.

.
Tampilkan postingan dengan label Abdurrahman Wahid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdurrahman Wahid. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

SEKADAR MENDAHULUI, GUS DUR 2011

TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus. cet 1 mei 2011
tebal: 343

Kata-kata pengantar sekian puluh buku dari berbagai disiplin maupun gaya yang dikumpulkan dalam bunga-rampai ini sebenarnya bukan hanya mengantar para pembacanya, akan tetapi lebih dari itu: satu per satu merupakan kuliah berharga dan saran-saran yang berhikmah yang menyangkut topik bersangkutan.
--Y.B. Mangunwijaya

Tata nilai yang ditawarkan (dan terlebih dahulu dilakoninya) menjadikan Gus Dur sosok yang kontroversial sekaligus ditunggu masyarakat. Membaca buku ini menyadarkan kita untuk merelakan diri dalam terlibat dalam “keanehan� Gus Dur yang pada akhirnya menjadikan bangsa ini lebih hidup karena kiprah dan pemikirannya.
--Gus Muhammad Alvan Almuhasiby,
Pengasuh Pesantren Nailul Muna
Muntilan, Magelang

Buku ini membantu mengingatkan pembaca akan tindakan Gus Dur dalam sejarah memajukan bangsanya, yaitu membangun tata dunia baru yang bebas kendali Barat. Memang belum tercapai karena langkah Gus Dur itu harus dibayar dengan dilengserkan dari kursi kepresidenan. Sang Revisionis Soekarno itu telah meninggalkan pekerjaan besar yang mesti kita teruskan.
--Khatibul Umam Wiranu,
Murid, Ketua PP GP Anshor

sumber artikel: http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=736131&CFID=89701263&CFTOKEN=96407158

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA, GUS DUR 2010

TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: lumayan. CET v JANUARI 2010
tebal: 312 hal

Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mencapainya.
Jadi pantas  sekali  X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim. Dalam khotbah Jum'at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da'i.
Terakhir ia mengikuti sebuah lokakarya. Di sana diikutinya dengan bingung uraian seorang ilmuan eksata tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas para ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan 'teori ilmu' pengetahuan Islam ' sebagai alternatif.
Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan kepada wawasan ilmu pengetahuan moderen yang terasa di sana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasannya bagi ilmuwan yang berbicara itu.
Semakin jauh X merambah 'rimba kemarahan' kaum muslimin itu semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang dimana-mana: di arsip proses pelarangan cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung. Dalam desah napas  putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika ia mendapati X tetap saja tidak mau tunduk kepada keharusan  menempatkan 'merk Islam' pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tidak kunjung habis terhadap 'informasi salah' yang ditakuti  akan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga Tari Jaipongan.
Walaupun  gelar Doktor diperolehnya dalam salah satu cabang disiplin ilmu-ilmu sosial, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala 'merasa terancam selalu' yang demikian itu. Ia mampu menerangkannya dari mulut dari sudut pandangan ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri dapat menyelesaikan sendiri 'keberangan' itu menyangkut aspek ajaran agama yang paling inti. Diluar kompetensinya, keluhnya dalam hati.
Karena itu diputuskannya untuk pulang kampung asal, menemui pamannya yang jadi kiai pesantren. Jagoan ilmu fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketepatan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si 'paman kiai' juga merupakan perwujudan kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.
Apa jawab yang diperoleh X ketika ia mengajukan 'kemusykilan' yang dihadapinya itu? "Kau sendiri yang tidak tabah, Nak. Kau harus tahu, semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma'ruf nahi munkar," ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. "Seharusnya kaupun bersikap begitu pula, jangan lalu menyalahkan mereka".
Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibu kota. Mencari seorang cendekiawan muslim kelas kakap, siapa tahu  dapat memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalisme agama dan tantangan dunia modern kepada agama.
Ternyata lagi-lagi kecewa,"Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternatif parsial ideologis terhadap tatanan yang ada!" demikian jawaban yang diperolehnya. Ia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan  itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri?
Akhirnya, ia diajak  seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dari situlah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. "Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.
Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia "menyulitkan" kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya."
Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu 'dilayani'. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang "positif konstruktif". Kalau  gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.
Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak  dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

sumber: http://gusdurnet.tripod.com/klasik/82/820628ag.htm

(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Muslim di Tengah Pergumulan. Gus Dur, cet pertama 1981

TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus cet pertama 1981
Tebal: 111 hal
Berat: 0,13 Kg

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam b uku Muslim di Tengah Pergumulan , bahwa Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia, diramalkan akan menjadi pelopor kebangkitan Islam. Fenomena yang ada saat ini tampaknya sudah mulai mendukung pendapat Gus Dur tersebut. Fenomenanya dapat dilihat pada pendidikan Islam yang sudah mulai berkembang pesat dewasa ini. Dalam hal ini IAIN merupakan motor penggeraknya.

Islam Kosmopolitan : Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan


TERJUAL
Rp.100 rb (blum ongkir)
KONDISI: BAGUS .
Judul Buku: Islam Kosmopolitan, Nilai-Nilai Indonesia Transformasi dan Kebudayaan
Penulis: KH Abdurrahman Wahid
Editor: Agus Maftuh Abegebriel
Penerbit: The Wahid Institute
Cetakan: I, 2007
Tebal: xxxviii+397 halaman
Peresensi: Noviana Herliyanti*

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukanlah Gus Dur bila dalam berbicara tidak kontroversial, nyeleneh, nyentrik dan menyelipkan kritik. Maka, tak heran bila di sana-sini, dalam tulisannya, kita temukan saja kritik-kritiknya yang tajam, mulai mengkritik pemerintah, politisi hingga kelompoknya sendiri. Namun, di balik sikap kontroversinya, kenyelenehan dan kenyentrikannya selalu menjadi angin segar terhadap perkembagan Islam di Indonesia.

Dan, sampai saat ini, Gus Dur telah dikenal banyak kalangan, ia terkadang tampil sebagai sosok pemikir, penulis, sastrawan, budayawan bahkan menjadi seorang politisi Islam Indonesia. KH Solahuddin Wahid (Gus Solah), adik kandung Gus Dur, dalam acara bedah buku ini yang diselenggarakan Komunitas Tabayun di Jawa Pos 29/11/2007 kemarin, menyebutkan, Gus Dur termasuk saudara yang paling cerdas, pandai, dan berani berbicara.

Sebagai salah satu tokoh pejuang demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan antikekerasan, Gus Dur mampu memberikan warna tersendiri terhadap pandangan-pandangan ke-Islam-an, budaya, sosial, ekonomi dan politik, khususnya di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga telah mendapat pengakuan dari dunia bahwa komitmen dan perjuangan Gus Dur menegakkan demokrasi, HAM, membela kaum minoritas dan toleransi, sudah diakui luas (Baca: Umaruddin Masdar hal. 159).

Bahkan, dalam kelompoknya sendiri, tokoh NU seperti KH M. Cholil Bisri dan KH Muchith Muzadi mengakui, Gus Dur disebut sebagai azimat atau jimatnya NU. Karena Gus Dur hadir ke tengah-tengah NU di saat ormas itu dalam kondisi lemah. Sehingga dengan kehadiran Gus Dur di NU, mampu menyelematkan NU menjadi ormas keagamaan yang berpengaruh dan menjadikan organisasi terbesar di Indonesia.

Jadi, hal yang digagas Gus Dur selama ini, tidak lepas dari lima konsep dan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang dianut NU, yakni tawasuth, ta'adul, tasamuh, tawazun, dan amar ma'ruf nahi mungkar. Melalui konsep inilah, Gus Dur mampu mengimplementasikan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Islam itu sendiri. Bagi Gus Dur, memahami Islam tidak hanya melalui teks saja, tapi dengan "tafsirul kitab bil kitub" (Menafsir kitab dengan buku yang lain). Karena, kalau hanya berhenti di teks, maka kita bisa jadi penyembah huruf-huruf. Pemikiran ke-Islam-an Gus Dur, adalah Islam yang membawa kedamaian, kesejukan, ketenteraman, dan Islam yang bisa berdialog dengan lingkungannya.

