.

.

Sabtu, 29 Juni 2013

PUNCAK KEKUASAAN MATARAM: Politik Ekspansi Sultan Agung Penulis: H.J. De Graaf

cover depan lumayan bagus. isi dalam buku ada bekas tandatangan pemilik pertama, alias seken
Harga : Rp.150.000 (belum termasuk ongkir)
PUNCAK KEKUASAAN MATARAM. Judul: Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung Penulis: H.J. De Graaf
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: xv + 380 Halaman
Dimensi: 14,5 x 21 Cm
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti & KITLV, Jakarta
Tahun: Cetakan Ketiga (Edisi Revisi), 2002

Hermanus Johannes de Greaf semakin giat mengeluti Jawa sewaktu menjadi guru sejarah di Surakarta. Disini ia banyak menulis dalam majalah Djawa, terbitan Java_Instituut, dan tulisan-tulisan inilah kelak yang dikembangkan menjadi serangkaian buku tentang raja-raja mataram. Sempat menjadi dosen sejarah di Universitas Indonesia dan Universitas Leiden, De Graaf tetap produktif sampai di hari tuannya. Bukunya yang terakhir, yang ditulis bersama Pigeaud, Chinese Muslims In Java in The 15th and 16th Ceuntries. terbitan setelah ia meninggal pada 24 Agustus 1984.

MAX HAVELAAR, MULTATULI. Terjemahan H.B. JASSIN

ADA PAKU YG MENANCAP 2, berfungsi seperti steples agar halaman tidak protol
TERJUAL BY JATENG
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan eks perpust, ADA PAKU YG MENANCAP 2 DAN HAL JUDUL YG ROMAWI i-ii (mencangkup hal judul dan foto pengarang, hilang sepertinya). langsung masuk ke hal romawi iii yaitu hal judul
Tebal: 359 halaman
Penerbit: Djambatan cetakan keenaam 1985

Berat: 0,32 Kg

Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.

Peran dalam literatur

Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
Terjemahan bahasa Indonesia

HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa Belanda aslinya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang.

Pada tahun 1973 Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.
Adaptasi layar lebar

Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar pada tahun 1976 oleh Fons Rademakers sebagai bagian dari kemitraan antara Belanda-Indonesia. Namun filmMax Havelaar tersebut tidak diperbolehkan untuk ditayangkan di Indonesia sampai tahun 1987.

Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda")

Roman ini hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya

cover belakang buku

adjib rosidi membitjarakan TJERITA PENDEK INDONESIA

Utuy T. Sontani, orang-orang sial
kumpulan cerpen subuh Pramoedya Ananta Toer diuraikan oleh adjip rosodi
COVER buluk
adjib rosidi membitjarakan
TJERITA PENDEK INDONESIA

terjual
Harga : Rp.200.000 (belum termasuk ongkir)
Kondisi: LUMAYAN BAGUS
dJAMBATAN dJAKARTA 1959
TEBAL: 176 HAL

Dalam buku Tjerita Pendek Indonesia (1959) Ajip Rosyidi juga menyebut Muhammad Kasim dan Soesman Hs sebagai tokoh penting dalam sejarah cerpen Indonesia, perintis cerpen Indonesia. Pernyataan Ajip telah dibuktikannya dengan penelusuran jejak M. Kasim pada majalah Pandji Poestaka yang terbit tahun 1923. Kumpulan cerita lucu M. Kasim banyak dimuat di majalah tersebut.
Di akhir abad ke-19 sampai zaman pendudukan Jepang publikasi cerpen masih muncul hanya melalui penerbitan media massa, hampir-hampir tidak ada yang dipublikasikan langsung dalam bentuk buku. Masa itu cerpen tidak dapat dipisahkan dari majalah atau surat kabar. Dari sanalah, cerpen Indonesia lahir, berkembang dan memperoleh bentuk yang lebih jelas pada tahun 1930-an. Pada zaman Jepang, pemerintah pendudukan Jepang banyak menyelenggarakan lomba penulisan cerpen. Cerpen menjadi makin populer. Cerpenis-cerpenis yang pernah memenangi lomba penulisan cerpen waktu itu ialah, A.S. Hadisiswoyo, Muhammad Dimyati, Rosihan Anwar. Nama-nama lain yang banyak muncul di media massa dengan karyanya di antaranya, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan D. Djokokoesoemo.
Keberadaan cerpen Indonesia semakin mapan di era tahun 1950-an. Pengaruh asing yang semakin deras, timbulnya semangat kedaerahan, dominasi pengarang Sumatra yang semakin pudar, dan terbitnya berbagai media massa, termasuk majalah Prosa dan Tjerita Pendek yang dikelola Ajip Rosidi, memberi kesempatan munculnya cerpenis dari pelosok tanah air.
Keberanian para cerpenis dalam melakukan berbagai eksperimen, didorong dengan dibukanya kebebasan untuk berekspresi. Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada sekitar dekade 50-an. Dekade 50-an disebut zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia, karena pada masa itulah muncul pengarang dengan karya yang fenomenal seperti Riyono Pratikto, Subagyo Sastrowardoyo, Sukanto SA, Nh Dini, Bokor Hutasuhut, Mahbud Djunaedi, AA Navis, dan sederet nama lainnya. (Jacob Soemardjo dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia, 1975).
Tema cerpen dekade 50-an lebih banyak condong pada agama yang tiba-tiba menjadi alat permainan. Penjelajahan pada agitasi dan kegelisahan psikologis digunakan sebagai sarana menyampaikan eksperimen. Perasaan si tokoh menjadi liar, aneh, dan tak terduga.
isi djudul buku
cerpenis2 indonesia yg diuraikan oleh adjip rosidi

