.

.

Rabu, 12 Februari 2014

Serat Cemporet, R. Ng. Ranggawarsita






Harga: Rp.150 rb (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus
Tebal: 413 halaman
Cetakan keenam tahun 1987

Serat Cemporet lebih terkenal lantaran digubah memakai bahasa Jawa yang indah. Zaman dahulu, sebelum Jepang menjajah Indonesia, buku tersebut digemari banyak orang untuk bacaan, khususnya yang senang melantunkan macapat. Namun demikian, juga tidak sedikit orang yang mencela kitab tersebut lantaran bahasa yang digunakan terlalu halus (bahasa sastrawi tinggi). Obrolan orang desa yang memakai bahasa tadi dianggap terlalu tinggi, sehingga terkesan dibuat-buat.
Kesan itu pernah ditulis oleh Prof. Dr. R. Ng Purbacaraka dalam bukunya “Kepustakaan Jawa”. Tapi banyak juga orang yang setuju dengan pendapat tersebut karena karya sastra itu mempunyai kebebasan dalam memilih kata-kata, dan tidak harus mengikuti idiom-idiom yang ada di masyarakat tertentu.
Serat Cemporet tersebut sampai sekarang masih digemari. Cerita yang dipaparkan dalam kitab ini benar-benar memikat dan memukai pembaca. Pintarnya sang pujangga dalam menghubungkan ceritanya memang mumpuni. Yang menjadi tokoh tidak hanya manusia saja, tapi ada juga dunia gaib siluman/dewa beserta hewan-hewan. Namun demikian, pujangga Ranggawarsita juga tidak lupa menyisipkan nasihat-nasihat atau petuah-petuah arif yang berasal dari nenek moyang.
Serat Cemporet Ranggawarsita, kisahnya memang ceritera kuno, bagian akhir dari pustaka Rajaweda, yaitu mengenai Negara Purwacarita di istananya Raja Sri Maha Punggung. Awal ceritanya, Raja Suwelacala memiliki putra 6 orang, yaitu:
1. Raden Jaka Panuhun yang suka bertani. Dia merangkul petani tlatah Pagelan dan sekitarnya. Raden Jaka Panuhun berputra 3 orang, yang sulung bernama Raden Jaka Pratana. Badannya cebol. Lalu yang nomor dua bernama Raden Jaka Sangara yang punya cacat saat lahir, dan yang bungsu bernama Raden Jaka Pramana dari ibu keturunan jin.
2. Raden Jaka Sandanggarba, membawahi masyarakat pedagang di Jepara dengan julukan Sri Sadana. Raden Jaka Sandanggarba berputra 5 orang, yaitu Raden Jaka Sudana, Raden Jaka Barana (Daniswara), Raden Jaka Suwarna (Anggliskarpa), Raden Jaka Pararta dan Dewi Suretna.
3. Raden Jaka Karungkala yang membawahi daerah Prambanan dengan julukan Sri Kala. Raden Jaka Karungkala berputra 4 orang, yaitu Dewi Karagan, Dewi Jonggrangan, Raden Jaka Sangkala (Arya Pramadasakala) dan Raden Jaka Pramada (Raden Prawasata).
4. Jaka Tunggulmetung yang membawahi di Pagebangan, memimpin petani garam dengan julukan Sri Malaras. Jaka Tunggulmetung berputra 2 orang, yaitu Raden Jaka Suwarda dan Raden Jaka Damedas.
5. Raden Jaka Petungtantara yang menjadi pimpinan maharesi Medhangkawit dengan julukan Resi Sri Madewa. Pusat kerajaannya di Pamagetan, lereng Gunung Lawu. Raden Jaka Petungtantara berputra dua orang, yaitu Dewi Resi dan Raden Surasa (resikana).
6. Raden Jaka Kandhuyu berkuasa di Purwacarita dengan julukan Sri Maha Punggung, yang bertahta pada tahun Surya 1031 atau 1061. Istrinya ada 3 orang, yang kesemuanya adalah putra seorang dewa. Istri pertama bernama Dewi Sundadari, punya anak bernama Raden Kandaga (Raden Lembu Jawa atau Arga Kalayuda) dan Raden Kandiyana.
Istri kedua yaitu Dewi Mandyadari Retna Kenyapura yang berputra Raden Kandawa. Istri yang ketiga, Dyah Upalagi, berputra Raden Kandeya (Arya Pralambang) dan Raden Kandiyana.

