.

.

Minggu, 19 Agustus 2012

Bumi Manusia

TERJUAL
Price 100.000,00 (belum termasuk ongkos kirim)
Kondisi: BAGUS MULUS. cuma ada bekas lipatan di pojok kanan atas cover buku. isi dalam buku bagus tanpa ada coretan sama sekali
Tebal: 353 halaman
Berat:0,33 Kg
cet keempat HASTA MITRA 1980


Tokoh Minke lahir pada 1880, tepat seratus tahun yang lalu jika dihitung sejak terbitnya novel Bumi Manusia (This Earth of Mankind) untuk pertama kali. Minke lahir di era kolonialisme Belanda sedang gencar-gencarnya menyedot kekayaan alam dan tenaga manusia Nusantara, hingga memasuki kurun 300 tahun, dihitung sejak VOC memasuki perairan Batavia dan mendirikan kantor dagang berupa loji yang digunakan sekaligus pangkalan laut.
     Van den Bosch dengan programnya yang tersohor: tanam paksa/ cultuurstelsel mulai bergulir pada 1830-an, Belanda usai meraih kemenangan dalam perang Jawa yang lebih termasyhur dengan perang Diponegoro. Program jenius si Bosch demi kejayaan Nederland Raya terus berlanjut dan semakin bervariasi tanaman-tanaman yang dibebankan pada kaum petani pribumi, hingga pada 1870 para petani harus menanami duapuluhlima persen dari lahannya dengan tanaman wajib, berupa vanili, tebu, kayu manis dan sebagainya sesuai permintaan pasar dunia. Dengan latar belakang keadaan pribumi yang tertindas seperti itulah, Pramoedya dalam buku ini mencoba menggelar kejadian di satu pojokan bumi manusia – manusia pribumi Jawa.
     Benarkah orang pribumi sudah demikian merosotnya sejak keruntuhan Majapahit yang perkasa hingga terpecah-belahnya Mataram Sultan Agung? Dan selanjutnya bangsa Eropa yang unggul ilmu pengetahuannya itu berhasil dengan mudahnya menguasai tanah Jawa, hingga mereka memerintah sebagai bangsa pemenang.
     Benarkah manusia Jawa yang gagah perwira di masa Majapahit itu kini sudah demikian rendah penguasaan ilmu pengetahuannya hingga menjadi bangsa kuli di antara bangsa-bangsa?
     Agama Islam sempat mencapai perkembangan yang mengagumkan di masa kerajaan Mataram Sultan Agung, karena di masa itu bangsa Barat belum sepenuhnya menguasai Nusantara. Masa keemasan penyebaran Islam di Jawa oleh sembilan orang wali (Walisongo) memang lancar dengan runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha Majapahit menyerat serta terpecah-belahnya Nusantara menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Penyebaran agama baru itu pula yang mempercepat ambruknya Majapahit.
     Kerajaan Hindu-Buddha diwakili Majapahit berhasil menyatukan Nusantara, sedangkan kerajaan Islam cuma berhasil menguasai tanah Jawa, karena keburu masuknya bangsa-bangsa Eropa yang lebih kuat perlengkapan perangnya.
     Dengan Revolusi Agustus 1945 Nusantara dapat bersatu kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelarangan novel Bumi Manusia
Menurut editor Bumi Manusia, JI, pada 1980 buku ini sempat beredar bebas enam bulan hingga dilarang oleh Kejaksaan Agung dengan Surat Keputusan Nomor 052/JA/5/81 tanggal 29 Mei 1981 atas rekomendasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sampai detik ini pelarangan itu belum dicabut. Alasan pelarangan pada 1980 itu, menurut pihak Kejaksaan Agung, “Isi buku Bumi Manusia dianggap menyebarkan paham terlarang di wilayah NKRI, paham Marxism-Leninism.”
     Dalam interogasinya di Kejagung JI membantah hal di atas dengan mengatakan, “Selama saya mengedit baris demi baris Bumi Manusia, saya tidak menjumpai Kamerad Marx dan Lenin ngumpet di balik titik atau koma dan di tempat lainnya.”
     Tokh buku yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari duapuluh bahasa itu tetap dilarang di masa kekuasaan Orde Baru. Setelah lengsernya Bapak Pembangunan Haji Muhammad Soeharto dan memasuki era Reformasi, maka pada 2001 penerbit Hasta Mitra mengedarkan kembali Bumi Manusia seri pembebasan tanpa menunggu pelarangan buku itu dicabut oleh yang berwenang. Saat ini hak pengedaran Bumi Manusia dipegang oleh Penerbit Lentera Dipantara milik keluarga Pramoedya A. Toer.

