.

.

Minggu, 23 September 2012

Biografi Singkat 1925-2006, Pramoedya Ananta Toer


Harga: Rp.60.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus. cet 1 tahun 2010
Tebal: 299 hal

Membincangkan Pramoedya Ananta Toer atau lebih dikenal Pram memang tak ada habis-habisnya, terbukti satu lagi buku biografi menambah khasanah dalam hal itu. Pram memang menarik untuk dibahas, dari sudut manapun terlebih jalan hidupnya yang berliku tak sewajarnya sebagai seorang tokoh perjuangan yang pada akhirnya lebih memainkan penanya dari pada terjun langsung dalam kancah politik nasional. Tapi jangan dikira, menjadi pengarang, menjadi sastrawan justru Pram telah membuat jalur sendiri dan menarik lawan politiknya untuk ikut dalam konsep permainan tinta hitamnya.
Buku Muhammad Rifai, dengan judul Pramoedya Ananta Toer ini memang tidak menghadirkan kebaruan baik data maupun fakta-fakta sejarah, dia hanya merangkumnya, meramunya serta menghimpun cerita-cerita yang berserakan disekitar Pram. Tapi ini patut diapresiasi khususnya bagi mereka yang hendak melakukan penelitian mengenai sosok pram maupun bagi Pramis sendiri. Ada beberapa yang menarik perhatian, selain sejumlah karya baik yang dapat terselamatkan ataupun karya-karya yang dihilangkan penguasa sampai cerita dinominasikannya Pram untuk hadiah Nobel Sastra, hal itu pertama, ada dua periode yang menjadi pertentangan besar kalangan sastrawan sebut saja Kelompok Manikebu dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang didalamnya ada Pram, yaitu ketika Lekra memenangkan pertaruangan politik dengan ujung dilarangnya kelompok Manikebu oleh Soekarno karena menghalangi cita-cita Revolusi, satu kemenangan Pram secara nyata dengan realisme sosialisnya; dan kelompok Manikebu juga kemudian bersitegang kembali dengan Pram ketika Pram akan dianugerani hadiah Magsaysay Award, tokoh sastra seperti Muchtar Lubis, H.B. Jassin, Asrul Sani, Rendra, Taufik Ismail, Ikranagara da 26 pengarang lainnya melakukan protes terhadap keputusan Yayasan dan mendesaknya membatalkan keputusan tersebut. Alasan mereka peran terkemuka yang selama bertahun-tahun dimainkan Pram sebagai pemuka lekra dalam penindasan terhadap seniman yang tidak sepaham dengan dia, mereka juga berkata “dia memimpin penindasan kreativitas penulis, dramawan, sineas, pelukis dan musikus non komunis, melecehkan kebebasan ekpresi, menyambut pelarangan buku dan piringan hitam dan mengelu-elukan pembakaran buku besar-besaran di Jakarta dan Surabaya. Disebut juga sebagai faktor pemberat bahwa ‘sebegitu jauh Pramoedya tidak pernah menyesalkan peran yang dilakukannya dahulu, tidak pernah mengakui seluruh sepak-terjangnya dimasa itu sebagai tindakan pemberangusan kemerdekaan kreatif yang dilakukan secara sistematik’, saya menyangkan pendapat Rifai dalam hal ini, dia seolah memberikan simpulan dari kejadian masa lalu yang masih abu-abu itu. Rifai berkata “Pram tetap keras kepala menolak bertobat dan meminta maaf atas kelakuannya sebagai pemuka Lekra. Ia tetap penuh amarah terhadap perlakuan yang ia derita selama 20 tahun lebih.” Pernyataan ini dapat disimpulkan oleh pembaca bahwa Pram benar melakukan apa seperti yang dituduhkan kelompok Manikebu yang minus Goenawan Mohamad, Arif Budiman dan Ajip Rosidi karena mereka justru berada pada kelompok yang kembali memberikan ruang bagi pencarian jalan tengah.
Saya tertarik dengan pernyataan Arif Budian yang bijaksana “kita menciptakan budaya baru dimana kita saling menghormati martabat orang lain, meskipun dia berlainan pendapat dengan kita. Saya terntu berharap bahwa karena sikap saya ini, Pram akana menjadi setuju dengan saya, bahwa bagi seorang intelektual, kebebasan manusia lebih bernilai  ketimbang kekuasaan” bahkan Goenawan Muhamad sendiri mempunyai alasan dan tidak menandatangani nota protes tersebut yaitu bahwa pram masih belum bebas, belum dipulihkan hak-hak sipilnya, masih ada pelarangan terhadap bukunya, pelarangan bepergian ke luar negeri, dan lain-lain. Jadi simpulan yang masih wilayah kontroversi itu malah akan membuat kontoversi lain lagi. Kedua, pelakuan penindasan, penyiksaan dan tahanan tanpa proses pengadilan yang diterima Pram baik pada masa Orde Soekarno maupun Orde Soeharto oleh Pram tidak dibalas dengan menjelek-jelekan Indonesia begitu bahasa penulis buku tersebut, dalam karya-karyanya Pram mengajak seluruh rakyat dan penguasa Indonesia untuk tidak melupakan para pahlawan yang memberikan sumbangan tenaga, pikiran, harta dan nyawanya untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia. Dengan Pram-lah nama Indonesia menjadi terkenal di dunia Internasional lewat buku-buku yang humanisnya serta sarat dengan ajaran-ajaran kemanusiaan, keadilan dan perjuangan HAM-nya. Pertanyaannya, selain Pram pada kedua era tersebut siapa lagi Sastrawan yang dapat kita banggakan, mengharumkan nama bangsanya, kelompok Manikebu yang tetap menghirup udara bebas pun tak mampu melakukannya! Itu fakta sejarah yang harus dicatat dengan tinta emas, bahwa bangsa Indonesia bangga pernah memiliki seorang sastrawan yang mencapai tingkatan paripurna.  