.

.

Rabu, 18 Juli 2012

KERAJAAN-KERAJAAN AWAL KEPULAUAN INDONESIA DAN SEMENANJUNG MALAYSIA

TERJUAL
Kondisi: segel
KERAJAAN-KERAJAAN AWAL KEPULAUAN INDONESIA DAN SEMENANJUNG MALAYSIA
Pengarang : Paul Michel Munoz
Penerbit : Mitra Abadi
ISBN : 979-320-007-3
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : 2009
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : xvi + 554
Kertas Isi : HVS
Cover : Soft
Ukuran : 15 x 22
Berat : 0,70 Kg
Belakangan ini di Indonesia, orang begitu mudah jatuh mencari identitas baru. Barangkali muak dengan keadaan yang sekarang terjadi di Indonesia abad ke-21, yang menegasikan keinginan mereka disebut orang Indonesia dengan kata "malu jadi orang Indonesia" atau kata lainnya, mereka mencarinya hingga jauh ke belakang, ke awal, bukan kepada munculnya semangat kebangsaan di awal abad ke-20, tetapi melesat hingga ke zaman kejayaan Nusantara. Majapahit, Sriwijaya, Salakanegara sebut saja yang belakangan ini mengemuka sebagai kerajaan yang disinyalir lebih dulu dan utama daripada Tarumanegara di pulau Jawa, orang-orang bergegas memaknainya sebagai identitas baru yang hendak dimunculkan menggantikan gagasan ke-Indonesia-an yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda tahun 1928. Seperti apakah wujudnya, semua sebetulnya sedang meraba-raba. Sekelompok anak muda tergabung dalam Turangga Seta sedang bergiat betul mencari "piramida" yang diyakini ada ratusan jumlahnya, sebagai pertanda kejayaan Nusantara. Ahli-ahli dari luar, seperti Profesor Arysio Santos menjadi fenomena sejak mengatakan Atlantis itu sebetulnya ya Nusantara. Lalu semua itu segera diakui sebagai identitas baru tanpa berupaya berpikir jernih bagaimana akar sejarahnya. Fenomena apakah ini kalau bukan "kegamangan identitas"?

Digerakkan oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendapatkan cerah pikir itulah, buku ini dapat menjadi pengantar yang melengkapi perdebatan banyak orang tentang keberadaan kerajaan-kerajaan yang diduga memiliki kecerdasan setingkat kerajaan Firaun di Mesir kuno. Benarkah ada jejak sejarahnya? Buku ini mengupas semua kerajaan awal di Indonesia hingga Semenanjung Malaysia dari zaman prasejarah, abad 1-7 M, dan abad-abad kelanjutannya secara kritis. Melalui buku ini, Munoz secara luar biasa memberi banyak sumber sejarah (bukan saja dari Barat, tetapi juga sumber dari China dan Arab) dan mencoba memberikan analisa terkini dan mendetail tentang kerajaan-kerajaan awal kita.

sumber artikel: http://www.goodreads.com/review/show/57981400
DAFTAR ISI :

BAB 1. PRAKATA

BAB 2. PRASEJARAH
Paleolithikum
Hoabinhian
Bacsonian
Kerajinan batu dan batu belah lanjut (later Pebble And Flake Industries)
Kerajian Niah
Kerajinan Tingkayu
Kerajian Toali, Sulawesi
Kerajinan Sampung Jawa
Kerajinan Timor dan Flores
Neolithikum Awal, Suatu Periode Peralihan
Gua Sireh, Niah dan Lubang Angin, Kalimantan
Kebudayaan Ban Kao: Ekspansi di Semenanjung Malaysia
Neolithikum: Migrasi-Migrasi Austronesia
Keragaman Kultural
Kebudayaan Megalithikum
Organisasi Kekeluargaan, Klan dan Kesukuan
Perburuan Kepala dan Kuburan Tempayan: Dua Adat Kelompok Austronesia
Kuburan Tempayan
Jaman Logam
Kebudayaan Dong Son
Kebudayaan Sa Huynh
Difusi Kerajinan-Kerajinan Paleometalik
Pasemah: Sebuah Buku Terbuka Bagi Jaman Logam dan Neolithikum Akhir
Kebudayaan India
Penetrasi India: Mitos dan Legenda
Kaudinya, Sang Brahmana
Agastya, Mitos
Ajia Saka, Sang Pahlawan
India Barat Daya Abad 3 SM
Kaum Shaka, Indo-Scythe
Penetrasi Kebudayaan India: Teori Emas
Penetrasi Kebudayaan India: Penjelasan yang Lebih Prosaistik
Catatan Tentang Pengaruh Kebudayaan Cina
Kesimpulan Atas Indonesia Prasejarah


BAB 3. PENDAHULUAN : ABAD 1 - 7 M
Ajaran Buddha
Ajaran Hindu
Kekuatan Maritim
Berlayar dengan Angin Musim
Proses Pembentukan Negara Politis di Asia Tenggara
Tahap Pertama: Sebuah Fase Lokal
Tahap Kedua: Sebuah Fase Regional
Tahap Ketiga: Fase Imperial
Kronologi Perkembangan Negara di Asia Tenggara: Roda Perdagangan
Funan
Kerajaan-Kerajaan Awal Abad : 1 - 5
Lin Yi (Cham)
Dunsun
Panpan
Langkasuka-Kedah
Chitu (Tanah Merah)
Kiu-Li
Barousai (Barus)
Ko-Ying
Si Tiao
Poli
P'u-Lo-Chung
Chu-Po
Kutei
Kerajaan-Kerajaan Abad ke-5 dan 6 M
Lin-Yi Cham
Panpan
Langkasuka-Kedah
Kantoli
Holotan
Tarumanagara (Tolomo)
Holing (Chopo)
Pemerintahan Kerajaan-Kerajaan Hindu Awal
Kesimpulan Tentang Kerajaan-kerajaan Awal


