.

.

Jumat, 02 Maret 2012

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG


TERDJUAL BY JAKARTA
Judul:  HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
Door Duisternis Tot Licht
by Ra Kartini
 Penerbit: Narasi

Details
ISBN:
9789791682671
Author:
Ra Kartini
Language:
INDONESIA
Date Published:
2011


Type:
HARD COVER
No. of Pages:
510
Dimensions (cm):
15.5 x 23



Synopsis
Buku ini merupakan kumpulan surat-menyurat antara Raden Ajeng Kartini kepada para sahabat penanya di Belanda. Sewafatnya R.A. Kartini, surat-surat tersebut dikumpulkan Mr. J. H. Abendanon dan dibukukannya. Yang kemudian menjadi bukti besar keinginan Kartini untuk melepaskan wanita-wanita dari diskriminasi yang sudah membudaya. Kartini ingin, sebagai seorang wanita, ia dan kaumnya juga sama diperlakukan seperti saudara atau teman-temannya yang pria. Buku ini menginspirasi kemajuan wanita-wanita Indonesia sepanjang masa, dari generasi ke generasi.
Rosa Abendanon – Mandri
Beliau adalah wanita Belanda kawan pena dari R.A. Kartini, yang pada akhirnya menjadi istri dari J. H. Abendanon Menteri Kebudayaan, agama, dan industri di Hindia Belanda. J.H. Abendanon sendiri adalah sosok dibalik diterbitkannya kumpulan surat- surat R.A. Kartini yang sebagian besar kepada istrinya menjadi sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht (diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya dan Armijn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang). Rosa adalah pihak yang dipercaya memiliki pengaruh besar kepada R.A. Kartini atas pandangannya terhadap emansipasi wanita di Jawa waktu itu.



Kamis, 01 Maret 2012

KARENA MAHKOTA


Judul: KARENA MAHKOTA (FIE SABIELIT-TAADJ).
Disadur oleh : Abdullah Badjerei
Buku aslinya karangan : Fr. Cobet
Diterdjemahkan kedalam bahasa arab oleh: Musthafa Luthfi  Al-Manfaluthi
Penerbit: C.V. “DUNIA BARU”-  DJAKARTA
Edisi : Soft Cover
Halaman: 183
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Cetakan : Ke-tiga th 1966
Kondisi: Lumayan seperti apa yg tampak di foto, tapi seperti biasa tulisan masih bagus!

Price : IDR 125.000,00  (belum termasuk ongkos kirim)


Buku yang perlu dibaca dan di punyai oleh para anggota2 bersenjata- patriot bangsa- Pecinta tanah air- Para mahasiswa – dan Umum

“KARENA MAHKOTA”

Di dalamnya dapat anda ikuti Al-Manfaluthi mengenai:

*Siasat penjajah:

……………………sikap kaum penjajah adalah serupa dan sama saja. Mereka menaklukkan suatu Negara, sekali-kali bukan untuk maslahat Negara itu, hanya untukkepentingan diri sendiri…………………..

…………………sesuatu bangsa juga tidak berdaya upayasendiri untuk memperbaiki hal ikwalnya, janganlah menghara akan di perbaiki oleh bangsa yang lainnya……………

* Antara anak “Constantyn Brancomier”   (patriot) dan ayah “Michael Brancomier” (pengkhianat) Seorang Panglima Perang juga mau jadi boneka , terjadi pertentangan hebat.

……………..Ayah, janganlah ayah menjual bangsa, Mahkota yang di dapat dengan pertolongan musuh,  bukanlah merupakan mahkota, hanya belenggu dan kapak penindas yang membawa maut……

*Demi cinta dan tanah air.
……………..si jelita menginginkan mahkota, menyebabkan “pertempuran hebat”, berkecamuk dalam kalbu “Michael Brancomier”. Pertempuran antara kewajiban dan hawa nafsu. Perkelahian antara asmara dan kebaktian kepada ibu pertiwi.

Militza: Saya cinta kepadanya (Constantyn) dengan hati yang ikhlas dan suci murni. Tidak nanti saya mengijinkan siapapun juga akan menyiksa dia, selama saya masih bernyawa……………………….

