.

.

Rabu, 18 Juli 2012

Pergumulan Islam di Indonesia, 1945-1970


TERJUAL
Harga: Rp.60.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan bagus
Judul Pergumulan Islam di Indonesia, 1945-1970
Penulis B. J. Boland, Saafroedin Bahar
Penerbit Grafitipers, 1985
Tebal 295 halaman
Berat: 0,29 Kg

Perjuangan NU juga tidak bisa dilepaskan dari cita-cita besar menjadikan Islam sebagai agama negara, menjadi dasar negara, menuju sebuah negara Islam. KH Wahid Hasyim memang memanfaatkan rancangan Pembukaan yang diusulkan tersebut sebagai suatu titik tolak untuk pengaturan lebih lanjut menuju suatu negara Islam. “Kalau presiden adalah seorang Muslim, maka peraturan- peraturan akan mempunyai ciri Islam dan hal itu akan besar pengaruhnya. Tentang Islam sebagai agama negara, hal ini akan penting artinya bagai pertahanan negara. Umumnya, pertahanan yang didasarkan kepada keyakinan agama akan sangat kuat, karena menurut ajaran Islam orang hanya boleh mengorbankan jiwanya untuk ideologi agama.”, tegas KH. A. Wahid Hasyim, salah seorang tokoh NU terkemuka (BJ. Boland, “Pergumulan Islam di Indonesia” (1985)

Jumat, 13 Juli 2012

CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45


 TERJUAL TGL 23 JULI 2012 BY NGAMPAH KAB. BANDUNG BARAT
Harga: Rp.150.000 (BLUM ONGKIR)
KONDISI:LUMAYAN GUNUNG AGUNG DJAKARTA 1956
TEBAL: 158 HAL.
BERAT: 0,22 KG

RESUME BUKU “CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN ‘45”

H.B.Jassin telah mencoba mengumpulkan segala hasil tulisan Chairil Anwar, baik prosa, puisi asli maupun terjemahan, ternyatas elama 1942-1949 Chairil telah membuat 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, 4 prosa terjemahan, jadi 94 tulisan.

Sajak Chairil anwar yang sudah dibukukan ialah “Deru Tjampur Debu” diterbitkan oleh pembangunan tahun 1949, merupakan kumpulan yang terdiri dari 27 sajak. Kedua “Kerikik tadjam dan Jang terampas dan Jang putus” diterbitkan oleh Pustaka Jaya 1949. “Tiga menguak Takdir” diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1950.

Antologi Kerikil Tadjam Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari dua bagian yaitu, Kerikil Tadjam yang terdiri dari 32 sajak dan Jang Terempas dan Jang Putus terdiri dari 11 sajak. bagian pertama semuanya dibubuhi tanggal secara kronologis, kecuali kepada “peminta-minta”.

Kerikil Tadjam adalah kumpulan puisi Chairil yang beredar di masa Jepang, hanya terdiri dari 28 sadjak. Dalam Tiga Menguka Takdir memuat 10 sajak Chairil. Chairil bukan seorang yang lancar membuat sajak dalam pengertian bahwa ia dengan mudah menulis sajak. Ini terlihat dari hasilnya yang dalam 6,5 tahun hanya aberjumlah 70 sajak.

Jang Terempas dan Jang Luput adalah kumpulan puisi Chairil yang hampir semuanya bernadakan suara maut, suatu pilihan yang rupanya dipengaruhi oleh kesadaran penyair akan ajalnya yang makin dekat. Tidak pernah disangka adanya pengaruh-pengaruh Chairil Anwar, tetapi pengaruh itu sudah demikian meresapnya pada jiwanya sehingga dalam menciptakan kembali pengaruh itu terjalin secara organis dalam hasil seninya.

Pada Chairil kita lihat pengaruh-pengaruh Marsman dan Slauerhoff, malahan demikian besar pengaruh itu sehingga alat-alat perbandingan dan ungkapan kedua penyair itu sana-sini terpakai olehnya. Ada sesuatu yang hidup pada diri Chairil, ssuatu yang minta diucapkan, minta dibentukkan. dalam mencari pembentukan ia bertemu dengan Marsman dan Slauerhoff dan ia mempergunakan alat yang dipakai keduanya.

Jadi di sini sebenarnya tidak ada penyaduran tapi lebih tepat kalau dikatakan ada pengaruh. Sebab saduran sebagai adaptasi yang asing kepada kepunyaan sendiri dengan tidak merubah maksud pikiran yang terkandung semula.