Membaca pemikiran dan gagasan Gus Dur, tidak bisa didekati dengan satu sudut pandang saja. Karena, ia ibarat membaca sebuah teks yang multitafsir dan ketika membacanya sulit dipahami. Inilah salah satu sepak terjang Gus Dur, ketika melihat fenomena sosial yang terjadi di Indonesia.

Buku berjudul "Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan ini, merupakan pemikiran Gus Dur dalam merespon isu-isu yang dianggap aktual sejak 1980 hingga 1990-an. Selain itu, buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan Gus Dur yang telah berserakan di media lokal maupun nasional.

Ada beberapa pemikiran dan gagasan Gus Dur yang menarik dalam buku ini, yakni mengenai "Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam". Dalam tulisannya, Gus Dur menggarisbawahi tentang ajaran moralitas Islam yang secara teoritik bertumpu pada adanya lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam kepada warga masyarakat, baik pada perorangan maupun kelompok.

Pertama, keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum (hifdzu an-nafs). Karena, menurut Gus Dur, Islam tidak mengajarkan kekerasan dan hal-hal yang sifatnya anarkis. Kedua, keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzu ad-din). Ketiga, keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl). Keempat, keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan atau penggusuran di luar prosedur hukum (hifdzu al-mal). Dan, kelima, keselamatan hak milik dan profesi (hifdzu al-milk). (hal. xxi-xxii).

Menurut Gus Dur, jika dari lima jaminan dasar di atas itu tampil sebagai pandangan hidup, maka tidak mustahil negara akan bisa dikelola oleh pemerintah yang berdasarkan hukum, adanya persamaan derajat dan sikap tegang rasa terhadap perbedaan pandangan. Di samping itu, secara fungsional, misi Islam terhadap perbaikan sosial akan secara efektif bisa dikendalikan yang pada akhirnya terciptalah budaya toleransi, keterbukaan sikap, peduli terhadap kemanusiaan dan keprihatinan yang penuh kearifan akan keterbelakangan umat Islam sendiri.

Dengan demikian, Islam seperti itulah yang selama ini diperjuangkan Gus Dur. Islam yang ada di tangan Gus Dur, adalah Islam yang bisa tampil sejuk, pluralis, serta demokratis. Agama Islam menjadi agama yang melindungi umat manusia, bukan agama yang malah menebar ketakutan kepada umat agama lain.

Terlepas dari kekurangan buku yang merupakan kumpulan tulisan dan kerap terjadi pengulangan, sehingga dikatakan kurang sistematis, buku ini tetaplah layak dan menarik untuk dijadikan bahan bacaan, referensi, dan penyelamatan "Islam Kita" dari pemaksaan pemahaman yang selama ini sering menyerang kita semua. Bagi Gus Dur, memahami Islam tidak hanya dipahami secara tekstual aja, melainkan dengan dengan konteks yang saat ini terjadi.

Peresensi adalah penikmat buku, mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Kini aktif di lembaga Komunitas Baca (Kombas) Surabaya.

sumber artikel: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,10923-lang,id-c,buku-t,Gus+Dur+dan+Islam+Kosmopolitan-.phpx

Islamku, Islam Anda dan Islam Kita. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)


 Terjual
Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
KONDISI: BAGUS. CET 1 AGUSTUS 2006
TEBAL: 412 HAL
Oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Benang merah yang sangat penting dari pemikiran Gus Dur adalah penolakannya terhadap formalisasi, ideologisasi, dan syari’atisasi Islam. Sebaliknya, Gus Dur melihat bahwa kejayaan Islam justru terletak pada kemampuan agama ini untuk berkembang secara kultural. Dengan kata lain, Gus Dur lebih memberikan apresiasi kepada upaya kulturalisasi (culturalization). Itu terlihat dengan jelas, misalnya, dari serial tulisannya yang berjudul “Islam: Ideologis Ataukah Kultural”.

