kita itu. Kudeta atau coup d’etat ada­lah pengertian modern tentang pe­rebut­an kekuasaan negara, namun dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara perebutan kekuasaan negara seperti itu sudah pernah terjadi pada awal abad 13. Tetapi kudeta di abad 13 itu berlangsung khas dan unik. Pramoedya yang kenal betul kebudayaan Jawa sampai ke tulang sumsum membeberkan bagaimana de­ngan kelihaian yang canggih Arok berhasil menjadi Akuwu Tumapel menying­kirkan Tunggul Ametung. De­ngan dukung­an kelompok agama di Jawa – dalam hal ini tokoh pendeta Syiwa – Ken Arok berhasil bertengger di puncak kekuasaan lewat “kudeta à la feodal Jawa”, licik munafik, tidak terbuka, lempar batu sembunyi tangan.
Tidak terlalu mengherankan bila para pembaca setelah meng­ikuti kisah “Arok Dedes” Pramoedya – walau tidak disuruh – asosiasi mereka dengan sendirinya segera pindah dari abad 13 langsung ke abad 20 di tahun 1965-an. Sampai hari ini pun belum selesai orang mengkaji apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965 itu. Bagai­mana bisa ter­jadi “peralihan kekuasaan” dari Presi­den Soekarno ke Suharto? Bagaimana orang yang mengkup kekuasaan justru berhasil melempar tuduhan kup itu kepada pihak-pihak lain sampai yang difitnah menjadi korban kesengsaraan dan penderitaan – bagai­mana orang yang memberi informasi tentang bakal terjadi­nya kup, malah ditangkap dan dipendam lebih tigapuluh tahun dalam penjara?
Nalar ilmu mengatakan bahwa sejarah tidak mungkin ber­ulang. Itu betul sekali, akan tetapi dari sejarah itu jugalah akan bisa kita baca berbagai gejala kemiripan masakini dan masa lampau. Cukup banyak terdapat analogi yang dapat memperkaya wawasan budaya dan politik kita untuk me­ngenali diri kita sendiri – ­membaca hari ini dan masa depan lewat pelajaran hal-ihwal yang diwarisi masa lampau, lewat sejarah yang menjadi asset kaya bagi mereka yang mau belajar dan menarik manfaat dari ber­bagai pengalam­an yang telah terjadi.
Kurang-lebih 25 tahun yang lalu dalam keadaan terkucil di pulau pembuangan Buru, lahirlah kisah AROK DEDES Pramoedya ini. Dengan media sastra dan berpaling ke sejarah kita sendiri, Pramoedya berkisah dan me­nyampaikan pesan kepada bangsa dan generasi mudanya menge­nai keberadaan kehidupan dalam era rejim Orde Baru yang sedang dijalani Indonesia.
Demikianlah catatan pendek tentang “Arok Dedes” sebelum kami menutup pengantar ini dengan satu catatan yang mungkin menarik untuk tidak dilewatkan.

“Arok Dedes” adalah karya Buru Pramoedya Ananta Toer terbit­an Hasta Mitra yang pertama kali diterbitkan setelah Suharto lengser bulan Mei 1998 tahun lalu. Dalam “era reformasi” dan suasana euforia atas kejatuhan militerisme Orde Baru dan lahirnya “kebebasan pers”, patut dicatat di sini bahwa sampai kata pengan­tar penerbit ini naik ke percetakan, tidak pernah larangan atas buku-buku Pramoedya oleh Kejaksaan Agung itu dicabut. Pramoedya sebagai penulis dan kami sebagai editor/penerbit, memang tidak terlalu meng­andalkan keputusan resmi seperti itu. Pencabutan larangan terbit sebenarnya merupakan suatu langkah untuk kepentingan citra Pemerintah sendiri. Bagi kami, ada atau tidak ada pencabutan larang­an buku-buku yang dibrei­del, kami akan tetap jalan terus seperti biasa selama syarat-­­­syarat beaya cetak masih mampu kami penuhi. Menerbitkan buku adalah kerja politik untuk menegakkan apa yang menjadi hak paling sah dari setiap individu.
Bukankah semua buku-buku Pramoedya ­– terutama karya-karya Pulau Buru – justru diterbitkan semasa Suharto masih sekuasa-­kuasanya? Tidak kami tunggu kebaikan hati para pe­nguasa militer, kejaksaan, kepolisian dan birokrasi sampai mereka menghadiahi kami kebebasan bersuara, kebebasan untuk mener­bitkan buku-buku yang kami ingini. Dalam kenyataan bukan kebebasan atau kelonggaran, sebaliknya rejim Suharto tak henti-hentinya memberangus Pramoedya dan Hasta Mitra, tetapi Pramoedya dan Hasta Mitra pun tak henti-hentinya bangkit lagi setiap kali setelah digebuk. Secara ekonomis kami memang babak-belur, tetapi secara politik kami tidak pernah tertaklukkan. Tekad untuk tetap terbit semasa rejim represif Orde Baru adalah bentuk sumbang­an Pramoedya dan Hasta Mitra untuk ikut menegakkan demokrasi, karena kami sadar bahwa kebebasan dan hak-hak azasi kami di jaman Orde Baru adalah sesuatu yang harus kami rebut dan tegakkan sendiri, bukan sesuatu yang bisa diharapkan bakal dihadiahi oleh Suharto atau seorang Habibie.