Bahasan Boejoeng Saleh bahwa ada kemungkinan Chairil Anwar dengan sadar memindahkan lingkungan suasana keilmubumian Spanyol kepada suasana kepulauan Indonesia rasanya agak jauh dicari. Beberapa sajak Chairil yang jelas saduran tapi pula saduran yang puitis adalah “Rumahku”, “Kepada Peminta-Minta”, “Orang Berdua”, Kerawang-Bekasi”, “Datang Dara Hilang Dara”, “Fragmen”. Enam sajak saduran dan terjemahan inilah yang memakai nama Chairil dengan tidak disebutkan bahwa itu terjemahan atau saduran.

Sajak “Kepada Kawan” memperlihatkan pengaruh-pengaruh dari Marsman dan Slauerhoff. Pengaruh itu terlihat dari semangat, penggunaan kata, dan perbandingan-perbandingan. Tapi dalam kesuluruhannya sajak itu mendukung duniannya sendiri sehingga cenderung menggolongkannya.

Akibat revolusi atau jiwa budaya ini diramalkan lebih besar daripada akibat politis. Ia mempunyai keinsyafan bahwa bangsa Indonesia harus meninjau sebuah kesusastraan bangsa-bangsa lain daripada bangsa Belanda, agar kesusastraan Indonesia dapat bersemi yang baru. Ia sendiri telah mencurahkan tenaganya untuk manyalin karangan dan syair bahasa asing.
Ditulis oleh: Alfian Rokhmansyah pada Sabtu, April 09, 2011


Selasa, 10 Juli 2012

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, EDISI BARU TAHUN 2008

jacket buku

Harga: Rp.90.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS. HARD COVER ADA JACKET BUKUNYA
PENERBIT: MIZAN CET 1EDISI BARU TAHUN 2008
Tebal:397 halaman
Berat: 0,77 Kg

hard cover


Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif,

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Perjalanan Religius Umrah dan Haji


Harga: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus 1977 PENERBIT PARAMADINA
tEBAL: 109 HAL
BERAT: 0,17 KG
Nurcholis Madjid (1997) menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praksis untuk komitmen-solidaritas sosial. Haji merupakan ibadah individu dengan implikasi sosial. Buku Perjalanan Religius Haji dari Cak Nur merupakan kumpulan ceramah tentang haji dan umrah di Universitas Paramadina. Buku itu memiliki muatan studi teologi, intelektual, sosial, dan kultural.


Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan


 
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: BAGUS
PENERBIT: MIZAN CET 5 TAHUN 1993
Tebal:344 halaman
Berat: 0,33 Kg

Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini, keindonesiaan.

Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas tahun setelah itu.

“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti

selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah sumbangan

berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”

—Ahmad Syafii Maarif,

Mantan Ketua PP Muhammadiyah

Khazanah Intelektual Islam


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: LUMAYAN BAGUS
PENERBIT: BULAN BINTANG JAKARTA 1984
Tebal:382 halaman
Berat: 0,300 Kg

Cak Nur sangat kuat dalam penjelajahan intelektual pada tradisi Islam klasik untuk merespons tantangan modernitas dan kegalauan umat Islam di dunia modern. Ia sangat fasih berbicara mengenai pemikiran-pemikiran Islam klasik dan abad modern. Buku Khazanah Intelektual Islam yang ia sunting dan terjemahkan adalah bukti. Bahkan, Cak Nur sangat fasih mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Ia ingin menjadi sosok pious thinker—pemikir yang saleh. Dan rupanya, kesalehan tersebut menjadi semacam ikon Cak Nur, baik dalam kehidupan intelektual, spiritual maupun ritual sehari-hari.
Ada terjemahan karya2 pemikir2 islam paling terkenal seperti ibnu sina, al-ghazali, ibnu rusyd, al-farabi, ibnu taimiyah ... maka kita tahu pemikiran mereka

sumber potongan artikel: http://hmibecak.wordpress.com/2008/03/19/jil-ngaku-ngaku-sama-dengan-cak-nur/


ISLAM DOKTRIN DAN PERADABAN


TERJUAL
Kondisi: Bagus. HARD COVER LENGKAP DENGAN JACKET BUKU
PENERBIT: Yayasan Wakaf PARAMADINA 1992
Tebal:612 halaman
Berat: 1,10 Kg
jacket Buku
hard cover buku


Dalam buku ini ada empat hal pokok yang akan diungkap oleh cak Nur. Keempat hal pokok tersebut adalah : Tauhid dan Emansipasi Harkat Manusia, Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional, Membangun Masyarakat Etika, dan Universalisme Islam dan Kemoderenan. Keempatnya akan diuraikan satu persatu dalam sub judul di bawah ini.
Tawhid dan Emansipasi Harkat Manusia
Sebagaimana dikatakan oleh Kitab Suci, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi. Manusia juga merupakan puncak kreasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai harkat dan matabat kemanusiaan yang sangat luar biasa. Namun demikian, manusia juga memiliki potensi untuk terdegradasi menjadi sangat rendah.