BAB 4. PERIODE KLASIK
Sumatra dan Semenanjubng malaysia: Abad 7-13 M
Malayu: Periode Awal, Abad 17 M
Sriwijaya
Sebuah Semesta Buddha
Penaklukkan Malayu
Sekilatas Tentang Kutukan-Kutukan Tantrik
Bangka, Sunda dan Jawa Tengah
Langkasuka: Keberhasilan Diplomasi?
Integrasi Panpan/ Tambralingga
Jawa tengah di Bawah Sailendra
Petualangan-Petuangan di Kamboja Selatan
Kapal-Kapal Sriwijaya
Pembebasan Spiritual Kamboja Selatan
Jawa Tengah: Persekutuan dan Pemecahan
Beberapa Aspek Prosaik dari Kehidupan Maharaja
990 M : Perseteruan Beasar Melayu-Jawa
Pusat-Pusat KekuasaanSriwijaya
Perang Berkepanjangan di Kamboja: Campur Tangan Tambralingga
1025M: Bencana dan Dekadensi
Semakin Melemah
Palembang, Ibukota Sriwijaya yang Hilang
Pergeseran Politik: Hegemoni Jambi
Hentakan Melayu yang Terakhir
Tumbangnya Melayu
Senja Sebuah Mandala
Daftar Duta-Duta Sriwijaya yang Diutus ke Cina
Sumatra di Bawah Pengaruh Jawa
Melayu pada Abad 13 - 14
Kerajaan Minangkabau Adityavarman
Sumatra Selatan pada Abad 14
Palembang dan Jambi Pada Abad 14 dan 15
Abad 14: Pembalasan Majapahit
Abad 15: Sarang Bajak Laut
Beberapa Catatan Tentang Sejarah Singapura
Sumatra Utara, Barus dan Panai
Barus
Panai

Sumatra Utara: Negara-Negara Dagang di Wilayah Selat pada Akhir Abad 13
Jawa, Abad 5 - 15
Jawa Barat, Abad 4 - 15
Holotan, atau Haratan
Tarumanagara, atau Tolomo
Kerajaan Banten Girang
Kerajaan Pajajaran
Lepasnya Banten Girang
Lepasnya Sunda Kelapa
Jawa Timur dan Tengah, Abad 5 - 15
Holing (Chopo)
Puncak Kejayaan Dinasti Sailendra
Kerajaan Mataram, Dinasti Sanjaya
Ekaspansionisme: Awal Pengaruh Jawa
Periode Isana
Ekaspansi Pemukiman di Jawa Timur
Masa Kekuasaan Dharmavamsa
Kesalahan Fatal
Pembalasan Dendam dan "Palaya"
Kerajaan Airlangga, Abad 11
Kerajaan Kediri, Abad 11 - 13
Daftar Raja-Raja Kediri yang Bisa Diidentifikasi
Kerajaan Singosari, Dinasti Rajasa, Abad 13
Ken Anggrok, Pendiri Dinasti Rajasa
Anusapati Berkuasa, 1227 - 1248 M
Kekuasaan Toh Jaya, 1248 M
Rangga Wuni dan Mahisha Champaka Berkuasa, 1248 - 1268 M
Kekuasaan Kertanagara
Ekspansionisme Singosari
Hinaan Terhadap Bangsa Mongol
Pemberontakan Kediri
Invasi Mongol
Kerajaan Majapahit, Abad 13 - 15
Kekuasaan Jayanagara
Masa KekuasaanTribhuvana Devi
Administrasi Majapahit
Raja dan Kerabat Kerajaan
Para Yuvaraja
Dewan Menteri
Pemerintahan Provinsi
Pasukan
Kapal-kapal Majapahit
Masa Kekuasaan Hayam Wuruk
Trowulan: Sebuah Kota Simbolik
Suksesi yang Kacau
Akhir Dinasti Rajasa
Dinasti Terakhir
Ekspansi Demak
Kerajaan Blambangan
Bali
Kalimantan


BAB 5. KESIMPULAN PERIODE KLASIK

BAB 6. TAMBAHAN
Kanibalisme
Hinduisme : Wisnuiosme dan Siwaisme
Dewa-Dewa Besar Hindu
Karma
Reinkarnasi
Bhakti
Puja
Tujuan-Tujuan Manusia
Gunung-Gunung Suci, Ibukota dan Kota
Kalender Shaka
Sumber-sumber Sejarah
Epigrafi
Aksara dan Bahasa yang Digunakan dalam Prasasti-Prasasti
Sumber-Sumber Lokal
Sumber-Sumber Cina
Sumber-Sumber India
Sumber-Sumber Eropa
Timur Tengah : Sumber-Sumber Bizantium, Arab dan Persia
Pararaton dan Nagarakertagama: Dua Epik Jawa
Organisasi Sosial Kerajaan-Kerajaan Jawa Timur
Para Raja dan Bangsawan
Rakyat Jelata, Status Hukum dan Perbudakan
Makanan dan Hiburan
Kematian
Administrasi Kerajaan-Kerajaan Jawa Timur
Kebijakan Ritual
Perdagangan dan Ekonomi Kerajaan-kerajaan Jawa Timur
Pajak
Mata Uang, Bobot dan Ukuran
Konstruksi Candi
Borobudur
Patung-Patung
Panel-Panel Relief
Prambanan
Candi Penataran


