TERJUAL TGL 23 JULI 2012 BY NGAMPAH KAB. BANDUNG BARAT
Harga: Rp.150.000 (BLUM ONGKIR)
KONDISI:LUMAYAN GUNUNG AGUNG DJAKARTA 1956
TEBAL: 158 HAL.
BERAT: 0,22 KG



RESUME BUKU “CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45”
H.B.Jassin telah mencoba mengumpulkan segala hasil tulisan Chairil
Anwar, baik prosa, puisi asli maupun terjemahan, ternyatas elama
1942-1949 Chairil telah membuat 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak
terjemahan, 6 prosa asli, 4 prosa terjemahan, jadi 94 tulisan.
Sajak Chairil anwar yang sudah dibukukan ialah “Deru Tjampur Debu”
diterbitkan oleh pembangunan tahun 1949, merupakan kumpulan yang terdiri
dari 27 sajak. Kedua “Kerikik tadjam dan Jang terampas dan Jang putus”
diterbitkan oleh Pustaka Jaya 1949. “Tiga menguak Takdir” diterbitkan
oleh Balai Pustaka tahun 1950.
Antologi Kerikil Tadjam Jang
Terempas dan Jang Putus terdiri dari dua bagian yaitu, Kerikil Tadjam
yang terdiri dari 32 sajak dan Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari
11 sajak. bagian pertama semuanya dibubuhi tanggal secara kronologis,
kecuali kepada “peminta-minta”.
Kerikil Tadjam adalah kumpulan
puisi Chairil yang beredar di masa Jepang, hanya terdiri dari 28 sadjak.
Dalam Tiga Menguka Takdir memuat 10 sajak Chairil. Chairil bukan
seorang yang lancar membuat sajak dalam pengertian bahwa ia dengan mudah
menulis sajak. Ini terlihat dari hasilnya yang dalam 6,5 tahun hanya
aberjumlah 70 sajak.
Jang Terempas dan Jang Luput adalah
kumpulan puisi Chairil yang hampir semuanya bernadakan suara maut, suatu
pilihan yang rupanya dipengaruhi oleh kesadaran penyair akan ajalnya
yang makin dekat. Tidak pernah disangka adanya pengaruh-pengaruh Chairil
Anwar, tetapi pengaruh itu sudah demikian meresapnya pada jiwanya
sehingga dalam menciptakan kembali pengaruh itu terjalin secara organis
dalam hasil seninya.
Pada Chairil kita lihat pengaruh-pengaruh
Marsman dan Slauerhoff, malahan demikian besar pengaruh itu sehingga
alat-alat perbandingan dan ungkapan kedua penyair itu sana-sini terpakai
olehnya. Ada sesuatu yang hidup pada diri Chairil, ssuatu yang minta
diucapkan, minta dibentukkan. dalam mencari pembentukan ia bertemu
dengan Marsman dan Slauerhoff dan ia mempergunakan alat yang dipakai
keduanya.
Jadi di sini sebenarnya tidak ada penyaduran tapi
lebih tepat kalau dikatakan ada pengaruh. Sebab saduran sebagai adaptasi
yang asing kepada kepunyaan sendiri dengan tidak merubah maksud pikiran
yang terkandung semula.
Bahasan Boejoeng Saleh bahwa ada
kemungkinan Chairil Anwar dengan sadar memindahkan lingkungan suasana
keilmubumian Spanyol kepada suasana kepulauan Indonesia rasanya agak
jauh dicari. Beberapa sajak Chairil yang jelas saduran tapi pula saduran
yang puitis adalah “Rumahku”, “Kepada Peminta-Minta”, “Orang Berdua”,
Kerawang-Bekasi”, “Datang Dara Hilang Dara”, “Fragmen”. Enam sajak
saduran dan terjemahan inilah yang memakai nama Chairil dengan tidak
disebutkan bahwa itu terjemahan atau saduran.
Sajak
“Kepada Kawan” memperlihatkan pengaruh-pengaruh dari Marsman dan
Slauerhoff. Pengaruh itu terlihat dari semangat, penggunaan kata, dan
perbandingan-perbandingan. Tapi dalam kesuluruhannya sajak itu mendukung duniannya sendiri sehingga cenderung menggolongkannya.
Akibat revolusi atau jiwa budaya ini diramalkan lebih besar daripada
akibat politis. Ia mempunyai keinsyafan bahwa bangsa Indonesia harus
meninjau sebuah kesusastraan bangsa-bangsa lain daripada bangsa Belanda,
agar kesusastraan Indonesia dapat bersemi yang baru. Ia sendiri telah
mencurahkan tenaganya untuk manyalin karangan dan syair bahasa asing.
Ditulis oleh: Alfian Rokhmansyah pada Sabtu, April 09, 2011