.

.

Rabu, 20 Juni 2012

TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA ( DJILID II )


Kondisi Jacket udah hantjur

Stok tinggal Djilid 2 saja :  Rp. 300.000 (belum termasuk ongkos kirim)





Judul: TATANEGARA MAJAPAHIT, SAPTA PARWA (PARWA/ DJILID 2)
Oleh: Prof. M. YAMIN
Penerbit: DJAJABAKTI MCMLX- Djakarta 1959
Edisi : Hard Cover
Halaman: 353
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Tjetakan : pertama Djakarta 1962, Tahun pembebasan Irian Barat
Kondisi: lumayan. Isi masih bagus, tapi ada lobang seperti gosong di halaman 98, tapi tidak merusak tulisan, seperti terlihat pada foto
Hard cover djilid II

Isi dalam buku djilid II

Ada sedikit cacat, seperti lobang gosong dan sepertinya lobang sudah dari cetaknya. Tapi tidak mempengaruhi isi tulisan


RISALAH SAPTA PARWA BERISI 7 DJILID ATAU PARWA, HASILPENELITIAN KETATANEGARAAN INDONESIA TENTANG DASAR DAN BENTUK NEGARA NUSANTARA BERNAMA MADJAPAHIT
1293 - 1525

Perkembangan kerajaan Majapahit yang mencapai puncaknya pada abad ke-14, akhirnya mulai mengalami proses kemunduran setelah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364, kemudian disusul meninggalnya Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kewibawaan kerajaan Majapahit mulai menurun, karena sistem sentralisasi yang ditetapkan oleh Gajah Mada selama memangku mahapati. Akibatnya daerah-daerah bawahan banyak yang memisahkan diri, seperti Minangkabau, Tanjungpura, dan berbagai kerajaan kecil lainnya. Muhammad Yamin dalam buku Tatanegara Majapahit melukiskan:
“Tidak berapa lamanya sesudah Prabu Hayam Wuruk meninggal, maka mulailah negara Majapahit memperlihatkan tanda-tanda kemundurannya yang berjalan terus sampai permulaan abad ke-16, inilah zaman runtuhnya negara Majapahit yang akan berakhir dengan habis musnahnya atau hilang tenggelamnya kerajaan itu sebagai susunan politik.”1)
Situasi dan kondisi Majapahit semakin tidak menentu setelah meninggalnya kedua tokoh tersebut. Kekacauan di istana timbul sebagai akibat pertentangan di kalangan kerabat istana dalam usaha merebut tahta pemerintahan. Hal ini nampak pada masa pemerintahan Wikramawardhana dengan Bre Wirabumi, yang memuncak dengan pecahnya perang Paregreg tahun 1401.
Pertentangan dalam kerabat istana tersebut, menyebabkan lemahnya pemerintahan pusat kerajaan Majapahit, sehingga pengawasan terhadap daerah-daerah bawahan berkurang. Majapahit mengalami proses disintegrasi. Situasi-situasi inilah yang melemahkan kerajaan Majapahit yang pada akhirnya membawa kepada keruntuhannya. Menurut N.J. Krom:
“Bahwa keruntuhan didahului oleh melemahnya pusat pemerintahan dan pelemahan ini tidak disebabkan terutama sekali oleh pertentangan agama Hindu yang sedang turun dan agama Islam yang sedang naik, melainkan semata-mata oleh pertentangan dalam negeri yang berupa perang saudara dan perpecahan kekuasaan.”2)
Di samping itu sistem sentralisasi yang diterapkan oleh Gajah Mada semasa kepatihannya, tidak dapat lagi dilakukan karena tidak adanya kaderisasi. Perkembangan selanjutnya, setelah pemerintahan Wikramawardana, pertentangan dalam pemerintahan Majapahit semakin meningkat. Namun tercatat beberapa penguasa di Majapahit.
Ratu Suhita (1429-1447)
Raja Wijayaparakramawardhana (1447-1451)
Raja RAjaswawardhana (1451-1453)
Ada selang tiga tahun tidak ada raja yang memerintah, yang mungkin disebabkan oleh krisis pergantian raja ….
Masa pemerintahan dua orang raja lagi dapat diketahui, yakni:
Girisawardhana (1456-1466) dan Singhawikramawardhana (1446-1478).3)
Singhawikramawardhana dianggap sebagai raja terakhir kerajaan Majapahit. Tahun 1478 sering dijadikan sebagai patokan keruntuhan Majapahit. Para ahli sejarah masih memperdebatkan tentang keruntuhan Majapahit, sebab ada yang menyebutkan bahwa keruntuhannya sekitar tahun 1518-1521.4) Menurutnya setelah Majapahit ditaklukkan oleh Demak. Sementara itu Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 tahun sang merah putih, memperkirakan keruntuhan Majapahit sekitar tahun 1525.5)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab runtuhnya Majapahit adalah:
a. Tidak ada pemimpin yang cakap sepeninggal Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada
b. Lemahnya pemerintahan pusat akibat pertentangan antara kerabat istana
c. Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg)
d. Ekspansi Kerajaan Demak
Kalau tahun 1478 menjadi patokan keruntuhan Majapahit, boleh jadi hal itu menyangkut pemerintahan pusat yang berlokasi di Tarik (Blitar) dan mungkin juga berpindah ke Daha atau Kediri. Hal ini akan menjadi jelas jika bukti-bukti baru yang lebih akurat dan otentik ditemukan.