BAB 7. GLOSSARY

RASTA DAN PERLAWANAN


 
Harga: Rp.40.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, segel
berat: 0,61 Kg
Judul buku: RASTA DAN PERLAWANAN/ Penulis: Horace Campbell/ Penerjemah: Dina Oktaviani/ Penyunting: Fitri Harjanti/ Penerbit: InsistPress Yogyakarta /Edisi: April 2009/
Tebal: lii + 594 Halaman, 13x19 cm./
Stoks: 14 Biji

RASTA DAN PERLAWANAN adalah studi tentang Gerakan Rastafari di dalam semua manifestasinya, dari mulai evolusinya di pegunungan-pegunungan Jamaika hingga manifestasi masa kininya di jalanan-jalanan kota Birmingham dan Pemukiman Shashamane di Etiopia. Buku ini menampilkan sumber-sumber budaya, politik, dan spiritual dari gerakan perlawanan tersebut, serta menekankan pada tuntutan perubahan yang diteriakkan oleh kaum-kaum yang tertindas. Buku ini membongkar tradisi intelektual yang selalu menempatkan cap milenarian pada gerakan Rasta.

••••••••••••••••
Kurangnya studi politik tentang Rastafari di Karibia selalu menjadi sebuah kebolongan yang menyedihkan bagi Revolusi Karibia. Melalui buku ini, Horace Campbell telah membuat sebuah langkah besar untuk mengisi kebolongan tersebut. Bukan berarti juga bahwa para penulis dan pemikir Karibia (kita tidak seharusnya memusingkan pemisahan definisi antara penulis dan pemikir) tidak melakukan banyak investigasi mengenai cara hidup Rastafari dengan segala kejernihan dan kedalamannya di seluruh area investigasi yang memungkinkan, beberapa bahkan menyentuh wilayah-wilayah politik.
Campbell memiliki banyak kualifikasi untuk melakukan pembahasan mengenai Gerakan Rastafari ini. Dia telah berjuang selama beberapa tahun untuk menerapkan teori ilmu pengetahuan masyarakat ke dalam realitas politik di Afrika dan Karibia, dan di dalam prosesnya hal tersebut selalu mengabaikan proses-proses penciptaan Tuhan baru. –Eusi Kwayana

••••••••••••••••
Horace Campbell dilahirkan di Montego Bay, Jamaika pada tahun 1945. Dia adalah seorang penulis, guru, dan juga aktivis politik yang telah banyak belajar di Afrika, Karibia, Inggris, dan Amerika Utara. Tulisannya telah terbit dalam dua buku: Four Essays on Neo-colonialism in Uganda dan Pan-Africanism: The Struggle Against Neo-colonialism and Imperialism, juga sejumlah artikel, makalah, dan esai yang diterbitkan di dalam berbagai jurnal di Inggris, Amerika Utara, Karibia, dan Afrika. Sejak tahun 1981, dia mengajar di Universitas Dar-es-Salaam di Tanzania, Afrika Timur.

sumber artikel: http://blog.insist.or.id/insistpress/archives/1259

Sumatera Barat Plakat Panjang


TERJUAL
Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
Kondisi: LUMAYAN. SINAR HARAPAN 1981
Tebal: 401 hal.
Berat: 0,38 Kg
usaha yang paling nyata atas penulisan sejarah Minangkabau dilaksanakan oleh Rusli Amran, seorang pensiunan Departemen Luar Negeri Indonesia.

Rusli Amran lahir di Padang tahun 1922 dan sempat mengenyam sistem pendidikan Belanda, Jepang dan Indonesia. Selama masa revolusi Rusli Amran membantu penerbitan surat kabar Berita Indonesia dan pada awal tahun 1950 bergabung dalam birokrasi pemerintah, pertama pada Departemen Pertahanan dan kemudian Departemen Keuangan hingga akhirnya pada Departemen Luar Negeri. Selama puluhan tahun Rusli Amran mewakili Republik Indonesia di Moskow dan Paris ketika orang-orang Minangkabau disingkirkan dari program kebangsaan. Ketika Rusli Amran pensiun ditahun 1972, Ia mendedikasikan dirinya pada proyek sejarah berskala besar yaitu menulis sejarah Sumatera Barat dalam bentuk yang bisa dimengerti dan dijangkau oleh para pelajar Indonesia.

Rusli Amran menyenangi arsip. Dia menghabiskan banyak waktu antara tahun 1970-1980 untuk menggali data dan nara sumber di Belanda dan Indonesia, dengan memfokuskan perhatian pada laporan dan penelitian yang tersedia pada Jurnal Kolonial Belanda pada abad ke 19. Buku pertama Rusli Amran adalah "Sumatera Barat hingga Plakat Panjang" yang merupakan sejarah lengkap termasuk juga laporan arkeologis pada abad ke 13. Dalam buku itu, Rusli Amran menitikberatkan pada interaksi Minangkabau dengan Inggris dan Belanda, sampai pada perang Padri dan Plakat Panjang yang merupakan awal dari pendudukan Belanda di Sumatera Barat.

