.

.
Tampilkan postingan dengan label PENERBIT PARAMADINA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENERBIT PARAMADINA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

ISLAM DOKTRIN DAN PERADABAN


TERJUAL
Kondisi: Bagus. HARD COVER LENGKAP DENGAN JACKET BUKU
PENERBIT: Yayasan Wakaf PARAMADINA 1992
Tebal:612 halaman
Berat: 1,10 Kg
jacket Buku
hard cover buku


Dalam buku ini ada empat hal pokok yang akan diungkap oleh cak Nur. Keempat hal pokok tersebut adalah : Tauhid dan Emansipasi Harkat Manusia, Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional, Membangun Masyarakat Etika, dan Universalisme Islam dan Kemoderenan. Keempatnya akan diuraikan satu persatu dalam sub judul di bawah ini.
Tawhid dan Emansipasi Harkat Manusia
Sebagaimana dikatakan oleh Kitab Suci, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi. Manusia juga merupakan puncak kreasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai harkat dan matabat kemanusiaan yang sangat luar biasa. Namun demikian, manusia juga memiliki potensi untuk terdegradasi menjadi sangat rendah.

Cak Nur menegaskan bahwa dalam kenyataan historis, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dminan manusia sebagai makhluk sosia. Sebab dalam kenyataannya, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya. Di sinilah fungsi diutusnya para rasul untuk membimbing manusia melawan kejatuhannya sendiri dan mengemansipasi harkat dan matabatnya dari kejatuhannya itu (hal. 94).

Dalam pandangan cak Nur, problem utama manusia adalah syirk. Karena syirk (politeisme) baik yang kuno maupun modern selalu bermuara pada pemenjaraan harkat dan martabat manusia dan kemerosotannya. Tentu yang demikian ini bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk tertinggi dan dimuliakan Tuhan. Mengapa ?, karena akan berakibat pada pengangkatan makhluk selain Tuhan menjadi sama dengan Tuhan sehingga hal ini akan berakibat pada lebih tingginya nilai tuhan palsu itu dibandingkan dengan mansuia itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kenapa syirik dikategorikan dosa terbesar manusia (hal. 96).

Untuk itu, agar tetap terjaga harkat dan martabat kemanusiaannya, manusia harus menyelamatkan imannya dengan tetap menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berarti, dengan hanya menghambakan diri kepada Tuhan, manusia akan mendapatkan kepribadiannya yang utuh dan integral.

Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional
Salah satu judul yang terbahas dalam tema di atas adalah “Kekuatan Dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin ‘Aqidah Islamiyah”. Dalam judul ini diungkapkan bahwa, paham asy’ariyah di samping memiliki kelebihan atau kekuatan juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Kenapa paham asy’ariyah ? karena Islam di Indonesia bermadzhab Syafi’i. Kaum Syafi’I kebanyakan menganut aqidah Asy’ari.

Dalam dunia kalam dikenal argumenpargumen logis dan dialektis. Kaum Asy’ari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder. Kemampuan Abu al-Hasan al-Asy’ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis diperoleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu’tazulah sebelum ia akhirnya keluar dari paham Mu’tazilah.

Letak keunggulan sistem Asy’ari atas lainnya terletak pada segi metodologinya yang merupakan jalan tengah antara berbagai ekstrimitas (hal. 273). Dalam penggunaan metdolodi mantiq, Asy’ari tidak menggunakannya sebagai kerangka kebenaran an sich, melainkan sekedar alat untu membuat kejelasan-kejelasan dan itupun hanya dalam urutan sekunder. Metodenya menghasilkan jalan tengah antara metode harfi kaum Hambali dan metode ta’wili kaum Mu’tazili.