Bagaimana akhirnya                                                                untuk lebih puas!

                                    Belilah!













BUNG KARNO (PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA)


COVER DEPAN MASIH BAGUS
COVER BELAKANG YG BAGIAN BAWAH BERJAMUR

 Dijual Buku "Bung Karno - Penjambung Lidah Rakjat Indonesia" karya Cindy Adams ,
. Merupakan otobiografi terjemahan dari buku "Sukarno, an auto biography as told to Cindy Adams" edisi amerika serikat yang diterbitkan oleh The Bobbs Merrill Company Inc.,New York tahun 1965.
Buku langka yang layak untuk dikoleksi

Penerbit: PT gunung Agung  DJAKARTA MCMLXVI
Edisi : Soft Cover
Halaman: 470
Bahasa: Indonesia Ejaan Lama
Alih Bahasa: Major  ABDUL BAR SALIM
Cetakan : Pertama th 1966
 TERDJUAL
HARGA: Rp.50.000 (blum ongkir)
Kondisi: cover belakang berjamur, isi buku lumayan bagus


TJARA jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.
Sukarno adalah seorang manusia perasaan. Seorang pengagum. Ia menarik napas pandjang apabila menjaksikan pemandangan jang indah. Djiwanja bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia. Ia menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.
Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman."Akan tetapi aku bersjukur kepada Jang Maha Pentjipta, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali kemerdekaan dan hak-azasinja, setelah tiga setengah abad dibawan pendjadjahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi ditahun 1945 dan mentjiptakan suatu Negara Indonesia jang bersatu, jang terdiri dari pulau Djawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?
Irama suatu-revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek. Dan didalam djiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan djiwa seni. Kepandaian memimpin suatu revolusi hanja dapat ditjapai dengan rnentjari ilham dalam segala sesuatu jang dilihat. Dapatkah orang memperoleh ilham dalam sesuatu, bilamana ia bukan seorang manusia-perasaan dan bukan manusia-seni barang sedikit ?
Namun tidak setiap arang setudju dengan gambaran Sukarno tentang diri Sukarno. Tidak semua orang menjadari, bahwa djalan untuk mendekatiku adalah semata-mata melalui hati jang ichlas. Tidak semua orang menjadari, bahwa aku ini tak ubahnja seperti anak ketjil. Berilah aku sebuah pisang dengan sedikit simpati jang keluar dari lubuk-hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.
Akan tetapi berilah aku seribu djuta dollar dan disaat itu pula engkau tampar mukaku dihadapan umum, maka sekalipun ini njawa tantangannja aku akan berkata kepadamu, "Persetan !"
Manusia Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kamilah satu-satunja bangsa didunia jang mempunjai sedjenis bantal jang dipergunakan sekedar untuk dirangkul. Disetiap tempat-tidur orang Indonesia terdapat sebuah bantal sebagai kalang hulu dan sebuah lagi bantal ketjil berbentuk bulat-pandjang jang dinamai guling. Guling ini bagi kami gunanja hanja untuk dirangkul sepandjang malam.
Aku mendjadi orang jang paling menjenangkan didunia ini, apabila aku merasakan arus persahabatan, sirnpati terhadap persoalan-persoalanku, pengertian dan penghargaan datang menjambutku. Sekalipun ia tak diutjapkan, ia dapat kurasakan. Dan sekalipun rasa-tidak-senang itu tidak diutjapkan, aku djuga dapat merasakannja. Dalam kedua hal itu aku bereaksi menurut instink. Dengan satu perkataan jang lembut, aku akan melebur. Aku bisa keras seperti badja, tapi akupun bisa sangat lunak.
Seorang diplomat tinggi Inggris masih belum menjadari, bahwa kuntji menudju Sukarno akan berputar dengan mudah, kalau ia diminjaki dengan perasaan kasih-sajang. Dalam sebuah suratnja belum lama berselang jang ditudjukan ke Downing Street 10 ia menulis, "Presiden Sukarno tidak dapat dikendalikan, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus jang terdesak.