Cak Nur menegaskan bahwa dalam kenyataan historis, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dminan manusia sebagai makhluk sosia. Sebab dalam kenyataannya, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya. Di sinilah fungsi diutusnya para rasul untuk membimbing manusia melawan kejatuhannya sendiri dan mengemansipasi harkat dan matabatnya dari kejatuhannya itu (hal. 94).

Dalam pandangan cak Nur, problem utama manusia adalah syirk. Karena syirk (politeisme) baik yang kuno maupun modern selalu bermuara pada pemenjaraan harkat dan martabat manusia dan kemerosotannya. Tentu yang demikian ini bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk tertinggi dan dimuliakan Tuhan. Mengapa ?, karena akan berakibat pada pengangkatan makhluk selain Tuhan menjadi sama dengan Tuhan sehingga hal ini akan berakibat pada lebih tingginya nilai tuhan palsu itu dibandingkan dengan mansuia itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kenapa syirik dikategorikan dosa terbesar manusia (hal. 96).

Untuk itu, agar tetap terjaga harkat dan martabat kemanusiaannya, manusia harus menyelamatkan imannya dengan tetap menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berarti, dengan hanya menghambakan diri kepada Tuhan, manusia akan mendapatkan kepribadiannya yang utuh dan integral.

Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional
Salah satu judul yang terbahas dalam tema di atas adalah “Kekuatan Dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin ‘Aqidah Islamiyah”. Dalam judul ini diungkapkan bahwa, paham asy’ariyah di samping memiliki kelebihan atau kekuatan juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Kenapa paham asy’ariyah ? karena Islam di Indonesia bermadzhab Syafi’i. Kaum Syafi’I kebanyakan menganut aqidah Asy’ari.

Dalam dunia kalam dikenal argumenpargumen logis dan dialektis. Kaum Asy’ari juga banyak menggunakannya, meskipun metode takwil yang menjadi salah satu akibat penggunaan itu hanya menduduki tempat sekunder. Kemampuan Abu al-Hasan al-Asy’ari menggunakan argumen-argumen logis dan dialektis diperoleh dari latihan dan pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu’tazulah sebelum ia akhirnya keluar dari paham Mu’tazilah.

Letak keunggulan sistem Asy’ari atas lainnya terletak pada segi metodologinya yang merupakan jalan tengah antara berbagai ekstrimitas (hal. 273). Dalam penggunaan metdolodi mantiq, Asy’ari tidak menggunakannya sebagai kerangka kebenaran an sich, melainkan sekedar alat untu membuat kejelasan-kejelasan dan itupun hanya dalam urutan sekunder. Metodenya menghasilkan jalan tengah antara metode harfi kaum Hambali dan metode ta’wili kaum Mu’tazili.

Sedangkan posisi kelemahannya terletak pada kegagalannya menjelaskan teorinya tentang usaha manusia. Asy’ari ingin berbeda dengan kaum Jabari yang fatalis dan kaum Qadari yang menganggap manusia mempunyai kemerdekaan berbuat. Teori Asy’ari disebut kasb. Teorinya ingin mengabungkan dua teori yang kontradiktif di atas. Namun, misinya justru sulit dipahami. Ia menjelaskan bahwa “manusia tidaklah dipaksa dan juga tidak bebas merdeka dalam melakukan usaha”. Selanjutnya, “bila Allah memberi pahala makasemata karena kemurahan-Nya dan bila Allah menyiksa maka itu karena keadilan-Nya” (hal.283). Kedua rumusan tersebut bukan sebagai akibat dari perbuatan manusia.
Membangun Masyarakat Etika
Dalam kontek ini cak Nur menjelaskan dua makna, yaitu makna perorangan dan kemasyarakatan. Penjelasan tentang makna perorangan diawalinya dengan menjekaskan makna salam, kedamaian dan keselarasan. Salam adalah makna perorangan sikap keagamaan yang tulus. Ia juga merupakan kelanjutan sikap rela kepada Allah atas segala keputusan-Nya. Keadaan jiwa yang rela itu dicapai karena adanya ketenangan batin akibat rasa dekat kepada Allah. Inilah derjat manusia yang telah mencapai al-nafs al-mutmainnah.