Sedangkan posisi kelemahannya terletak pada kegagalannya menjelaskan teorinya tentang usaha manusia. Asy’ari ingin berbeda dengan kaum Jabari yang fatalis dan kaum Qadari yang menganggap manusia mempunyai kemerdekaan berbuat. Teori Asy’ari disebut kasb. Teorinya ingin mengabungkan dua teori yang kontradiktif di atas. Namun, misinya justru sulit dipahami. Ia menjelaskan bahwa “manusia tidaklah dipaksa dan juga tidak bebas merdeka dalam melakukan usaha”. Selanjutnya, “bila Allah memberi pahala makasemata karena kemurahan-Nya dan bila Allah menyiksa maka itu karena keadilan-Nya” (hal.283). Kedua rumusan tersebut bukan sebagai akibat dari perbuatan manusia.
Membangun Masyarakat Etika
Dalam kontek ini cak Nur menjelaskan dua makna, yaitu makna perorangan dan kemasyarakatan. Penjelasan tentang makna perorangan diawalinya dengan menjekaskan makna salam, kedamaian dan keselarasan. Salam adalah makna perorangan sikap keagamaan yang tulus. Ia juga merupakan kelanjutan sikap rela kepada Allah atas segala keputusan-Nya. Keadaan jiwa yang rela itu dicapai karena adanya ketenangan batin akibat rasa dekat kepada Allah. Inilah derjat manusia yang telah mencapai al-nafs al-mutmainnah.

Seseorang yang rela serta bertawakal kepada Allah tentulah seorang yang selalu dzikir kepada-Nya. Dzikir atau ingat kepada Allah secara konsisten merupakan segi keimanan yang sangat penting sekaligus menjadi sumber kebijakan yang tertinggi (hal. 349). Dan karena sikap itu merupakan keharusan sikap rela dan tawakkal kepada-Nya, maka ingat kepada Allah juga menjadi sumber ketenangan jiwa dan ketentramannya Orang yang beriman yaitu dia yang merasakan ketentraman jiwa karena ingat kepada Allah

Mengenai makna kemasyarakatan cak Nur menjelaskan bahwa baik dan jahat dalam kehidupan nyata seorang manusiadi dunia akhirnya didefinisikan sebagai kualitas sikap, tingkah laku dan perbuatannya dalam hubungannya denagn sesama manusia.

Dalam arti yang seluas-luasnya, amal saleh ialah setiap tingkah laku pribadi yang menunjang usaha mewujudkan tatanan hidup sosial yangteratur dan berkesopanan. Maka salah satu yang diharapkan dari adanya iman dalam dada adalah wjud nyata dalam tindakan yang berdimensi sosial.

Dimensi sosial keimanan juga dinyatakan dalam bentuk kata ishlah al-ardl, reformasi dunia. Para Nabi yang diutus selalu melakukan reformasi dunia, yaitu perjuangan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Maka komitmen kepada usaha menciptakan masyarakat yang memenuhi rasa keadilan merupakan makna sosial keyakinan aama yang harus ditumbuhkan dalam setiap pribadi yang beriman. Dengan kata lain, rasa keadilan merupakan manifestasi rasa kemanusiaan, sehingga, dari sudut pandangan ini, makna kemasyarakatan keyakinan agama atau iman adalah rasa kemanusiaan itu, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan hablun min al-nas sebagai kelanjutan dari hablun min Allah.
Hablun min al-nas dan hablun min Allah di simbolkan melalui shalat. Ketika melakukan takbirat al-ikhram melambangkan manusia sedang melakukan hubungan dengan Allah. Dan ketika melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri melambangkan bahwa manusia itu harus menoleh kepada keadaan di sekitarnya. Hal ini mencerminkan bahwa orang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran diri akan dimensi sosial (hal. 354).
Universalisme Islam dan Kemoderenan
Salah satu hal penting yang mendapat perhatian cak Nur dalam “Universalisme Islam dan Kemoderenan” adalah “ajaran nilai etisdalam kitab suci”. Nilai etis yang dimaksudkan cak Nur adalah dalam pengertian yang sangat mendasar, yaitu konsep dan ajaran yang serba meliputi, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik dan buruk, benar dan salah. Namun demikian, yang hendak dibicarakan cak Nur adalah yang terbatas pada hal-hal yang dianggap pokok saja, yang relevan dengan problem sekarang.

Dalam buku “Islam, Doktrin dan Peradaban” ini ingin ditegaskan kembali mengenai watak Agama Islam berkenaan dengan kerja. Tampilnya Islam berarti menyambung kembali tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang mengajarkan tentang beriman kepada Allah da pendekatan kepada-Nya melalui amal perbuatan baik suatu monoteisme etis.

