.

.

Senin, 30 Juli 2012

Cerita dari Blora

TERJUAL BY KALIPARE KAB. MALANG

Kondisi: lumayan bagus
HASTA MITRA 1994
TEBAL: 322 HAL
BERAT: 0,41 kG

Dua puluh sembilan bulan dalam tawanan Belanda bagi Pram adalah masa pengalaman, penderitaan, pemikir­an dan pengkhayalan yang mematangkan dan menyu­bur­kan jiwa. Dari masa inilah berasal sembilan dari sepuluh ce­rita pendeknya yang terkumpul dalam PERCIKAN RE­VOLUSI (Gapu­ra, Jakarta 1950), romannya KELUARGA GE­RILYA (Pemba­ngunan, Jakarta 1950), kedua novelnya PERBURUAN (Balai Pus­taka 1950) dan BLORA yang dimuat dalam kumpulan cerita pendeknya SUBUH (Pembangunan, Jakarta 1950).
Dalam masa ia terasing banyaklah Pram teringat kepada negeri kelahirannya Blora, kepada masa kecilnya dalam ling­kungan keluarga yang besar, kepada ibu, seorang perem­puan yang saleh, penuh pengorbanan dan ketubian kepada suami dan anak, lembut dan pengasih tapi tahu disiplin, kepada ayah yang mempunyai daerah kegiatan yang besar dan kepada adik-adik seorang demi seorang, yang dia sebagai putera tertua merasa bertanggung-jawab terhadap nasib mereka di kemudian hari.
PERBURUAN yang diilhamkan oleh pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar waktu pendudukan Jepang, seluruhnya bermain di kota Blora dengan kali Lusi-nya yang bersejarah. “Sebuah cerita khayal”, Pram menerangkan di bawah kepalanya. Memang banyak Dichtung dalam cerita ini, tapi bebe–rapa tokoh serasa-rasa kita kenali juga dari cerita-cerita Pram yang lain. Lebih jelas tokoh-tokoh itu dalam BLORA, yang juga adalah mimpi seorang tawanan, BLORA yang dalam istilah Freud adalah suatu wensdroom, suatu mimpi yang dimimpikan karena keinginan, demikian besarnya hasrat hendak bertemu dengan orang tua dan adik-adik. Dan mimpi-mimpi karena keinginan ini segera disusul dengan pertemuan dalam Realität yang menghasilkan BUKAN PASAR MALAM (Balai Pustaka, 1950), pertemuan yang menye­dihkan dengan ayah dan adik-adik di negeri kelahiran, enam bulan sesudah lepas dari tawanan.
Dan kesadaran yang meruang akan fananya segala, kesadaran inilah pada hemat saya salah satu pendorong pencipta akan meng­­abdi­kan segala sesuatu. – Manusia lahir dan mati. Apakah peninggalannya? – Hanya kenang-kenangan pada yang tinggal. – Dan untuk berapa lamanya?
Di dalam buku ini Pram menyajikan pula cerita-cerita dari Blora yang hampir semuanya ditulis beberapa bulan sesudah ia merdeka dari tawanan. Blora, daerah kapur yang miskin, di mana seorang sebelum bisa hidup dengan segobang sehari, penghasil­an seorang buruh tani kecil 11/2 sen sehari dan dengan gaji beberapa rupiah sebulan orang berani hidup berkeluarga dalam segala kemiskinan. Di mana ada orang yang karena kemiskinan mau menyewakan diri untuk men­cabut nyawa orang lain de­ngan persenan sepuluh rupiah atau jadi pembegal di hutan jati. Di mana anak pe­rem­­puan dika­winkan pada umur enam tahun de­ngan maksud meringankan beban orang tua dan di mana tidak jarang perem­puan men­jualkan diri untuk mencari nafkah hidupnya. Dan dalam melukiskan kebodohan, kepicikan dan kelemah­an orang-o­rang ini, Pram selalu menunjukkan rasa kasihan, meskipun di sana-sini terasa pula kepahitan yang membikin dia kadang-kadang menjadi kasar.
Menarik hati tokoh ayah yang dilukiskan oleh Pram dalam KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dan DIA YANG MENYERAH, yang kita temui pula dalam BUKAN PASAR MALAM. Ayah yang hidupnya intens. Kepala sekolah partikelir yang didirikan dalam perang dunia pertama, yang memberikan segala tenaganya dalam tahun-tahun tiga puluhan kepada gerakan kebangsaan, gerakan kepanduan dan mendirikan koperasi dan bank rakyat di sam­ping jadi guru partikelir giat pula memberikan kursus politik, eko­nomi dan pengetahuan umum di rumahnya sendiri. Dan ayah inilah pula yang menjadi penjudi yang tahan empat hari empat malam tidak beralih dari tempat duduknya mencari hiburan karena usaha-usahanya digagalkan oleh pemerintah kolonial: sekolah dibikin lumpuh, buku-buku pelajaran disita, guru-guru dilarang mengajar, anak-anak pegawai gubernemen dilarang