Para tokoh dalam Bumi Manusia
Kita kembali pada novel Bumi Manusia. “Orang memanggilku Minke….” Minke memperkenalkan namanya yang unik, layaknya pemuda memasuki masa dewasa. Ia seorang pelajar di HBS Surabaya. Minke pelajar pribumi yang cemerlang hingga usai ujian akhir sekolah kelak di HBS dinobatkan sebagai siswa terpandai nomor satu HBS Surabaya, dan nomor dua untuk seluruh Hindia Belanda. Prestasi siswa pribumi Jawa yang mengagumkan di masa itu. Di masa kekuasaan kolonial itu pribumi belum mungkin menjadi nomor satu seluruh Hindia Belanda….
     Tidak semua anak mampu boleh masuk sekolah tinggi, kecuali anak ningrat pribumi, atau anak pejabat pribumi yang boleh belajar di sekolah setingkat HBS. Kekecualian bagi anak totok Belanda dan peranakan yang disamakan dengan totok. Minke masuk HBS dengan dukungan neneknya, bupati Bojonegoro.
     Prestasinya dalam jurnalistik dengan nama samaran Max Tolenaar menulis untuk surat kabar di Jawa Timur. Guru sastranya yang liberal dan progresif memuji-mujinya sebagai siswa kebanggaannya selama karirnya sebagai guru sastra. Pribumi menulis untuk surat kabar di jaman itu? Luar biasa di jaman itu. Hal itu dimungkinkan bermodal nama samaran seorang peranakan ia mengumumkan dirinya, karena bagi peranakan masih layak peluang untuk menulis dalam surat kabar.
     Hasil penelitian residen Bojonegoro bahwa pribumi punya tingkat intelijensi sama derajat dibanding orang Belanda. Penelitian yang diilhami oleh teori asosiasi Dr. Snouck Hurgronje mempunyai thesis: dapatkah pribumi bersama-sama Belanda memerintah orang pribumi Hindia? Residen Bojonegoro sangat terkesan pada Minke, obyek penelitiannya.
     Perbedaan antara orang Belanda dan pribumi; orang Belanda datang sebagai penjajah dan penakluk sedangkan orang pribumi jadi taklukannya. Ketidakadilah berlaku di tanah jajahan manapun, bagi pribumi lebih jelas lagi mengejawantah dalam hukum bertingkat-tingkat yang berlaku di Hindia Belanda. Tingkat tertinggi Belanda totok, di bawahnya timur asing, dan paling bawah adalah pribumi. Pribumi di depan hukum selalu kalah melawan Belanda dan sebaliknya.
     Kisah Minke dengan kekasihnya Annelies di seputar kegiatan pabrik gula melibatkan Minke berhadapan dengan hukum yang dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda. Minke masih beruntung berkat previlium previgiatum (kekebalan hukum tingkat tertentu) yang dimilikinya, karena belajar di HBS Minke sederajat anak bupati. Annelies anak seorang administratur pabrik gula, Herman Mallema.
     Nyai Ontosoroh alias Sanikem berbangga hati anak gadisnya punya teman seorang pemuda yang belajar di HBS. Bersekolah di HBS berarti setelah lulus nanti akan menduduki jabatan tertentu dalam struktur pemerintah Hindia Belanda, atau meniti jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Hindia Belanda atau di Nederland.
     Tahun 1900 di utara sana di negeri Tiongkok terjadi penumbangan dinasti Qing. Tiongkok memproklamirkan diri jadi Republik Tiongkok. Seorang dokter menjadi presiden pertama, yang tidak berkuasa efektif karena wilayah Tiongkok dikuasai oleh raja perang setempat.
     Philipina bangkit melawan penjajah Spanyol. Hindia Belanda adem-ayem terus......... 

SUMBER ARTIKEL:
http://www.hastamitra.net/2010/03/bumi-manusia-novel-pramoedya-yang.html

Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer


 
Harga: Rp.105.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus. cet pertama 2009
Paperback, 504 pages
Berat: 0,43 Kg
Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer
by Koesalah Soebagyo Toer
Published 2009 by Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN139789799101396

Bersama Mas Pram mengungkap sisi-sisi kehidupan Pramoedya Ananta Tour, novelis terbesar Indonesia, yang jarang diketahui umum. Misalnya tentang kehidupan seksualnya, kegigihan kerjanya, pandangannya tentang wanita dan perkawinan, aktivitasnya menjelang 1965, sikapnya tentang Tuhan dan doa, cara dia mendidik adik-adiknya, sampai percakapan-percakapan ketika ditangkap tahun 1965.

Memoar ini adalah buku kedua Koesalah Soebagyo Toer yang memaparkan kehidupan Pramoedya setelah Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali. Ditambah catatan Soesilo Toer, buku ini menyuguhkan inside story kehidupan Sang Novelis yang lebih lengkap sejak masa kecil di Blora hingga meninggal tahun 2006 di Jakarta.