Rusli Amran sangat cermat dalam melakukan penelitian akan tetapi gaya penulisannya dalam bukunya tidak formal. Dia berhati-hati sekali dalam menterjemahkan semua sumbernya kedalam bahasa Indonesia dan bab tentang masuknya bangsa Eropa diberi judul " Masuknya si Bule".

Buku pertamanya ini adalah proyeknya yang paling ambisius dengan hampir 700 halaman lengkap dengan referensi sumber, reproduksi dari arsip dan dokumen yang terkait beserta sumber asli. Buku keduanya adalah "Sumatera Barat Plakat Panjang" adalah buku lanjutan dari buku yang pertama yang disertai juga dengan terjemahan dari sumber-sumber Belanda yang diambil dari jurnal Belanda dan muncul dalam apendik. Kedua buku ini membuat sumber-sumber dalam bahasa Belanda yang secara bahasa dan tempat sulit terjangkau menjadi mudah terjangkau bagi para pelajar Indonesia yang berminat mempelajari Sejarah Sumatera Barat.

Buku ketiga dari Rusli Amran adalah "Sumatera Barat: Pemberontakan Anti Pajak tahun 1908" yang menjelaskan mengenai sistem tanam paksa kopi, eksploitasi kolonial pada abad ke 19 dengan penelaahan mengenai reaksi atas pajak. Buku ke empat didedikasikan pada kota kelahirannya Padang yang ditulis masih dengan gaya informal dan berisi campuran antara arsip-arsip dan kejadian-kejadian yang bersifat pribadi pada komunitas Eropa dan Jawa. Rusli Amran juga memasukan koleksi-koleksi foto reproduksi yang mengesankan .

Kegigihan Rusli Amran memakai nama Sumatera Barat daripada Minangkabau dalam setiap tulisannya menunjukan penafsirannya terhadap Sumatera Barat sebagai komunitas yang multi etnis dan sejarah interaksi terhadap bangsa Eropa, Cina, Jawa Batak dan Minangkabau. Buku terakhir dari Rusli Amran diterbitkan setelah beliau wafat pada tahun 1996 dalam bentuk kumpulan esai yang berjudul "Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah". Kumpulan esai ini merupakan penemuan yang menakjubkan pada tokoh-tokoh dan momen yang tidak biasa di Sumatera Barat yang menyenangkan untuk dibaca santai.

Terlebih penting dari tulisan Rusli Amran adalah kebaikan hati beliau selama melakukan penelitian terhadap arsip-arsip tersebut dimana beliau menggandakan setiap artikel dan manuskrip yang ada mengenai Sumatera Barat yang sangat banyak jumlahnya. Rusli Amran kemudian menggandakan dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam tiga lokasi yang berbeda di Sumatera Barat yaitu: Perpustakaan Bagian Literatur dan Kemanusiaan Universitas Andalas di Limau Manis, Ruang Baca Konsul Kesenian Sumatera Barat di Gedung Abdullah Kamil di Padang dan Pusat Dokumentasi dan Inventori Budaya Minangkabau di Padang Panjang. Melalui usaha Rusli Amran ini pelajar yang berminat pada sejarah Sumatera Barat dapat menjangkau buku yang menyediakan gambaran yang jelasi dan tanpa pretensi mengenai masa kolonial. Terlebih lagi mereka dapat menjangkau sumber yang asli tanpa harus pergi ke Belanda maupun Jakarta.

Pada akhirnya Istri dari Rusli Amran mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta sebagai tempat untuk belajar dan pusat dokumentasi dan tempat untuk mendukung penelitian mengenai sejarah Sumatera Barat. Walaupun secara internasional Rusli Amran tidak cukup terkenal, Rusli Amran telah banyak membantu dalam penelitian terhadap sejarah Minangkabau di Indonesia dan bukunya memang wajib untuk dibaca.

sumber potongan artikel: http://www.pelaminanminang.com/artikel/penulisan-ulang-sejarah-minangkabau.html

Bo‘ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima


SOLD BY NTB
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: baru lepas segel 2000
Tebal:642 Kg
Berat: 1,05 Kg
Judul Buku
:Bo‘ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima
Penulis
:Henri Chambert-Loir dan Siti Maryam R. Salahudin
Penerbit :
Yayasan Obor Indonesia (YOI), Jakarta
Cetakan
:Pertama, Januari 2000
Tebal
:Ixviii + 642 halaman
Ukuran
:15,7 x 23,8 cm


Buku di hadapan anda ini adalah buku penting karena merupakan sebuah dokumen sejarah yang berisikan berbagai hal yang berkaitan dengan Kerajaan Bima, kerajaan terbesar yang pernah berkuasa di Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, buku ini sangat penting dibaca bagi para sejarawan maupun khalayak luas yang berminat menelusuri sejarah Kerajaan Bima.

Selain dokumen sejarah, buku ini sangat menarik karena menyertakan pula dokumen asli dari Bo’ Sangaji Kai yang masih berbahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Jawi. Dengan demikian, pembaca yang mengerti tulisan Melayu dapat membandingkan dengan transliterasi yang ada. Jika ada ketidaksesuaian antarkeduanya, pembaca langsung dapat memberi komentar atau membenarkannya sendiri. Akan tetapi, bagi pembaca yang tidak mengerti aksara Jawi tetap akan kebingungan jika tidak memahami transliterasinya.