Pramoedya - Cerita dari Blora
sekolah di perguruan partikelir, bank rakyat dirintangi bekerja. Seorang nasionalis tulen yang kecewa di waktu Jepang dan di waktu revolusi tetap setia kepada pemerintah Republik tatkala Blora beberapa waktu diduduki oleh pasukan merah dengan terornya yang dahsyat. Dibandingkan dengan perhati­an­­nya terhadap tokoh ayah ini, Pram agak sedikit menyoroti tokoh ibu yang lebih dulu meninggal dari ayah, meskipun dia dengan hormat memper­ingatinya sebagai seorang ibu yang bijaksana, lembut tapi keras pada waktunya, tahu harga diri, halus perasaan, membimbing, penuh kasih-sayang dan sabar terhadap anak-anaknya.
Dalam semua cerita Pram terasa-rasa kekeluargaan yang erat antara pelakon-pelakon. Seorang demi seorang kita bisa dapati kembali tokoh-tokoh ayah, ibu, gadis-gadis yang keibuan dalam keluarga, anak-anak lelaki, masing-masing dengan rasa tang­gung-jawab yang besar. Dan sebagai suatu keluarga guru yang ingin maju, kita selalu mendapati pikiran: belajarlah baik-baik untuk kebaikan hari kemudianmu. Seringkali Dichtung menye­lubungi Realität dengan tebalnya, sebagai pernyataan jiwa yang kepenuhan. Ini misalnya keras sekali dalam novel KELUARGA GERILYA dalam mana reali­tas kadang-kadang dilangkahi dan idé menguasai suasana.
Dalam tujuh cerita pendek yang pertama dalam kumpulan ini Pram melukiskan masyarakat waktu zaman kolonial dan mes­kipun tidak sekali juga menyebutkan angka-angka tahun, kita dapat juga menangkap perkembangan kesejarahan dalam hidup pergerakan dan kemajuan masyarakat sebelum perang dunia kedua. Misalnya dalam cerita KEMUDIAN LAHIRLAH DIA dengan jelas terbayang perjuangan kaum nasionalis Indonesia di lapangan sosial dan pengajaran menghadapi pemerintah kolonial. Terutama gugatan sosial yang lahir dari perasaan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuat­an Pram yang istimewa. Gugat­an terhadap kemiskin­an, kebodohan, pergundikan dan pelacuran karena kemiskinan. Dan keadilan dan kemanusia­an itu baginya lebih penting dari segala-gala. Juga dari bentukan-bentukan dan dogma-dogma ideologi. Seorang Karmin yang berkhianat karena kekhilafan dan dengan tidak disadarinya seperti diceri­takan dalam PERBURUAN oleh Pram masih diberi ampun dan ke­sempat­an untuk memperbaiki diri dan dia dengan tegas menuntut kebahagiaan hidup dan keadilan juga bagi ANAK HARAM yang dikutuki masyarakat karena ayahnya berkhianat ber­tahun-tahun malah berpuluh tahun yang lalu dalam perjuang­an. Bagi Pram kutukan “tujuh turunan” adalah perbuatan yang tolol, sebab diukur dengan akal budi apakah hak manusia untuk meng­hukum makhluk yang tidak bersalah?
Pram tidak memberatkan simpatinya kepada sesuatu isme ke­cuali kepada humanitas. Dalam DIA YANG MENYERAH hidup sekali Pram melukiskan jiwa revolusioner pemuda merah, kom­plit dengan istilah-istilah feodal, borjuis, kapitalis, impe­rialis dsb. Sangat realistis lukisan-lukisannya tentang kekejaman-kekejaman yang mendirikan bulu roma dari kedua belah pihak, tapi pikiran kemanusiaan yang lebih agung muncul pada gadis Diah yang menangisi kejadian-kejadian yang melanggar peri-kemanusiaan. Dan di sini Pram melukiskan tragik tiap perjuangan: Ayah, nasionalis tulen yang anti komunis. Pasukan merah yang anti nasio­nalis karena mereka ini pro pemerintah nasional yang dianggap mereka pula kaki tangan imperialis-kapitalis Amerika. Datang pula Sucipto dari tentara Kerajaan dengan istilah-istilahnya pula mencap perampok orang-o­rang nasionalis dan ko­munis. Dan semua mereka ini bertujuan dan berkeyakinan memba­wa keselamatan dan kesejahteraan dan untuk itu berbunuh-bu­nuhan.
Banyak anasir-anasir pengalaman dan kenangan oto­biografis dalam cerita-cerita ini, tapi soal-soalnya cukup diperumum de­ngan warna-belakang kesejarahan dan kema­syarakatan yang luas.