Karya ini akan melengkapi ruang pengetahuan siapa pun yang mengagumi karya-karya Pramoedya.(less)

sumber artikel: http://www.goodreads.com/book/show/6462222-bersama-mas-pram

—

Rabu, 15 Agustus 2012

MEREKA YANG DILUMPUHKAN


 SOLD
MEREKA YANG DILUMPUHKAN
cetakan kedua, Januari 2002
kondisi: BADAN BUKU AGAK SEDIKIT MELENGKUNG
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit Hasta Mitra
Jakarta
1951, cetakan pertama, 2 jilid, Balai Pustaka, Djakarta
1961, cetakan kedua, 2 jilid, Balai Pustaka, Djakarta
1995, In de Fuik, penerjemah Alfred van der Helm, penerbit De Geus, Breda
1995, cetakan pertama, edisi baru dengan EYD, 2 jilid disatukan, Hasta Mitra, Jakarta
2002, cetakan kedua, Januari 2002
xii + 544 hlm; 14.5 x 21 cm
HASTA MITRA 2002


Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 oleh Balai Pustaka, 2 tahun setelah Pram bebas dari penjara Bukit Duri. Pram ditahan Belanda pada tahun 1948 - 1949 karena keterlibatannya dalam tentara republik pada masa akhir perang kemerdekaan, tidak lama setelah Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan Belanda melakukan agresi militernya di Indonesia. Di penjara Bukit Duri inilah buku Mereka Yang Dilumpuhkan (MYD) mulai ditulis, berisi tentang apa yang disebutnya sebagai Manusia Bubu, Manusia Penjara.

Membaca buku ini terasa lebih berat dibanding buku Pram yang lainnya, karena buku ini tidak berisi suatu cerita yang mengalir, melainkan pikiran-pikiran manusia yang ada di dalam penjara. Sehingga membaca buku ini serasa membaca pikiran Pram tentang kebebasan, yang menurut Pram kebebasan adalah segala-galanya. Dengan meminjam istilah Pram: "Kebebasan yang Mahakuasa", tak adalah rasanya sesuatu yang lebih mahakuasa daripada kebebasan.

Buku ini dia bagi menjadi empat bagian. Bagian pertama: Bubu, saat mulai masuk penjara Bukit Duri, dan mulai berkenalan dengan sel, kawan satu sel, kawan sepenjara, komandan penjara, serta sifat manusia-manusia di dalam penjara. Bagian kedua: Antara Laut dan Keringat, saat kerja paksa di Pulau Damar atau Edam, beberapa mil dari pelabuhan Tanjung Priok. Bagian ketiga: Antara Tanah dan Hati, satu bagian khusus tentang pemikiran sahabatnya, Sarpin Danuasmara, mengenai kemerdekaan secara umum, tidak hanya kemerdekaan dari penjara Belanda serta kemerdekaan Indonesia, melainkan juga kemerdekaan atas adat istiadat serta kemerdekaan untuk beribadah. Bagian keempat: Saat-Saat yang Terakhir, yang disebutnya sebagai kebebasan yang mahakuasa.


Kata Pengantar buku ini ditulis oleh Taslim Ali, yang kendati ditulis setengah abad yang lalu, tahun 1951, tapi masih tetap aktual dan tetap valid observasi dan penilaiannya terhadap masyarakat dan manusia-manusianya dalam segala seginya sampai hari ini. Taslim Ali merumuskan tanggapannya tentang watak dan kehendak angkatan baru dalam suatu "Sanjak Liar", sebagai berikut:

Kami telah mual
bau bangkai kata-kata,
memoles bingkai-bingkai tua
dari cermin omong-kosong

Kami mau:
Jantung hidup,
darah merah,
dendang lantang
pukulan nadi
yang menderas napas.
kian deras, hingga balapan
dengan tanggapan
otak dan hati,
otak dan hati sendiri.

Kami benci keindahan kuda pingitan,
yang licin bulunya dan putih,
hidup dari persediaan.

Kami ingin:
Kuda liar di tengah padang,
yang deras melepas mau hatinya,
biar tertarung, biar patah, biar mati,
berani menjuang nasib,
merebut kemujuran
dalam sanggup bangkit kembali,
dengan tenaga sendiri,
untuk turun-naik gunung ..... berlari,
masuk keluar lembah ..... berdiri,
mendesak ke cakrawala
dengan kemauan yang mendidih,
haus baru, lapar baru,
bebas memilih hidup atau mati,
mana suka: Jiwa pelopor.

sumber: http://ykrisnahadi.multiply.com/reviews?&show_interstitial=1&u=%2Freviews

—

Kamis, 09 Agustus 2012

Tokoh-tokoh pelukis Indonesia


 TERJUAL
Kondisi: bagus 1993 . sebesar MAJALAH, ada jacket buku, bok
Tebal: 250 hal
Judul Tokoh-tokoh pelukis Indonesia
Penulis Mustika, Jakarta Raya (Indonesia). Dinas Kebudayaan

Penerbit Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1993

tentang penulis
Mustika
Pelukis, lahir di Pemalang, Jawa Tengah 2 Desember 1937 dan meninggal di Jakarta, 21 Juli 2002. Putra dari keluarga Sumadio Sastrodimulyo pensiunan pegawai negeri sipil. Pendidikan hingga SMA dan kursuskursus, mulai melukis sejak tahun 1955 kemudian belajar membuatlmematung tahun 1964 di Jakarta; tahun 1962 menulis buku dongeng anak-anak bergambar "Sang Bangau" diterbitkan oleh PT. Wijaya. Tahun 1958 ikut mendirikan organisasi Seniman Indonesia serta tercatat sebagai anggota termuda Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional yang kegiatannya berpusat di Balai Budaya Jakarta. Sej ak tahun 1966-1990 banyak menyelenggarakan Pameran Tunggal sebanyak 22 kali dan pameran bersama yang tak terhitung jumlahnya.