Tersebutlan dalam ceritera tadi mengenai Raja Pagelen yang punya keinginan menikahkan putranya, Jaka Pramana dengan Dewi Suretna, putri raja di Jepara. Lalu, timbul masalah lantaran Jaka Pramana belum berhasrat nikah jika kakak-kakaknya yang cacat tadi belum menikah. Begitu juga Dewi Suretna tidak mau menikah dengan putra raja di Pagelen, lantaran dikira bakal dinikahkan dengan yang menyandang cacat.

Sumber:

MEKAR SARI edisi 25 November 1992 hal. 20

Jumat, 24 Januari 2014

Tahafut Al-Falasifah, Tahafut At-Tahafut


 SOLD

Harga 1 set (2 buku): Rp.200 rb (blum ongkir)
Imam al-Ghazali "Tahafut Al-Falasifah" (membongkar tabir kerancuan para filosof) VS Ibnu Rusyd "Tahafut At-Tahafut (sanggahan terhadap Tahafut al-Falasifah)

Keterangan singkat: Imam al-Ghazali "Tahafut Al-Falasifah" (membongkar tabir kerancuan para filosof)

Judul Buku: Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan para Filosof)
Penulis: Al Gazali
Pengantar: Dr Sulaiman Dunya
Penerbit: Marja’ Bandung, cet 3 tahun 2012
Tebal: 308 halaman

Tahafut Al-Falasifah, sebuah karya fenomenal yang memang penting untuk direnungkan kita semua. Karya Ulama besar asal Bagdad ini selain sudah dikenal luas sebagai buku filsafat, yang sesungguhnya adalah kitab tentang ilmu kalam, perlu hadir ke tengah-tengah masyarakat Indonesia yang selama ini tidak pernah mampu melepaskan dari belenggu dikotomi antara filsafat dan agama.
Sebagian masyarakat muslim kita, yang membutuhkan kesadaran berpikir kritis harus diakui “terpaksa” mengambil perspektif filsafat sekuler. Hal ini perlu dimaklumi mengingat antara agama (wahyu) dengan ilmu pengetahuan (baca filsafat) memang sesuatu yang berbeda.
Kebutuhan untuk menjembatani antara filsafat dan agama sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama, jauh sebelum Tahafut ini ditulis oleh Al-Gazali. Tetapi sampai beberapa abad sebelum itu, usaha itu tak kunjung datang sampai munculnya kitab ini. Sayangnya, apa yang ditulis Al-Gazali bukanlah sebuah sintesis yang menghasilkan hubungan harmoni, melainkan kontradiksi yang tajam.
Penolakan Al-Gazali atas filsafat sebagai kebenaran berpikir justru menjadi bagian dari sikap yang pada akhirnya membuat masyarakat muslim sendiri dilanda keterbelahan sikap; di satu sisi masih membutuhkan pengetahuan non samawi, di lain pihak butuh tambatan pasti dari wahyu.
Sekalipun Al-Gazali menolak filsafat dan lebih percaya kepada wahyu, tetapi sesungguhnya dengan cara itu ia secara tidak langsung sedang memberikan satu pencerahan dengan cara kontrol sikap atas pemikiran para filsuf yang pada kala itu masih miskin perspektif dibanding para filsuf di era selanjutnya. Karena itu, sekalipun premis Al-Gazali nampak fundamentalis (untuk dilihat dari kacamata sekarang), agaknya perlu dihargai sebagai sebuah karya yang menggugah kesadaran para pemikir muslim maupun nonmuslim agar bersikap kritis terhadap filsafat yang belum tentu memiliki validitas; terutama antara hubungan teori (imajinasi) dengan praktik.
Gugatan Al-Gazali terhadap filsafat ini misalnya, mendorong Sang Filsuf lain, Ibnu Rusyd menulis karya yang tak kalah fenomenalnya, yakni Tahafut at-Tahafut yang mengkritik Al-Gazali secara kreatif.
Karena ini buku pemikiran, dan target pembelajaran kita terhadap pemikiran adalah meluaskan pandangan, menjadi penting kiranya terjemahan ini dibaca oleh para pemikir. Dari buku inilah kita akan tahu gelombang dahsyat pemikiran di masa lampau pernah melanda umat Islam sehingga kita bisa berkaca tentang banyak hal terhadap tradisi pemikiran saat ini yang mengalami kemandegan.