Maka dari itu, buku ini ditransliterasi oleh dua individu yang cukup seimbang dan saling melengkapi. Pertama adalah Henri Chambert-Loir, seorang sarjana Prancis yang memang menfokuskan diri pada kajian tentang dokumen-dokumen Kesultanan Bima dan yang kedua adalah Siti Maryam R. Salahudin, salah seorang keturunan langsung dari Sultan terakhir Kesultanan Bima. Dalam konteks ini, Henri dapat langsung mengoreksi dan membandingkan apa yang dipahami dan ditulisnya dari naskah Melayu dengan kerabat Kesultanan yang sedikit banyak ada ikatan emosional dengan nenek moyangnya dan tentunya mengenal betul kebudayaan Bima.

Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai foto dan silsilah raja-raja Bima yang pernah berkuasa. Dengan informasi ini, pembaca dapat membayangkan bagaimana keadaan Kerajaan Bima kala itu dan kemudian membandingkannya dengan informasi yang ada dalam naskah Bo’ Sangaji Kai ini.
Tentang Bo’ Sangaji Kai

Bo’ berasal dari bahasa Belanda Boek. Kata ini selanjutnya diserap ke dalam bahasa Mbojo dan menjadi Bo’. Adapun Sangaji Kai adalah gelar tradisonal Bima untuk raja-raja mereka sebelum berubah menjadi Sultan. Dengan demikian, Bo’ Sangaji Kai berarti “buku catatan raja-raja Bima” (h.xi).

Bo’ Sangaji Kai adalah salah satu buku terpenting dari berbagai jenis Bo’ Kerajaan Bima yang lain seperti Bo’ Bicara Kai, catatan Raja Bicara (wazir atau ketua adat) Kerajaan Bima, Bo’ Bumi Luma Rasana’e, catatan pegawai adat Kerajaan Bima, Bo Kadi, catatan tentang urusan agama, Bo’ Melayu, catatan tentang orang Melayu di Bima, dan Bo’ Dare Dura, catatan tentang keluarga bangsawan Makassar. Bo’ Sangaji Kai ditulis ketika Bima masih menjadi kerajaan dan berlaku hingga Kerajaan Bima berubah menjadi kesultanan, tentunya dengan disesuaikan dengan syariat Islam.

Bo’ Sangaji Kai aslinya ditulis di atas daun lontar dengan bahasa dan aksara kuno Bima. Naskah ini kemudian diubah ke dalam bahasa Melayu beraksara Arab atau Jawi pada masa Sultan Abil Khair Sirajudin (1645). Namun, sungguh sangat disayangkan, naskah asli Bo’Sangaji Kai dan Bo’ yang lain kini tidak ada lagi. Semua naskah Bo’ saat ini berbahasa Melayu dengan aksara Jawi. Di satu sisi, hal ini memudahkan pembaca karena bahasa Melayu lebih mudah dipahami (dengan syarat mengerti tulisan Arab) daripada bahasa Bima. Akan tetapi, dari sisi pelestarian naskah asli, hal ini tentu saja sangat menyedihkan.

Bo’ Sangaji Kai secara umum memuat berbagai catatan-catatan pendek atau panjang, yaitu pemerintahan Bima, mulai dari Sultan sampai pejabat yang paling rendah, silsilah keluarga raja-raja Bima ditambah sejumlah catatan tentang hari lahir atau wafat beberapa tokoh dari keluarga bangsawan, undang-undang Kerajaan Bima ditambah dengan catatan pengadilan perkara tertentu, hubungan Bima dengan kerajaan-kerajaan luar dan kompeni Belanda, cerita tentang berbagai ekspedisi Bima ke Manggarai pada tiga masa yang berbeda, yaitu 1727, 1760-1784, dan 1846, antara lain untuk merebut kembali daerah taklukan yang telah dikuasai oleh Makassar, dan sejumlah besar salinan akte yang disahkan oleh Sultan atau Raja Bicara, terutama tentang penjualan tanah dan kelompok masyarakat yang dinamai Dari (h. xiii).

Naskah-naskah ini tentu saja sangat penting untuk dipelajari jika ingin mengetahui seluk-beluk Kerajaan Bima pada masa lalu. Naskah-naskah ini juga menjadi bukti bahwa Kerajaan Bima adalah sebuah kerajaan besar dengan rakyat yang banyak karena sudah memiliki berbagai aturan yang ketat dan rinci.
Jejak Kerajaan Maritim

Satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa Kerajaan Bima merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di wilayah Indonesia Timur. Salah satu petunjuk tentang hal ini terdapat dalam kutipan teks-teks Jawa kuno, semisal Negarakertagama dan Pararaton, yang menyebutkan bahwa pelabuhan Bima telah disinggahi oleh kapal-kapal asing sekitar abad ke-10. Waktu orang Portugis mulai menjelajah nusantara, Bima telah menjadi pusat perdagangan yang berarti (h. xiv).