Tahun 1970 mendirikan Sanggar Krida Jakarta, pada tahun yang sarna ikut mendirikan Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) menjabat selaku Ketua Bidang Organisasi, kemudian melalui Munas I dikukuhkan selaku ketua Bidang Sosial Budaya pada Pimpinan Pusat hingga Muna

s II tahun 1989, selanjutnya dipercayakan lagi pada Bidang Sosial Budaya untuk Pimpinan Daerah Jakarta hingga saat ini. Terpilih sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta untuk Kornite Seni Rupa masa bakti 1985 hingga 1988 yang kemudian diperpanjang hingga awal 1990; mulai bulan April 1969-1990 aktif bekerja di Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki, tugas yang dipercayakan antara lain: Manager Pameran - Ka. Humas - Ka. Unit Pameran Ka. Bidang Pengawasan - Ka. Bidang Produksi. Tahun 1989 terpilih sebagai salah satu anggota kelompok kerja seni rupa dalam Panitia Pelaksana Pameran Kebudayaan KIAS (tahun 1990-1991) sebagai mata rantai Diplomasi Kebudayaan.

Lukisan Mustika menjadi koleksi sejumlah tokoh penting. Sebuah lukisannya yang beIjudul Danau Kintamani dikoleksi oleh Suzuki, mantan Perdana Menteri Jepang. Lukisan Kampung Jakarta juga menjadi koleksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan terpasang di Markas Besar PBB di New York sejak tahun 1972. Selain melukis Mustika juga aktif menulis dan membuat dokumentasi kegiatan seni rupa. Alrnarhum pemah menghasilkan buku Percakapan dari Hati ke Hati Pelukis Indonesia (1983) terbitan Sanggar Krida; Tokoh-tokoh Pelukis Indonesia (1993); SeniRupa Indonesia Modem dalam Kritik dan Esai (1996). Mustikajuga pemah menulis buku cerita anak beIjudul Sang Bangau (1962).

sumber artikel: http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/1997






Senin, 06 Agustus 2012

Di Tepi Kali Bekasi




TERJUAL BY AZKA TANGERANG SELATAN
Harga: Rp.450rb (blumongkir)
Kondisi: Lumayan, HASTA MITRA 1995- cetak ulang dengan EYD
Tebal: 218 hal
Berart: 0,28 Kg

sumber:elfsi
Di Tepi Kali Bekasi
by Pramoedya Ananta Toer
Lewat novel ini Pramoedya ingin menjungkirkan cara pendang konvensional dalam melihat wacana sejarah revolusi Republik yang selalu menempatkan militer dan para jendralnya sebagai kubu heroik dan pahlawan. Adapun tokoh-tokoh anonim yang tak memiliki aksesibilitas ke penulisan sejarah Istana, tersingkir dan lenyap. Pram berusaha menempatkan
tokoh-tokoh anonim ini sedemikian rupa di tempatnya yang layak.
Farid tokoh biasa yang mungkin hampir tak pernah dikenang disepanjang masa tapi jangan salah Farid turut ambil bagian mungkin melebihi para pahlawan yang disebut – sebutkan. Farid adalah protagonis yang walaupun labil namun memiliki semangat membara untuk membela tanah air, yang mungkin akan sulit ditemukan pada saat sekarang. Meskipun ayahnya satu-satunya kluarga kandung yang ia miliki melarang untuk bertempur tapi semangatnya membara demi tanah air tercinta.

Farid benci akan penjajahan dan NICA. Namun apa boleh buat keadaan memaksa sang Ayah untuk masuk NICA, betapa remuknya hati Farid, namun demi cintanya akan Tanah air dan seluruh penderitaan rakyat Indonesia Farid pun tetap teguh pendiriannya.

Jatuh cinta pada Nany yang indo bertemu dengan sahabat-sahabat tempurnya para prajurit rakyat dengan seluruh kisah pertempuran tempo doeloe, seluruh kisah Farid di tepi kali bekasi membawa hanyut pembaca ke awal tahun kemerdekaan Indonesia, serasa raga ikut berperang mendukung setiap aksi – aksi perjuangan Farid yang tak kenal lelah dan derita, kisah di Tepi Kali Bekasi mengingatkan akan para tokoh biasa yang mungkin hampir tak pernah dikenang disepanjang masa bahkan disebut saja pun dibarisan deretan pahlawan kurasa tidak pernah dikarenakan mereka kaum yang kalah dalam neraca sirkulasi kekuasaan.