Akhirnya ingin kami sampaikan di sini tentang kepergian untuk selama-lamanya se­­orang rekan dan salah seorang dari tiga pendiri Hasta Mitra pada bulan Juni yang lalu, bung Hasyim Rachman, pada saat Pramoedya sedang bersafari selama tiga bulan di Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Prancis dan Jerman. Bung Hasyim Rachman adalah seorang wartawan yang seperti juga Pramoedya dipenjarakan oleh rejim Suharto selama 14 tahun, sepuluh tahun di antaranya di Pulau Buru. Selepas Buru dia de­ngan caranya sendiri sejak hampir 20 tahun yang lalu telah ikut mempelopori pertarungan panjang melawan kekerasan rejim Orde Baru. Dia ikut aktif menegakkan demokrasi lewat usaha penerbitan buku, jadi sudah sejak lama dia bekerja sebelum gerak­an era reformasi pemuda/mahasiswa mulai bangkit untuk me­num­bangkan jendral Suharto pada 1998 tahun yang lalu.
Apa yang dapat kami lakukan bagi rekan yang sudah pergi le­bih dulu, tidak lain adalah ketetapan hati untuk meneruskan segala yang positif yang pernah dia kerjakan – yaitu meneruskan penerbitan buku-buku bermutu – dalam hal ini sekurang-kurangnya menyelenggarakan program penerbitan ulang karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terutama buku-buku yang dilarang semasa rejim Orde Baru.
Joesoef Isak, ed.


ARUS BALIK


 TERJUAL BY JAKARTA
Harga: Rp.800 rb (blum ongkir)
Kondisi: Bagus, soft cover
HASTA MITRA CETAKAN KE V 2002
Tebal: Kata pengantar ixiii hal + Isi 760 halaman
BERAT: 0,95 kG

Karya Pulau Buru

Arus Balik -- Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara sebagai kekuatan dan kesatuan maritim pada awal abad 16.

Lembaga Magsaysay :
Pramoedya Ananta Toer
"... menerangi dengan kisah-kisah cemerlangnya kebangkitan kesadaran dan pengalaman modern rakyat Indonesia."

Semasa jayanya Majapahit, Nusantara merupakan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari selatan ke utara, segalanya: kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan ke 'Atas Angin' di utara. Tetapi zaman berubah...
Arus berbalik -- bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara... Perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya.
Wiranggaleng -- pemuda desa sederhana, menjadi tokoh protagonis dalam epos kepahlawan yang maha dahsyat ini. Dia bertarung sampai ke pusat kekuatan Portugis di Malaka, memberi segala-galanya -- walau hanya secauk pasir sekalipun -- untuk membendung arus utara.
Masih dapatkah arus balik membalik lagi?

Karya Pramoedya Ananta Toer
sebuah epos besar
dari seorang penulis besar.
ISBN 979-8659-04-X
Hasta Mitra bangga mempersembahkan epos besar Pramoedya Ananta Toer ini pada Rakyat dan Tanah Air Indonesia untuk ikut merayakan setengah abad Indonesia Merdeka. Di samping itu kita bergembira bersama para pencinta sastra dan pengagung kebebasan menulis di mana pun di dunia berkenaan dengan dua penghargaan terhormat yang diterima oleh Pramoedya hampir bersamaan waktu sebagai pengarang Indonesia, pertama : Ramon Magsaysay Award 1995 dari Filipina, kedua : Wertheim Award 1995 dari Belanda.
Arus Balik adalah bagian dari suatu proyek besar studi sejarah Nusantara yang dilakukan Pramoedya sebelum ditahan pada 1965. Terpaksa diamenulis hasil risetnya semasa tahanannya di Pulau Buru (1969-1979) tanpa membawa sebaris pun catatannya. Yang dihasilkan bukanlah sebuah thesis sejarah, tetapi novel sejarah sebagaimana juga halnya dengan sejarah gerakan kebangkitan kebangsaan Indonesia yang dituangkannya dalam bentuk novel tetralogi Bumi Manusia, bukan kertas ilmiah.

