.

.

Sabtu, 02 Maret 2013

PILIHAN TULISAN D.N. AIDIT

Ketebalan buku Djilid Pertama, Kedua dan Ketiga
Cover buku



TERJUAL
Harga : (Djilid Pertama, Djilid Kedua dan Djilid Ketiga) All 1 set, Rp. 600.000 (blum ongkir)
Kondisi : Bagus. Isi buku sama dengan yang diterbitkan Jajasan Pembaruan, Djakarta 1959, 1960 dan 1965, cuma beda di cover.  Di scan dan di cetak kembali. Jadi masih pakai ejaan aslinya
Di cetak lagi oleh penerbit LANSKAP
Tebal : Djilid Pertama: 537 hal
Djilid Kedua: 591 hal
Djilid Ketiga: 352 hal

Buku tebal ini merupakan kompilasi tulisan yang pernah dimuat di “Harian Rakjat”.

Pilihan Tulisan Aidit Jilid II (1960)

Daftar Isi
  • Jangan Henti2nya Memperbesar Pengaruh Harian Rakjat – 8
  • Hidup Kongres ke XX PKUS! – 12
  • Sambutan terhadap Kongres ke-III Partai Buruh Korea – 27
  • Bersatulah untuk Menyelesaikan Tuntutan2 Revolusi Agustus 1945 – 32
  • Tak Ada Agresi Sovjet di Hongaria – 99
  • 12 November dan Perjuangan Nasional Anti Kolonialisme – 104
  • Tentang Komposisi Pimpinan Konstituante – 112
  • Harian Rakyat Senjata Ditangan Rakyat dan Partai – 116
  • Konfrontasi Peristiwa Madiun (1948) – Peristiwa Sumatera (1956) – 123
  • Hatta Biangkeladi dalam Menggagalkan Konsepsi Bung Karno – 143
  • Rakyat dan Angkatan Perang Harus Bekerjasama dalam Mencapai Tujuan2 Positif dari Keadaan Darurat Perang – 150
  • Bukan Krisis, tapi Banjir Besar Kekuatan Demokratis dan Patriotik – 154
  • Untuk Konstitusi Republik Proklamasi 1945 – 159
  • Belajar Lebih Banyak untuk Lebih Memperbaiki Praktek Revolusioner Kita – 176
  • Sekali Lagi Semboyan Tanah untuk Kaum Tani – 182
  • Rakyat Indonesia sedang Bergeser ke Koro – 186
  • Ubah Imbangan Kekuatan untuk Melaksanakan Konsepsi Presiden Sukarno 100% – 192
  • Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia – 247
  • Mencoblos Palu-Arit Berarti Mengalahkan Kaum Teroris – 301
  • Sedikit tentang Kerjasama PNI-PKI – 304
  • Rakyat Indonesia Bertekad Bulat untuk Menunaikan Tugas2 Revolusi Agustus – 307
  • Musyawarah Nasional Berachir dengan Kemenangan Nasional – 316
  • Melarang PKI Berarti Menentang 4 Sila Daripada Pancasila – 319
  • Revolusi Oktober dan Rakyat2 Timur – 324
  • Pemuda Rakyat harus Tetap Setia Kepada Revolusi Agustus 1945 – 337
  • Mari Membangun dengan Rencana – 342
  • Jika Irian Barat Gagal di PBB, Jalan Lain adalah Jalan Kemenangan – 353
  • Perjuangan Irian Barat Didukung Front Nasional yang CUkup Luas – 358
  • Sesuaikan Harian Rakyat dengan Perkembangan Situasi yang Tepat – 366
  • Perlu Tindakan Tegas untuk Mencegah Korban Rakyat yang Banyak – 374
  • Fase Baru dan Penyesuaian Organisasi dengan Situasi – 377
  • Kalahkan Konsepsi Politik Amerika Serikat – 444
  • Sesudah Pemberontakan PRRI Dikalahkan Persatuan Nasional Lebih2 Lagi Diperlukan – 455
  • Perbuatan Agresi Amerika Serikat akan sangat Merugikan Amerika Serikat Sendiri – 464
  • Wanita Komunis Pejuang untuk Masyarakat Baru – 472
  • Pidato Sambutan Dihadapan Kongres ke XI Partai Komunis Cekoslowakia – 483
  • Pidato Didepan 8000 Aktivis Partai Komunis Cekoslowakia di Praha – 487
  • Kegagalan Kontrarevolusi Lebih Memperkuat Sosialisme di Hongaria – 495
  • Hidup PPSD, Pemimpin Sejati Rakyat Republik Demokrasi Jerman – 499
  • Semua Partai di Indonesia Bersatu Menyokong Perjuangan Rakyat Aljazair – 503
  • Konfederasi adalah Satu2nya Pemecahan Politik yang Objektif bagi Jerman – 506
  • “Universitas Rakyat” sebagai Sumbangan untuk Menyelesaikan Revolusi Agustus sampai ke-Akar2nya – 511
  • Mendukung Demokrasi Terpimpin adalah Politik yang paling Revolusioner – 518
  • Semangat Sumpah Pemuda Haruslah Semangat untuk Melaksanakan Demokrasi Terpimpin dan Konsepsi Presiden – 523
  • Bersatu Menempuh Jalan Demokrasi Terpimpin Menuju Pelaksanaan Konsepsi Presiden Sukarno 100% – 526
  • Majulah Terus Gerakan Wanita Indonesia untuk Emansipasi dan Masyarakat Baru – 557
Sumber artikel: http://indonesiabuku.com/?p=10819