Tatkala ia berteriak : Merdeka,mereka balik kembali. Membalas salam nasional dengan meninggikan ibu jarinya. Lucu cara mereka memberi hormat. Ibu jari ditinggikan depan hidung. Kepala mengangguk beberapa senti ke depan, mata bersinar-sinar mulut tersenyum, kaki keduanya direndahkan jadi huruf “O”.

Tatakala mengakhiri buku ini, ingin rasanya diriku berteriakkk.. .”MERRRDEKAAAA” tentunya sambil menirukan gaya huruf “O” nya mereka, khohoho ^_^


Minggu, 05 Agustus 2012

KUNDJUNGAN P.J.M. SUKARNO, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI SOWJET UNI


 TERDJUAL BY DADAN DJAKARTA, 7-8-12
Harga: Rp.300.000 (blum ongkir)
KUNDJUNGAN P.J.M. SUKARNO, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI SOWJET UNI
Kondisi: Lumayan, 1959
Tebal: 125 hal

Presiden Soekarno dan Uni Soviet
* Alexei Drugov
PERKATAAN terkenal berbunyi: orang-orang
agung seperti bintang di langit-bahkan waktu
bintang sudah mati, cahayanya masih lama
terlihat orang. Oleh karena itu, perayaan ulang
tahun orang agung bukan hanya alasan
memperingatinya dengan hormat, tetapi juga
mempelajari pengalamannya agar mendapat
sesuatu yang penting untuk mengatasi masalahmasalah
masa kini.Kehidupan dan kegiatan
Presiden Soekarno mewujudkan dua zaman
dalam sejarah Indonesia, yaitu perjuangan
kemerdekaan yang mengakibatkan proklamasi
kemerdekaan pada tahun 1945, dan periode
pembangunan negara Indonesia sampai tahun
1967, ketika Presiden Soekarno mundur dari
jabatannya.
Soekarno mengatakan berulang kali, ide
nasionalismenya berpadu dengan
internasionalisme. Hal itu antara lain dibuktikan
dengan jelas oleh sikap Soekarno terhadap Uni
Soviet. Orang Rusia sampai saat ini mengingat
dengan rasa terima kasih bagaimana pada tahun
1941 Soekarno yang pada waktu itu diasingkan
ke Bengkulu, dalam artikelnya di koran
Pemandangan menyatakan keyakinannya
terhadap kemenangan Tentara Merah (Soviet)
melawan pasukan Hitler.
Soekarno menulis, "Tentara Merah tidak hanya
membela kemerdekaan negaranya sendiri, tetapi
juga akan mendukung pembebasan seluruh umat
manusia dari ancaman fasisme". Pandangan
Soekarno mencerminkan ideologi seluruh
gerakan pembebasan nasional Indonesia. Sikap
Uni Soviet pada masa perjuangan kemerdekaan
rakyat Indonesia ialah meyakinkan Soekarno bahwa Uni Soviet adalah kekuatan yang dapat diandalkan
Indonesia dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Oleh karena itu, pada awal tahun 1948 atas prakarsa Indonesia dicapai persepakatan pendahuluan
mengenai terjalinnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet. Namun, karena beberapa
peristiwa di Indonesia, realisasi persepakatan tersebut secara praktis baru mulai pada awal tahun 1950-
an.
Pada musim semi tahun 1952 delegasi Indonesia berangkat ke Moskwa untuk ikut serta dalam
Persidangan Ekonomi Dunia. Anggota delegasi antara lain Adam Malik, yang kemudian menjadi Duta
Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet, bahkan kemudian menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil
Presiden RI.
Pada bulan April tahun 1955 Uni Soviet menyambut baik Konferensi Negara-negara Asia dan Afrika di
Bandung. Sambutan positif itu tampaknya dapat meyakinkan Soekarno bahwa persepsi Moskwa
terhadap keadaan dunia setelah Perang Dunia II lebih pluralis daripada pandangan Barat. Sikap negara-
Dok Kompas
Dok Kompas
negara Barat terhadap Konferensi Bandung dan Gerakan Nonblok secara terus terang diucapkan oleh
Menlu AS John Foster Dulles, yang menyebut sikap netral Indonesia sebagai "politik amoral". Satu atau
dua tahun kemudian sikap negatif itu diperlihatkan secara lebih keras pula dalam bentuk bantuan militer
yang diberikan oleh pihak Barat kepada para pemberontak separatis di Sumatera dan Sulawesi.
Banyak pengamat menganggap Soekarno sebagai seorang romantik dalam politik. Soekarno sendiri
tampaknya tidak keberatan atas persepsi itu. Namun, ternyata simpatinya dalam politik luar negeri
ditentukan bukan oleh emosinya, melainkan pragmatismenya, yaitu kemampuannya melihat kepentingan
nasional Indonesia dan mempertimbangkan apakah politik negara lain sesuai dengan kepentingan
nasionalisme Indonesia. Misalnya, seperti diketahui, pada akhir tahun 1950-an waktu Pemerintah
Indonesia menyepakati perlunya modernisasi ABRI, awalnya penelitian mengenai pembelian