SUMBER ARTIKEL: http://www.hastamitra.net/2010/05/karya-pulau-buru-arus-balik-sebuah-epos.html

Jumat, 01 Juni 2012

IBUNDA, TERJUAL BY JAKSEL





 TERJUAL BY JAKSEL
HARGA: Rp. 600.000 (belum termasuk ongkos kirim)
KONDISI: LUMAYAN
BERAT: 0,32 Kg
TEBAL: 399 Halaman
KARJA UTAMA: MAXIM GORKY
IBUNDA
TERDJEMAHAN: PRAMOEDYA ANANTA TOER
JAJASAN "PEMBAHARUAN"
DJAKARTA 1956
TITLE ASLI: MATJ
ILUSTRASI: KUKRINIKSI
RENTJANA KULIT: BASUKI RESOBOWO
BUKU PERTAMA

Pramoedya Ananta Toer sebagai Kurir Sastra Dunia

Oleh Anton Kurnia

De plicht van een mens is mens te zijn—
Tugas manusia adalah menjadi manusia.
Multatuli)

Bisa jadi banyak karya para sastrawan dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita jika tak ada para penerjemah yang rela bersusah payah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar.

Pushkin, sastrawan ternama Rusia itu, suatu kali mengibaratkan para penerjemah sebagai “kurir sastra.” Pujian paling tinggi untuk para penerjemah mungkin diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Sastra 1998 dari Portugal yang juga seorang penerjemah produktif, José Saramago. Bekas anggota Partai Komunis Portugal yang kerap berurusan dengan penguasa ini mengatakan bahwa para pengarang hanyalah menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah. Karya terjemahan adalah jembatan untuk menggali khazanah sastra dunia dan memahami budaya bangsa lain tanpa terhalang perbedaan bahasa.

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sastrawan paling terkemuka kita yang dikenal luas dunia dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa asing, di awal karirnya juga merupakan seorang penerjemah andal yang amat produktif.

Memanfaatkan sejumlah bahasa asing yang dikuasainya, antara lain bahasa Belanda dan Inggris, pada sekitar tahun 1950-an ia banyak menerjemahkan berbagai karya sastra dunia, di antaranya Tikus dan Manusia (novel John Steinbeck, 1950), Kembali pada Cinta Kasihmu (novel Leo Tolstoy, 1950), Perjalanan Ziarah yang Aneh (novel Leo Tolstoy, 1954), Kisah Seorang Prajurit Sovyet (novel Mikhail Sholokov, 1954), Ibunda (novel Maxim Gorky, 1956), Asmara dari Rusia (novel Alexander Kuprin, 1959), Manusia Sejati (novel Boris Polewoi, 1959) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji).
Sekitar setengah abad kemudian, beberapa karya terjemahan Pramoedya itu diterbitkan kembali. Ibunda (Maxim Gorky) diterbitkan ulang oleh Kalyanamitra pada 2000, sedangkan Tikus dan Manusia (John Steinbeck), Kembali pada Cinta Kasihmu (Leo Tolstoy) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji) diterbitkan kembali pada 2003 oleh penerbit yang didirikan oleh Pramoedya sendiri, Lentera Dipantara.

Dalm sebuah tulisan tentang proses kreatifnya, Pramoedya mengaku mula pertama menerjemahkan adalah saat ia ditawan Belanda antara tahun 1947-1949 di penjara Bukitduri, Jatinegara. Pramoedya yang pernah menjadi letnan TNI pada masa revolusi dipenjarakan gara-gara kedapatan membawa pamflet perlawanan terhadap aksi militer Belanda.

Saat itu usianya masih muda sekali, di awal likuran. Untuk mengisi waktu, di tengah segala keterbatasan seorang “manusia bubu”, ia belajar menulis dengan cara menerjemahkan karya penulis Amerika Serikat peraih Hadiah Nobel Sastra 1962, John Steinbeck, Of Mice and Men (1937), langsung dari edisi bahasa Inggrisnya yang berhasil ia bawa serta dalam tahanan.