Sumber tulisan Tahafut Al-Falasifah : Yusuf

***
Judul TAHAFUT AT- TAHAFUT
Penulis IBN RUSYID
Jumlah Halaman XIV+306 HAL
Penerbit PUSTAKA PELAJAR cet 2 Desember tahun 2010
Keterangan singkat: Ibnu Rusyd "Tahafut At-Tahafut (sanggahan terhadap Tahafut al-Falasifah)

Ibnu Rushd dalam Tahafut Al Tahafut, mengatakan ; Seluruh basis argumen Al-Ghazali salah, karena Al-Ghazali berasumsi bahwa kehendak Allah itu sama seperti kehendak manusia. Padahal Nafsu dan kehendak hanya bisa dimengerti oleh makhluk yang memiliki kebutuhan; Sementara untuk Zat yang Maha Sempurna yang tidak membutuhkan apa-apa, kita tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan bahwa ketiak Dia melakukan sesuatu maka yang Dia lakukan itu adalah hal yang paling sempurna. Jadi kehendak Allah harus dipahami dengan makna yang lain dibanding kehendak manusia.
Oleh para pengikut Al-Ghazali, Ibnu Rushd malah dicap sesat, dimaki dituduh dan difitnah dengan berbagai dakwaan. Oleh orang-orang ini Ibnu Rushd dituduh sebagai pengacau keimanan dengan menyebarkan ilmu-ilmu Yunani. Rakyat Cordoba yang termakan fitnah kelompok ini mengejek dan menghina Ibnu Rushd dengan berbagai kalimat buruk dan tuduhan yang tidak berdasar.
Pernah satu kali, ketika Ibnu Rushd melaksanakan shalat Ashar bersama sahabatnya, dia diejek dan diusir dari masjid Cordoba. Masyarakat membakar karya-karyanya. Dan pada puncaknya, Khalifah al-Mansur yang menjadi penguasa di Cordoba waktu itu, sepakat dengan tuduhan masyarakat ini dan kemudian menghukum Ibnu Rushd. Sebagai hukuman atas "kesalahannya" Khalifah al-Mansur memerintahkan Ibnu Rushd untuk dibuang ke perkampungan Yahudi "Lucena".
Memang setahun setelah hukuman itu dikeluarkan, para ulama mengadakan protes agar Ibnu Rushd dibebaskan karena diantara kalangan ulama itu banyak yang meyakini kalau Ibnu Rushd tidak bersalah. Tekanan dari ulama yang pro Ibnu Rushd tersebut membuat Khalifah al-Mansur mengeluarkan surat pengampunan terhadap Ibnu Rushd.
Setelah dibebaskan, Ibnu Rushd kembali ke Cordoba dan berkumpul lagi dengan keluarganya dan para sahabatnya. Namun tidak lama kemudian ia wafat pada tahun 1198 Masehi dalam usia 72 tahun.
Sementara itu fitnah yang dilakukan terhadap Ibnu Rushd yang sudah terlanjur menyebar.

Ringkasan Artikel TAHAFUT AT- TAHAFUT, saya ambil: Winwannur

Minggu, 12 Januari 2014

BABAD TANAH JAWA

 


Harga: Rp.90 Rb (blum ongkir)
Tebal: 64 halaman
Kondisi MULUS
Bagi yg berminat, hub no HP: 087 85 955 86 78
" BABAD TANAH JAWA " ( dalam bahasa Jawa) ,
karya Wirjapanitra, terbitan Toko Buku SADU BUDI, Solo, tahun 1970 an.
Tjap-tjapan kapindo

Ini adalah buku cerita babad mengenai tanah Jawa. Dilengkapi dengan silsilah raja raja nya. Ditulis dalam bahasa Jawa. Kawiwitan saka Karaton Blambangan kang nunggal jaman karo MAJAPAHIT tumeka DEMAK lan PANJANG.