Daftar Referensi:
1) Muhammad Yamin, 1962. Tata Negara Majapahit. Jakarta: Yayasan Prapanca, hal. 234
2) Saifuddin Zuhri, 1981. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia.
Bandung: Al-Maarif, hal. 21
3) M.C. Ricklefs, 1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
hal. 26
4) Drs. Abd. Rauf RAhim, dkk. Sejarah Indonesia Kuno. FPIPS IKIP Ujung Pandang, hal. 21
5) Drs. Muhammad Yamin, 1958. 6000 Tahun Sang Merah Putih. Jakarta: Balai Pustaka, hal.
208

SUMBER ARTIKEL:
http://www.tuanguru.net/2011/12/keruntuhan-majapahit.html
Jacket plus hard cover djilid i & djilid II

Selasa, 19 Juni 2012

Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda

Cover depan, tampak bercak2 hitam dan sisi kanan buku agak sedikit grimpis
TERJUAL BY JAKSEL
Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: Lumayan
Tebal: 359 halaman
Penerbit: Djambatan cetakan keenaam 1985
Berat: 0,32 Kg


Isi dalam buku masih terlihat bagus


Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.
Peran dalam literatur

Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
Terjemahan bahasa Indonesia

HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa Belanda aslinya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang.

Pada tahun 1973 Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.
Adaptasi layar lebar

Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar pada tahun 1976 oleh Fons Rademakers sebagai bagian dari kemitraan antara Belanda-Indonesia. Namun filmMax Havelaar tersebut tidak diperbolehkan untuk ditayangkan di Indonesia sampai tahun 1987.

Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda")

Roman ini hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya


Halaman ke 2 isi dalam buku

Cover belakang

Islam Agama Kemanusiaan : Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia


Harga: Rp.80.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus
PENERBIT: Yayasan Wakaf PARAMADINA 1995
Tebal:224 halaman
Berat: 0,32 Kg
Islam Agama Kemanusiaan : Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (1955).
Nurcholis Madjid berupaya menampilkan atau menghadirkan Islam secara lebih human, adil, inklusif dan egaliter yang beranjak dari paradigma tauhid dan etika. Wawasan yang disajikan Nurcholish Madjid dalam karya ini lebih bersifat kosmopolit dan universal sekaligus mengadopsi aspek-aspek parsial dan kultural paham-paham keagamaan yang berkembang. Hal ini merupakan konsekuensi logis bahwa bagi Nurcholish Madjid ajaran-ajaran Islam yang universal senantiasa memiliki relevansi dengan ruang dan waktu harus selalu dilakukan dialog kultural antara ajaran yang universal dengan partikular. Dalam buku ini juga Nurcholish Madjid ingin mengajak kita untuk bisa memahami mana yang benar-benar agama yang karenanya bersifat mutlak, dan mana yang benar-benar sebagai budaya yang karenanya bersifat relatif dan sementara. Agama dan budaya sebagaimana sudah banyak disuarakan oleh banyak pemikir kebudayaan, pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan.

Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi


 
Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
Kondisi: Bagus
PENERBIT: PARAMADINA 2002
Tebal:225 halaman
Berat: 0,24 Kg

Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi
by Nurcholish Madjid

Biarpun kita rajin sembahyang, puasa tiap hari, mengaji setiap saat, tetapi kalau tidak adil, pasti akan hancur. Karena itu ada ucapan dari Ali ibn Abi Thalib yang sering dikutip, yang Ibn Taymiyah juga mengutipnya, yaitu : “Allah akan menegakkan Negara yang adil meskipun kafir dan tidak akan menegakkan Negara yang lalim meskipun Islam”; dan juga ucapan : “Dunia akan bertahan dengan keadilan meskipun kafir dan tidak akan bertahan dengan kezaliman meskipun Islam.” (h. 102-103)