Ketidaksetujuan Gus Dur terhadap formalisasi Islam itu terlihat, misalnya terhadap tafsiran ayat Al Qur’an yang berbunyi “udhkuluu fi al silmi kaffah”, yang seringkali ditafsirkan secara literal oleh para pendukung Islam formalis. Jika kelompok Islam formalis yang menafsirkan kata “al silmi” dengan kata “Islami”, Gus Dur menafsirkan kata tersebut dengan “perdamaian”. Menurut Gus Dur, kon¬sekuensi dari kedua penafsiran itu punya implikasi luas. Mereka yang terbiasa dengan formalisasi, akan terikat kepada upaya-upaya untuk mewujudkan “sistem Islami” secara fundamental dengan mengabaikan pluralitas masyarakat. Akibatnya, pemahaman seperti ini akan menjadikan warga negara non-Muslim menjadi warga negara kelas dua.

Bagi Gus Dur, untuk menjadi Muslim yang baik, seorang Muslim kiranya perlu menerima prinsip-prinsip keimanan, menjalankan ajaran (rukun) Islam secara utuh, menolong mereka yang memerlukan pertolongan, menegakkan profesionalisme, dan bersikap sabar ketika menghadapi cobaan dan ujian. Konsekuensinya, mewujudkan sistem Islami atau formalisasi tidaklah menjadi syarat bagi seseorang untuk diberi predikat sebagai muslim yang taat.

SUMBER ARTIKEL: http://membumikantoleransi.wordpress.com/2012/05/04/buku-islamku-islam-anda-islam-kita/

Minggu, 09 September 2012

Kiai Nyentrik Membela Pemerintah / Abdurrahman Wahid


Harga: Rp.51.000 (blum ongkir)
Kondisi : Bagus
Tebal: 133 hal

Synopsis
esai-esai Antropologi Kiai ini bertutur ttg rasionalitas yang penuh warna, yg bergerak antara ortodoksi nan ketat dan penyiasatan pragmatik agar kehidupan tetap berlangsung.Kearifan? atau pengkhianatan?

Table of Contents
1 pesantren dan ludruk .................1
2 kiai nyentrik membela pemerintah........7
3 kiai Chasbullah dan musuhnya.............13
4 sulit masuknya, mudah keluarnya.........17
5 kiai ikhlas dan ko-edukasi.......................21
 6 rasionalitas kiai Adlan..............................25
7 kiai Razaq yang terbakar........................29
8 ketat tapi longgar.....................................35

 Judul : Kiai Nyentrik Membela Pemerintah****
Penulis : Abdurrahman Wahid****
Penerbit : LKiS, Yogyakarta****
Cetakan : Pertama, 1997****
Peresensi : Hengki Ferdiansyah****

Jujur, ketika membaca buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah seakan-akan Gus
Dur mendesak dan mendorong saya untuk segera menuliskan kisah-kisah tentang
para buya di Sumatra Barat.****

** **

Buya adalah sebutan untuk seorang Kiai di Minang. Gelar ini biasanya
diberikan kepada orang yang ‘alim dalam ilmu agama. Posisi Buya di Minang
tidak sesakral Kiai di Jawa. Jika di Jawa seorang santri sangat takut
kepada Kiainya, bahkan ketika Kiai menjelaskan kitab, sangat jarang
ditemukan santri yang mau mengkritik Kiainya.****

** **

Akan tetapi di Minang-khususnya di pesantren saya- mengkritik Buya ketika
menjelaskan kitab adalah suatu hal yang biasa. Terkadang, dimalam harinya
buya membekali muridnya dengan beberapa pertanyaan agar ditanyakan kepada
guru yang mengajarnya esok hari. Hal semacam ini disebut dengan kaji
babungkuih. ****