Karena seluruh aktifitas dapat bernilai sebagai usaha pendekatan kepada Tuhan, maka seluruh hidup manusia mempunyai makna transendental, yanga sehari-harii dinyatakan dalam ungkapan “demi ridla Allah”. Dan adanya keinsyafan akan makna hidup itulah yang membuat manusia berbeda dari jenis hewan yang lain, serta di situlah letak harkatnya (hal. 476).
Penutup
Satu hal yang menjadi misi utama buku ini adalah mengajak kepada kaum muslimin untuk menegakkan paham kemajemukan atau pluralisme. Berkaitan dengan hal tersebut maka Islam semakin diharapkan tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, sertamampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua, tanpa ekslusifisme komunal.

Kaum muslimin harus secara otentik mengembangkan paham kemajemukan masyarakat (pluralisme sosial). Kaum muslimin juga dituntut akan kesanggupan mengembangkan sikap-sikap saling menghagai antara sesama anggota masyarakat, dengan menghormati apa yang diangap penting pada masing-masing orang atau kelompok.

SUMBER ARTIKEL: http://dakwah-2012.blogspot.com/2011/11/islam-doktrin-dan-peradaban.html

Jumat, 29 Juni 2012

Masyarakat Religius (1997)


BOOKED BY IKI BANDUNG
Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus
PENERBIT: PARAMADINA 1997
Tebal:235 halaman
Berat: 0,25 Kg

Masyarakat Religius (1997)
Buku ini yang berisi lima bab membahas konsep Islam dan kemasyarakatan, komitmen pribadi dan sosial, konsep kekeluargaan muslim, prinsip medis dan kesehatan keluarga Muslim dan konsep tentang eskatologis kekuatan supra alami. Pada akhirnya masyarakat diajak untuk menjadi sebuah masyarakat yang relegius.

Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi, (1999).


 
Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi, (1999).
Kondisi: lumayan, isi buku tidak kencang lagi, agak sedikit menggelombang
PENERBIT: PARAMADINA 1999
Tebal:279 halaman
Berat: 0,27 Kg

Dalam buku ini tujuh artikel Nurcholish Madjid yang masing-masing ditulis dalam kesempatan yang berbeda juga dalam rentang waktu yang berlainan. Buku ini ingin menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia memiliki semua perlengkapan yang diperlukan untuk menegakkan apa yang disebut dengan masyarakat madani atau dalam istilah modern civil society, yang tak lain adalah nilai-nilai Islam. Buku ini menjadi penting, karena banyak sekali hal-hal berguna bagi generasi mendatang untuk diketahui dan dicerna. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, sehingga gagasan-gagasan cemerlang dan progresif yang pernah diungkapkan Nurcholish Madjid ini bisa dijadikan pijakan utama meraih suatu lanjutan yang lebih genuine.


Tradisi Islam Pesan dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia (1997).


TERJUAL BY IKI BANDUNG
Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
Tradisi Islam Pesan dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia (1997).
Kondisi: Bagus
PENERBIT: PARAMADINA 1997
Tebal:257 halaman
Berat: 0,27 Kg

Buku yang terdiri dari lima bab bahasan ini merupakan refleksi penulisnya terhadap umat Islam di Indonesia khususnya dalam hal peranannya dalam pembangunan bangsa. Dalam buku ini Nurcholish Madjid juga membahas asas negara Pancasila, organisasi-organisasi politik, Golkar, pemilu, demokrasi, demokratisasi, oposisi, keadilan, dan dinamika perkembangan intelektual Islam di Indonesia. Hal yang juga cukup menarik dari buku ini adalah keberanian dan keplosan Nurcholish Madjid dalam berbicara oposisi di Indonesia, suatu tema yang sangat ditabukan pada masa ORBA. Nurcholish Madjid menegaskan, oposisi yang dimaksudkan adalah “oposisi yang loyal”. Oposisi inilah yang dibenarkan dalam masyarakat yang memegang teguh prinsip-prinsip musyawarah. Dalam konteks ini Nurcholish Madjid menyatakan bahwa oposisi memang diperlukan, karena ia mempertajam pikiran

