Buku Zur Genealogie der Moral terdiri dari satu Pendahuluan dan tiga
Esai, masing-masing Esai merupakan pertanyaan radikal Nietzsche atas
nilai-nilai moral, yang tujuan utamanya adalah untuk meneliti dasar
konsep dan evolusi dari perkembangan nilai-nilai tersebut.
Dalam bab Pendahuluan, Nietzsche mencoba mendudukkan persoalan dengan menyampaikan maksud dan tujuannya, yakni usaha u
ntuk melacak asal-usul sejarah ide-ide moral manusia. Di sini,
Nietzsche sebenarnya bukan sekedar merumuskan latar belakang, secara
implisit ia juga telah mengilustrasikan tentang ‘proses’ bagaimana ia
bisa sampai kepada pemikiran mengenai genealogi (silsilah) moral sebagai
suatu cara untuk menyoroti hakikat moralitas. Bagi Nietzsche, moralitas
bukan merupakan produk abadi dari alasan a priori (seperti halnya para
Kantian), melainkan sebuah fenomena sosial, yang selalu berubah seiring
waktu dengan perkembangan sejarah masyarakat. Nietzsche justru melihat
bahwa perspektifnya yang historikal itu dapat mengungkap semua
kontingensi[1] atas keyakinan moral manusia. Dalam Bagian 5 bab
Pendahuluan, dengan merujuk kepada tulisan-tulisan sebelumnya yang telah
membahas pertanyaan-pertanyaan historis, ia mengatakan: “Meski demikian
kepedulian saya yang lebih nyata adalah kepada sesuatu yang jauh lebih
penting daripada sekedar menjajakan-hipotesis, entah itu kepada diri
saya sendiri atau orang lain, tentang asal-usul moralitas (atau lebih
tepatnya: yang pada akhirnya akan saya kaitkan semata-mata untuk tujuan
kepentingan yang hanya merupakan salah satu di antara banyak cara). Apa
yang dipertaruhkan adalah nilai moralitas.” Pernyataan ini, akan nampak
menjadi lebih fundamental daripada hanya sekedar pandangan historikal,
hal ini adalah apa yang dia sebut dalam tulisannya yang lain sebagai
‘suatu penilaian kembali nilai-nilai’. Pada awalnya hal itu disajikan
sebagai evaluasi dari serangkaian nilai tertentu, yang dia usung di
bawah judul ‘etika rasa iba’ (dicontohkan dengan teori etika
Schopenhauer). “Apa yang terutama dikukuhkan adalah nilai ‘unegoistic’
(tidak egois), naluri rasa iba, pengorbanan-diri, penyerahan diri”
(Pendahuluan: Bagian 5). Richard Norman (dalam buku The Moral
Philosophers: an Introductions to Ethics: Oxford, 1998) melihat hal ini
sebagai sebuah tujuan dari kontras yang sangat berbeda antara ‘the
Ancients’ (yang kuno) dan ‘modern’ gagasan bahwa moralitas terutama
telah dikaitan dengan kebutuhan altruisme, dan pertanyaan tentang
mengapa tindakan altruistis harus dihargai. Namun demikian, Nietzsche
melanjutkan dengan menunjukkan bahwa keprihatinan yang lebih luas
daripada ini bukan hanya evaluasi atas moralitas rasa iba dan altruisme,
tetapi evaluasi atas ‘semua moralitas.’ Ia mengatakan: “Kita perlu,
sebuah kritik terhadap nilai-nilai moral, nilai dari nilai-nilai itu
sendiri pertama-tama harus dipertanyakan.” (Pendahuluan: Bagian 6).
Esai pertama, “Good and Evil,” “Good and Bad” (“Baik dan Jahat,” “Baik
dan Buruk”) mengupas tentang evolusi dari dua aspek atau kode moral yang
berbeda. Yang pertama, “ksatria-aristokrat/bangsawan”
atau “moralitas tuan/mulia,” (master/noble morality) yang berasal dari
penguasa dan penakluk pada masa-masa awal, yang menilai kekuatan,
kekayaan, dan keberhasilan mereka sendiri sebagai yang “baik” dan
kemiskinan dan kemalangan dari orang-orang berkuasa yang lain sebagai
yang “buruk.” Rekaan kedua Nietzsche, adalah “kepanditaan” atau
“moralitas budak” (slave morality), terutama atas orang-orang Yahudi.