AJAHKU

COVER BULUK
halaman djudul
ilustrasi wajah ajah HAMKA
 terjual
Harga : Rp.250.000 (belum termasuk ongkir)
Judul : AJAHKU
Penulis : HAMKA
Tjetakan kedua
Penerbit: “WIDJAYA” – DJAKARTA 1958
280 hlm
Soft Cover
kondisi: Buku Bekas Orang, buluk sesuai terlihat di foto

Isi dalam buku

Deskripsi :
Buku "Ajahku-Baca = Ayahku" ini adalah sebuah Buku biografi ditulis Hamka untuk Ayahandanya sendiri, Yaitu Dr. H. Abd. Karim Amrullah, Seorang Tokoh Ulama Sumatera Barat yang cukup dikenal pada masanya. Seperti apa yang diucapkan Hamka dalam kata pengantar buku ini, bahwa menulis sosok ayahnya, sama artinya dengan menulis perkembangan Islam Di Minangkabau.

ISI BUKU

Pendahuluan
Agama Islam di Minangkabau
Ajahku
Negeri Sungai Batang
Memulai perdjuangan
Semangat baru dalam Islam
Zaman pergerakan
Melawat ke Mesir
Perdjuangan baru
Perhubungannja dengan Muhammadijah
Tjermin terus dan pelita
Sebab-sebab diasingkan
Ditanah pembuangan
Sekeliling pribadinja
Tjita-tjitanja
Orang-orang sekelilingnja
Harinja jang achir
Letak ajahku dalam sedjarah pembangunan Islam di Indonesia
Hanja Allah.
sedjarah ringkas dan daftar isi

dafta isi dalam buku

Kamis, 27 Juni 2013

Misteri Syekh Siti Jenar. Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa

Kondisi: Lumayan bagus, cuma ada yg hilang 1 lembar pada hal judul

Harga: Rp.175 rb (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus, hilang 1 lembar pada hal judul
Tebal: 550 hal
Misteri Syekh Siti Jenar.
Penerbit, : Pustaka Pelajar.
Penulis, : Hasanu Simon, Prof. DR.
Tahun Terbit, : Cet 1: September 2004, Cet 4: Januari 2007.

Islam telah masuk ke jawa pada abad ke-8. Raja SCHIMA dari kalingga yang berkuasa pada abad ke-9 dan makam FATIMAH Binti MUIN Bin HIBATULLAH di desa Leran, Gresik, yang meninggal pada tahun 1028 adalah bukti bahwa islam telah lama mulai dianut oleh penduduk jawa. Namun selama lebih dari 7 abad, perkembangan islam di jawa belum mampu menembus dominasi tiga agama yang dianut oleh penguasa dab mayoritas penduduk jawa, yaitu Hindu, Budha dan Animisme. Akan tetapi perang Paregreg tahun 1401-1406 yang merupakan puncak pertikaian penguasa Jawa sejak abad ke-11 dalam perebutan kekuasaan telah membalik keadaan. Memanfaatkan situasi yang kacau balau akibat Perang Paregreg tersebut, tim dakwah yang dikirim oleh Sultan Turki Muhammad I berhasil membuat sejarah baru proses islamisasi di Jawa. Tim dakwah pimpinan Maulana Malik Ibrahim itu tiba pada tahun 1404. Meniru cara dakwah Rasulullah Saw dalam menyebarkan agama islam, Maulana Malik Ibrahim dan kawan-kawan berhasil memikat hati para penguasa dan masyarakat untuk melihat agama Islam, karena mereka bosan dengan pertikaian agama lebih dari 6 abad, mendambakan ketentraman keamanan dan bosan dengan keterpurukan ekonomi sebagai akibat pertikaian politik para penguasa sejak perang paregreg. Akan tetapi proses islamisasi di Jawa mulai membelok ketika islam sudah mulai dominan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan masuknya tokoh islam pribumi yang diawali dan dipimpin oleh Sunan Kalijogo. Bentuk islam sinkretis hasil dakwah Sunana Kalijogo berbeda dengan islam murni yang dianut masyarakat pesisir, hasil dakwa para wali Timur Tengah. Di dalam proses islamisasi di daerah pedalaman yang sinkretis itu, muncul pula tokoh kontroversial yang ketenarannya hampir menyamai Sunan Kalijogo, yaitu Syekh Siti Jenar. Ketidak jelasan asal usul tokoh ini, yang semula dampaknya tidak begitu begitu berarti bagi perkembangan islam setelah ditindak tegas oleh penguasa Demak Bintoro, sering kali dimamfaatkan oleh kaum Zindig untuk melemahkan perjuangan islam . Oleh karena itu umat islam indonesia perlu menghadapi propaganda tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang dibesar-besarkan itu dengan kritis, arief, dan istiqomah. Munculnya gerakan kembali Syekh Siti Jenar tidak terlepas dari gerapan menentang islam yang lain, yaitu atheisme, pendangkalan akidah dan lain-lain. ISBN: 979-3477-69-5