Dan bagi saya, bintang mahaputra itu harus segera disematkan pada dada kirinya walau beliau kini telah tiada, penghargaan terbaik dari bangsa untuk sastrawan yang jadi pahlawan. Jadi, gelar pahlawan itu tak hanya kita berikan pada mereka yang pernah mengangkat senjata bertempur walau jadi tukang bawa peluru tapi bagi sastrawan yang benar-benar telah berjasa memberikan pencerahan dan petunjuk jalan, jadi lentera bagi bangsanya, dalam hal ini saya setuju dengan yang dikemukakan penulis dalam hal nasionalisme Pram yaitu Pram tidak menyetujui penjajahan karena penjajahan telah merusak sendi kehidupan masyarakat, berbangsa termasuk sendi kehidupan keluarga dan menyengsarakan kehidupan manusia, konsepsi nasionalisme Pram dipengaruhi oleh pemikiran revolusi sosialis atau nasionalisme kiri, hal tersebut terlihat dari aspek humanisme, sosialisme, kebencian terhadap barat-asing nasionalisme dari spirit rakyat yang minoritas dan tertindas. Dan perkembangan konsepsi nasionalisme Pram di era Orba bagaimana nasionalisme keindonesiaan dikontektualkan dengan perlawanan atau penentangan adanya kekuasaan yang absolut, tiran, korup, formalis, dan administratif, dimana Pram berkeinginan kekuasaan yang memberikan kebebasan berekspresi dan berkreasi dan terutama memikirkan kemiskinan warganya; ketiga, berkaitan dengan pelarangan buku yang pernah diderita Pram selama perode kepengaranganya, yang dalam hal ini dimulai semenjak penyerbuan rumah yang sekaligus perpustakaannya pada medio Oktober 1965 dan beberapa buku yang dilarang pihak Kejaksaan, dalam buku ini masih ditulis adanya pelarangan buku tetapi semenjak diumumkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pada 13 Oktober lalu, pelarangan barang cetakan, termasuk buku, kini hanya dapat dilakukan melalui proses hukum dan diputuskan oleh pengadilan. Putusan ini merupakan tanggapan Mahkamah Konstitusi atas permintaan uji materi terhadap UU No 4/PNPS/1963 yang diajukan oleh sejumlah penulis, penerbit, dan peminat bahan bacaan sejak akhir tahun lalu sampai awal tahun ini.
Menanggapi hal tersbeut, saya sependapat dengan Atmakusumah (Kompas, 18 Oktober 2010) bahwa larangan peredaran buku tidak pernah efektif dalam situasi politik apa pun. Termasuk pada 30 tahun masa pemerintahan otoriter Orde Baru dan dalam suasana yang sama selama 10 tahun terakhir masa Orde Lama. Buku-buku karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, misalnya, beredar luas di negeri kita pada masa Orde Baru walaupun dilarang oleh Kejaksaan Agung. Meski seorang penjual eceran buku Pramoedya di Yogyakarta ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan negeri, ada keluarga pembaca yang memiliki tiga sampai empat eksemplar dari setiap karya Pramoedya. Ini karena semua anggota keluarga berminat membaca buku—yang terbit selama masa pelarangan—pada waktu bersamaan tanpa harus bergiliran. Kita lihat saja faktanya, buku-buku Pramoedya yang dilarang beredar di Indonesia pada masa Orde Baru menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa jurusan sastra di Malaysia. Salah satu novelnya, yang diterbitkan di Malaysia, memasang foto Wakil Presiden Adam Malik di halaman kulit belakang dan komentarnya yang memuji karya sastra Pramoedya. Jadi seperti dikatakan Dr. Yudi Latif yang tampil sebagai ahli dalam persidangan putusan tentang nasib buku, beliau mengatakan “[Hari ini kita menarik] garis batas antara masa lalu dan masa depan, antara otoritarianisme dan demokrasi, antara masyarakat beradab dan masyarakat biadab.” Dan kini saatnya buku-buku Pram menjadi bacaan wajib juga anak-anak negeri ini, tentunya dengan satu tujuan agar jika kelak jadi penguasa tak berlaku keliru bahkan salah seperti yang pernah dilakukan masa Orde Lama maupun Orde Baru dan terakhir Orde Reformasi. ©