Moralitas ini berawal dengan kasta pandita, yang membenci kasta ksatria
dan mengutuk kekuatan penuh nafsu mereka (kasta ksatria) sebagai yang
jahat, sementara menyebut posisi mereka sendiri yang miskin dan
tertindas sebagai penyangkalan-diri yang baik. Didorong oleh
ressentiment (kosa kata bahasa Perancis yang nampaknya memang sengaja
dipilih oleh Nietzsche), atau rasa kebencian, moralitas budak adalah
jauh lebih dalam dan lebih halus daripada moralitas tuan. Ini adalah
semacam penobatan atas prestasi Kristiani, yang menyatakan bahwa kasih
Kristiani sebenarnya telah lahir dari kebencian. Saat moralitas budak
ini berkembang lebih mendalam dan lebih luas daripada kepercayaan diri
yang biasa dari para penguasa, Nietzsche khawatir bahwa hal itu akan
membuat kita semua akan merasa terbiasa. Manusia modern, yang telah
mewarisi jubah moralitas budak, lebih menyukai keamanan dan kenyamanan
daripada penaklukan dan risiko. Moralitas budak dari kasta pandita
memusatkan perhatian pada kejahatan orang lain dan hukuman di akhirat,
hal seperti ini tentu akan mengganggu banyak orang dari hasratnya untuk
menikmati masa kini dan memperbaiki diri dalam pengertian moralitas
ksatria aristokrat atau para penguasa dan penakluk di masa lalu.
Nietzsche mengilustrasikan kontras antara dua jenis moralitas tersebut
dengan menggunakan perumpamaan antara burung pemangsa dan domba.
Nietzsche membayangkan bahwa anak domba dapat menilai burung-burung
pemangsa sebagai yang ‘jahat’ karena mengancam dan membunuh dan
menganggap diri mereka sendiri sebagai yang ‘baik’ karena tidak
membunuh. Namun, penilaian seperti ini tidaklah berarti bahwa: karena
domba mampu menahan diri dari membunuh maka ia dapat keluar dari semacam
perbuatan yang menyalahi moral, akan tetapi hanya karena mereka memang
tidak mampu untuk membunuh (titik). Demikian pula, kita hanya bisa
mengutuk burung pemangsa untuk membunuh jika kita berasumsi bahwa
‘perilaku,’ burung pemangsa tersebut, adalah suatu sifat yang dapat
dilepaskan dari ‘perbuatan,’ pembunuhan. Nietzsche berpendapat bahwa
sesungguhnya tidak ada pelaku di balik perbuatan, ia juga mengambil
sebagai contoh kalimat, ‘kilatan petir.’
Tidak ada petir yang
terpisah dari cahaya kilat. Asumsi kita bahwa ada pelaku yang entah
bagaimana berbeda dari perbuatannya sebenarnya hanyalah sebuah prasangka
yang terinspirasi oleh subjek-predikat dalam bentuk tata bahasa.
Moralitas budak melepaskan subyek dari predikat, pelaku dari perbuatan,
dan mengidentifikasi subyek dengan ‘jiwa,’ yang kemudian harus
bertanggung jawab dalam pengadilan akhir (akhirat). Sementara moralitas
budak menjadi dominan di dunia modern, Nietzsche justru mengharapkan
bahwa suatu saat nanti moralitas tuan akan memiliki kebangkitannya
kembali.
Dalam esai kedua, “Guilt,” “Bad Concience,” and
the Like (“Bersalah,” “Rasa Bersalah,” dan Semacamnya), Nietzsche
mencoba menunjukkan bahwa pada awalnya konsep tentang bersalah itu tidak
memiliki nada moral. Dengan mengidentifikasi beberapa kesamaan dalam
kosa kata Jerman untuk bersalah (schuld/guilt) dan hutang
(schulden/debts). Seseorang yang berhutang adalah ‘bersalah’ (schuld)
dan kreditor bisa melakukan perbuatan baik lewat hutang dengan cara
memberi hukuman kepada terhutang/debitur. Hukuman di sini tidak
dimaksudkan untuk membuat sang debitur merasa buruk, melainkan hanya
untuk mendatangkan kesenangan (rasa senang) kepada kreditor. Hukuman
dengan demikian adalah kejam tetapi sekaligus ceria/menyenangkan/memberikan
perasaan puas: tidak ada perasaan keras sesudahnya. Sebuah masyarakat
yang memiliki sistem hukum mirip dengan kreditor: ketika seseorang
melanggar hukum, maka mereka telah merugikan masyarakat dan pasti akan
mendapat hukuman. Konsep keadilan dalam efeknya telah mengambil alih
hukuman dari tangan individu untuk dapat diklaim sendiri secara
langsung, dalam masyarakat, bukanlah individu-individu yang berwenang,
tetapi melalui jalur hukum, dan karena itulah maka ada aturan hukum,
bukan hukuman yang diberikan secara individual, untuk menentukan
mengenai apakah sebuah hukuman itu tepat atau tidak. Hal ini tercermin
pada berbagai hukuman dengan tujuan berbeda yang telah dijalankan selama
berabad-abad, Nietzsche mengamati bahwa semua konsep-konsep memiliki
sejarah yang panjang dan cair di mana konsep-konsep tersebut telah
memiliki banyak makna yang berbeda-beda. Makna konsep-konsep yang
didikte oleh suatu kehendak untuk berkuasa (will to power), dimana
konsep-konsep tersebut telah diberi makna atau digunakan oleh kehendak
yang berbeda-beda sesuai keinginan mereka masing-masing.