Selasa, 19 Juni 2012

Islam Agama Kemanusiaan : Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia


Harga: Rp.80.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus
PENERBIT: Yayasan Wakaf PARAMADINA 1995
Tebal:224 halaman
Berat: 0,32 Kg
Islam Agama Kemanusiaan : Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (1955).
Nurcholis Madjid berupaya menampilkan atau menghadirkan Islam secara lebih human, adil, inklusif dan egaliter yang beranjak dari paradigma tauhid dan etika. Wawasan yang disajikan Nurcholish Madjid dalam karya ini lebih bersifat kosmopolit dan universal sekaligus mengadopsi aspek-aspek parsial dan kultural paham-paham keagamaan yang berkembang. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa bagi Nurcholish Madjid ajaran-ajaran Islam yang universal senantiasa memiliki relevansi dengan ruang dan waktu harus selalu dilakukan dialog kultural antara ajaran yang universal dengan partikular. Dalam buku ini juga Nurcholish Madjid ingin mengajak kita untuk bisa memahami mana yang benar-benar agama yang karenanya bersifat mutlak, dan mana yang benar-benar sebagai budaya yang karenanya bersifat relatif dan sementara. Agama dan budaya sebagaimana sudah banyak disuarakan oleh banyak pemikir kebudayaan, pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan.

Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi


 
Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus
PENERBIT: PARAMADINA 2002
Tebal:225 halaman
Berat: 0,24 Kg

Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi
by Nurcholish Madjid

Biarpun kita rajin sembahyang, puasa tiap hari, mengaji setiap saat, tetapi kalau tidak adil, pasti akan hancur. Karena itu ada ucapan dari Ali ibn Abi Thalib yang sering dikutip, yang Ibn Taymiyah juga mengutipnya, yaitu : “Allah akan menegakkan Negara yang adil meskipun kafir dan tidak akan menegakkan Negara yang lalim meskipun Islam”; dan juga ucapan : “Dunia akan bertahan dengan keadilan meskipun kafir dan tidak akan bertahan dengan kezaliman meskipun Islam.” (h. 102-103)


Senin, 18 Juni 2012

KAKI LANGIT PERADABAN ISLAM


 
Harga: Rp.35.000 (blum ongkir)
Kondisi: Tanpa cover dan Isi masih bagus dan mulus
Berat : 0,28 Kg
tebal: 228 halaman
penerbit: PARAMADINA 1997

Buku ini adalah hasil suntingan dari sebagian makalah tersebar yang pernah ditulis dan disampaikan Nurcholish Madjid di berbagai kesempatan seminar dan simposium dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun (1986-1996). Kendati setiap makalah pada mulanya ditulis untuk forum, tujuan, dan waktu yang berbeda-beda, namun kiranya tidak akan terlalu sulit menangkap benang ,erah yang mempersatukan keseluruhan tema dan gagasan dasarnya. Yakni semangat dan pesan-pesan peradaban sesuatu yang memang sangat tipikal dalam pikiran-pikiran Nurcholish Madjid.
Buku didasari pada adanya tantangan besar yang dihadapi bangsa-bangsa Muslim, untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang IPTEK. Sebab boleh dikata, tidak satupun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah peradaban IPTEK-nya daripada Islam. Buku ini menunjukkan betapa kenyataan tersebut sesungguhnya sangat ironis, mengingat ajaran Islam nyata-nyata memperlihatkan adanya hubungan organik antara iman dan ilmu. Hubungan mana telah dibuktikan dalam sejarah Islam klasik ketika kaum muslim memiliki jiwa kosmopolitan yang sejati, yang dengannya mereka membangun peradaban dalam arti sebenar-benarnya.
Tentu saja buku ini tidak bermaksud mengajak berpikir rimantis atau bernostalgia dengan kejayaan peradaban Islam masa lampau. Justru sebaliknya ia ingin menyentak kesadaran kita bahwa betapapun amat memilukannya ketertinggalan itu, namun tidak sepatutnya disesali sedemikian rupa sehingga kehilangan semangat untuk melihat kedepan dengan penuh harapan. Dan supaya harapan tidak terlampau melambung atau bahkan tersesat di langit-langit mimpi, maka is mutlak harus diberi “kaki”. Tesis-tesis peradaban yang dikemukakan Nurcholish Madjid dalam buku ini bisa disebut sebagai upaya untuk membangun “kaki-kaki (langit)” itu, yang bahan-bahannya diramu, bukan saja dari visi dan misi serta pertimbangan rasionalitas, tapi juga dari doktrin Islam dan bahkan janji-janji Allah sendiri dalam kitab suci.