*) Rama Prabu, Peneliti di Dewantara Institute, Dewan Pembaca Indonesia Buku
SUMBER:  http://ramaprabu.org/?page_id=154

Tempo Doeloe. Hasta Mitra 1982

TERJUAL BY JAKARTA
Kondisi: LUMAYAN
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Cetakan: 1982
Tebal: 347 hlm

Buku ini merupakan antologi sastra pra-Indonesia yang ditulis oleh empat penulis dengan delapan cerita : F. Wiggers (Dari Boedak Sampe Djadi Radja), Tio Ie Soei (Peter Elberveld), F.D.J Pangemanan (Tjerita Rossina dan Tjerita Si Tjonat), G. Francis (Tjerita Njai Dasima), dan H. Kommer (Tjerita Kong Hong Nio dan Tjerita Nji Paina).

Jumat, 14 September 2012

MENGGELINDING 1. Pramoedya Ananta Toer. Editor: Astuti Ananta Toer


TERJUAL BY RIAU
Kondisi: Lumayan bagus cet.1 tahun 2004
tebal: 548 hal

MENGGELINDING 1
Pramoedya Ananta Toer
Buku ini dihadirkan untuk menjadi kilas balik proses kepengarangan Pram yang panjang selama rentang 1947 - 1956. Terdiri dari esai, sajak, cerita serta tulisan lainnya lengkap dengan komedi dan tragedinya.
Pada awal karirnya sebagai penulis, Pram menghasilkan berbagai bentuk karya tulis: prosa, puisi, cerita pendek, dan esai. Karya-karya tersebut tersebar pada berbagai majalah dan media lainnya, dan baru belakangan in dirangkum oleh Astuti Ananta Toer menjadi buku yang diberi nama Menggelinding. Sebuah buku yang dengan apik menggambarkan perjalanan seorang penulis dalam mencari suara dan pemikirannya sendiri