BRATAYUDA, sekar macapat 1

 

Harga: Rp.100 rb (blum ongkir)
BRATAYUDA, sekar macapat 1
R. Ng. Yasadipura
kainpun dening Drs. Singgih Wibisono
PENERBIT IPT INALTU 1976
kondisi bagus
tebal: 45 hal
berat:0,8 Kg

Senin, 28 Oktober 2013

MERAHNYA MERAH

Judul: Merahnya Merah
Penulis: Iwan Simatupang
Tebal: 124 Halaman
Penerbit: Gunung Agung- Jakarta MCMLXXXIII
Tahun: Cetakan Ke-4, 1983
Kondisi: LUMAYAN, eks. Perpust
 Harga: Rp.200.000 (blum ongkir)

Adanya Tokoh Kita dalam suatu komunitas gelandangan di sebuah kota besar. Tokoh Kita ini sebelumnya mempunyai sejarah yang cukup panjang. Sebelum meletusnya revolusi fisik, Tokoh Kita ini adalah seorang calon rahib. Selama revolisi, dia merupakan seorang komandan kompi. Di akhir revolusi, dia menjadi algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat. Akhirnya sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.
Kedatangan Tokoh Kita dalam komunitas kaum gelandangan itu cukup mendapat perhatian para anggota gelandangan. Dia cukup dianggap dan dihormati serta dicintai oleh beberapa diantara penghuni komunitas itu. Maria adalah salah seseorang yang mempunyai perhatian lebih terhadapnya. Maria, yang dalam komunitas kaum gelandangan ini dianggap sebagai sebagai ibu dari sekian para wanita setengah baya yang punya sejarah hidup yang kelam. Sebelumnya, wanita ini bercita-cita menjadi perawat namun, karena takut dengan darah cita-citanya dia tanam dalam hati. Batal menjadi perawat, Maria menjadi pelayan sebuah restoran Katolik. Akan tetapi, di restoran ini dia mengalami nasib sial, dia diperkosa oleh seseorang yang tak dikenal. Akhirnya, seminggu setelah kejadian itu, dia keluar dari restoran itu setelah menyaksikan seorang pastor bunuh diri.
Setelah masuknya Fifi, hubungan Maria dengan Tokoh Kita menjadi sering tidak mesra padahal sebelumnya mereka sangat mesra. Maria mulai uring-uringan terhadap Tokoh Kita karena cemburu Tokoh Kita terlihat begitu akrab hubungannya dengan Fifi, yang membawa Fifi masuk ke dalam komunitas kaum gelandangan mereka itu adalah si Tokoh Kita itu. Fifi diketemukannya di suatu tempat. Fifi ini adalah seorang gadis berusia 14 tahun, yang karena keganasan suatu gerombolan yang membuatnya menjadi seorang gadis yatim piatu dantidak punya tempat tinggal, akhirnya membuat dirinya terpaksa seorang pelacur kelas teri dalam usahanya agar tetap hidup diatas dunia yang ganas ini. Dari awal Maria memang sudah tak bersedia menerima Fifi masuk ke dalam kelompok mereka namun, karena dia terus didesak oleh Tokoh Kita dan dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa kalau Tokoh Kita yang berbicara, selain mengirakan apa yang dikehendaki si Tokoh Kita karena cintanya yang demikian dalam pada si Tokoh Kita.

Suatu hari Fifi raib dari lingkungan mereka. Para anggota gelandangan dikerahkan mencari Fifi ke segenap penjuru kota, tapi mereka selalu pulang dengan keadaan nihil dan putus asa. Yang paling merasa kecewa tiap kali pulang, yaitu Pak Centeng. Pak Centeng merasa terhina karena gagal mencari dan menemukan Fifi. Dia malu sebab selama ini belum pernah Pak Centeng gagal menjalankan misi. Dia malu berat karena predikatnya sebagai Centeng yang paling jagoan diantara para Centeng se kota itu. Ia pun yakin akan dapat menemukan Fifi.