Bukti lain bahwa Kerajaan Bima pernah menjadi kerajaan maritim terbesar di kawasan Indonesia timur adalah adanya undang-undang Bandar Bima. Undang-undang ini mengatur tentang berbagai hal yang terkait dengan perdagangan yang berlangsung di Bandar Bima kala itu. Undang-undang ini begitu rinci mengatur perilaku para pedagang, utang piutang, budak-budak yang bekerja di Bandar Bima, dan berbagai masalah yang sering terjadi antarpedagang, seperti perkelahian antarpedagang.

Kerajaan Bima sebagai sebuah kerajaan maritim menyadarkan kita bahwa ternyata bangsa Bima memiliki akar kebudayaan perdagangan laut yang kuat. Fakta ini menimbulkan ironi ketika dibandingkan dengan pembangunan masyarakat Indonesia timur saat ini yang masih tertinggal. Kenapa justru kantong-kantong kemiskinan itu bertebaran di belahan timur nusantara yang pernah jaya ini?

Buku ini seolah-olah ingin mengingatkan kita akan ironi tersebut. Barangkali kita memang lupa bahwa Bima dahulu pernah jaya, bahkan menguasai bangsa-bangsa asing yang berniaga di sana. Tidak hanya Kerajaan Bima, beberapa kerajaan di Sulawesi seperti Gowa dan Luwu yang juga memiliki kebudayaan laut yang besar juga sangat Berjaya. Dua kerajaan ini bahkan lebih dulu maju daripada Kerajaan Bima karena budaya tulis Kerajaan Bima konon diajarkan oleh Kerajaan Gowa. Begitu juga dengan Kerajaan Sumbawa dan Dompu seperti yang diungkap secara sekilas dalam topik ini.

Indonesia sebagai negara kepulauan adalah fakta sejarah dan Kerajaan Bima adalah fakta sejarah yang lain. Naskah Bo’ Sangaji Kai ini menjadi dokumen yang penting dan berharga untuk selalu mengingatkan penguasa negeri ini agar terus berusaha mengembalikan kejayaan laut Indonesia dan bukan hanya menjadi sadar hanya setelah pulau atau bagian perbatasan negeri ini diklaim oleh bangsa lain.

(Yusuf Efendi/Res/27/05-10)
SUMBER ARTIKEL: http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/161/bo-sangaji-kai-catatan-kerajaan-bima

Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro


TERJUAL
Kondisi: bagus
Judul Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro
Penulis Purwadi, Megandaru W. Kawuryan, Dipanegara (Pangeran)
Penerbit Tunas Harapan, 2005
ISBN 9791117853, 9789791117852
Tebal 398 halaman

Dilahirkan dari keluarga Kesultanan Yogyakarta, memiliki jiwa kepemimpinan dan kepahlawanan. Hatinya yang bersih dan sebagai seorang pangeran akhirnya menuntunnya menjadi seorang yang harus tampil di depan guna membela kehormatan keluarga, kerajaan, rakyat dan bangsanya dari penjajahan Belanda. Namun resiko dari kebersihan hatinya, ia ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, rekayasa perundingan. Namun walaupun begitu, beliau tidak akan pernah menyesal karena beliau wafat dengan hati yang tenang, tidak berhutang pada bangsanya, rakyatnya, keluarganya, terutama pada dirinya sendiri.Kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan hati, kepemimpinan, kepahlawanan, itulah barangkali sedikit sifat yang tertangkap bila menelusuri perjalanan perjuangan Pahlawan kita yang lahir di Yogyakarta tanggal 11 November 1785, ini.

sumber artikel: http://irwansuhanto.multiply.com/reviews/item/12?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

PECUNDANG


TERJUAL
Harga: Rp.80.000 (blum ongkir)
KONDISI: baru lepas segel. bagus bnget!
Penerjemah: Ahmad Asnawi
halaman: 405 hal
berat: 0,52 kg
SINOPSIS

“Di sini ada kekuasaan, pribadi yang risau, dan kejujuran yang langka.”

-Washington Post World Book.

Sedikit pengarang Rusia yang menikmati popularitas yang sangat besar dalam kehidupannya sebagaimana Gorky, dan sedikit saja novel yang menyodorkan kepada kita kisah yang murung dan mendalam dari prahara besar revolusi Rusia. Pecundang ditulis pada tahun 1907 setelah pemberontakan bersenjata pada Minggu Berdarah yang menengarai Revolusi Bolshevik sepuluh tahun kemudian. Novel ini dengan baik menggambarkan bagaimana kaum belia, yang miskin akan insting politik, terpaksa bergabung dengan rezim Czar untuk memata-matai sahabat-sahabatnya, dan tanpa disadari tercekik oleh tatanan sosial baru. Inilah novel tentang konflik, kesetiaan, histeria massa, pertumpahan darah yang harus dimasukkan dalam senarai fiksi politik abad dua puluh.

TENTANG PENULIS

Maxim Gorky (1868-1936) adalah pengarang Rusia dan dikenal sebagai Bapak Realisme Sosialis. Nama aslinya adalah Aleksey Maximovich Peshkov. Adapun Gorky, nama samarannya, berarti ‘pahit’. Dalam kurun waktu 1906 hingga Perang Dunia I, Gorky hidup di luar negeri. Karena menentang Czar dalam revolusi 1917, ia diasingkan di Capri. Sekitar tahun 1936 ia meninggal secara misterius. Karya-karyanya yang lain diantaranya adalah Foma Gordeyev (1899), Mother and Enemies (1906), The Artamonov Affair (1925), dan Egor Bulychov and Others (1932)

IBUNDA. MAXIM GORKY TERJEMAHAN: PRAMOEDYA ANANTA TOER


TERJUAL
Harga: Rp.70.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, baru lepas segel
Tebal: 513 Kg
Berat: 0,62 Kg


Pramoedya Ananta Toer sebagai Kurir Sastra Dunia

Oleh Anton Kurnia

De plicht van een mens is mens te zijn—
Tugas manusia adalah menjadi manusia.
Multatuli)

Bisa jadi banyak karya para sastrawan dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita jika tak ada para penerjemah yang rela bersusah payah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar.