Selasa, 11 September 2012

SEKADAR MENDAHULUI, GUS DUR 2011

TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus. cet 1 mei 2011
tebal: 343

Kata-kata pengantar sekian puluh buku dari berbagai disiplin maupun gaya yang dikumpulkan dalam bunga-rampai ini sebenarnya bukan hanya mengantar para pembacanya, akan tetapi lebih dari itu: satu per satu merupakan kuliah berharga dan saran-saran yang berhikmah yang menyangkut topik bersangkutan.
--Y.B. Mangunwijaya

Tata nilai yang ditawarkan (dan terlebih dahulu dilakoninya) menjadikan Gus Dur sosok yang kontroversial sekaligus ditunggu masyarakat. Membaca buku ini menyadarkan kita untuk merelakan diri dalam terlibat dalam “keanehan� Gus Dur yang pada akhirnya menjadikan bangsa ini lebih hidup karena kiprah dan pemikirannya.
--Gus Muhammad Alvan Almuhasiby,
Pengasuh Pesantren Nailul Muna
Muntilan, Magelang

Buku ini membantu mengingatkan pembaca akan tindakan Gus Dur dalam sejarah memajukan bangsanya, yaitu membangun tata dunia baru yang bebas kendali Barat. Memang belum tercapai karena langkah Gus Dur itu harus dibayar dengan dilengserkan dari kursi kepresidenan. Sang Revisionis Soekarno itu telah meninggalkan pekerjaan besar yang mesti kita teruskan.
--Khatibul Umam Wiranu,
Murid, Ketua PP GP Anshor

sumber artikel: http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=736131&CFID=89701263&CFTOKEN=96407158

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA, GUS DUR 2010

TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: lumayan. CET v JANUARI 2010
tebal: 312 hal

Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mencapainya.
Jadi pantas  sekali  X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim. Dalam khotbah Jum'at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da'i.
Terakhir ia mengikuti sebuah lokakarya. Di sana diikutinya dengan bingung uraian seorang ilmuan eksata tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas para ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan 'teori ilmu' pengetahuan Islam ' sebagai alternatif.
Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan kepada wawasan ilmu pengetahuan moderen yang terasa di sana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasannya bagi ilmuwan yang berbicara itu.
Semakin jauh X merambah 'rimba kemarahan' kaum muslimin itu semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang dimana-mana: di arsip proses pelarangan cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung. Dalam desah napas  putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika ia mendapati X tetap saja tidak mau tunduk kepada keharusan  menempatkan 'merk Islam' pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tidak kunjung habis terhadap 'informasi salah' yang ditakuti  akan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga Tari Jaipongan.
Walaupun  gelar Doktor diperolehnya dalam salah satu cabang disiplin ilmu-ilmu sosial, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala 'merasa terancam selalu' yang demikian itu. Ia mampu menerangkannya dari mulut dari sudut pandangan ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri dapat menyelesaikan sendiri 'keberangan' itu menyangkut aspek ajaran agama yang paling inti. Diluar kompetensinya, keluhnya dalam hati.
Karena itu diputuskannya untuk pulang kampung asal, menemui pamannya yang jadi kiai pesantren. Jagoan ilmu fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketepatan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si 'paman kiai' juga merupakan perwujudan kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.
Apa jawab yang diperoleh X ketika ia mengajukan 'kemusykilan' yang dihadapinya itu? "Kau sendiri yang tidak tabah, Nak. Kau harus tahu, semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma'ruf nahi munkar," ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. "Seharusnya kaupun bersikap begitu pula, jangan lalu menyalahkan mereka".
Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibu kota. Mencari seorang cendekiawan muslim kelas kakap, siapa tahu  dapat memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalisme agama dan tantangan dunia modern kepada agama.
Ternyata lagi-lagi kecewa,"Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternatif parsial ideologis terhadap tatanan yang ada!" demikian jawaban yang diperolehnya. Ia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan  itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri?
Akhirnya, ia diajak  seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dari situlah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. "Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.
Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia "menyulitkan" kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya."
Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu 'dilayani'. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang "positif konstruktif". Kalau  gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.
Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak  dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