persenjataan dilakukan di Barat. Dan hanya setelah ditolak negara-negara Barat secara nyata baru
Jakarta mengarah ke Moskwa dan negara-negara Eropa Timur.
Kunjungan Soekarno ke Moskwa pada Agustus-September tahun 1956 menjadi peristiwa yang sangat
penting artinya dalam sejarah hubungan Indonesia dan Uni Soviet. Baru pada waktu itulah Indonesia
memperoleh simpati di Uni Soviet. Setelah mengunjungi banyak daerah dan berpidato di depan ratusan
ribu orang, Soekarno berhasil mengubah sikap masyarakat Uni Soviet tentang negara Indonesia yang
dianggap jauh dan kurang diketahui, menjadi salah satu negara yang paling disukai orang Soviet. Selain
itu pula, Soekarno menemukan titik persamaan dengan tokoh-tokoh politik Soviet, pertama-tama karena
pertimbangannya saling kepentingan secara pragmatis dan wajar.
Presiden RI menyadari, Uni Soviet bertujuan memperkuat kedudukannya di antara negara-negara
sedang berkembang sebagai benteng anti-imperialisme, yang terus berusaha keras mempertahankan
gagasannya dalam rangka politiknya menentang AS. Sementara itu Soekarno juga berkeyakinan,
kesempatan memperluas pengaruh Soviet di Indonesia terbatas karena banyak faktor, termasuk
perbedaan kebudayaan dan agama.
Keyakinan itu secara umum ternyata benar. Uni Soviet memberikan kepada Indonesia bantuan militer
yang tidak ada bandingannya. Ribuan orang militer Indonesia diajari oleh instruktur-instruktur Soviet.
Kerja sama ekonomi berkembang aktif pada waktu itu. Akan tetapi, semua hal tersebut tidak
mengakibatkan kenaikan nyata pengaruh politik Soviet di RI, khususnya dalam ABRI. Namun, hal itu
tidak mengecilkan arti rasa simpati orang biasa yang timbul antara para anggota AL, AU, pasukan tank
dan roket, serta ahli sipil kedua negara itu.
Yang menjadi contoh perkiraan politik sangat tepat dari kedua pihak tersebut adalah kampanye Irian
Barat. Baik Soekarno maupun pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev tidak mau agar keberadaan kapal
dalam jumlah besar seperti kapal selam dan pesawat terbang militer Soviet di Indonesia melampaui
rangka demonstrasi kekuatan saja hingga mendorong Belanda, sama dengan AS, untuk menyelesaikan
masalah dengan cara politik. Uni Soviet dan Indonesia sepenuhnya saling mengerti mengenai hal itu.
Sebaliknya, dua tahun kemudian saling pengertian seperti itu gagal tercapai waktu Indonesia melawan
pembentukan Federasi Malaysia. Soekarno menduga bahwa Uni Soviet berdasarkan taruhannya di
"Dunia Ketiga" akan sedia memberikan kepada Indonesia bantuan sebesar kampanye Irian Barat. Akan
tetapi, pada saat sengketa dengan Malaysia keadaan dunia berubah sehingga yang dianggap paling
mungkin adalah campur tangan militer Barat yang berpihak kepada Kuala Lumpur. Tambahan lagi
campurtangan seperti itu dapat mengakibatkan konflik besar.
Sekarang kita menghampiri perbedaan penting antara Moskwa dan Jakarta dalam sikap terhadap politik
dunia yang mulai menonjol pada tahun 1962-1963. Soekarno menganggap bahwa pandangan Soviet
menjadi lebih didominasi ide koeksistensi secara damai dan pencegahan perang nuklir. Beliau
memandang sikap itu sebagai gejala kongkalikong antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dengan
mempermainkan negara-negara sedang berkembang. Khrushchev pada gilirannya dan kemudian Leonid
Brezhnev (pemimpin Soviet sesudah Khrushchev) cukup beralasan mengira bahwa dengan
menghilangkan ancaman nuklir mereka bertindak demi kepentingan seluruh umat manusia, termasuk
Indonesia. Perbedaan pendapat tersebut menonjol, misalnya, dalam perundingan Soekarno dan
Khrushchev di Moskwa pada bulan September tahun 1964.
Namun, kalau masalah itu dipandang dari segi masa kini maka intinya ternyata berubah. Dengan
penggunaan bahasa modern, Soekarno kuatir atas munculnya model dunia bipolar sehingga kebanyakan
negara akan dipengaruhi perkembangan hubungan antara dua "raksasa nuklir." Sedangkan ide-ide
Konferensi Bandung, yang dibaktikan Soekarno sampai hari terakhir, berarti penetapan hak politik semua
negara untuk ikut serta secara berdaulat dalam menentukan tata dunia.
Demikianlah kalau saat ini dipertanyakan apa yang masih aktual dari warisan ide-ide Sukarno, maka
seharusnya ditonjolkan ide dunia multipolar dan prinsip persamaan hak semua negara.
* Alexei Drugov, pakar ilmu politik Rusia, pemerhati masalah Indonesia.


Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita dari Blora, cet 3 kuala lumpur 1989 WIRA KARYA


HARGA: RP.500.000 (BLUM ONGKIR)
Kondisi: lumayan
cet 3 kuala lumpur 1989 WIRA KARYA
tebal:247 hal
BERAT: 0,41 kG

Dua puluh sembilan bulan dalam tawanan Belanda bagi Pram adalah masa pengalaman, penderitaan, pemikir­an dan pengkhayalan yang mematangkan dan menyu­bur­kan jiwa. Dari masa inilah berasal sembilan dari sepuluh ce­rita pendeknya yang terkumpul dalam PERCIKAN RE­VOLUSI (Gapu­ra, Jakarta 1950), romannya KELUARGA GE­RILYA (Pemba­ngunan, Jakarta 1950), kedua novelnya PERBURUAN (Balai Pus­taka 1950) dan BLORA yang dimuat dalam kumpulan cerita pendeknya SUBUH (Pembangunan, Jakarta 1950).
Dalam masa ia terasing banyaklah Pram teringat kepada negeri kelahirannya Blora, kepada masa kecilnya dalam ling­kungan keluarga yang besar, kepada ibu, seorang perem­puan yang saleh, penuh pengorbanan dan ketubian kepada suami dan anak, lembut dan pengasih tapi tahu disiplin, kepada ayah yang mempunyai daerah kegiatan yang besar dan kepada adik-adik seorang demi seorang, yang dia sebagai putera tertua merasa bertanggung-jawab terhadap nasib mereka di kemudian hari.
PERBURUAN yang diilhamkan oleh pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar waktu pendudukan Jepang, seluruhnya bermain di kota Blora dengan kali Lusi-nya yang bersejarah. “Sebuah cerita khayal”, Pram menerangkan di bawah kepalanya. Memang banyak Dichtung dalam cerita ini, tapi bebe–rapa tokoh serasa-rasa kita kenali juga dari cerita-cerita Pram yang lain. Lebih jelas tokoh-tokoh itu dalam BLORA, yang juga adalah mimpi seorang tawanan, BLORA yang dalam istilah Freud adalah suatu wensdroom, suatu mimpi yang dimimpikan karena keinginan, demikian besarnya hasrat hendak bertemu dengan orang tua dan adik-adik. Dan mimpi-mimpi karena keinginan ini segera disusul dengan pertemuan dalam Realität yang menghasilkan BUKAN PASAR MALAM (Balai Pustaka, 1950), pertemuan yang menye­dihkan dengan ayah dan adik-adik di negeri kelahiran, enam bulan sesudah lepas dari tawanan.
Dan kesadaran yang meruang akan fananya segala, kesadaran inilah pada hemat saya salah satu pendorong pencipta akan meng­­abdi­kan segala sesuatu. – Manusia lahir dan mati. Apakah peninggalannya? – Hanya kenang-kenangan pada yang tinggal. – Dan untuk berapa lamanya?
Di dalam buku ini Pram menyajikan pula cerita-cerita dari Blora yang hampir semuanya ditulis beberapa bulan sesudah ia merdeka dari tawanan. Blora, daerah kapur yang miskin, di mana seorang sebelum bisa hidup dengan segobang sehari, penghasil­an seorang buruh tani kecil 11/2 sen sehari dan dengan gaji beberapa rupiah sebulan orang berani hidup berkeluarga dalam segala kemiskinan. Di mana ada orang yang karena kemiskinan mau menyewakan diri untuk men­cabut nyawa orang lain de­ngan persenan sepuluh rupiah atau jadi pembegal di hutan jati. Di mana anak pe­rem­­puan dika­winkan pada umur enam tahun de­ngan maksud meringankan beban orang tua dan di mana tidak jarang perem­puan men­jualkan diri untuk mencari nafkah hidupnya. Dan dalam melukiskan kebodohan, kepicikan dan kelemah­an orang-o­rang ini, Pram selalu menunjukkan rasa kasihan, meskipun di sana-sini terasa pula kepahitan yang membikin dia kadang-kadang menjadi kasar.
Menarik hati tokoh ayah yang dilukiskan oleh Pram dalam KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dan DIA YANG MENYERAH, yang kita temui pula dalam BUKAN PASAR MALAM. Ayah yang hidupnya intens. Kepala sekolah partikelir yang didirikan dalam perang dunia pertama, yang memberikan segala tenaganya dalam tahun-tahun tiga puluhan kepada gerakan kebangsaan, gerakan kepanduan dan mendirikan koperasi dan bank rakyat di sam­ping jadi guru partikelir giat pula memberikan kursus politik, eko­nomi dan pengetahuan umum di rumahnya sendiri. Dan ayah inilah pula yang menjadi penjudi yang tahan empat hari empat malam tidak beralih dari tempat duduknya mencari hiburan karena usaha-usahanya digagalkan oleh pemerintah kolonial: sekolah dibikin lumpuh, buku-buku pelajaran disita, guru-guru dilarang mengajar, anak-anak pegawai gubernemen dilarang