Pushkin, sastrawan ternama Rusia itu, suatu kali mengibaratkan para penerjemah sebagai “kurir sastra.” Pujian paling tinggi untuk para penerjemah mungkin diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Sastra 1998 dari Portugal yang juga seorang penerjemah produktif, José Saramago. Bekas anggota Partai Komunis Portugal yang kerap berurusan dengan penguasa ini mengatakan bahwa para pengarang hanyalah menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah. Karya terjemahan adalah jembatan untuk menggali khazanah sastra dunia dan memahami budaya bangsa lain tanpa terhalang perbedaan bahasa.

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sastrawan paling terkemuka kita yang dikenal luas dunia dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa asing, di awal karirnya juga merupakan seorang penerjemah andal yang amat produktif.

Memanfaatkan sejumlah bahasa asing yang dikuasainya, antara lain bahasa Belanda dan Inggris, pada sekitar tahun 1950-an ia banyak menerjemahkan berbagai karya sastra dunia, di antaranya Tikus dan Manusia (novel John Steinbeck, 1950), Kembali pada Cinta Kasihmu (novel Leo Tolstoy, 1950), Perjalanan Ziarah yang Aneh (novel Leo Tolstoy, 1954), Kisah Seorang Prajurit Sovyet (novel Mikhail Sholokov, 1954), Ibunda (novel Maxim Gorky, 1956), Asmara dari Rusia (novel Alexander Kuprin, 1959), Manusia Sejati (novel Boris Polewoi, 1959) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji).
Sekitar setengah abad kemudian, beberapa karya terjemahan Pramoedya itu diterbitkan kembali. Ibunda (Maxim Gorky) diterbitkan ulang oleh Kalyanamitra pada 2000, sedangkan Tikus dan Manusia (John Steinbeck), Kembali pada Cinta Kasihmu (Leo Tolstoy) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji) diterbitkan kembali pada 2003 oleh penerbit yang didirikan oleh Pramoedya sendiri, Lentera Dipantara.

Dalm sebuah tulisan tentang proses kreatifnya, Pramoedya mengaku mula pertama menerjemahkan adalah saat ia ditawan Belanda antara tahun 1947-1949 di penjara Bukitduri, Jatinegara. Pramoedya yang pernah menjadi letnan TNI pada masa revolusi dipenjarakan gara-gara kedapatan membawa pamflet perlawanan terhadap aksi militer Belanda.

Saat itu usianya masih muda sekali, di awal likuran. Untuk mengisi waktu, di tengah segala keterbatasan seorang “manusia bubu”, ia belajar menulis dengan cara menerjemahkan karya penulis Amerika Serikat peraih Hadiah Nobel Sastra 1962, John Steinbeck, Of Mice and Men (1937), langsung dari edisi bahasa Inggrisnya yang berhasil ia bawa serta dalam tahanan.

Seperti halnya Pramoedya, John Steinbeck (1902-1968) dikenal dunia sebagai seorang pengarang humanis yang setia mengungkap persoalan-persoalan getir manusia dalam karya-karyanya.

Dalam novel pendek Of Mice and Men yang diterjemahkan Pramoedya menjadi Tikus dan Manusia, John Steinbeck berkisah tentang persahabatan dua manusia gembel: George dan Lennie—sesosok lelaki bertubuh raksasa, tetapi dengan kapasitas otak seorang bocah.

Layaknya manusia-manusia lain yang terserak di muka bumi dengan kesunyian masing-masing, mereka pun punya mimpi tentang masa depan yang indah. Jalan hidup membawa keduanya mengadu nasib di sebuah peternakan. Namun, malang tak dapat ditolak, di sana mereka menemui bencana: Lennie tanpa sengaja membunuh istri majikannya, seorang bekas pelacur yang bertabiat genit. Angan-angan dan rencana masa depan seorang anak manusia pun porak-poranda oleh sebab-sebab yang terjadi di luar kontrolnya.

Saat menerjemahkan novel itu, Pramoedya sekaligus mempelajari dan mencerna teknik penulisan Steinbeck, untuk kemudian ia gunakan bagi perkembangan kemampuan menulisnya sendiri. Pramoedya mengakui secara terbuka bahwa ia banyak belajar dari John Steinbeck dengan cara ini. “Teknik yang dihadiahkan Steinbeck padaku tampaknya akan menjadi milik tetap… Steinbeck menderetkan kata-kata sederhana bermuatan padat, kalimat-kalimat apik dan utuh,” tulisnya suatu kali.