Seperti halnya Pramoedya, John Steinbeck (1902-1968) dikenal dunia sebagai seorang pengarang humanis yang setia mengungkap persoalan-persoalan getir manusia dalam karya-karyanya.

Dalam novel pendek Of Mice and Men yang diterjemahkan Pramoedya menjadi Tikus dan Manusia, John Steinbeck berkisah tentang persahabatan dua manusia gembel: George dan Lennie—sesosok lelaki bertubuh raksasa, tetapi dengan kapasitas otak seorang bocah.

Layaknya manusia-manusia lain yang terserak di muka bumi dengan kesunyian masing-masing, mereka pun punya mimpi tentang masa depan yang indah. Jalan hidup membawa keduanya mengadu nasib di sebuah peternakan. Namun, malang tak dapat ditolak, di sana mereka menemui bencana: Lennie tanpa sengaja membunuh istri majikannya, seorang bekas pelacur yang bertabiat genit. Angan-angan dan rencana masa depan seorang anak manusia pun porak-poranda oleh sebab-sebab yang terjadi di luar kontrolnya.

Saat menerjemahkan novel itu, Pramoedya sekaligus mempelajari dan mencerna teknik penulisan Steinbeck, untuk kemudian ia gunakan bagi perkembangan kemampuan menulisnya sendiri. Pramoedya mengakui secara terbuka bahwa ia banyak belajar dari John Steinbeck dengan cara ini. “Teknik yang dihadiahkan Steinbeck padaku tampaknya akan menjadi milik tetap… Steinbeck menderetkan kata-kata sederhana bermuatan padat, kalimat-kalimat apik dan utuh,” tulisnya suatu kali.

Novel Ibunda karya Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka Rusia pengobar realisme sosialis, diterjemahkan Pramoedya dari edisi bahasa Belanda, Maatje, tak berapa lama setelah ia menikah untuk kedua kali, dengan Maemunah Thamrin—istri yang setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Novel ini dikenal sebagai adikarya dalam genre realisme sosialis dan pada masanya sempat menjadi pengobar semangat kaum buruh tertindas di Rusia untuk ambil bagian dalam revolusi pada akhir masa kekuasaan Tsar di awal abad kedua puluh. Pramoedya mengagumi Maxim Gorky dan banyak belajar dari karya-karyanya.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan André Vltchek dan Rossie Indira yang diterbitkan dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian! (2006), Pramoedya kembali mengakui pengaruh John Steinbeck dan Maxim Gorky terhadap karya-karyanya. Bukan kebetulan ia menerjemahkan novel-novel terkemuka karya kedua sastrawan besar dunia itu.

Lebih lanjut ia mengemukakan alasannya, “Saya suka realisme sosialis, karena itu suatu realisme yang berhubungan dengan masalah tanggung jawab sosial.” Pada sebuah kesempatan, Pramoedya pernah menulis bahwa baginya keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Sementara itu, Dewi Uban merupakan lakon karya dua pengarang Cina, He Tjing-Ce dan Ting Ji. Lakon ini mengisahkan sebuah perlawanan kolektif terhadap penindasan, sebuah kisah yang konon diangkat dari kejadian faktual-historis yang kemudian menjadi setengah legenda di daratan Cina. Lewat kisah Dewi Uban, para penindas, kaum kapitalis tamak yang suka menipu, para pencoleng tak tahu malu yang menimbun kekayaan dari keringat dan kerja keras orang lain, ditelanjangi dan dihinakan.

Sebaliknya, mereka yang berani melawan dan setia menegakkan kebenaran pada akhirnya akan menemui kemuliaan. Karya ini mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan bahwa penindasan dan kebohongan tak akan mampu menghancurkan kebenaran. Bahwa kejahatan dan kebusukan pada akhirnya akan terbongkar dan menemui kehancurannya sendiri. Di tangan Pramoedya, kisah ini diterjemahkan dengan penuh penghayatan sehingga menggerakkan perasaan dan kehendak pembacanya untuk melawan angkara dan penindasan.

Karya-karya sastra utama dunia yang diterjemahkan Pramoedya bagi anak-anak bangsanya itu mencerminkan sikap dan keyakinannya dalam menulis. “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan,” ujarnya suatu kali.

Sumbangan Pramoedya Ananta Toer bagi anak-anak bangsanya melalui harta karun sastra dunia yang ia terjemahkan dengan tekun amat besar manfaat dan maknanya. Melalui karya-karya terjemahan itu kita bisa belajar dan menarik manfaat dari adikarya para sastrawan terkemuka dunia.