Nietzsche mengidentifikasi asal-usul rasa bersalah (bad consience)
sebagai hal yang muncul dalam masa transisi dari masyarakat
pemburu-pengumpul menuju masyarakat agraris. Insting hewani manusia akan
menjadi tidak lagi menjadi berguna dalam masyarakat koperasi, dan kita
dipaksa untuk memendamnya ke dalam. Dengan berjuang melawan dirinya
sendiri, maka manusia mengukir kehidupan batin, rasa bersalah,
sensibilitas tentang keindahan, dan rasa berhutang kepada nenek moyang
mereka, proses inilah yang diasumsikan Nietzsche sebagai asal-usul dari
agama. Saat ini, manusia mengarahkan rasa bersalahnya terutama terhadap
naluri-naluri hewaninya, tetapi Nietzsche justru bukan bermaksud
mendorong kita untuk mengarahkan rasa bersalah menjadi
penyangkalan-kehidupan atau kekuatan yang menekan naluri kita.
Judul esai ketiga mengusung pertanyaan, What is the Meaning of Ascetic
Ideals? (Apakah Makna dari Asketis Ideal?) Mengapa orang- orang dari
berbagai latar budaya mengejar kehidupan seorang asketis
penyangkalan-diri? Nietzsche menunjukkan bahwa asketisme sebenarnya
meningkatkan perasaan berkuasa dengan memberikan seseorang sebuah
kendali penuh atas dirinya sendiri. Dalam banyak kasus, kemudian,
asketisme pada akhirnya adalah peneguhan-kehidupan daripada
penyangkalan-hidup. Para Asketis Ideal mewujudkan diri secara berbeda di
antara berbagai jenis orang. Semacam filsuf asketisme yang mengarah
untuk mengklaim bahwa dunia di sekitar mereka hanyalah ilusi. Ini adalah
salah satu cara memandang sesuatu, dan Nietzsche memuji cara memandang
suatu masalah dari perspektif yang sebanyak mungkin. Tidak ada satu cara
yang paling tepat untuk melihat kebenaran, jadi yang terbaik adalah
menjadi lebih fleksibel dalam menentukan sudut pandang kita.
Nietzsche memandang kelahiran asketisme sebagai semacam penyakit rohani.
Mereka yang menemukan perjuangan hidup terlalu keras berbalik melawan
kehidupan dan menganggapnya tercela. Nietzsche melihat mayoritas umat
manusia adalah sakit (secara rohani) dan pendeta/imam sebagai dokter
yang sebenarnya juga sakit. Agama-agama mengarahkan sebagian penyakit
rohani ini, bukan saja dengan jalan memadamkan kehendak melalui meditasi
dan pekerjaan, tetapi juga melalui ‘pesta pora atau perayaan perasaan,’
hal ini terwujud di dalam kesadaran akan dosa dan rasa bersalah. Kita
mengutuk diri sebagai orang-orang berdosa dan secara masokistis
menghukum diri kita sendiri. Sementara itu, Nietzsche juga memandang
sains dan sekularisasi sebagai bukanlah alternatif dari cita-cita
asketis agama. Mereka hanya mengganti menyembah kepada Allah dengan
penyembahan kepada kebenaran. Semangat yang sehat bagi Nietzsche justru
harus berani mempertanyakan nilai kebenaran. Nietzsche menyimpulkan
dengan mengamati bahwa sementara para asketis ideal mengarahkan
kehendak-nya melawan kehidupan, tetapi sebenarnya mereka masih melakukan
tempaan yang kuat untuk kehendak: ‘Manusia lebih suka menghendaki
ketiadaan daripada tidak memiliki kehendak sama sekali.’