sumber: http://gusdurnet.tripod.com/klasik/82/820628ag.htm

(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Muslim di Tengah Pergumulan. Gus Dur, cet pertama 1981

TERJUAL
Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus cet pertama 1981
Tebal: 111 hal
Berat: 0,13 Kg

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam b uku Muslim di Tengah Pergumulan , bahwa Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia, diramalkan akan menjadi pelopor kebangkitan Islam. Fenomena yang ada saat ini tampaknya sudah mulai mendukung pendapat Gus Dur tersebut. Fenomenanya dapat dilihat pada pendidikan Islam yang sudah mulai berkembang pesat dewasa ini. Dalam hal ini IAIN merupakan motor penggeraknya.

Islam Kosmopolitan : Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan


TERJUAL
Rp.100 rb (blum ongkir)
KONDISI: BAGUS .
Judul Buku: Islam Kosmopolitan, Nilai-Nilai Indonesia Transformasi dan Kebudayaan
Penulis: KH Abdurrahman Wahid
Editor: Agus Maftuh Abegebriel
Penerbit: The Wahid Institute
Cetakan: I, 2007
Tebal: xxxviii+397 halaman
Peresensi: Noviana Herliyanti*

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukanlah Gus Dur bila dalam berbicara tidak kontroversial, nyeleneh, nyentrik dan menyelipkan kritik. Maka, tak heran bila di sana-sini, dalam tulisannya, kita temukan saja kritik-kritiknya yang tajam, mulai mengkritik pemerintah, politisi hingga kelompoknya sendiri. Namun, di balik sikap kontroversinya, kenyelenehan dan kenyentrikannya selalu menjadi angin segar terhadap perkembagan Islam di Indonesia.

Dan, sampai saat ini, Gus Dur telah dikenal banyak kalangan, ia terkadang tampil sebagai sosok pemikir, penulis, sastrawan, budayawan bahkan menjadi seorang politisi Islam Indonesia. KH Solahuddin Wahid (Gus Solah), adik kandung Gus Dur, dalam acara bedah buku ini yang diselenggarakan Komunitas Tabayun di Jawa Pos 29/11/2007 kemarin, menyebutkan, Gus Dur termasuk saudara yang paling cerdas, pandai, dan berani berbicara.

Sebagai salah satu tokoh pejuang demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan antikekerasan, Gus Dur mampu memberikan warna tersendiri terhadap pandangan-pandangan ke-Islam-an, budaya, sosial, ekonomi dan politik, khususnya di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga telah mendapat pengakuan dari dunia bahwa komitmen dan perjuangan Gus Dur menegakkan demokrasi, HAM, membela kaum minoritas dan toleransi, sudah diakui luas (Baca: Umaruddin Masdar hal. 159).

Bahkan, dalam kelompoknya sendiri, tokoh NU seperti KH M. Cholil Bisri dan KH Muchith Muzadi mengakui, Gus Dur disebut sebagai azimat atau jimatnya NU. Karena Gus Dur hadir ke tengah-tengah NU di saat ormas itu dalam kondisi lemah. Sehingga dengan kehadiran Gus Dur di NU, mampu menyelematkan NU menjadi ormas keagamaan yang berpengaruh dan menjadikan organisasi terbesar di Indonesia.