Jakarta, 13 Januari 1952*

________
* Pengantar oleh H.B. Yasin ini terdapat dalam buku cetakan pertama 1952.
Hanya ejaan disesuaikan dengan EYD, isinya sepenuhnya tetap sama – ed

Sabtu, 28 Juli 2012

BUMI MANUSIA (BUKU PERTAMA DARI SERI 4 JILID)


TERJUAL
Kondisi: bagus HARD COVER, HASTA MITRA Cet. 9 tahun 2002
BUMI MANUSIA (BUKU PERTAMA DARI SERI 4 JILID)
Berat: 0,65 Kg

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."


Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti, Editor Pramoedya Ananta Toer


Harga: Rp.150.000 (blum ongkir)
Kondisi: lhabis buka segel.
Tebal: 402 halaman
Berat: 0,48 Kg
Cet 4 Revisi Lentera Dipantara, Jakarta 2003
Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti ini penah dilarang beredar oleh Pemerintah Orde Baru. Kendati tidak dikarang oleh Pramoedya
Hikayat Siti Mariah ini menceritakan petualangan dan kisah roman di seputar dunia pernyaian atau pergundikan dengan tokoh utamanya, Siti Mariah, di zaman kolonial Belanda. Hikayat ini banyak mengungkap situasi mengenai dunia pernyaian di Indonesia pada zaman kolonial. Pernyaian atau pergundikan adalah lembaga perkawinan tanpa pengesahan dari negara maupun agama. Lembaga perkawinan ini terjadi karena pihak pria dalam posisi sosial-ek onomi yang lebih tinggi ketimbang pihak perempuan. Praktik pergundikan semacam ini lazim terjadi pada masa kolonial. Seorang pria kolonial, atau dalam hal ini penjajah Belanda, sebelum menikah resmi dengan perempuan bangsanya sendiri atau yang sederajat biasanya mengambil seorang atau beberapa gadis pribumi untuk dijadikan gundik atau nyai atau istri tidak resmi.

Kendati para nyai itu layaknya hidup sebagai seorang istri dan bahkan mempunyai anak dari pria kolonial, namun ia harus rela meninggalkan kehidupannya sebagai nyai manakala pria kolonial tersebut memutuskan menikah dengan perempuan bangsanya sendiri. Sebagai konsekuensinya ia bahkan harus rela melupakan bahwa ia pernah bersuami dan mempunyai anak yang pernah dilahirkannya.

Diceritakan bahwa Siti Mariah adalah anak di luar perkawinan antara Elout van Hogerveldt, seorang kontrolir tebu, dengan seorang gadis pribumi bernama Sarinem. Ketika lahir, Siti Mariah dinamai Urip. Ia diberi nama Urip karena pernah jatuh sewaktu lahir, namun bisa tetap hidup atau urip. Urip tidak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri karena sewaktu ia masih dalam kandungan, ayah kandungnya, Elout van Hogerveldt, telah meninggal.