Rabu, 13 Juni 2012

Islam Agama Kemanusiaan : Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia

TERJUAL BY BOGOR
Harga:Rp.50.000 (blum ongkir)
tebal: 228 hal
kondisi: bagus
berat: 0,31 kg


SINOPSIS:
Nurcholis Madjid berupaya menampilkan atau menghadirkan Islam secara lebih human, adil, inklusif dan egaliter yang beranjak dari paradigma tauhid dan etika. Wawasan yang disajikan Nurcholish Madjid dalam karya ini lebih bersifat kosmopolit dan universal sekaligus mengadopsi aspek-aspek parsial dan kultural paham-paham keagamaan yang berkembang. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa bagi Nurcholish Madjid ajaran-ajaran Islam yang universal senantiasa memiliki relevansi dengan ruang dan waktu harus selalu dilakukan dialog kultural antara ajaran yang universal dengan partikular. Dalam buku ini juga Nurcholish Madjid ingin mengajak kita untuk bisa memahami mana yang benar-benar agama yang karenanya bersifat mutlak, dan mana yang benar-benar sebagai budaya yang karenanya bersifat relatif dan sementara. Agama dan budaya sebagaimana sudah banyak disuarakan oleh banyak pemikir kebudayaan, pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan.

Kaki Langit Peradaban Islam

TERJUAL BY BOGOR
Harga: Rp. 63.000 (Belum Ongkir)
Berat : 0,28 Kg
tebal: 1,5 CM
Kondisi: BAGUS/SEGEL.

Buku ini adalah hasil suntingan dari sebagian makalah tersebar yang pernah ditulis dan disampaikan Nurcholish Madjid di berbagai kesempatan seminar dan simposium dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun (1986-1996). Kendati setiap makalah pada mulanya ditulis untuk forum, tujuan, dan waktu yang berbeda-beda, namun kiranya tidak akan terlalu sulit menangkap benang ,erah yang mempersatukan keseluruhan tema dan gagasan dasarnya. Yakni semangat dan pesan-pesan peradaban sesuatu yang memang sangat tipikal dalam pikiran-pikiran Nurcholish Madjid.
Buku didasari pada adanya tantangan besar yang dihadapi bangsa-bangsa Muslim, untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang IPTEK. Sebab boleh dikata, tidak satupun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah peradaban IPTEK-nya daripada Islam. Buku ini menunjukkan betapa kenyataan tersebut sesungguhnya sangat ironis, mengingat ajaran Islam nyata-nyata memperlihatkan adanya hubungan organik antara iman dan ilmu. Hubungan mana telah dibuktikan dalam sejarah Islam klasik ketika kaum muslim memiliki jiwa kosmopolitan yang sejati, yang dengannya mereka membangun peradaban dalam arti sebenar-benarnya.
Tentu saja buku ini tidak bermaksud mengajak berpikir rimantis atau bernostalgia dengan kejayaan peradaban Islam masa lampau. Justru sebaliknya ia ingin menyentak kesadaran kita bahwa betapapun amat memilukannya ketertinggalan itu, namun tidak sepatutnya disesali sedemikian rupa sehingga kehilangan semangat untuk melihat kedepan dengan penuh harapan. Dan supaya harapan tidak terlampau melambung atau bahkan tersesat di langit-langit mimpi, maka is mutlak harus diberi “kaki”. Tesis-tesis peradaban yang dikemukakan Nurcholish Madjid dalam buku ini bisa disebut sebagai upaya untuk membangun “kaki-kaki (langit)” itu, yang bahan-bahannya diramu, bukan saja dari visi dan misi serta pertimbangan rasionalitas, tapi juga dari doktrin Islam dan bahkan janji-janji Allah sendiri dalam kitab suci.

Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan

TERJUAL BY IKI BANDUNG
Harga: Rp. 75.000 (Belum Ongkir)
Berat : 0,22 Kg
tebal: 143 hal
Kondisi: BAGUS. TAHUN 1997


Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.
Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.
Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.
Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan “dunia luar”.
Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari “orang dalam” pesantren itu sendiri.
Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.
Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.
Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.
Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang “nomor dua”, tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***
Sumber: http://ulas-buku.blogspot.com/

Pintu-Pintu Menuju Tuhan


TERJUAL BY BOGOR
Harga: Rp.75.000 (blum ongkir)
kondisi: second/bagus
tebal: 300 hal
berat: 0,45 kg

minat: 087859558678

SINOPSIS:
 Pemahaman kita kepada Islam adalah pemahaman yang terbuka, yang karena keterbukaannya itu ia bersikap inklusif dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kemenangan Islam harus merupakan kebahagiaan bagi setiap orang, malah setiap mahluk.


Related Post

ShareThis