Beberapa hari berikutnya giliran Tokoh Kita yang raib dari kelompok gelandangan itu. Lagi-lagi kelompok gelandangan itu ribut dan kalang kabut mencari ke segenap pelosok kota. Lagi-lagi Pak Centeng merasa malu dan terhina tak terhingga karena dia gagal lagi menemukan Tokoh Kita. Yang paling mengejutkan adalah ketika Maria juga tiba-tiba menghilang. Dia raib seperti Fifi dan Tokoh Kita. Seluruh armada telah dikerahkan dalam mencari ketika gelandangan yang raib, tapi nihil lagi. Lagi-lagi yang paling merasa terhina adalah Pak Centeng, sebab bagaimanapun dia merasa martabatnya sebagai Centeng yang jagoan telah rendah di mata para Centeng yang lain maupun diantara para temannya sesama gelandangan. Para polisi juga dikerahkan sama, mereka tak berhasil menemukan ketika manusia yang raib bagaikan tertelan bumi.
Lama-kelamaan, tiba-tiba Tokoh Kita muncul ke permukaan gelandangan itu. Tapi dia sendiri, Fifi dan Maria tidak bersamanya. Serta merta berpuluh pertanyaan menyerbu di Tokoh Kita. Semua mempertanyakan dimana Fifi dan Maria. Tokoh Kita menceritakan apa sebenarnya telah terjadi. Ternyata Fifi yang raib itu sebenarnya telah lama mati. Fifi dibunuh Maria karena iri dan cemburu yang berlebihan. Sedangkan Maria sendiri sekarang telah masuk biara, mencoba mengakui dosa-dosanya pada Tuhan. Dan sekaligus mencoba mengabdikan diirnya pada Tuhan Yang Mahakuasa, dengan harapan segala kesalahannya bisa dimaafkan olehTuhan Seru Sekalian Alam.

Bagi para gelandangan lainnya, kabar yang diberikan oleh si Tokoh Kita membuat mereka haru dan lega. Tapi bagi si Pak Centeng, sebaliknya. Dia sangat marah pada si Tokoh Kita. Dia menganggap bahwa semua kejadian itu Tokoh Kita lah penyebabnya, karena sebelum Tokoh Kita ini masuk ke dalam lingkungan mereka. Kehidupan kampung gelandangan itu aman-aman saja. Dia sendiri atau Pak Centeng masih bisa bermesraan dengan Maria. Tapi ketika mauk Tokoh Kita, cinta Maria beralih pada si Tokoh Kita lah yang menjadi penghalang cintanya pada Maria. Dengan marah yang berkobar-kobar, Pak Centeng mencabut goloknya. Sewaktu goloknya diayunkan tepat ke arah batang leher si Tokoh Kita itu, polisi pun datang sambil mengacungkan laras pistolnya pada si Pak Centeng. Dan memerintahkan agar Pak Centeng melepaskan goloknya dan menyerah pada polisi. Tapi karena marahnya sama Tokoh Kita sudah demikian besar dan tak tertahankan, Pak Centeng tak mau peduli dengan ancaman polisi itu. Dia tetap mengayunkan goloknya ke batang leher si Tokoh Kita. Akibatnya tanpa ampun, sekali tebas kepala si Tokoh Kita langsung pisah dari badannya pun pistol di polisi, langsung pelurunya menerjang kepala Pak Centeng. Keduanya roboh dan tak pernah bangkit lagi untuk selama-lamanya. Tokoh Kita dan Pak Centeng dikuburkan dengan upacara militer yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara.

Potongan artikel diambil di blog:  http://kedairomanindonesia.blogspot.com/2011/06/merahnya-merah.html

Jumat, 04 Oktober 2013

The Indonesian Killings (Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966)

Judul Buku      : The Indonesian Killings (Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966).
Editor              : Robert Cribb
Judul Asli        : The Indonesian Killings Of 1965-1966, Studies from Java and Bali, Centre of Southeast Asia Studies Monash University, 1990
Penerbit           : Mata Bangsa
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tebal               : XXXIX + 447 halaman.
 SOLD
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)