"Suatu utjapan jang sangat bagus bagi seseorang jang telah mempersembahkan seluruh hidupnja kepangkuan tanah-airnja, orang jang 13 tahun lamanja meringkuk dalam pendjara dan pembuangan, karena ia mengabdi kepada suatu tjita-tjita. Mungkin aku tidak sependapat dan sependirian dengan dia tetapi seperti seekor tikus ? Djantungku berhenti mendenjut ketika surat itu sampai ditanganku. Ia mengachiri suratnja dengan mengatakan, bahwa ia telah mengusahakan agar Sukarno mendapat perlakuan jang paling buruk dalam surat-surat kabar.
"Aku tidak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat lagi tidur barang sekedjap. Kadang-kadang, dilarut tengah malam, aku menelpon seseorang jang dekat denganku seperti misalnja Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, "Bandrio, datanglah ketempat saja, temani saja, tjeritakan padaku sesuatu jang gandjil, tjeritakanlah suatu lelutjon, bertjeritalah tentang apa sadja asal djangan mengenai politik. Dan kalau saja tertidur, ma'afkanlah." Aku membatja setiap malam, berpikir setiap malam dan aku sudah bangun lagi djam lima pagi. Untuk pertamakali dalam hidupku aku mulai makan obat-tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.
Aku bukan manusia jang tidak mempunjai kesalahan. Setiap machluk membuat kesalahan. Dihari-hari keramat aku minta ma'af kepada rakjatku dimuka umum atas kesalahan jang kutahu telah kuperbuat, dan atas kekeliruan-kekeliruan jang tidak kusadari. Barangkali suatu kesalahanku ialah, bahwa aku selalu mengedjar suatu tjita-tjita dan bukan persoalan-persoalan jang dingin. Aku tetap mentjoba untuk menundukkan keadaan atau mentjiptakan lagi keadaan-keadaan, sehingga ia dapat dipakai sebagai djalan untuk mentjapai apa jang sedang dikedjar. Hasilnja, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakjatku, aku mendjadi korban dari serangan-serangan jang djahat.
Orang bertanja, "Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila orang mengeritikmu ?" Sudah tentu aku merasa tersinggung. Aku bentji dimaki orang. Bukankah aku bersifat manusia seperti djuga setiap manusia lainnja ? Bahkan kalau engkau melukai seorang Kepala Negara, ia akan lemah. Tentu aku ingin disenangi orang. Aku mempunjai ego. Itu kuakui. Tapi tak seorangpun tanpa ego dapat menjatukan 10.000 pulau-pulau mendjadi satu Kebangsaan. Dan aku angkuh. Siapa pula jang tidak angkuh ? Bukankah setiap orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian ?
Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan jang bertentangan tentang diriku. Kadang-kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana jang harus dipertjajainja. Jang pertama berasal dari madjalah "Look". "Look" menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang betja jang mengatakan seakan-akan segala sesuatu di Indonesia sangat menjedihkan keadaannja dan orang-orang kampungpun sekarang sudah muak terhadap Sukarno.


TUAN DIREKTUR


Cover agak rusak, sisi atas dan bawah sobek
 terjual by jkt
Judul : TUAN DIREKTUR
Pengarang : HAMKA
DJETAKAN KE-EMPAT
Penerbit : DJAJAMURNI DJAKARTA.
MCMLXI/ 21 JANUARI 1961
Halaman 95
Soft  Cover, Kondisi LUMAYAN

PRICE: IDR 150.000,00

Isi dalam buku

Tuan Direktur, menceritakan dua suasana kemanusiaan manusia di Surabaya. Satunya yang serba rakus dan penuh penipuan dan sifat mereka sebagai pengejar masa kini yang hanya di depan mata. Melalui watak Jazuli serta penjilatnya Margono dan Haji Salmin. Sementara di satu sudut lagi diwakili oleh Pak Yasin, Haji Nawawi dan Fauzi. Melalui pelukisan watak kumpulan ini seakan-akan pengarang mengajak pembaca supaya meneliti satu sudut yang perlu diketahui di sebalik alam nyata. Alam rohani dan hubungannya dengan keakhiratan. Paling tidak terhadap pencipta dan tahu adab-adab kita dengan Khaliq. Punya jiwa yang bebas, merdeka dan kaya. Merasai sama keperitan golongan yang tidak bernasib baik.