Novel Ibunda karya Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka Rusia pengobar realisme sosialis, diterjemahkan Pramoedya dari edisi bahasa Belanda, Maatje, tak berapa lama setelah ia menikah untuk kedua kali, dengan Maemunah Thamrin—istri yang setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Novel ini dikenal sebagai adikarya dalam genre realisme sosialis dan pada masanya sempat menjadi pengobar semangat kaum buruh tertindas di Rusia untuk ambil bagian dalam revolusi pada akhir masa kekuasaan Tsar di awal abad kedua puluh. Pramoedya mengagumi Maxim Gorky dan banyak belajar dari karya-karyanya.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan André Vltchek dan Rossie Indira yang diterbitkan dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian! (2006), Pramoedya kembali mengakui pengaruh John Steinbeck dan Maxim Gorky terhadap karya-karyanya. Bukan kebetulan ia menerjemahkan novel-novel terkemuka karya kedua sastrawan besar dunia itu.

Lebih lanjut ia mengemukakan alasannya, “Saya suka realisme sosialis, karena itu suatu realisme yang berhubungan dengan masalah tanggung jawab sosial.” Pada sebuah kesempatan, Pramoedya pernah menulis bahwa baginya keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Sementara itu, Dewi Uban merupakan lakon karya dua pengarang Cina, He Tjing-Ce dan Ting Ji. Lakon ini mengisahkan sebuah perlawanan kolektif terhadap penindasan, sebuah kisah yang konon diangkat dari kejadian faktual-historis yang kemudian menjadi setengah legenda di daratan Cina. Lewat kisah Dewi Uban, para penindas, kaum kapitalis tamak yang suka menipu, para pencoleng tak tahu malu yang menimbun kekayaan dari keringat dan kerja keras orang lain, ditelanjangi dan dihinakan.

Sebaliknya, mereka yang berani melawan dan setia menegakkan kebenaran pada akhirnya akan menemui kemuliaan. Karya ini mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan bahwa penindasan dan kebohongan tak akan mampu menghancurkan kebenaran. Bahwa kejahatan dan kebusukan pada akhirnya akan terbongkar dan menemui kehancurannya sendiri. Di tangan Pramoedya, kisah ini diterjemahkan dengan penuh penghayatan sehingga menggerakkan perasaan dan kehendak pembacanya untuk melawan angkara dan penindasan.

Karya-karya sastra utama dunia yang diterjemahkan Pramoedya bagi anak-anak bangsanya itu mencerminkan sikap dan keyakinannya dalam menulis. “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan,” ujarnya suatu kali.

Sumbangan Pramoedya Ananta Toer bagi anak-anak bangsanya melalui harta karun sastra dunia yang ia terjemahkan dengan tekun amat besar manfaat dan maknanya. Melalui karya-karya terjemahan itu kita bisa belajar dan menarik manfaat dari adikarya para sastrawan terkemuka dunia.

Karya-karya beberapa penulis itu hingga kini—saat gairah menerbitkan buku dan menerjemahkan sastra dunia marak kembali—tak ada lagi yang menggarapnya, misalnya karya-karya Mikhail Sholokov (1905-1984), pemenang Hadiah Nobel Sastra 1965 dari Uni Soviet. Untuk itu, penting artinya menerbitkan kembali karya-karya terjemahan Pramoedya di masa lalu agar bisa dibaca oleh generasi terkini tanpa terhalang oleh kendala bahasa dan sekat waktu.

Saya pribadi menemukan karya terjemahan Pramoedya untuk pertama kali secara tak sengaja di sebuah toko buku kecil di kawasan Palasari, Bandung, milik Pak Panjang (disebut demikian karena ia berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat) pada sekitar 1996.
>
Saat itu, di zaman yang masih penuh kekangan dan larangan, saya tengah mencari-cari otobiografi Tan Malaka yang sulit didapat, Dari Penjara ke Penjara. Tak dinyana Pak Panjang malah menawari saya sebuah buku agak tebal bersampul merah dengan halaman-halaman kertas yang telah agak menguning. Ibunda cetakan awal. Ditulis oleh Maxim Gorky, diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer. Desainnya dikerjakan pelukis Lekra, Basuki Resobowo. Tanpa banyak pikir saya membeli buku itu dengan harga sepuluh ribu perak. Buku itu kemudian laris berpindah dari tangan ke tangan di antara teman-teman sesama aktivis mahasiswa, mengembara dari satu kamar kos ke kamar kos lain di sebuah asrama mahasiswa di kawasan Cisitu, Bandung. Beberapa kawan mengaku tergerak semangatnya dan tergugah kesadarannya oleh buku itu, termasuk beberapa orang yang sebelumnya hanya sibuk berkutat dengan buku-buku diktat dan laboratorium demi mengejar titel.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kita, seorang pejuang gigih yang amat peduli pada bangsanya, telah pergi meninggalkan pusaka yang tak ternilai: buah pikiran dan karya-karyanya, termasuk karya-karya terjemahan. Selebihnya, berpulang pada kita untuk memaknai dan meneruskan perjuangannya, terutama kita angkatan muda—mereka yang selalu diharapkan Pramoedya sebagai pelopor perubahan, aktor revolusi total yang disebutnya sebagai jalan tunggal untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Senada dengan sepotong sajak Chairil Anwar, penyair cemerlang yang seperti Pramoedya kini juga berumah di Karet, “Kami sekarang mayat. Berilah kami arti. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian….”

* Anton Kurnia, penyunting tiga buku terjemahan Pramoedya Ananta Toer. Saat ini mengampuh buku-buku sastra di Penerbit Serambi Jakarta

Related Post

ShareThis