Jadi, hal yang digagas Gus Dur selama ini, tidak lepas dari lima konsep dan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang dianut NU, yakni tawasuth, ta'adul, tasamuh, tawazun, dan amar ma'ruf nahi mungkar. Melalui konsep inilah, Gus Dur mampu mengimplementasikan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Islam itu sendiri. Bagi Gus Dur, memahami Islam tidak hanya melalui teks saja, tapi dengan "tafsirul kitab bil kitub" (Menafsir kitab dengan buku yang lain). Karena, kalau hanya berhenti di teks, maka kita bisa jadi penyembah huruf-huruf. Pemikiran ke-Islam-an Gus Dur, adalah Islam yang membawa kedamaian, kesejukan, ketenteraman, dan Islam yang bisa berdialog dengan lingkungannya.

Membaca pemikiran dan gagasan Gus Dur, tidak bisa didekati dengan satu sudut pandang saja. Karena, ia ibarat membaca sebuah teks yang multitafsir dan ketika membacanya sulit dipahami. Inilah salah satu sepak terjang Gus Dur, ketika melihat fenomena sosial yang terjadi di Indonesia.

Buku berjudul "Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan ini, merupakan pemikiran Gus Dur dalam merespon isu-isu yang dianggap aktual sejak 1980 hingga 1990-an. Selain itu, buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan Gus Dur yang telah berserakan di media lokal maupun nasional.

Ada beberapa pemikiran dan gagasan Gus Dur yang menarik dalam buku ini, yakni mengenai "Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam". Dalam tulisannya, Gus Dur menggarisbawahi tentang ajaran moralitas Islam yang secara teoritik bertumpu pada adanya lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam kepada warga masyarakat, baik pada perorangan maupun kelompok.

Pertama, keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum (hifdzu an-nafs). Karena, menurut Gus Dur, Islam tidak mengajarkan kekerasan dan hal-hal yang sifatnya anarkis. Kedua, keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzu ad-din). Ketiga, keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl). Keempat, keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan atau penggusuran di luar prosedur hukum (hifdzu al-mal). Dan, kelima, keselamatan hak milik dan profesi (hifdzu al-milk). (hal. xxi-xxii).

Menurut Gus Dur, jika dari lima jaminan dasar di atas itu tampil sebagai pandangan hidup, maka tidak mustahil negara akan bisa dikelola oleh pemerintah yang berdasarkan hukum, adanya persamaan derajat dan sikap tegang rasa terhadap perbedaan pandangan. Di samping itu, secara fungsional, misi Islam terhadap perbaikan sosial akan secara efektif bisa dikendalikan yang pada akhirnya terciptalah budaya toleransi, keterbukaan sikap, peduli terhadap kemanusiaan dan keprihatinan yang penuh kearifan akan keterbelakangan umat Islam sendiri.

Dengan demikian, Islam seperti itulah yang selama ini diperjuangkan Gus Dur. Islam yang ada di tangan Gus Dur, adalah Islam yang bisa tampil sejuk, pluralis, serta demokratis. Agama Islam menjadi agama yang melindungi umat manusia, bukan agama yang malah menebar ketakutan kepada umat agama lain.

Terlepas dari kekurangan buku yang merupakan kumpulan tulisan dan kerap terjadi pengulangan, sehingga dikatakan kurang sistematis, buku ini tetaplah layak dan menarik untuk dijadikan bahan bacaan, referensi, dan penyelamatan "Islam Kita" dari pemaksaan pemahaman yang selama ini sering menyerang kita semua. Bagi Gus Dur, memahami Islam tidak hanya dipahami secara tekstual aja, melainkan dengan dengan konteks yang saat ini terjadi.

Peresensi adalah penikmat buku, mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Kini aktif di lembaga Komunitas Baca (Kombas) Surabaya.

sumber artikel: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,10923-lang,id-c,buku-t,Gus+Dur+dan+Islam+Kosmopolitan-.phpx

Related Post

ShareThis