Buku ini diterbitkan pada Februari tahun 2004, dan kemudian dicetak lagi dan terbit September 2004. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak lama. Cetakan pertamanya Desember 2000, namun kembali dicetak ulang kedua kalinya pada bulan Oktober 2003. Maklum saja, di tahun 2000, buku ini dilarang peredarannya. Buku ini adalah salah satu buku yang terkena sweeping buku “kiri” yang dilakukan Aliansi Anti Komunisme di Jakarta dan Yogyakarta. Akhirnya, buku ini praktis menghilang dari peredaran karena dianggap menyesatkan.
Cap komunis bagi para korban tahanan politik Orde Baru dan tragedi pembantaian PKI 1965-1966 menjadi sisi negatif bagi sosok mereka. Wacana tentang pengungkapan kebenaran pada G30S belum begitu tersebar dan wacana pengungkapan tragedi pembantaian PKI di Jawa dan Bali baru dalam tahap awal menunjukkan diri dalam masyarakat. Peristiwa G30S 1965 memang telah lama diperdebatkan di Indonesia dan Barat dalam berbagai versi, dugaan pelaku, pemberontakan yang terjadi dibelakangnya.
Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang kejam dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan. Para korban Orde Baru dan tragedi 1965 mulai berkumpul, berbagi pengalaman, menerbitkan buletin untuk membersihkan nama baik mereka, meluruskan sejarah, dan mengungkapkan kebenaran.

Kelebihan        :
Buku ini disusun oleh bebarapa karya, artikel, makalah dan tulisan para Indonesianis di antaranya seperti Robert Crib, Michael van Langerberg, Kennet R Young, Keith Foulcher, Kenneth Orr dan Anton Lucas. Juga ada laporan jurnalistik dari wartawan Indonesia Maskun Iskandar dan Jopie Lasut tentang pembantaian di Purwodadi, Jawa Tengah. Ada juga laporan dari Pusat Penelitian dan Studi Pedesaaan dan Kawasan Universitas Gajah Mada serta dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah. Sisi menarik lainnya dari buku ini adalah disertakannya essai Soe Hok Gie tentang riuh dan brutalnya pembantaian PKI di Bali.
Kisah pengalaman dari seorang istri tahanan politik bernama Yeti dan Marni. Yeti dan Marni adalah seorang perempuan yang selamat dari kamp-kamp. Beban mereka adalah lolos dari kematian dengan segala pertanyaan tentang apa salahnya dan makna yang mengikutinya, dan tahun-tahun panjang yang menakutkan dalam kerja keras. (hal.386). Berbagai kisah para korban inilah yang menjadi daya tarik dan nilai lebih dari buku ini.
Cerita pembantaian di Bali menjadi bagian akhir dan kurang begitu lengkap dalam buku ini. Cerita Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali.

Kekurangan     :
Dalam buku Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 ini merupakan buku terjemahan dari judul The Indonesia Killings of 1965-1966 Studies from Java and Bali Centre of Southeast Asian Studies Monash University, 1990 sehingga bahasa yang digunakan sedikit susah dicerna dan di pahami bagi orang awam. Dalam penyajiannya jelas terasa unsur subjektif yang kental dari sisi penulis maupun sumber lisan. Buku ini tidak cocok diperuntukkan bagi semua umur karena sisi penceritaannya cenderung secara murni dari sisi kekejaman dan kekejian perlakuan seseorang kepada orang lain diceritakan secara terang dan gamblang.

Potongan artikel diambil dari blog:  http://sejarahguruterbaik.wordpress.com/2012/07/10/resensi-dan-resume-buku-robert-cribb/

Jumat, 02 Agustus 2013

SYAIR BUAT AYAH

cover depan
Penulis : ANDY FIRMANSYAH
Tebal : vi + 257
Harga : Rp. 51.900,00
ISBN : 978-602-225-719-6


cover belakang depan

Sinopsis:
Syair buat Ayah, merupakan kumpulan dari cerita pendek, esai, pantun, dan pidato... yang mana di dalamnya dipersilakan para pembaca untuk memberikan penafsirannya sendiri perihal apa yang dapat ditangkap dari deretan kata-kata yang tidak beraturan ini. Terasa sulit sekali saya untuk memilah golongan apa tulisan yang masuk ini, pada ranah berbagai macam pemunculan karakter-karakter yang ingin saya ungkapkan. Saya memang agak kesulitan dengan memberi penekanan, bahwa cerita pendek pada masing-masing bab ingin memberi pesan tentang karakter religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan masih banyak karakter lainnya yang tidak dapat saya ungkapkan karena terlalu universalnya. Marilah semua ikut merenungkannya agar dapat semua diambil hikmah walaupun masih banyak kekurangan yang ada. Minimal saya sudah berusaha untuk menyumbangkan semaksimal mungkin gejolak pikiran saya dalam hal tulis menulis ini yang masih jauh dari sempurna.

Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0819 0422 1928. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!! ^^v

Related Post

ShareThis