Kamis, 14 Februari 2013

Menunggu Beduk Berbunji, DR. HAMKA, Firma Tekad



Harga: Rp.100.000 (blum ongkir)
kondisi : kurang bagus. isi dalam buku ada sebagian atas dan bawah yg kepotong. salah dari percetakan
Jakarta: "Firma Tekad " , 1950. tjetakan ketiga
tebal: 40 hal

Sehabis perang, novelnya ialah
Menunggu Beduk Berbunji

Hamka Sebagai Pengarang Roman (1963), Drs. Yunus Amirhamzah M.A



Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus cet 2 tahun 1993
TEBAL: 66 HAL

Sebuah buku tentang roman-roman Hamka telah ditulis oleh Junus Amir Hamzah, Hamka Sebagai Pengarang Roman .

LEMBAGA HIKMAT


 
 
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan Djadul
Tebal: 72 halaman
JUDUL BUKU:LEMBAGA HIKMAT
PENULIS :HAMKA
CETAKAN PERTAMA TH 1950
PENERBIT:PUSTAKA NASIONAL MEDAN

Buku ini mengandungi pelbagai tulisan yang bersifat riwayat daripada pengalaman hidup orang-orang tertentu dan peristiwa yang mengandungi pelbagai masalah. Secara keseluruhan dapat dijadikan perbandingan dan panduan hidup bagi setiap insan. Kerana setiap riwayat dan peristiwa itu akan mencerminkan betapa hidup manusia dengan nasibnya, hidup manusia dengan kegagalan dan kejayaannya, hidup manusia dengan suka-dukanya; kesemua itu dapat dijadikan ibrah dan cermin untuk melihat dan mentelaah hikmat yang terkandung di sebaliknya

Kamis, 10 Januari 2013

Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur)


TERJUAL
Kondisi: bagus 2002
Tebal: 406 hal

PROF. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasan tentang pluralisme menjadikan Cak Nur intelektual muslim garda depan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di ambang kemelelehan dan disintegrasi bangsa, entah akibat keragaman etnisitas, subkultur, identitas agama, dan disorientasi politik. Nur Khalik Ridwan, melalui buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur) ini, melakukan kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur.

Peneliti jebolan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap pemikiran Cak Nur, kendati memiliki tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan gagasannya "disakralkan". Nah, pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan perspektif lain.

Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya.

Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya, Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. Menurut Khalik, pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri.

Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan umat dari kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi.

Ide Islam yes, partai Islam no, yang diintroduksi Cak Nur saat Soeharto mengebiri partai berbasis agama dan ideologi pada awal 1970-an, dinilai Khalik sebagai strategi neo-Masyumi untuk bersimbiosis dengan kepentingan rezim, agar mereka tidak lagi dituduh mengusung formalisme Islam ke arena politik. Dan agar Soeharto memandang pewaris Masyumi menyantuni Islam substantif. Tak mengheran bila mereka banyak yang jadi petinggi Golkar dan terserap ke birokrasi pemerintahan.

Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh, gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis.

Sayang, kerangka sosiologi pengetahuan John B. Thompson, dalam Studies in the Theory of Ideology (1985), kurang didayagunakan Khalik untuk mempertajam hasil analisis. Kendati disajikan dengan langgam subjektivitas yang meledak-ledak, buku ini tergolong karya teologi pembebasan tahap keempat. Refleksinya sudah menggunakan metode analisis nonmarxis, berangkat bukan dari dogmatisme agama, melainkan keprihatinan iman wong kesrakat, dan menyantuni heterogenitas agama dalam perjumpaannya dengan Islam.

[J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta]
[Buku, GATRA, Nomor 36 Beredar Senin 22 Juli 2002]

Bung Karno - Penjambung Lidah Rakjat Indonesia


Buku "Bung Karno - Penjambung Lidah Rakjat Indonesia" karya Cindy Adams ,
. Merupakan otobiografi terjemahan dari buku "Sukarno, an auto biography as told to Cindy Adams" edisi amerika serikat yang diterbitkan oleh The Bobbs Merrill Company Inc.,New York tahun 1965.

Buku langka yang layak untuk dikoleksi
Penerbit: PT gunung Agung  DJAKARTA MCMLXVI
Edisi : Soft Cover
Halaman: 470
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Alih Bahasa: Major  ABDUL BAR SALIM
Cetakan : Pertama th 1966
TERJUAL
HARGA: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi:  bagus MULUS, eks kolpri

TJARA jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.
Sukarno adalah seorang manusia perasaan. Seorang pengagum. Ia menarik napas pandjang apabila menjaksikan pemandangan jang indah. Djiwanja bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia. Ia menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.
Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman."Akan tetapi aku bersjukur kepada Jang Maha Pentjipta, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali kemerdekaan dan hak-azasinja, setelah tiga setengah abad dibawan pendjadjahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi ditahun 1945 dan mentjiptakan suatu Negara Indonesia jang bersatu, jang terdiri dari pulau Djawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?
Irama suatu-revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek. Dan didalam djiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan djiwa seni. Kepandaian memimpin suatu revolusi hanja dapat ditjapai dengan rnentjari ilham dalam segala sesuatu jang dilihat. Dapatkah orang memperoleh ilham dalam sesuatu, bilamana ia bukan seorang manusia-perasaan dan bukan manusia-seni barang sedikit ?
Namun tidak setiap arang setudju dengan gambaran Sukarno tentang diri Sukarno. Tidak semua orang menjadari, bahwa djalan untuk mendekatiku adalah semata-mata melalui hati jang ichlas. Tidak semua orang menjadari, bahwa aku ini tak ubahnja seperti anak ketjil. Berilah aku sebuah pisang dengan sedikit simpati jang keluar dari lubuk-hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.

Rabu, 02 Januari 2013

Perjuangan total Brigade IV pada perang kemerdekaan di Karesidenan Malang, oleh Nur Hadi dan Sutopo


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus 1997
tebal: 406 hal
Perjuangan total Brigade IV pada perang kemerdekaan di Karesidenan Malang / oleh Nur Hadi dan Sutopo
 Malang : Penerbit IKIP Malang bekerjsama dengan Yayasan EX Brigade IV Brawijaya Malang.

Related Post

ShareThis