Pramoedya - Cerita dari Blora
sekolah di perguruan partikelir, bank rakyat dirintangi bekerja. Seorang nasionalis tulen yang kecewa di waktu Jepang dan di waktu revolusi tetap setia kepada pemerintah Republik tatkala Blora beberapa waktu diduduki oleh pasukan merah dengan terornya yang dahsyat. Dibandingkan dengan perhati­an­­nya terhadap tokoh ayah ini, Pram agak sedikit menyoroti tokoh ibu yang lebih dulu meninggal dari ayah, meskipun dia dengan hormat memper­ingatinya sebagai seorang ibu yang bijaksana, lembut tapi keras pada waktunya, tahu harga diri, halus perasaan, membimbing, penuh kasih-sayang dan sabar terhadap anak-anaknya.
Dalam semua cerita Pram terasa-rasa kekeluargaan yang erat antara pelakon-pelakon. Seorang demi seorang kita bisa dapati kembali tokoh-tokoh ayah, ibu, gadis-gadis yang keibuan dalam keluarga, anak-anak lelaki, masing-masing dengan rasa tang­gung-jawab yang besar. Dan sebagai suatu keluarga guru yang ingin maju, kita selalu mendapati pikiran: belajarlah baik-baik untuk kebaikan hari kemudianmu. Seringkali Dichtung menye­lubungi Realität dengan tebalnya, sebagai pernyataan jiwa yang kepenuhan. Ini misalnya keras sekali dalam novel KELUARGA GERILYA dalam mana reali­tas kadang-kadang dilangkahi dan idé menguasai suasana.
Dalam tujuh cerita pendek yang pertama dalam kumpulan ini Pram melukiskan masyarakat waktu zaman kolonial dan mes­kipun tidak sekali juga menyebutkan angka-angka tahun, kita dapat juga menangkap perkembangan kesejarahan dalam hidup pergerakan dan kemajuan masyarakat sebelum perang dunia kedua. Misalnya dalam cerita KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dengan jelas terbayang perjuangan kaum nasionalis Indonesia di lapangan sosial dan pengajaran menghadapi pemerintah kolonial. Terutama gugatan sosial yang lahir dari perasaan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuat­an Pram yang istimewa. Gugat­an terhadap kemiskin­an, kebodohan, pergundikan dan pelacuran karena kemiskinan. Dan keadilan dan kemanusia­an itu baginya lebih penting dari segala-gala. Juga dari bentukan-bentukan dan dogma-dogma ideologi. Seorang Karmin yang berkhianat karena kekhilafan dan dengan tidak disadarinya seperti diceri­takan dalam PERBURUAN oleh Pram masih diberi ampun dan ke­sempat­an untuk memperbaiki diri dan dia dengan tegas menuntut kebahagiaan hidup dan keadilan juga bagi ANAK HARAM yang dikutuki masyarakat karena ayahnya berkhianat ber­tahun-tahun malah berpuluh tahun yang lalu dalam perjuang­an. Bagi Pram kutukan “tujuh turunan” adalah perbuatan yang tolol, sebab diukur dengan akal budi apakah hak manusia untuk meng­hukum makhluk yang tidak bersalah?
Pram tidak memberatkan simpatinya kepada sesuatu isme ke­cuali kepada humanitas. Dalam DIA YANG MENYERAH hidup sekali Pram melukiskan jiwa revolusioner pemuda merah, kom­plit dengan istilah-istilah feodal, borjuis, kapitalis, impe­rialis dsb. Sangat realistis lukisan-lukisannya tentang kekejaman-kekejaman yang mendirikan bulu roma dari kedua belah pihak, tapi pikiran kemanusiaan yang lebih agung muncul pada gadis Diah yang menangisi kejadian-kejadian yang melanggar peri-kemanusiaan. Dan di sini Pram melukiskan tragik tiap perjuangan: Ayah, nasionalis tulen yang anti komunis. Pasukan merah yang anti nasio­nalis karena mereka ini pro pemerintah nasional yang dianggap mereka pula kaki tangan imperialis-kapitalis Amerika. Datang pula Sucipto dari tentara Kerajaan dengan istilah-istilahnya pula mencap perampok orang-o­rang nasionalis dan ko­munis. Dan semua mereka ini bertujuan dan berkeyakinan memba­wa keselamatan dan kesejahteraan dan untuk itu berbunuh-bu­nuhan.
Banyak anasir-anasir pengalaman dan kenangan oto­biografis dalam cerita-cerita ini, tapi soal-soalnya cukup diperumum de­ngan warna-belakang kesejarahan dan kema­syarakatan yang luas.

Jakarta, 13 Januari 1952*

________
* Pengantar oleh H.B. Yasin ini terdapat dalam buku cetakan pertama 1952.
Hanya ejaan disesuaikan dengan EYD, isinya sepenuhnya tetap sama – ed

Related Post

ShareThis