Karya-karya beberapa penulis itu hingga kini—saat gairah menerbitkan buku dan menerjemahkan sastra dunia marak kembali—tak ada lagi yang menggarapnya, misalnya karya-karya Mikhail Sholokov (1905-1984), pemenang Hadiah Nobel Sastra 1965 dari Uni Soviet. Untuk itu, penting artinya menerbitkan kembali karya-karya terjemahan Pramoedya di masa lalu agar bisa dibaca oleh generasi terkini tanpa terhalang oleh kendala bahasa dan sekat waktu.

Saya pribadi menemukan karya terjemahan Pramoedya untuk pertama kali secara tak sengaja di sebuah toko buku kecil di kawasan Palasari, Bandung, milik Pak Panjang (disebut demikian karena ia berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat) pada sekitar 1996.
>
Saat itu, di zaman yang masih penuh kekangan dan larangan, saya tengah mencari-cari otobiografi Tan Malaka yang sulit didapat, Dari Penjara ke Penjara. Tak dinyana Pak Panjang malah menawari saya sebuah buku agak tebal bersampul merah dengan halaman-halaman kertas yang telah agak menguning. Ibunda cetakan awal. Ditulis oleh Maxim Gorky, diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer. Desainnya dikerjakan pelukis Lekra, Basuki Resobowo. Tanpa banyak pikir saya membeli buku itu dengan harga sepuluh ribu perak. Buku itu kemudian laris berpindah dari tangan ke tangan di antara teman-teman sesama aktivis mahasiswa, mengembara dari satu kamar kos ke kamar kos lain di sebuah asrama mahasiswa di kawasan Cisitu, Bandung. Beberapa kawan mengaku tergerak semangatnya dan tergugah kesadarannya oleh buku itu, termasuk beberapa orang yang sebelumnya hanya sibuk berkutat dengan buku-buku diktat dan laboratorium demi mengejar titel.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kita, seorang pejuang gigih yang amat peduli pada bangsanya, telah pergi meninggalkan pusaka yang tak ternilai: buah pikiran dan karya-karyanya, termasuk karya-karya terjemahan. Selebihnya, berpulang pada kita untuk memaknai dan meneruskan perjuangannya, terutama kita angkatan muda—mereka yang selalu diharapkan Pramoedya sebagai pelopor perubahan, aktor revolusi total yang disebutnya sebagai jalan tunggal untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Senada dengan sepotong sajak Chairil Anwar, penyair cemerlang yang seperti Pramoedya kini juga berumah di Karet, “Kami sekarang mayat. Berilah kami arti. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian….”

* Anton Kurnia, penyunting tiga buku terjemahan Pramoedya Ananta Toer. Saat ini mengampuh buku-buku sastra di Penerbit Serambi Jakarta.










Kamis, 31 Mei 2012

CERITA DARI DIGUL

TERJUAL
Harga: Rp.90.000 (blum ongkir)
Kondisi: LUMAYAN bagus. cet 3 April 2004. Penyunting: PAT
BERAT: 0,39 KG


























Penyunting : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Kepustakaan popular Gramedia
Cetakan : Cetakan Pertama, 2001
Tebal : 314 Halaman


Novel Cerita dari Digul merupakan kumpulan dari lima karya tulis dari para Eks-Digulis. Kelima karya tulis tersebut adalah ;
1. “ Rustam Digulist “ karya D.E Manu Turoe
2. “ Darah dan Air Mata di Boven Digul “ karya Oen Bo Tik
3. “ Pandu Anak Buangan “ karya Abdoe’l Xarim M.s
4. “ Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul “ karya Wiranta
5. “ Minggat dari Digul ” karya Tanpa Nama

Ada sedikit hambatan yang lumayan menggangguku dalam menyelesaikan pembacaan novel ini. Hambatan utamanya adalah gaya bahasa karena masing-masing penulis kurasa menggunakan gaya bahasa melayu yang berbeda-beda jadi harus ekstra hati-hati membacanya supaya bisa menyambung cerita dan mendapatkan esensi ceritanya.