Sebagai santri yang pernah sekolah di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung,
yang didirikan Syekh Sulaiman ar-Rasuli-salah seorang ulama yang tetap
mempertahankan kitab kuning di saat kitab-kitab putih mulai mengancam- saya
merasa malu plus kagum terhadap sosok Gus Dur. Pengetahuan Gus Dur terhadap
Kiainya sangatlah luar biasa. Selain itu beliau mampu menuliskan dan
merasionalkannya, inilah yang membuat saya terkesima.****

** **
Sementara saya, keakraban dan pengetahuan saya terhadap sosok Inyiak
Canduang (panggilan akrab Syekh Sulaiman) masih minim dan terbatas.
Ditambah lagi, sangat jarangnya buku-buku yang menulis tentang biografi
Inyiak Canduang, apalagi sisi rasionalitasnya, sebagaimana yang dilakukan
Gus Dur.****

Awalnya saya tidak begitu akrab dengan Gus Dur, terutama dengan pemikiran
beliau. Pandangan saya tentang Gus Dur sama seperti masyarakat awam
lainnya. Gus Dur bagi saya pribadi yang nyeleneh, kerjanya hanya bikin
sensasi dan kontroversi, apalagi sewaktu baru saja diangkat jadi presiden
langsung pergi “jalan-jalan” ke luar negeri.****

** **
Pikiran picik dan sempit ini sangat wajar teruntai dalam benak saya. Sebab
di Bukittinggi, tempat saya sekolah, sangat jarang sekali didapati
buku-buku yang berbicara mengenai Gus Dur. Sehingga akses untuk mengenal
lebih dekat ide-ide Gus Dur sangatlah susah, apalagi internet pada waktu
itu belum massif seperti saat ini.****

Pikiran kolot saya itu mulai berubah setelah beberapa bulan tinggal di
Jakarta. Saat Gus Dur meninggal saya menyaksikan semua orang mulai dari
yang miskin sampai yang kaya, Islam maupun non-muslim ikut mendoakan dan
merasa kehilangan Gus Dur. Saat itu pulalah saya mulai berpikir, apa
sebenarnya kehebatan Gusdur? Pertanyaan ini benar-benar mulai terjawab
ketika saya mengikuti program TKG (Tadarus Kolom Gus Dur) yang diadakan the
Wahid Institute setahun yang lalu.****

Sebenarnya buku yang berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah ini
merupakan kumpulan dari esai-esai Gus Dur yang pernah dimuat di Tempo dan
Kompas. Seperti kata Sobary, tak sepotong pun penjelasan diberikan mengapa
Kiai Nyentrik Membela Pemerintah dipilih menjadi judul buku ini?****

** **
Sebagaimana yang diketahui, buku ini berbicara tentang sisi lain dari para
kiai. Di sini Gus Dur menceritakan bagaimana sisi rasionalitas dan
progresifitas para kiai dalam menghadapi persoalan masyarakat yang semakin
berkembang.****

Sosok Kiai Wahab Sulang misalnya, meskipun kiai desa ini tidak bisa
menggunakan rem sepeda motor, namun ketika berbicara dan menanggapi
persoalan modern beliau tidak kaku dan ketat. Malahan beliau lebih longgar,
bahkan beliau mampu memproduksi fikih menjadi lebih humanistik dan
kosmopolit sebagaimana yang dipuja orang, namun tetap berlandaskan
keyakinan agama. ****

Selain sisi rasionalitas para kiai, ada satu hal lagi yang sangat penting
dalam membaca buku Gus Dur ini. Jika buku ini dibongkar secara manhaji akan
kelihatan bagaimana cara Gus Dur menulis dan menyampaikan gagasannya agar
mudah dipahami masyarakat. Gus Dur tak perlu berbicara dan mengutip
teori-teori yang rumit, namun cukup bercerita tentang sosok kiai, orang
sudah paham apa yang hendak dikatakan Gus Dur. Cara seperti ini patut
ditiru bukan?****

** **

Hengki Ferdiansyah, mahasiswa di UIN Ciputat, aktif di Komunitas Saung,
sebuah forum kajian yang gemar menyuarakan pemikiran al-Jabiri dan Gus Dur**
**
--
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Related Post

ShareThis