Tinjauan Kritis
Dalam esainya, “Nietzsche, Genealogy, History,” Michel Foucault
mencatat beberapa perbedaan penting dalam karya Nietzsche mengenai
konsep genealogi dan asal-usul (origin). Asal-usul merujuk kepada titik
awal yang tetap dan, karenanya, esensi asal dari sesuatu yang terkait
dengannya. Misalnya, kisah Adam dan Hawa menempatkan penciptaan
asal-usul manusia di Taman Eden. Tentu saja, kita telah berubah sejak
zaman Adam dan Hawa, tetapi beberapa fitur esensial tertentu, seperti
dosa asal, akan tetap terbawa bersama kita. Genealogi lebih cocok dengan
paradigma evolusi Darwin. lewat genealogi, tidak ada titik awal yang
tetap tidak ada fitur esensial, hanya secara bertahap bahkan sering
berkembang acak dari satu kondisi kepada yang lain. Kita mungkin
memahami tujuan utama Nietzsche dalam buku ini sebagai usaha untuk
menggeser pemahaman kita tentang moralitas dari model asal kepada model
genealogi. Nietzsche berusaha untuk menunjukkan suatu model kepada kita.
Artinya, kita cenderung untuk memikirkan konsep-konsep moral seperti
kebaikan dan kejahatan sebagai sesuatu yang stabil, yang didasarkan pada
beberapa konsep moral yang akan selalu cair, sampai-sampai kata yang
baik, misalnya, telah bertentangan maknanya bagi orang yang berbeda.
Konsep-konsep moral kita memiliki silsilah panjang dan tidak bermakna
tetap. Dengan mencabut gagasan yang baik dan yang jahat yang muncul
entah bagaimana secara independen dari kehendak kita, Nietzsche justru
hendak mendorong sensibilitas yang lebih besar yang berkaitan dengan
kehidupan moral kita.
Nietzsche menjelaskan fluiditas
konsep-konsep moral dengan mengacu kepada kehendak untuk berkuasa.
Menurut Nietzsche, kehendak untuk berkuasa adalah dorongan mendasar di
alam semesta. Setiap kehendak memiliki hasrat untuk kemerdekaan dan
untuk mendominasi kehendak yang lain, meskipun kehendak bekuasa ini akan
mengungkapkan dirinya dalam berbagai cara. Sebagai contoh, pengacau di
sekolah menguasai kekuatan fisik atas yang lain, sementara kutu buku
belajar keras untuk mencapai semacam kekuasaan intelektual. Karena semua
konsep-konsep adalah temuan manusia, Nietzsche berpendapat, semua
konsep itu pada akhirnya adalah ekspresi dari beberapa kehendak atau
yang lainnya. Sebagai contoh, konsep yang baik dapat berarti kekayaan
dan kekuatan atau dapat berarti kelembutan dan amal, tergantung pada
siapa yang menafsirkannya. Jika kita tampaknya telah memiliki
konsep-konsep moral yang relatif tetap di zaman ini, itu hanya hasil
dari kemenangan moralitas budak atas segala sudut pandang yang lain.
Dengan mengasumsikan bahwa konsep-konsep ini memiliki makna yang tetap,
kita menyerahkan kehendak kita kepada kehendak orang-orang yang dibatasi
oleh konsep-konsep ini. Orang-orang berkemauan keras, menurut
Nietzsche, akan menolak kategori-kategori pemikiran yang disisipkan pada
mereka dan memiliki kemandirian dan kreativitas untuk melihat dunia
dari perspektif khas mereka sendiri.