Urip pernah hampir dibuang ke jurang oleh Wongsodorono, seorang petani bertabiat buruk yang tak lain adalah ayah tirinya sendiri, sewaktu masih berumur sebelas bulan. Sarinem, ibu Urip, dipaksa kawin dengan Wongsodorono oleh ayahnya sewaktu hamil 7 bulan. Namun, Urip masih beruntung tidak jadi dibuang karena Wongsodorono akhirnya menjual Urip kepada Joyopranoto, seorang mandor gula di Sokaraja yang sudah lama berkeluarga namun belum punya anak.

Urip kemudian tumbuh menjadi gadis indo yang cantik dengan nama Siti Mariah. Kisah petualangan dan roman Siti Mariah dimulai ketika ia mulai menjalin cinta dengan seorang opsiner gula bernama Henry Dam. Ia kemudian dijadikan nyai oleh Dam dan memperoleh anak darinya yang diberi nama Ari.

Namun, kebahagiaan Mariah ternyata tidak berlangsung lama. Kehidupan rumah tangganya terusik lantaran pengaruh Nyonya van Holstein, pemilik pabrik gula tempat Dam bekerja. Dengan segala cara, termasuk dengan menggunakan jasa dukun, Nyonya van Holstein mempengaruhi Henry Dam untuk menjauhi Siti Mariah sehingga Henry Dam dapat menikahi putrinya Nona Lucie. Usaha tersebut berhasil, Mariah dipaksa keluar dari kehidupan Dam dan ia pun harus berpisah dengan anaknya, Ari. Setelah sempat kabur dari rumah keluarganya, menyamar jadi jongos dan menjadi Nyonya Esobier, Siti Mariah akhirnya dipertemukan kembali dengan Henry Dam dan anaknya, Sinyo Ari, berkat bantuan Sondari. Seperti juga dengan hikayat-hikayat lain, sang tokoh cerita akan memperoleh kemenangan setelah melewati petualangan yang hebat.
====
Hikayat Siti Mariah sebelum diterbitkan kembali oleh Hasta Mitra dalam bentuk buku tahun 1987 sebenarnya sudah pernah dua kali diterbitkan. Pertama kali saat pengarangnya masih hidup diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirto Adhi Soerjo di Bandung antara tahun 1910 - 1912. Kemudian masih dalam bentuk cerita bersambung, kurang lebih 50 tahun kemudian Lentera menerbitkannya kembali antara kurun waktu tahun 1962 sampai tahun 1965 dengan editor Piet Santoso Istanto.

Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti ini penah dilarang beredar oleh Pemerintah Orde Baru. Kendati tidak dikarang oleh Pramoedya Ananta Toer, namun karena hikayat karya Haji Mukti ini kemudian diterbitkan kembali menjadi buku oleh Penerbit Hasta Mitra, dan yang menjadi editornya Pramoedya Ananta Toer, buku tersebut dilarang. Buku ini, bersama buku Gadis Pantai karya Pram, dilarang peredarannya oleh Kejaksaan Agung berdasarkan Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor Kep-081/J.A/8/1988 pada tahun 1988. Hal ini disebabkan pemerintah pada waktu itu menganggap buku- buku tersebut bertentangan dengan Pancasila karena dianggap berbau ajaran komunis. Namun, belakangan seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru pada tanggal 28 Agustus tahun 2000 berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor Kep-223/J.A/08/2000 mencabut pelarangan peredaran buku- buku karangan Pramoedya, termasuk di dalamnya buku Hikayat Siti Mariah. Tahun 2003 Hikayat Siti Mariah kembali diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara.

Hikayat Siti Mariah menduduki posisi yang cukup penting bagi sejarah perkembangan sastra pra-Indonesia karena merupakan satu-satunya karya sastra pra-Indonesia pada zaman tanam paksa (cultuur stelsel) antara tahun 1830-1890. Seperti yang tercantum dalam sampul buku tersebut yang berbunyi: "satu-satunya roman kurun ’tanam paksa’ 1830-1890". Selain itu, hal lain yang menjadikan hikayat ini berbeda adalah bahasa yang digunakan, yakni bahasa Melayu linguafranca. Pada masa itu atau saat Pemerintah Kolonial Belanda menjalankan politik etis, perkembangan sastra ditandai dengan adanya penggolongan sastra, yakni sastra yang "diakui" kekuasaan dan yang "tidak diakui" kekuasaan. Sastra dalam bahasa Melayu linguafranca masuk dalam kategori yang "tidak diakui" kekuasaan, akibatnya sastra tersebut dianggap sebagai sastra rendahan, bahkan Melayu linguafranca sering disebut sebagai Melayu pasar atau Melayu rendah.