Senin, 18 Juni 2012

Perdjalanan P.J.M. Presiden IR.dR. hadji achmad Sukarno ke AMERIKA dan EROPAH

Cover hilang tak tahu rimbanya

Harga: Rp.75.000 (blum ongkir)
Kondisi: COVER TELAH RAIB, Tapi isi dalam buku masih bagus...bisa di lihat pada foto 2-4
Tebal: 260 halaman
berat: 0,38 kg
Perdjalanan P.J.M. Presiden IR.dR. hadji achmad Sukarno ke AMERIKA dan EROPAH oleh : Winoto Danoeasmoro
Tjetakan ke II 1956
PENERBIT GRAFICA DJAKARTA




KAKI LANGIT PERADABAN ISLAM


 
Harga: Rp.35.000 (blum ongkir)
Kondisi: Tanpa cover dan Isi masih bagus dan mulus
Berat : 0,28 Kg
tebal: 228 halaman
penerbit: PARAMADINA 1997

Buku ini adalah hasil suntingan dari sebagian makalah tersebar yang pernah ditulis dan disampaikan Nurcholish Madjid di berbagai kesempatan seminar dan simposium dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun (1986-1996). Kendati setiap makalah pada mulanya ditulis untuk forum, tujuan, dan waktu yang berbeda-beda, namun kiranya tidak akan terlalu sulit menangkap benang ,erah yang mempersatukan keseluruhan tema dan gagasan dasarnya. Yakni semangat dan pesan-pesan peradaban sesuatu yang memang sangat tipikal dalam pikiran-pikiran Nurcholish Madjid.
Buku didasari pada adanya tantangan besar yang dihadapi bangsa-bangsa Muslim, untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang IPTEK. Sebab boleh dikata, tidak satupun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah peradaban IPTEK-nya daripada Islam. Buku ini menunjukkan betapa kenyataan tersebut sesungguhnya sangat ironis, mengingat ajaran Islam nyata-nyata memperlihatkan adanya hubungan organik antara iman dan ilmu. Hubungan mana telah dibuktikan dalam sejarah Islam klasik ketika kaum muslim memiliki jiwa kosmopolitan yang sejati, yang dengannya mereka membangun peradaban dalam arti sebenar-benarnya.
Tentu saja buku ini tidak bermaksud mengajak berpikir rimantis atau bernostalgia dengan kejayaan peradaban Islam masa lampau. Justru sebaliknya ia ingin menyentak kesadaran kita bahwa betapapun amat memilukannya ketertinggalan itu, namun tidak sepatutnya disesali sedemikian rupa sehingga kehilangan semangat untuk melihat kedepan dengan penuh harapan. Dan supaya harapan tidak terlampau melambung atau bahkan tersesat di langit-langit mimpi, maka is mutlak harus diberi “kaki”. Tesis-tesis peradaban yang dikemukakan Nurcholish Madjid dalam buku ini bisa disebut sebagai upaya untuk membangun “kaki-kaki (langit)” itu, yang bahan-bahannya diramu, bukan saja dari visi dan misi serta pertimbangan rasionalitas, tapi juga dari doktrin Islam dan bahkan janji-janji Allah sendiri dalam kitab suci.


Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah

Cover di ganti kertas putih sama pemilik terdahulu dan kover aslinya hilang

Isi dalam buku asli (original) masih bagus dan mulus

Harga: Rp.45.000 (blum ongkir)
Kondisi: TANPA COVER dan Isi masih bagus dan mulus (ORIGINAL)
Tebal:327 halaman
Berat: 0,44 Kg

Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Jakarta : Paramadina, 1995.
Karya ini merupakan refleksi analisis yang mendalam dari seorang Nurcholish Madjid dalam memahami diskursus keislaman. Pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid yang termuat dalam buku ini lebih diarahkan pada makna dan implikasi penghayatan iman terhadap perilaku sosial. Nurcholis Madjid dalam buku ini juga membahas tema-tema politik ajaran Islam yang telah berkembang dan mengalami deviasi dan distorsi di tangan umat Islam sendiri, sehingga menjadi mitos dan kultus. Dalam pemahaman yang lain, seringkali sulit dibedakan antara nilai-nilai Islam yang bersifat substansial dan fundamental dari ajaran yang sekunder dan terbuka untuk penafsiran dan bahkan perubahan. Dalam kata pengnatarnya Komaruddin Hidayat menyatakan bahwa melalui buku ini Nurcholish Madjid menunjukkan konsistensinya sebagai pemikir yang apresiatif dan memiliki akses intelektual terhadap khazanah Islam klasik. Namun berbarengan dengan itu ia tetap setiap pada cita-cita humanisme dan modernisme Islam. Ditambah lagi dengan wawasan kesejarahan dan sosiologis yang dipelajari telah memungkinkan Nurcholish Madjid untuk menyuguhkan wawasan dan interprestasi ajaran dasar Islam yang terbebas dari mitos pemihakan idiologis karena kepentingan politik praktis.

Related Post

ShareThis