Rabu, 26 Juni 2013

Sisi lain Syekh Siti Jenar : cikal bakal ajaran Kejawen / Drs. Soesilo.

 
Sisi lain Syekh Siti Jenar : cikal bakal ajaran Kejawen / Drs. Soesilo.

Harga: Rp.45.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus.
Sisi lain Syekh Siti Jenar : cikal bakal ajaran Kejawen / Drs. Soesilo.
Cet. 1.
tebal: xxvi, 230 p. ; 20 cm.
Published: Malang : Yayasan Yusula, 2007.


Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
    Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.
    Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah.  Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.

Yang indah, berfaedah dan kamal : sejarah sastra Melayu dalam abad 7-19 (Seri INIS, #34) by Vladimir I. Braginsky

TEBAL: 695 HAL
BERAT: 1,62 KG
KONDISI: BAGUS INIS JAKARTA 1998

terjual
HARGA: Rp.250 rb (blum ongkir)
TEBAL: 695 HAL
BERAT: 1,62 KG
KONDISI: BAGUS INIS JAKARTA 1998
Judul, Yang indah, berfaedah dan kamal : sejarah sastra Melayu dalam abad 7-19
(Seri INIS, #34)
by Vladimir I. Braginsky
ISBN/ISSN, 9798116577.

buku penting perihal sejarah sastra melayu karya orang Rusia V.I. Braginsky
Ia mengatakan bahwa drama ini merupakan sebuah cermin didaktis yang utuh meskipun tidak secara langsung memperlihatkan sifat didaktisnya; dalam karya seni seperti inilah yang selalu dipandang sebagai karya yang piawai.

Kabarnya, menurut tradisi Melayu-Islam warna hijau ialah pakaian penduduk surga. Apakah itu bermakna raja perempuan Patani dalam drama empat babak itu siap menyongsong kedatangan maut? ‘’Ambil dan kaurasailah nikmat kekuasaan!’’ Agaknya itulah makna tindakannya dengan menyerahkan selempang kuning kepada Bendahara.

Dalam drama empat babak yang sangat dominan bisunya ini warna hijau dan kuning bermain kilas berkilas, ganti berganti, dengan tertib, dengan liar. Ada pula lambang jambatan baik sebagai penghubung dan juga sebagai jambatan sebagai pemisah. Bila lambang ini menjadi penghubung dan bila pula menjadi pemisah? Raja perempuan yang terus membisu menyerahkan kekuasaan kepada seorang pendurhaka yang dulunya dikenal sebagai politikus tangguh. Bukankah di negeri ini dulu pernah ada sebuah drama tari yang dahsyat berlangsung ketika seorang seniman yang juga anggota keluarga diraja menciptakan sebuah tarian yang mengisahkan tentang burung kesayangannya yang terlepas dari sangkar, terbang menghilang ke dalam rimba. Drama empat babak warna warni di panggung Patani ini dihantar dengan membisu, dengan isyarat dan warna-warna dapat lebih dahsyat efeknya dari serangkaian kata-kata yang dapat menguap segera setelah diucapkan.

Di Patani pada suatu masa dulu, setidak-tidaknya seperti yang telah ditinjau oleh Profesor Braginsky, telah berlangsung drama empat babak tanpa kata-kata, dialognya dibuat dengan gerak dan warna-warna. Dan warna-warni yang terpakai dalam bentangan drama empat babak itu bukanlah warna-warna yang dikenal dalam sufisme seperti yang dinyatakan oleh Raymond LeRoy Archer sebagaimana dijadikan semboyan pemandu pada tulisan ini. Drama empat babak itu menggambarkan tentang perlawanan tanpa kata-kata dengan warna-warna setempat. Maka siapa yang sempat jatuh asyik ketika merenunginya tergolong dalam sekelompok orang yang beruntung, karena dapat menikmati karya seni.

sumber potongan artikel: http://www.riaupos.co/kolom.php?act=full&id=218&kat=5#.UcrWZPnCaSo

Related Post

ShareThis