Hikayat Siti Mariah adalah sebuah hikayat dalam arti sesungguhnya, yakni sebuah cerita petualangan yang hebat dari tokoh-tokoh utamanya yang di dalamnya juga terkandung kejadian-kejadian supernatural. Dalam hikayat ini salah satu tokohnya, yakni Sondari, saudara tiri Siti Mariah, dilindungi oleh keris pusaka yang bernama Plered. Satu hal yang menarik dari hikayat ini adalah sang pengarang, Haji Mukti, ikut menjadi tokoh penting dalam cerita yang ditulisnya. Haji Mukti tak lain adalah Sondari. Hal ini terungkap dalam petikan berikut: "Tuan dan Nyonya Dam tak melupakan sahabatnya, yang selama itu tinggal di Jeddah bekerja sebagai pembantu konsul, yaitu si Sondari. Tuan dan nyonya Dam mengunjungi Sondari di Jeddah, wahai sama-sama lain dulu lain sekarang. Sama-sama berpelukan dan berciuman, lumrah, belum ada batas yang memisahkan antara dua sahabat itu. Sondari belum masuk Islam, belum naik haji, ha-ha- ha-ha. Dan belum ganti nama Haji Mukti, ha-ha-ha".

Lalu siapa Haji Mukti sebenarnya? Sampai buku ini diterbitkan tidak diketahui siapa sebenarnya Haji Mukti. Bahkan, nama Haji Mukti pun tidak diketahui apakah nama samaran atau nama sesungguhnya.

sumber artikel: http://
goesprih.blogspot.com/2008/10/hikayat-siti-mariah_23.html

Sabtu, 21 Juli 2012

Babad Diponagoro dan Babad Dipanegara (ing Nagari Ngayogjakarta Adiningrat) II


1 set (2 buku)

 Harga: 1 set (2 buku) Rp. 500.000 (blum ongkir)
Buku 1: Babad Diponagoro. Alih Aksara dan ringkasan terjemahan: Dra. WAHYATI PRADIPTA 1981
Buku 2 : Babad Dipanegara (ing Nagari Ngayogjakarta Adiningrat) II. Alih Aksara : Ny. Dra. AMBARISTI LASMAN MARDUWIYOTO 1983
Kondisi: Lumayan.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1981 & 1983
Tebal: 394 & 469 hal.
Berat: 0,87 Kg

BABAD DIPONAGORO
Tujuan penulisan Babad Diponagaro adalah untuk memperingati pengalaman hidup pribadi. Awal kisah bermula dari ketika Pangeran Diponagoro mulai gemar belajar agama. Sejak dia menghayati agama, ia gmar berkelana yaitu ketika berumur dua puluh tahun. Ia sadar bahwa hidup di dunia ini tidak lama, karena itu agar hidupnya berjalan dengan selamat tak ada jalan lain kecuali dirinya mendekati Tuhan. Akan tetapi ia masih menghadapi hambatan, seiring terkena godaan wanita. Dalam berkelana, Pangeran Diponagoro mempunyai pengalaman-pengalaman spiritual, antara lain ketika ia sedang bersemadi di sebuah gua, dilarut malam datanglah Sunan Kalijaga dengan cahaya bulan purnama, menyampaikan warta bahwa kelak Pangeran Diponagoro akan menjadi raja. Selesai menyampaikan warta, Kanjeng Sunan Kalijaga lalu musnah. Pangeran Diponagoro terheran-heran dan menyesali dirinya, karena ia tidak sempat menghaturkan sembah bakti.

sumber: http://www.bpsnt-pontianak.org/elibrary/index.php?page=ringkasankat&id=2323

Rabu, 18 Juli 2012

KETIKA JURNALISME DIBUNGKAM SASTRA HARUS BICARA


Harga: Rp.45.000 (blum ongkir)
kondisi: BAGUS, 2005
berat: 0,18 kg
tebal: 243 hal