Dari kelima karya sastra itu yang membuatku terkesan adalah tulisan Abdoe’l Xarim M.s yang berjudul “ Pandu Anak Buangan “. Tema romans-psikologi yang diangkat oleh pengarangnya membuatku berkaca-kaca setelah membacanya, sangat menyentuh tentang hakikat cinta. Keempat karya lainnya juga bagus apalagi ketika menceritakan proses melarikan diri dari Digul. Banyak pengetahuan yang didapat mengenai situasi dan kondisi di pedalaman Digul dizaman itu beserta budaya pribumi setempat yang dikenal dengan suku kaya-kaya. Sayangnya pada karya terakhir yang berjudul “ Minggat dari Digul “ ceritanya belum tuntas karena Pak Pram sendiri kehilangan jejaknya.

Terima kasih buat Pramoedya Ananta Toer yang telah bersusah payah mengumpulkan dan menyunting tulisan-tulisan eks digulis hingga bisa menghadirkan bacaan bermutu yang hampir saja terselip zaman.


~* Rienz *~
SUMBER ARTIKEL: http://q-rienz.blogspot.com/2010/05/cerita-dari-digul.html

Rabu, 30 Mei 2012

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels



HARGA: Rp.37.500 (blum ongkir)
kondisi: segel plastik


Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : I, Oktober 2005
Tebal : 145 hal
ISBN : 979-97312-8-3


Jalan Raya Pos, Jalan Daendels adalah buku karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit pada Oktober 2005.
Buku ini mengisi kekosongan literatur tentang Jalan Raya Pos dalam khazanah buku-buku berlatar belakang sejarah dewasa ini. Walau Jalan Raya Pos dikenal dan selalu diajarkan di bangku-bangku sekolah namun tak ada buku yang secara khusus mengungkap sejarah pembuatan dan sisi-sisi kelam di balik pembuatan Jalan Raya Pos. Walau bukan buku sejarah resmi, buku yang ditulis Pram pada masa tuanya ini (1995) dapat dijadikan buku yang mengungkap dan memberi kesaksian tentang peristiwa kemanusiaan yang mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos.
"Jalan Raya Pos, Jalan Daendels" diselesaikan oleh Pramoedya pada tahun 1995. Tak ada penjelasan dari penerbit Lentera Dipantara mengapa buku ini baru diterbitkan 10 tahun kemudian, padahal beberapa tahun setelah karya ini diselesaikan era reformasi memungkinkan diterbitkannya karya-karya Pram secara bebas. Betapapun juga, buku ini merupakan kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan mengerikan di balik pembangunan jalan sepanjang 1000 km yang dibangun dengan cucuran darah dan air mata manusia-manusia pribumi yang dipaksa untuk membangunnya.

Sinopsis

Buku ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal Pram menguraikan awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida. Ia juga menyinggung beberapa genosida yang awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa, genosida pada zaman Jepang di Kalimantan, genosida oleh Westerling (1947) hingga genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru.
Setelah mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, di halaman-halaman selanjutnya Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota yang dilewati dan berada di sepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai 39 kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang terdengar oleh masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bangil dan lain-lain.
Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut, dampak sosial saat dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota tersebut pada masa kini. Masa-masa kelam ketika Jalan Raya Pos dikerjakan terungkap di buku ini.
Sampai di kota Sumedang pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Di sini para pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh mencapai 5000 orang.
Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyak para pekerja paksa yang kelelahan dan kelaparan itu menjadi korban malaria (hal 94).
Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.
Selain mengungkap sisi-sisi kelam di balik pembangunan Jalan Raya Pos, Pram juga senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya pada kota-kota di sepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia singgahi. Ada kenangan yang pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang bertugas sebagai tentara di daerah Cirebon. Dalam kegelapan malam secara tak disengaja ia pernah buang hajat di sebuah tungku dapur yang disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk rangsum para laskar rakyat.(hal 79)
Buku ini diutup dengan bab "Dan Siapa Daendels" yang ditulis oleh Koesalah Soebagyo Toer. Dalam bab ini diuraikan biografi singkat Daendels. Selain itu bagian daftar pustaka yang menyajikan sumber-sumber pustaka yang digunakan Pram untuk menyusun buku ini mencakup buku-buku yang terbit pada pertengahan abad ke-19 hingga akhir abad ke-20. Tak heran jika membaca karya ini pembaca akan mendapatkan hal-hal yang detail mengenai sejarah kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos.
Sayang buku ini tidak memuat peta yang secara jelas menggambarkan rute-rute Jalan Raya Pos. Buku ini hanya menyajikan reproduksi dari peta kuno yang diambil dari Rijks Museum Amsterdam (hal 129). Peta yang tak menggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang tak terlihat pada peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan ini.

sumber artikel:  http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Raya_Pos,_Jalan_Daendels

Related Post

ShareThis