Meskipun Nietzsche sering
terlihat seolah-olah memuji moralitas bangsawan kuno dan mengutuk budaya
moralitas ‘budak’ Yudeo-Kristen, tetapi dia tidak bermaksud
menganjurkan untuk hanya kembali begitu saja ke moralitas ‘tuan’ yang
lebih tua. Walaupun efek luasnya telah ‘merugikan,’ namun moralitas
budak juga terbukti telah membawa sejumlah manfaat. Sementara penakluk
kuno memiliki kemurahan hati yang lebih jelas, namun mereka juga
dangkal. Manusia telah berkembang menjadi lebih dalam dan licik dan hal
inilah yang telah memungkinkan manusia untuk memperoleh karakteristik
yang membedakan kita dari binatang, sebagai hasil dari budak yang
berpaling ke dalam. Mereka yang tidak bisa menyelesaikan proyek kehendak
berkuasa mereka akan ke luar dan justru mendominasi orang di sekitar
proyek mereka itu ke dalam dan dan memperoleh kekuasaan yang lebih
‘mengerikan’ atas diri mereka sendiri. Dominasi moralitas Yahudi-Kristen
di era modern merupakan bukti dari bagaimana kekuatan batin budak jauh
lebih kuat daripada kekuatan luar penakluk. Nietzsche menaruh perhatian
pada moralitas budak bukan karena hal itu telah membawa manusia untuk
berpaling ke dalam, tetapi justru karena kita berada dalam bahaya
kehilangan perjuangan batin kita. Perjuangan batin yang menyakitkan dan
sulit, dan Nietzsche melihat dalam asketisme agama, sains, dan filsafat
suatu keinginan untuk menyerah dari perjuangan atau untuk meminimalkan
kesulitannya. Nietzsche menegaskan bahwa kita tidak boleh melihat
kemanusiaan sebagai tujuan akhir yang harus diselesaikan untuk tetapi
lebih sebagai sebuah jembatan untuk diseberangi antara hewan dan apa
yang ia katakan sebagai istilah manusia-unggul (Übermensch). Kritik
Nietzsche memang ditujukan terhadap kekuatan penyangkalan-hidup di dalam
diri kita, namun kekuatan batin yang dibawa oleh moralitas budak kita
sebenarnya justru juga bisa menjadi anugerah terbesar.
Nietzsche sering menyesalkan bahwa bahasa tidak mampu mengungkapkan apa
yang dia ingin ekspresikan, dan dia meletakkan kesalahan prinsipal itu
kepada subjek-predikat dalam tata bahasa. Karena semua kalimat membagi
menjadi subjek dan predikat, kita terbuai ke dalam pemikiran bahwa
realitas, juga, menghasilkan bentuk ini dan bahwa ada pelaku dan
perbuatan. Dalam pandangan Nietzsche hanya ada amal-perbuatan dan tidak
ada pelaku, dan hal itu sama absurdnya dengan mengatakan bahwa
keberadaan seekor elang adalah berbeda dari tindakan membunuh atau
mengatakan bahwa keberadaan petir adalah berbeda dari percikan
cahayanya. Elang adalah tindakan pembunuhan sama seperti kilat adalah
kilatan cahaya: kita adalah apa yang kita lakukan. Kita dapat mengatakan
Nietzsche adalah seorang metafisika itu sendiri (bukan metafisikus)
kata kerja bukan metafisika kata benda. Sementara kebanyakan para
metafisikus memahami alam semesta terdiri dari banyak hal
(kateori-kategori), Nietzsche justru bahwa memahami alam semesta itu
sebenarnya terbentuk dari kehendak. Kita cenderung untuk percaya bahwa
ada subyek yang melakukan perbuatan karena tata bahasa kita menuntut
agar kita memberikan subyek untuk kata verba. Faktanya, Nietzsche
menyatakan, tidak ada ‘Aku’ yang membuat keputusan dan bertindak atas
mereka. Melainkan, bahwa ‘Aku’ adalah forum di mana kehendak yang
berbeda menyatakan diri dalam bentuk keputusan dan tindakan. Kerumitan
ini terkadang memang membuat frustrasi, baik bagi Nietzsche dan para
pembacanya, sangat sulit untuk membungkus pikiran kita di sekitar
gagasan bahwa tidak ada pelaku di balik perbuatan karena setiap ekspresi
yang tertulis dari gagasan ini bersandar pada struktur tata bahasa yang
memperkuat ide sebaliknya.
[1] Dari kata dasar: kontingen; Inggris:
contingent. Dari kata kerja bahasa Latin contingere (meraba/menyentuh
seluruh bagian, terjadi), dari con (dengan) dan tangere (meraba). Dalam
metafisika secara umum, kontingen adalah sesuatu yang bisa saja terjadi,
tetapi tidak pasti terjadi: bisa saja terjadi dan tidak tergantung pada
situasi. Sesuatu yang disebut kontingen mencakup semua hal yang tidak
niscaya dan yang tidak mustahil. (Loren Bagus: 1996)
sumber RESUME:
http://budiwibawa.wordpress.com/review/resume-buku-friedrich-nietzsche-zur-genealogie-der-moral-on-the-genealogy-of-morals-1887/