Jurnalisme seperti sebuah detektif yang harus memecahkan masalah. Ia menjadi seperti mercusuar yang cahaya membimbing kita untuk mencari kebenaran. Namun karena ia adalah sejatinya sebuah fakta (baik secara psikologis maupun sosiologis) terkadang ia menemukan batu sandungan. Terbelit oleh berbagai rantai kepentingan. Pemodal. Politik. Bahkan hingga nyawa.
Ketika kekuasaan membredel kegiatan jurnalisme atau pemodal hanya sekedar mencari ratting dan memaksakan sebuah agenda kepentingan maka itu adalah kerangkeng jurnalisme.
Lantas dimana manusia bisa berteriak lantang dan menyuarakan fakta sebenarnya.
Sastra mengambil peran tersebut. Fakta-fakta disisipkan dalam buku sastra. Bahkan terkadang buku novel lebih jujur dibanding buku-buku sejarah. Misalnya saja buku tetralogi Pulau Buru karya Pramoedia Ananta Toer yang berhasil menyajikan setting masa kolonialisme Belanda. Novel Multatuli, Max Havelar tentang nasib rakyat yang dijajah.
Untuk karya sastra modern semisalnya September karya Noorcha M Massardi yang menyajikan latar kejadian 30 september 1965. Rahasia Meede karya ES Ito dan The Jacatra Secret karangan Rizky Ridyasmara yang menyajikan fakta-fakta sejarah yang cukup lengkap. Sastra seperti sulur-sulur tanaman rambat yang menggerayani tembok (kekuasaan dan pembungkaman) dan dengan lambat namun pasti merapuhkan dan menghancurkan
Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. (www.goodreads).

sumber artikel: http://terasimaji.blogspot.com/2010/11/ketika-jurnalisme-di-bungkam-sastra.html

KENTUT KOSMOPOLITAN


Harga: Rp.65.000 (blum ongkir)
 Sekuel kedua dari JAKARTA AFFAIR
kondisi: Second bagus/ baru lepas segel
berat: 0,29 kg
tebal: 295 hal
Penulis SGA (Seno Gumira Ajidarma)

 Dalam dunia kita, kesehatan itu lebih dari berguna. Menahan kentut dianjurkan oleh kesopanan, tetapi sangat tidak berguna untuk kesehatan. Nalar manusia harus bekerja, jangan menyerah kepada yang tidak masuk akal, karena konsensus kentut sedunia ini sangat-sangat-sangat bisa diubah. Jika tidak, kehidupan akan masih penuh dengan kebohongan, karena konflik kepentingan antara kesopanan dan kesehatan ternyata diatasi dengan dagang sapi: dalam pergaulan orang- orang sopan, kentut tetap diberlangsungkan diam-diam. Hanya Si Buta dari Gua Hantu yang bisa mendengarnya, apakah di dalam rapat kabinet terdengar bunyi psssttt, atau di tribun kehormatan, dalam riuh genderang dari drumband yang sedang lewat, sebetulnya terdengar juga bunyi brrooootttt!

—

Trilogi Insiden. Saksi Mata(kumpulan cerpen), Jazz, Parfum dan Insiden(Novel) dan ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara(kumpulan Esai)


Harga: Rp.60.000 (blum ongkir)
Kondisi: bagus, baru lepas segel
Tebal: 452 hal
Berat: 0,37 Kg
Stoks: 5 Biji

“Seberapa jauh pembantaian orang-orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apa pun dari sebuah lembaga mana pun? Saya ingin mendengar sebuah jawaban.”

Setidaknya ada tiga buku Seno Gumira Ajidarma yang merupakan Trilogi Insiden–ketiganya mengandung fakta seputar Insiden Dili, yang ditabukan media massa semasa Orde Baru.

itulah Saksi Mata(kumpulan cerpen), Jazz, Parfum dan Insiden(Novel) dan ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara(kumpulan Esai) yang diterbitkan ketika orde baru masih berkuasa. ketiganya telah menjadi dokumen, tentang bagaimana sastra tak bisa menghindar untuk terlibat, secara praktis dan konkret, dalam persoalan politik–apabila politik kekuasaan itu menjadi semakin tidak manusiawi.

Di masa reformasi, kewaspadan atas perilaku kekuasaan tidak bisa dilepaskan. Ketiga buku ini diterbitkan kembali dalan satu judul, sebagi Trilogi Insiden, memeniuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan.

Related Post

ShareThis