Penulis kira sangat banyak pengajaran yang ingin disampaikan oleh HAMKA dalam novel ini. Dengan memulakan kisah hebatnya Jazuli yang membohongi keadaan sebenar serta sanggup menipu rakan kongsi yang digambarkan melalui menungan Haji Nawawi. Untuk kepuasan ditampilkan dua tokoh yang menjadi pengampu kepada ‘Tuan Direktur’ iaitu Margono dan Haji Salmin. Biar apa pun berlaku, sama ada rugi atau tidak perniagaan, pastinya Tuan Direktur tetap berpuas hati dengan segala pujian oleh mereka berdua.

Ketamakan dan kerakusan sentiasa menjadi pegangan hidup Jazuli sehingga sanggup menghabiskan wang yang begitu banyak untuk mendapatkan tanah Pak Yasin. Tokoh baik tonjolan pengarang. Hidup dalam keadaan sedarhana dan mempunyai pemikiran kebajikan. Digambarkan sebagai: “Seorang tua yang bertabiat anih, terlalu pemurah dan ramah tamah. Mendirikan rumah-rumah petak untuk dipersewakan, tetapi segenap penyewanya yang terdiri dari kalangan rendah itu, tidaklah memandangnya sebagai majikan atau tuan tanah tempat mereka menumpang, bahkan dianggap sebagai bapa. Kadang-kadang setelah wang sewa itu mereka berikan, mereka pinjam kembali untuk modal kerana miskinnya, dan belumlah pula pernah pinjaman mereka yang bertolak. Kerana itulah agaknya maka semakin segan dan patuh pula mereka terhadap Pak Yasin”. 

Pemikiran kebajikan bukan sahaja kepada tokoh Pak Yasin seorang, tetapi juga melalui saranan yang dikemukakan beliau terhadap seorang penjual soto yang masih muda, Taslim: “....dekat lebaran membangga kepada Pak Yasin dengan memperlihatkan pakaian yang baru dibelinya. Pak Yasin tertawa dan memuji. Tetapi setelah diketahui harga baju itu empat lipat dari baju yang biasa dipakainya, mukanya pun menjadi muram.... lebih baik engkau jual baju itu kembali, Taslim, beli empat helai baju lain, bagikan sehelai kepada Pak Dolah, Warsito, Pak Nor, kerana mereka itu sekarang ketiadaan wang untuk membeli meski agak sehelai di hari lebaran ini. Termenung Taslim, mulanya, tetapi kemudian perkataan itu termakan olehnya, sepetang itu juga dijualnnya baju itu kembali, iaitu baju wool yang telah lama diidam-idamkannya dan dibelinya empat helai baju putih biasa, diberikannya kepada ketiga
ketiga temannya itu.

Pengarang bukan sekadar melepaskan fakta tanpa kesimpulan, tetapi memperlihatkan suatu natijah baru hasil sifat yang pemurah. Lihat: Heran! Jangankan susut kegirangannya sebagai sangkanya bermula, bahkan semakin berbahagia rasa hatinya, demi menengok paras yang berseri-seri dari ketiga orang yang mendapat hadiah sekonyong-konyong itu”. 

Kenyataan ini memperlihatkan sikap bertanggungjawab pengarang yang bukan melepaskan persoalan begitu sahaja, tetapi menyelesaikannya dengan memperlihatkan kepuasan dari sudut kerohanian. Sesuatu yang jarang dan amat susah untuk dirasakan, tetapi diterapkan melalui kegembiraan yang dirasai oleh orang muda seperti Taslim. Bagi kita orang muda jarang dapat merasai begitu, tambah pula dengan lonjakan nafsu mudanya, namun pengarang telah mula menonjolkannya seakan-akan mahu supaya orang muda merasai sama nikmat keseronokan hasil dari pemikiran kebajikan.

SUMBER ARTIKEL:

Related Post

ShareThis