Seseorang yang rela serta bertawakal kepada Allah tentulah seorang yang selalu dzikir kepada-Nya. Dzikir atau ingat kepada Allah secara konsisten merupakan segi keimanan yang sangat penting sekaligus menjadi sumber kebijakan yang tertinggi (hal. 349). Dan karena sikap itu merupakan keharusan sikap rela dan tawakkal kepada-Nya, maka ingat kepada Allah juga menjadi sumber ketenangan jiwa dan ketentramannya Orang yang beriman yaitu dia yang merasakan ketentraman jiwa karena ingat kepada Allah

Mengenai makna kemasyarakatan cak Nur menjelaskan bahwa baik dan jahat dalam kehidupan nyata seorang manusiadi dunia akhirnya didefinisikan sebagai kualitas sikap, tingkah laku dan perbuatannya dalam hubungannya denagn sesama manusia.

Dalam arti yang seluas-luasnya, amal saleh ialah setiap tingkah laku pribadi yang menunjang usaha mewujudkan tatanan hidup sosial yangteratur dan berkesopanan. Maka salah satu yang diharapkan dari adanya iman dalam dada adalah wjud nyata dalam tindakan yang berdimensi sosial.

Dimensi sosial keimanan juga dinyatakan dalam bentuk kata ishlah al-ardl, reformasi dunia. Para Nabi yang diutus selalu melakukan reformasi dunia, yaitu perjuangan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Maka komitmen kepada usaha menciptakan masyarakat yang memenuhi rasa keadilan merupakan makna sosial keyakinan aama yang harus ditumbuhkan dalam setiap pribadi yang beriman. Dengan kata lain, rasa keadilan merupakan manifestasi rasa kemanusiaan, sehingga, dari sudut pandangan ini, makna kemasyarakatan keyakinan agama atau iman adalah rasa kemanusiaan itu, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan hablun min al-nas sebagai kelanjutan dari hablun min Allah.
Hablun min al-nas dan hablun min Allah di simbolkan melalui shalat. Ketika melakukan takbirat al-ikhram melambangkan manusia sedang melakukan hubungan dengan Allah. Dan ketika melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri melambangkan bahwa manusia itu harus menoleh kepada keadaan di sekitarnya. Hal ini mencerminkan bahwa orang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran diri akan dimensi sosial (hal. 354).
Universalisme Islam dan Kemoderenan
Salah satu hal penting yang mendapat perhatian cak Nur dalam “Universalisme Islam dan Kemoderenan” adalah “ajaran nilai etisdalam kitab suci”. Nilai etis yang dimaksudkan cak Nur adalah dalam pengertian yang sangat mendasar, yaitu konsep dan ajaran yang serba meliputi, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik dan buruk, benar dan salah. Namun demikian, yang hendak dibicarakan cak Nur adalah yang terbatas pada hal-hal yang dianggap pokok saja, yang relevan dengan problem sekarang.

Dalam buku “Islam, Doktrin dan Peradaban” ini ingin ditegaskan kembali mengenai watak Agama Islam berkenaan dengan kerja. Tampilnya Islam berarti menyambung kembali tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang mengajarkan tentang beriman kepada Allah da pendekatan kepada-Nya melalui amal perbuatan baik suatu monoteisme etis.

Karena seluruh aktifitas dapat bernilai sebagai usaha pendekatan kepada Tuhan, maka seluruh hidup manusia mempunyai makna transendental, yanga sehari-harii dinyatakan dalam ungkapan “demi ridla Allah”. Dan adanya keinsyafan akan makna hidup itulah yang membuat manusia berbeda dari jenis hewan yang lain, serta di situlah letak harkatnya (hal. 476).
Penutup
Satu hal yang menjadi misi utama buku ini adalah mengajak kepada kaum muslimin untuk menegakkan paham kemajemukan atau pluralisme. Berkaitan dengan hal tersebut maka Islam semakin diharapkan tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, sertamampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua, tanpa ekslusifisme komunal.

Kaum muslimin harus secara otentik mengembangkan paham kemajemukan masyarakat (pluralisme sosial). Kaum muslimin juga dituntut akan kesanggupan mengembangkan sikap-sikap saling menghagai antara sesama anggota masyarakat, dengan menghormati apa yang diangap penting pada masing-masing orang atau kelompok.

SUMBER ARTIKEL: http://dakwah-2012.blogspot.com/2011/11/islam-doktrin-dan-peradaban.html

Related Post

ShareThis